Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Di Balik Mimpi

Misteri Di Balik Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Indigo / Contest / Romantis / Pembunuhan / Detektif / Misteri
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: Iis Fatmala Rahman

Namanya Rinjani wanita cantik bertalenta dan juga misterius Rinjani melanjutkan kuliahnya di universitas terbaik di kota Bandung Rinjani memiliki kemampuan yang tidak biasa di lakukan oleh orang lain.

Suatu hari Rinjani harus terjebak dengan situasi yang tidak memungkinkan dirinya dan teman-teman dekatnya untuk bisa hidup dan keluar dari tempat yang mereka kunjungi.

Penasaran Dengan ceritanya tunggu dan saksikan cerita selanjutnya 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iis Fatmala Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 19

Satu Minggu kemudian sidang perdana kasus yang lagi viral kini memasuki masa persidangan, semua pihak yang di rugikan berkumpul untuk melihat langsung Persidangan yang akan di pimpin Rinjani dan juga timnya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Aksa semua bukti mengarahkan padanya, dan terlalu meremehkan Rinjani bersama timnya yang mampu mencari bukti untuk mengalahkannya di persidangan kali ini.

"Kalian jangan senang dulu, aku pastikan bukti yang kalian dapatkan itu palsu." Kata Aska dengan santai berjalan duluan.

"Astaga itu orang, atau bukan sihh kesal banget liatnya." Ketus Beni.

"Sudahlah nga usah di ladeni, kita lihat saja dia bisa nga banyak bicara di dalam persidangan." Ucap Rinjani berjalan masuk.

Para hakim dan juga jaksa penuntut umum telah hadir di dalam persidangan, pengacara yang di berikan oleh jaksa pun sudah hadir memberikan informasi dan juga kesaksian yang akan memberangkatkan pelaku, Aska hanya diam menatap Rinjani membacakan semua data diri korban juga hasil pemeriksaan yang mereka lakukan, terdapat beberapa organ tubuh mereka di jadi kan pajangan dan juga membuang tubuhnya kembali di depan rumah korbannya masing-masing.

"Saudara Aska, apa pembelaan anda." Ucap hakim.

"Saya tidak pernah melakukan hal itu, yang mereka berikan semuanya palsu, saya sudah memberikan bukti kepada pengacara saya." Tegasnya menatap Rinjani.

"Apa yang di katakan klien kami semua benar adanya, jaksa Rinjani bersama timnya melakukan olah TKP tanpa sepengetahuan pemilik rumah, bisa di pastikan mereka memalsukan semua berita yang beredar." Ucap pengacara Aska.

Semua orang mulai heran dan membicarakan tentang Rinjani yang melakukan penyidikan, tanpa sepengetahuan pelaku meski begitu bukti-bukti yang di kumpulkan Rinjani bersama timnya, sangat besar pengaruhnya untuk memenjarakan Aska dan mendapatkan hukuman mati.

"Beberapa Minggu yang lalu cctv merekam, saudara Aska membawa wanita dari kantor kejaksaan masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan tak sadarkan diri, dari hasil pemeriksaan medis korban mengalami benturan benda tumpul dan sempat mengalami gagal jantung akibat terlalu lama dalam lemari pendingin, kami juga mendapat sidik jari saudara Aska di salah satu bagian tubuh korban pada saat kejadian." Terang Rinjani memberikan semua informasi yang di dapatkan.

"Itu semua bohong pak hakim, saya tidak pernah melakukan itu semua." Teriak Aska dengan marah.

"Tolong diam, ini ruangan sidang." Ucap Hasbi hakim ketua.

"Saya juga mendapat informasi dari korban yang kami selamatkan sebelum saudara Aska melakukan kejahatannya seperti sebelumnya, dari pernyataan Korban saudara Aska menjanjikan akan di nikahi setelah mereka melakukan layaknya suami istri, namun saudara Aska mengingkari janjinya dan melakukan kejahatan pada korban selanjutnya." Ucap Rinjani panjang lebar memutar video pengakuan korban yang selamat.

Aska mulai tenang memikirkan sesuatu agar terbebas dari gugatan, hakim menatap tajam arah Aska dan mulai membacakan hasil penutupan setelah mendengar pengakuan korban.

"Saudara Aska semua bukti yang di berikan oleh jaksa, asli adanya tanpa ada pemalsuan, hasil keputusan hakim telah kita sepakati bersama, Aska di jatuhkan hukuman mati yang melenyapkan nyawa orang lain dengan sengaja, dan melakukan tindak kekerasan kepada wanita hingga tewas." Ucap ketua hakim memukul palu.

"Tidak." Teriak Aska." Saya tidak bersalah, tolong mama Aska tidak melakukannya." Aska memohon menatap wajah mamanya.

"Kau harus menerima semuanya sayang, ini sudah keputusan yang tepat mama nga bisa bantu kamu sejauh ini." Ucap Rika menangis tersedu-sedu.

"Rinjani tolong, bukan gua pelakunya Rinjani tolong bantu gua." Ucap Aska memohon.

"Jangan meminta tolong padaku, ini adalah hasil yang kau lakukan selama ini." Ucap Rinjani berjalan keluar.

Kurang ajar, gua akan membalas mu Rinjani lihat saja aku akan membalas mu." Aska semakin keluar kendali saat di bawa masuk ke dalam sel tahanan.

Rika menangis sejadi-jadinya melihat putra satu-satunya harus pergi meninggalkannya, akibat kejahatan yang selama ini di buatnya Rika meratapi nasibnya, lagi-lagi orang yang di cintainya harus pergi meninggalkannya Aska meronta-ronta untuk di lepaskan berteriak seperti kehilangan akal di dalam sel tahanan seorang diri.

"Sial, gua akan pastikan kalian akan membayar semuanya." Teriak kemarahan Aska.

Beni bersama Rinjani bernafas lega setelah keluar dari dalam ruang persidangan, mereka berhasil menutup kasus yang selama ini tidak pernah mereka pecahkan, berkat bantuan tim dan juga doa para keluarga korban akhirnya Aska bisa mendapatkan ganjarannya, meski Rinjani tidak begitu tega membuat Aska seperti ini namun karena pekerjaannya mengharuskannya melakukan semua.

"Semoga dengan ini, Lohh bisa menyadari apa yang Lohh perbuat kepada mereka." Batin Rinjani.

Mereka berjalan meninggalkan ruangan Persidangan menuju parkiran mobil, hari ini mereka akan merayakan kemenangan menutup kasus ini dan berhasil memenangkan kasusnya, Rinjani masuk ke dalam mobil melesat membela jalan raya menuju restoran yang mereka sepakati. Tiba-tiba potongan kejadian mobil masuk ke dalam jurang terlintas di benaknya, Rinjani menepikan mobilnya memengangi kepalanya yang terasa sangat pusing, melihat mobil itu lagi masuk ke dalam jurang dan meledak hingga terbakar tak bersisa.

"Arkhhh." Teriak Rinjani memengangi kepalanya.

"Siapa pria itu, apa ini akan terjadi lagi." Ucap Rinjani menenangkan dirinya.

Dia pun mengambil obat Penenang dari dokter untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, Rinjani meminum beberapa dan masuk ke dalam mulutnya, sedikit demi sedikit kepalanya mulai kembali normal kejadian itu semakin memudar dan merasakan tubuhnya baik-baik saja, Rinjani kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menelusuri jalanan yang mulai padat dengan kendaraan.

Dua puluh lima menit berlalu Rinjani tiba di sebuah restoran mewah yang sudah di pesan oleh Ken dan yang lainnya, Rinjani berjalan keluar dari dalam mobil melihat mobil yang baru saja terlintas di benaknya.

"Bukannya mobil." Rinjani mengingat kembali kejadian itu.

Rinjani membulatkan matanya melihat jelas pria yang berada di dalam mobil dan terhuyung kebelakang, untung saja Beni bisa menangkap tubuh Rinjani yang hampir jatuh ke bawah, Beni menatap wajah terkejut Rinjani mengalihkan perhatian melihat mobil mewah di depannya dan merasa aneh dengan tatapan Rinjani.

"Apa lohh baik-baik saja." Tanya Beni.

"Ah ya aku baik-baik saja." Ucap Rinjani dengan gugup.

"Mobil ini kenapa, kok Lohh liatinnya gitu amat."

"Nga papa gua cuman banyak pikiran doang, yuk masuk." Rinjani berjalan masuk ke dalam restoran.

Beni merasa ada yang aneh dengan teman baiknya dan menyusul langkahnya masuk ke dalam restoran, Rinjani mencari-cari keberadaan Ken dan yang lainnya dan menemukannya di sudut restoran, Beni berjalan menuju meja yang telah di pesan oleh Ken sebelum mereka kemari.

"Kalian lama amat, Brama udah lapar tuhh." Ucap David sambil tertawa.

"Idihh bawa-bawa nama orang lagi." Ketus Brama menatap wajah Rinjani.

"Lohh kenapa ada masalah lagi." Lanjutnya.

"Nga papa, cuman kecapean aja mungkin." Elak Rinjani.

Ken mengerti dengan tatapan mata Rinjani yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari mereka, David merangkul pundak kekasihnya memeluknya erat David tahu kalau Rinjani saat ini menyimpan sesuatu.

"Ada apa sebenarnya." Ucap David menatap wajah Rinjani.

"Nga ada apa-apa, aku cuman mikirin kasus yang tadi." Elak Rinjani tersenyum ramah.

"Apa kau serius? Kau tidak lagi berbohong kan sama kami." Sahut Ken.

"Ya engga lahh, ngapain pake bohong segala." Rinjani menyeruput minum yang ada.

David dan Ken hanya diam saja memperhatikan raut wajah Rinjani yang semakin mencurigakan, tak berselang lama makanan yang di pesan telah datang dan di tata oleh pelayan restoran, Rinjani semakin memikirkan mobil dan bagaimana mencegahnya sakit kepala kembali menyerangnya, Rinjani memengangi kepalanya yang sedikit pusing membuat David sedikit khawatir.

"Rinjani kau baik-baik saja kan." Tanya David.

"Iya aku baik-baik saja, kamu nga usah khawatir." Rinjani menyakinkan kekasihnya.

"Kau lagi bohong kan sama kita, kepala kau sakit lagi." Tanya Ken menyantap makanannya.

"Iya kepala gua agak sedikit pusing, mungkin karena kasus yang beberapa hari ini membuat ku harus berpikir keras." Kata Rinjani memijit pelipisnya.

"Apa kita pulang sekarang." Ucap David yang merasa tidak tega.

"Nga usah, udahlah yuk makan." Rinjani memberikan kecupan di pipi kekasihnya.

Mereka yang berada satu meja bersama Rinjani mulai kesal dengan sikap romantisnya kepada David, dan tidak mengerti perasaan pada jomblo tampan di hadapannya, Rinjani tertawa geli memandangi wajah teman-temannya yang sedikit cemberut, mereka menyantap makan siangnya sambil mengobrol tentang pekerjaan mereka sesekali Beni menjadi pelawak ketika bersama mereka.

"Sepertinya kau itu, pantas jadi badut Ben." Ledek Brama melihat tingkahnya.

"Masa iya badut, tampan kaya gua ogah lahh." Ucap Beni sedikit kesal.

"Ya iya tampan kalau diliat dari sedotan." Ucap Brama tertawa lepas.

Mereka tertawa bersama melihat tingkah lucu Beni yang selalu menjadi bahan bercandaan mereka, lima belas menit berlalu mereka menyelesaikan makan siangnya dan akan kembali ke kantor, setelah membayar semua makanan Ken dan yang lainya berjalan keluar dari restoran Rinjani terus menatap mobil yang berada di depannya dan mengingat kembali kejadian itu.

"Aku harus bagaimana." Batin Rinjani.

Rinjani sendiri tidak ingin kalau David mengetahui dia akan jatuh ke jurang akibat mobil yang di kendarainya, Rinjani memutar otaknya dan berjalan menghampiri David.

"Sayang kita tukaran mobil ya." Ucap Rinjani ragu.

"Tumben, ada apa nihh." Ucap David.

"Ya kan udah lama aku nga pake, jadi boleh ya." Rinjani memasang wajah imutnya.

"Iya boleh." David mengusap lembut rambut kekasihnya.

"Semoga keputusan ini terbaik untuk, ku dan juga David." Batin Rinjani.

David merasakan ke anehan dengan sikap Rinjani yang memintanya bertukar mobil, seakan-akan ada hal yang akan terjadi dengan mobilnya Rinjani berjalan masuk ke dalam mobil melesat jauh dari mereka, Rinjani mencoba menginjak rem mobilnya dan ternyata blong.

"Jadi mimpi itu benar." Ucap Rinjani mulai panik.

David dan Ken segera menyusul mobil Rinjani yang menuju daerah hutan, Rinjani menelusuri jalanan yang di penuhi jurang sesuai di dalam mimpinya, Ken melihat mobil Rinjani yang mulai hilang kendali dan segera menambah laju mobilnya.

"Rinjani mobil Lohh kenapa." Teriak Ken.

"Rem mobilnya blong." Ucap Rinjani.

"Apa." Teriak Ken mulai panik." Lohh lompat sekarang sebelum mobilnya masuk jurang." Ucap Ken berusaha tenang.

"Tapi pintu mobilnya nga bisa ke buka sepertinya." Rinjani mencoba membuka pintu mobilnya.

Rinjani mulai panik melihat jurang yang semakin dekat di depan matanya, David segera menambah laju mobilnya untuk menyelematkan Rinjani.

Brukkk brukkk

Mobil yang di kendarai Rinjani masuk ke dalam jurang yang cukup dalam, tak berselang lama sebuah ledakan terdengar dari bawah sana.

Bumm bummm

David segera keluar dari dalam mobil berteriak histeris melihat Rinjani hangus terbakar, Ken berusaha menenangkan David namun David tetap bersikeras menyusul Rinjani ke bawah.

"Rinjani." Teriak David melihat mobilnya terbakar.

"Gua harus turun sekarang." Kata David.

"Apa lohh gila di bawah sana jurang nya sangat dalam kita panggil bantuan." Ucap Ken.

"Tapi Rinjani akan mati, apa Lohh mau kaya gitu hah." Bentak David.

"Percuma kita ke bawah, mobilnya sudah terbakar semua." Ken berusaha tenang.

David menangis sejadi-jadinya melihat mobilnya terbakar habis Ken tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia merasa terpukul melihat Rinjani masuk ke dalam jurang bersama mobilnya, tiga puluh menit kemudian bala bantuan yang di bawa Brama dan Beni tiba di lokasi kejadian, kobaran api memenuhi jurang tempat Rinjani terjatuh.

Beni tersungkur ke bawah melihat mobil Rinjani terbakar habis dan menangis sejadi-jadinya, David yang tidak bisa menahan kesedihannya tersungkur ke bawah tak sadarkan diri, semua media wartawan pun sudah berada di sana untuk meliput kejadian ini. Ken berusaha tenang namun kesedihan yang di rasakan tidak mampu melihatnya tenang, Ken berteriak histeris memanggil nama Rinjani Brama memeluk sahabatnya dia begitu sedih harus kehilangan Rinjani untuk selamanya.

"Rinjani kembali ku mohon." Ucap Ken tersedu-sedu.

"Kita harus kuat, gua yakin Rinjani akan selamat." Ucap Brama.

"Mobil Rinjani bisa masuk ke jurang karena apa Ken." Tanya Beni.

"Rem mobilnya blong, dan pintu mobilnya tidak bisa terbuka." Jelas Ken menatap mobil Rinjani.

"Sialan, ini pasti ulah di brengsek itu aku akan memberinya pelajaran." Hardik Beni.

"Jangan asal menuduh, kita belum mengetahui penyebab kenapa rem mobil Rinjani blong." Ucap Brama.

"Yang di katakan Brama benar ben, kita tidak bisa menuduh Aska yang berada di dalam penjara." Ken mulai tenang.

Beberapa polisi datang menghampiri mereka.

"Bagiamana hasilnya pak." Kata Ken.

"Dari hasil penyelidikan, seseorang dengan sengaja merusak rem mobil dan juga merusak pintu mobil agar korban tidak bisa keluar dari dalam mobil, dan korban tidak bisa di selamatkan jasadnya tidak bisa di temukan." Ucap kepala kepolisian.

Bak di sambar petir Ken dan Beni tidak percaya akan semua ini dan merasa Rinjani masih keadaan hidup, Ken berlari menuju tepi jurang menangis tersedu-sedu melihat mobil Rinjani hangus akibat ledakan mobilnya. Beni tersungkur ke bawah mengingat momen mereka sebelum terjadinya kecelakaan, Brama bersedih melihat teman-teman yang begitu terpukul dengan kejadian ini bahkan David belum sadarkan diri dan di larikan ke rumah sakit.

"Di Bandung berita kejadian yang merenggut nyawa seorang jaksa penuntut umum Rinjani pesona putri tewas, akibat kecelakaan yang menimpanya dan masuk ke dalam jurang saat ini tubuh korban belum bisa di temukan pihak berwajib dan terus mencari jasadnya, menurut keterangan beberapa saksi mobil yang di kendarai jaksa Rinjani dengan sengaja merusak rem mobil dan juga pintu mobil agar korban tidak bisa keluar dari dalam mobil hingga akhirnya terjun ke dalam jurang.

"Sekian berita kami semoga korban bisa di temukan dengan keadaan baik-baik saja." Ucap salah satu reporter.

Berita kecelakaan yang menimpa Rinjani tersebar dengan cepat kepada keluarganya, berita yang mereka nonton membuat tuan Arya tak sadarkan diri akibat serangan jantung yang menyerangnya, thisa dan Angga tidak percaya kalau Sahabatnya akan pergi dengan cara seperti ini, bahkan Dista Desta tidak percaya dengan berita yang di siarkan di seluruh siaran tv.

Rani membawa kakeknya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, Dimas dan Rani begitu terpukul akan peristiwa yang menimpa keluarganya, bahkan tidak menyangka akan kehilangan kakak yang selama ini menjaga dan menemaninya, dua puluh menit kemudian mereka tiba di depan rumah sakit di mana Dafa bertugas, sebelum mereka menuju ke sana Rani menghubungi Dafa untuk menyiapkan ruangan untuk kakeknya Dimas membawa tuan Arya naik ke atas tempat tidur, Dafa segera membawa tuan Arya masuk ke dalam ruangan UGD.

Rani segera menghubungi Ken yang berada di lokasi untuk mencari tahu keadaan Rinjani saat ini, deringan pertama tidak ada jawaban Rani kembali mencoba deringan kedua pun sama tidak ada jawaban, Rani mulai kesal dan juga panik dan mencoba kembali deringan ketiga terdengar dari sana.

"Iya halo." Ucap Brama.

"Brama." Lirih Rani.

"Rani." Ucap Brama.

"Ken mana, gua mau ngomong sama dia."

"Ken lagi di ruangan atasan gua, emangnya kenapa."

"Nga usah banyak nanya, kalau Ken sudah selesai bilangin kalau gua mau bicara." Ketus Rani.

Brama mematikan sambungan teleponnya mendengar suara Rani yang sedikit berubah padanya, Rani semakin khawatir dengan keadaan Kakek dan juga Rinjani yang belum juga di temukan, Dafa segera keluar dari dalam ruangan UGD menghampiri Rani dan juga Dimas yang sedang menunggu.

"Dafa opa gua baik-baik aja kan." Tanya Rani sangat khawatir.

"Opa udah melewati masa kritisnya, dan sekarang lagi istirahat." Ucap Dafa.

"Syukurlah, apa David tidak menghubungi mu." Rani terlihat kacau.

"Nga gua juga udah dengar, kalau Rinjani kecelakaan apa mereka sudah menemukan jasadnya."

"Belum, gua harap Rinjani baik-baik saja." Rani berusaha menahan kesedihannya.

"Kalau gitu, gua pamit dulu kalian sebaiknya istirahat." Ucap Dafa menepuk pundak Rani

Dimas yang sedari tadi diam saja membawa Rani untuk segera istirahat di kamar kakeknya, Rani terus menerus menangis tersedu-sedu melihat berita yang meliput kejadian di mana Rinjani terjatuh, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar nampak ke dua sahabatnya berjalan masuk menghampirinya.

"Rani gimana keadaan opa." Kata thisa.

"Opa udah baikan kok." Rani berusaha terlihat kuat.

"Apa Ken sudah menemukan jasad Rinjani." Sahut Angga.

"Belum David dan juga Ken belum memberikan ku kabar." Rani mulai meneteskan air matanya

"Kamu yang tenang, Rinjani akan baik-baik saja." Ucap Dimas menenangkan Rani.

Rani hanya mengganggukkan kepalanya mereka kembali menonton berita, yang akan segera menemukan titik terang keberadaan Rinjani, Rani terus menatap tv yang berada di dalam kamar kakeknya menunggu keberhasilan anggota berwajib menemukan Rinjani.

"Bagaimana keadaan di bawah sana, apa kemungkinan korban akan selamat." Kata salah satu wartawan.

"Kami sudah berusaha dengan sekuat tenaga, kami hanya menemukan baju yang di pakai korban tak jauh dari tempatnya, kemungkinan korban hangus terbakar." Ucap kepala kepolisian.

"Tidak itu tidak mungkin." Teriak Rani dengan histeris.

"Mereka pasti bohong, mereka tidak becus mencari Rinjani." Rani tersungkur kebawah.

"Rani Lohh yang tenang, Rinjani pasti baik-baik saja." Thisa mulai menangis.

"Mereka bohong, Rinjani nga mungkin pergi ninggalin kita." Isak tangis memenuhi kamar rawat Arya.

Angga tidak bisa menahan kesedihannya dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, mereka menatap foto Rinjani di dalam tv kepolisian menetapkan kalau Rinjani sudah tidak ada dan akan memberhentikan pencarian, Dimas semakin terpukul melihat keadaan Rani yang semakin kacau mendengar berita ini Rani tidak mampu mengimbangi tubuhnya hingga tersungkur tak sadarkan diri.

Thisa segera memanggil Dafa dari balik pintu, Dafa yang mendengar suara thisa segera berlari masuk ke dalam kamar tuan Arya, memeriksa keadaan Rani yang semakin kacau dengan kejadian ini.

"Saya akan membawa satu tempat tidur lagi, Rani mengalami syok dengan kejadian ini." Ucap Dafa berjalan pergi.

"Rani sadar, gua nga bisa lihat Lohh kaya gini." Thisa menangis tersedu-sedu.

Angga menggangam tangan Sahabatnya." Rani aku yakin Rinjani akan baik-baik saja." Ucap Angga menghapus jejak air matanya.

Dimas berjalan keluar tidak mampu melihat kesedihan mereka yang begitu sangat terpukul, Dafa berjalan masuk membawa tempat tidur untuk Rani di rawat satu kamar dengan kakeknya, Dafa memasangkan infus di lengan Rani memberikan obat penenang agar Rani tidur hingga esok hari.

Di Jakarta David menangis sejadi-jadinya mendengar kalau Rinjani meninggal dunia dan penyelidikan ditutup, Ken berusaha menenangkan David yang tidak bisa percaya dengan semua ini, Beni tidak tega melihat David yang begitu sangat kacau kehilangan kekasihnya untuk selamanya.

"Gua harus cari Rinjani, mereka pasti bohong Rinjani pasti baik-baik saja." David berusaha berdiri namun kakinya terasa lemas.

"David Lohh tenang dulu, kita harus menerima semua ini apapun yang terjadi Lohh jangan lemah." Ucap Ken merangkul teman baiknya.

"Rinjani masih hidup Ken, dia nga mungkin ninggalin gua seperti ini." Isak tangis David mulai menggema satu ruangan.

"Kita harus kuat menerimanya." Ken menepuk-nepuk pundak David.

David merebahkan tubuhnya menenangkan pikirannya berusaha menerima kenyataan kalau Rinjani sudah tiada, Ken berjalan keluar duduk di kursi tunggu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengingat kebersamaan mereka di apartemennya Ken berusaha tenang di depan semua orang tapi di dalam hatinya menjerit keras memanggil nama pujaan hatinya.

Brama duduk di sebelah Sahabatnya memandangi wajahnya yang begitu kacau, mereka semua terpukul dengan kejadian ini kalau Rinjani telah pergi.

"Jangan kek gini Ken, Rinjani sudah tenang di sana."

"Apa gua salah mencintai Rinjani, bahkan belum sempat bersama ku dan meninggalkan ku sendiri."

"Kau tahu bukan, Rinjani memilih David menjadi pujaannya hingga dia tiada untuk menyelamatkan nyawa David, sebaiknya kau melupakan Rinjani."

"Itu tidak akan terjadi Brama, kenangan kami bersama begitu indah."

"Terserah kau saja, aku pulang dulu jangan terlalu larut dalam kesedihan jaga kondisi mu juga." Brama menepuk pundak Ken.

Ken mengganggukkan kepalanya Brama berjalan meninggalkan rumah sakit menuju parkiran, Beni pamit dengan Ken dan juga David untuk segera istirahat untuk kepulangan jenazah Rinjani ke Bandung, Ken berjalan masuk setelah melihat kepergian Beni dari depan kamar David, dia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa berusaha memejamkan matanya namun tidak bisa, kejadian itu terus menghantuinya hingga tidak bisa membuatnya tertidur hingga pagi hari.

Pria yang menyebabkan semua kejadian ini tersenyum lebar melihat pemberitaan yang mengatakan kalau jasad Rinjani akan segera di bawa ke rumah kakeknya di Bandung, tak ada rasa bersalah atau pun rasa kasihan di wajahnya hanya ada kebahagiaan kesenangan melihat wanita itu pergi untuk selamanya.

"Kau begitu bodoh, merelakan nyawa mu untuk kekasih mu yang tidak berguna itu." Ucapnya menatap tv.

Pagi ini jasad Rinjani akan di bawa ke Bandung di rumah kakeknya sesuai dengan permintaan keluarga besar Rinjani, David menatap mobil ambulance yang membawa jasad kekasihnya, setelah mengurus semuanya mereka meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Arya yang berada di Bandung. Sepanjang perjalanan David hanya termenung memikirkan Rinjani yang entah di mana, Beni merasa kasihan dan tidak tega melihat David yang terlihat kacau dan juga tidak tidur dengan kejadian ini, tak berbeda dengan David Ken juga hanya menatap keluar jendela termenung memikirkan Rinjani.

Di Bandung Arya dan Rani yang di bolehkan pulang oleh Dafa, akan menyambut kedatangan jenazah Rinjani dari Jakarta thisa dan Angga serta keluarga Dafa menanti kedatangan David dan juga Ken, dari jarak yang jauh Desta memperhatikan wajah kesedihan Rani dan juga kakeknya meski Desta pernah jahat pada Rinjani pun juga terpukul dengan Kepergian mantan kekasihnya.

Dua jam penantian mereka akhirnya deru ambulance memasuki halaman kediamannya, Rani menangis tersedu-sedu melihat jenazah Rinjani yang di tutupi kain kafan dan di bawa masuk oleh Ken dan juga yang lainnya, thisa memeluk erat tubuh Sahabatnya menangis sejadi-jadinya tidak menyangka akan berpisah secepat ini.

Angga berusaha tenang dan tidak larut dalam kesedihannya melihat jasad Sahabatnya, Dafa merasa kasihan kepada Rani dan thisa yang begitu sangat berat hati melepas kepergian Rinjani, Adisti memeluk erat tubuh putranya yang begitu gemetaran melihat Rinjani untuk terakhir kalinya.

"Ini semua salah ku, andai saja Rinjani tidak meminta mobil ku ini tidak akan terjadi." Lirih David menangis tersedu-sedu.

"Jangan menyalahkan diri mu sayang, Rinjani merelakan nyawanya demi menyelamatkan mu jangan membuat pengorbanannya sia-sia." Kata Adisti.

"Rinjani maafkan aku." David benar-benar sangat bersedih.

Terik matahari mulai terasa mereka telah berada di pemakaman khusus untuk keluarga besar Arya, Rani yang di temani thisa dan Angga berusaha kuat untuk melihat Rinjani masuk ke dalam liang lahap, begitu pun Ken dan David berusaha terlihat tenang dan tabah menerima semua ini sesekali air mata mereka menetes melihat Rinjani benar-benar tertutup tanah selamanya.

Arya dan Rani menaburkan bunga dan mendoakan semoga Rinjani tenang di dalam sana, David bersimpuh menatap makam kekasihnya mengalirkan air matanya mengusap lembut batu nisan Rinjani.

"Aku akan menjaga hati ku untuk mu, hingga kau hadir di dunia ini lagi." Ucap David menangis tersedu-sedu.

Para pelayat terharu melihat ketulusan cinta dan ketabahan hati David di tinggal pergi untuk selamanya, David menaburkan bunga dan mendoakan kekasihnya kembali lagi padanya, beberapa menit berlalu mereka berdoa untuk terakhir kalinya meninggalkan pemakaman.

Rani berjalan masuk ke dalam mobil melesat jauh bersama kakek dan juga Dimas menuju kediamannya, David yang berangkat bersama beni kini pulang bersama keluarganya dan akan meminta cuti untuk sementara menenangkan dirinya. Semua nampak pulang bersama keluarganya melesat jauh meninggalkan pemakaman, dari jauh satu pasang mata mendekati makam Rinjani duduk menatap Batu nisan mengusapnya menaburkan bunga air mata mulai mengalir seperti air tak di sangka itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.

"Maafkan aku, aku tidak menyangka kalau itu hari terakhir kita bertemu." Ucap Desta.

"Semoga kau tenang di sana, aku akan selalu mengingat kenangan manis kita, maafkan selama ini aku jahat pada mu." Desta meneteskan air matanya.

Di tempat yang berbeda Dista bersama Gisel dan juga Bastian bersorak kegirangan mendengar berita kepergian Rinjani, dan memilih merayakannya bersama mereka dari pada pergi melayat bersama Desta di Bandung.

"Akhirnya penghalang mendapatkan David sudah tidak ada lagi." Kata Dista.

"Kau benar Rinjani itu cewek yang beruntung tapi sayang dia harus pergi." Ucap Gisel tertawa kecil.

"Sungguh malang nasibnya." Sahut Bastian.

Mereka tertawa bersama di bawah penderitaan orang lain, merasa senang dengan kematian Rinjani dan semakin mudah dirinya mendapatkan David, Desta beranjak dari sana hari semakin sore matahari tak terlihat lagi Desta sesekali meneteskan air matanya berjalan pergi dari sana.

Semua orang merasa sedih dan terpukul akan kejadian ini, polisi pun sudah menutup kasus ini dan menyatakan Rinjani tewas dalam kecelakaan itu, Rani terus memandang foto kebersamaan mereka mengingat momen masa kecilnya hingga mereka dewasa dan pergi seperti ini, Rani tak henti-hentinya menangis mengurung diri di kamar, bahkan menyentuh makan malamnya pun tidak dia sentuh sedikit pun dan masih berada di atas meja dekat kasurnya. Ibu Santi yang berada di kota lain merasa berduka mendengar kematian Rinjani dan akan mempercepat kepulangannya, meski mereka hanya orang lain namun ibu Santi sangat menyayangi Rinjani seperti menyayangi Laras putrinya.

Hari semakin larut Rani belum juga memejamkan matanya tuan Arya merasa sedih akan kondisi sang cucu yang kehilangan kakaknya untuk selamanya, meski hatinya begitu sakit namun dia mencoba untuk kuat dan juga menerima kenyataan kalau Rinjani sudah tiada, dia pun berjalan meninggalkan kamar Rani berjalan masuk ke dalam kamarnya merebahkan tubuhnya yang sudah menua menatap langit-langit kamarnya memejamkan matanya terlelap dalam tidurnya.

Hari demi hari mereka lewati tanpa kehadiran sosok Rinjani di hati dan sehari-hari mereka, David yang telah lama cuti pun sudah masuk kerja kembali sesuai permintaannya atasannya mengijinkan David menetap di Jakarta sebagai atasan Ken dan yang lainnya, hari ini adalah hari pertamanya memulai pekerjaannya sebagai kepala kepolisian menggantikan posisi yang sebelumnya.

"Selamat pagi pak David." Ucap salah satu karyawannya.

"Selamat pagi." Sapa David.

"Silahkan ikut saya, untuk ke ruangan anda."

"Ruangan itu sesuai keinginan saya bukan."

"Semuanya sudah di atur oleh inspektur Ken."

David pun mengikuti langkah bawahannya menuju ruangan yang di mintanya khusus untuknya, pintu yang selama beberapa bulan ini tertutup rapat akhirnya terbuka lebar sejak sekian lama, David berjalan masuk menatap setiap sudut ruangan yang tidak berubah sejak kejadian itu foto kebersamaan mereka pun masih berada di tempatnya.

"Sesuai permintaan anda dan juga inspektur Ken, ruangan ini kami bersihkan dan tidak merubah tata ruangannya."

"Terima kasih, kau boleh pergi sekarang." Ucap Ken.

"Baik pak." Ucap Beni.

Beni berjalan keluar ruangan Rinjani menuju ruangannya David merebahkan tubuhnya di atas sofa, memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan rutinitas pekerjaannya, Ken yang mendengar kalau David menjadi kepala kepolisian di kantornya segera berjalan menuju ruangan Rinjani, Ken mengetuk terlebih dahulu pintu atasannya dan mendapatkan sahutan dari dalam Ken berjalan masuk duduk di sofa tempat biasa mereka berbincang.

"Kau benar-benar, pindah ke sini." Tanya Ken.

"Iya, percuma juga aku di sana kalau pikiran dan hati ku berada di sini." Ucap David.

"David lupakan semuanya, Rinjani berada di tempat yang aman kok, jangan seperti ini." Ken mulai merasa kasihan.

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan bekerja profesional." Ucap David tersenyum.

"Baiklah, selamat atas jabatan baru mu dan selamat datang di kantor kami." Ken menundukkan kepalanya.

"Terima kasih atas sambutannya."

Ken berpamitan untuk segera menuju ruangannya dan tidak menyangka kalau David benar-benar pindah demi kesetiaannya bersama Rinjani, David memulai pekerjaannya yang sempat tertunda melihat-lihat berkas yang bertumpuk di atas meja dan di periksa satu demi satu.

Di Bandung sejak kepergian Rinjani, Rani mulai menjadi pribadi yang dingin dan juga pendiam semua pekerjaannya berantakan dan hanya berdiam diri di dalam kamarnya, Arya mulai khawatir dengan kondisi fisik sang cucu di tinggal pergi oleh kakaknya.

"Dafa apa tidak sebaiknya kita bawa Rani ke psikiater kejiwaan, saya takut kejiwaan Rani akan terganggu." Kata Arya.

"Jangan dulu opa, apa lagi Rani baru saja kehilangan jangan sampai kita mengambil langkah yang salah, aku yakin Rani akan segera sadar dan juga kembali seperti semula opa yang sabar ya." Ucap Dafa.

"Terima kasih, sudah mau menjaga Rani selama ini." Arya tersenyum manis.

"Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pekerjaan di rumah sakit yang harus saya selesaikan." Dafa berpamitan kepada kakeknya.

Arya hanya mengganggukkan kepalanya mengantar Dafa menuju halaman rumahnya, Dafa berjalan masuk ke dalam mobilnya melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Rani, Arya berjalan masuk ke dalam menuju kamar cucunya Arya membuka pintu kamar yang nampak gelap dan berantakan, Arya berjalan menuju balkon menghampiri Rani sedang melamun sendiri.

"Sayang." Ucap Arya duduk di sebelahnya.

"Opa." Lirih Rani.

"Jangan seperti ini sayang, opa tidak bisa melihat mu seperti ini, jangan membuat opa sedih cukup kakak mu membuat opa bersedih, kamu jangan sayang kembali lahh." Arya memandangi wajah sembab cucunya.

Rani memeluk erat tubuh kakeknya mencurahkan semua isi hatinya meratapi kesedihannya, Arya begitu mengerti bagaimana perasaan Rani yang masih saja terpukul dengan kejadian ini, Arya menenangkan cucunya menghapus setiap jejak air mata yang mengalir di setiap pipinya.

"Rinjani akan sedih melihat mu seperti ini."

"Rani belum siap menghadapi semua ini."

"Sayang kakak kamu sudah memilih jalannya sendiri, kita harus menerimanya sampai kapan kamu seperti ini."

Rani terdiam sejenak memandangi wajah teduh kakeknya." Maafkan Rani opa, Rani janji akan menerima semua ini."

"Itu baru cucu opa." Arya mengusap lembut rambut cucunya.

Rani tersenyum manis di saat dirinya merasa terpuruk kakeknya selalu berada di sisinya, Rani beranjak dari duduknya menuju tempat tidurnya kakeknya pamit untuk segera kembali ke dalam kamarnya dan berjalan keluar, Rani menatap foto Rinjani yang terpajang di kamar miliknya.

"Maafkan aku, yang tidak bisa menerima ini semua kamu tidak usah memikirkan keadaan kami, aku janji akan menjaga opa dengan baik." Ucap Rani mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

Senja mulai menjelang Rani yang baru saja selesai dari ritual mandinya berjalan keluar kamar menuju meja makan, di sana kakeknya sudah berada menunggunya untuk makan malam Rani duduk di sebelah kakeknya, mulai mengambil makanan untuk opanya yang seperti di lakukan Rinjani saat di rumah mereka menyantap makan malam bersama tanpa perbincangan seperti biasanya. Lima belas menit berlalu Rani menghabiskan makan malamnya hingga tak tersisa membuat kakeknya bahagia, Rani pamit untuk menuju ke taman belakang Arya mengganggukkan kepalanya Rani segera berjalan menuju taman belakang.

"Semoga kamu bisa menerimanya." Kata Arya menatap kepergian cucunya.

Rani duduk di kursi menghadap langit malam di tempat favorit mereka, deru mobil yang tidak asing baginya memasuki halaman rumahnya, pelayan segera membuka pintu rumah nampak wajah thisa dan Angga yang terlihat sangat bahagia, mereka di persilahkan masuk dan menuju taman belakang tempat berkumpul mereka.

Rani tersenyum bahagia melihat kedatangan para sahabatnya dan terlihat sangat senang hati nampak di wajah mereka.

"Ada apa nihh, senyum-senyum sendiri." Ucap Rani.

"Iya dong, mau tahu nga kenapa." Ucap thisa kegirangan.

"Apaan sihh, jangan buat gua penasaran dong."

"Kita akan segera menikah." Kata Angga antusias.

"Apa." Rani sedikit bengong dengan ucapan Angga." Menikah? Sejak kapan kalian memulai hubungan." Tanya Rani tidak percaya.

"Kami memang nga pacaran sihh, cuman Angga langsung lamar aku barusan nihh." Thisa memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Wahh, selamat ya aku turut senang dengarnya." Rani merasa bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya.

Mereka mengobrol bersama perihal pernikahan Angga dan thisa yang akan di laksanakan bulan depan, thisa begitu bahagia sampai-sampai ingin bermalam bersama Rani untuk mengenang kebersamaan mereka, Angga merasa bahagia bisa menemukan sosok thisa di dalam hatinya meski mereka sebatas teman, namun Angga menemukan sosok wanita lembut dalam hati thisa yang membuatnya melamar thisa di depan semua teman kantornya.

Malam semakin larut Angga pamit untuk pulang meninggalkan thisa dan Rani untuk mengenang masa lalu mereka, Angga melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Rani menuju rumahnya, thisa tak henti-hentinya memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Udah kali liatinnya." Goda Rani berbaring di samping thisa.

"Gua senang banget, nga nyangka kalau Angga akan melamar ku di depan teman kantornya." Kata thisa.

"Rinjani pasti akan bahagia melihat kalian bersatu." Ucap Rani menatap foto kakaknya.

"Jangan sedih lagi ya, gua sama Angga akan selalu ada buat Lohh." Thisa memeluk Rani dengan erat.

Mereka saling berpelukan hingga tertidur pulas di dalam mimpinya, Angga yang baru saja tiba di kediamannya berjalan masuk ke rumah setelah memasukkan mobilnya di dalam garasi, wajah bahagia terlihat jelas dari wajah tampannya mama angga merasa heran dengan wajah kebahagiaan putranya.

"Wahh ada apa nihh, keliatannya bahagia banget."

"Iya dong ma, mama tahu nga akhirnya thisa mau menerima lamaran Angga."

"Oh ya mama sangat senang dengarnya, kapan kalian akan menikah sayang."

"Bulan depan mama restui kami kan." Tanya Angga.

"Tentu mama akan merestui siapapun pilihan hati mu." Difa memeluk erat tubuh putranya.

"Terima kasih mama udah mau restui kami." Angga melepas pelukannya.

"Ya sudah kamu istirahat sekarang."

Angga berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan wajah sumringah kebahagiaan setelah melamar pujaan hatinya, Difa merasa senang akhirnya putranya sudah menemukan pujaan hatinya sendiri.

Sinar mentari menyapa kamar wanita cantik yang sedang bersiap-siap untuk melanjutkan rutinitas pekerjaannya, thisa yang baru saja tersadar melihat Rani sudah rapih dengan pakaian kantornya.

"Cepat banget siap-siapnya." Kata Rani mengucek-kucek matanya.

"Iya pagi ini, opa akan mengumumkan ahli waris perusahaannya." Ucap Rani.

"Akhirnya Lohh mau juga kerja di kantor opa."

"Iya mau gimana lagi, nga mungkin kan opa kerja udah tua gitu, sampai kapan Lohh mau di atas tempat tidur terus udah sana mandi." Ketus Rani.

"/Iya iya bawel luhh." Thisa berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Rani tertawa geli segera keluar kamar setelah melihat dirinya rapih, Arya yang baru saja keluar kamarnya melihat cucunya begitu cantik memakai baju kantornya, Rani segera duduk mengambilkan sarapan pagi untuk kakeknya. Dua puluh menit berlalu thisa berjalan keluar kamar menuju meja makan menghampiri Rani dan kakeknya yang sedang sarapan pagi.

'Pagi opa." Sapa thisa duduk di sebelah Rani.

"Pagi nak." Sapa Arya.

"Ambil sendiri sana, entar Angga nunggu lama lagi." Goda Rani.

Thisa merasa kesal dengan sikap Sahabatnya ini segera mengambil sarapannya naik ke piring, mereka menyantap sarapannya dengan nikmat hanya dentuman sendok yang menghiasi ruangan itu, lima belas menit kemudian mereka menyelesaikan sarapan paginya menyeruput minumannya hingga habis tak tersisa. Deru mobil Angga memasuki halaman kediaman Rani, thisa segera beranjak dari duduknya berjalan menghampiri kekasihnya.

"Pagi opa." Ucap Angga.

"Pagi nak."

"Kita pergi sekarang." Kata Rani.

"Baiklah, opa kami pamit dulu." Angga mencium telapak tangan Arya.

"Baiklah."

"Rani gua duluan ya dahh." Thisa berjalan keluar halaman.

Rani bersiap-siap menunggu kedatangan Dimas untuk menjemput mereka, dua puluh menit kemudian deru mobil Dimas memasuki halaman kediaman Rani, mereka segera beranjak dari duduknya berjalan keluar halaman Dimas segera membukakan pintu untuk atasannya.

"Selamat pagi tuan besar." Dimas menundukkan kepalanya.

"Selamat pagi dim." Ucap Arya masuk ke dalam mobil.

"Selamat pagi nona muda." Ucap Dimas tersenyum manis.

"Pagi mas." Sapa Rani berjalan masuk.

Dimas segera masuk setelah Rani dan kakeknya masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya membela jalan raya menuju kantornya, sepanjang perjalanan Rani hanya menatap luar jendela memandangi gedung-gedung pencakar langit sesekali Dimas melirik Rani dari kaca spion depan.

Dua puluh lima menit kemudian mereka tiba di depan kantor Arya yang menjulang tinggi, Rani berjalan keluar dari dalam mobil memasang wajah datarnya memasuki kantor kakeknya, semua karyawan telah menyiapkan penyambutan atasan baru mereka semua pemegang saham pun ikut berkumpul menyambut kedatangan Rani.

"Selamat pagi semua." Ucap Arya dengan dinginnya.

"Selamat pagi tuan besar." Kata mereka serempak.

"Perkenalkan ini cucu saya, Adzkia Maharani CEO yang akan menggantikan posisi saya nantinya, saya harap kalian bisa bekerja sama dengannya untuk membangun perusahaan ini lebih baik lagi." Tegasnya.

"Selamat datang nona muda."

"Terima kasih, saya harap kalian bisa bekerjasama dengan saya untuk mengembangkan perusahaan opa saya lebih maju lagi." Ucap Rani dengan datar.

Mereka bertepuk tangan menyambut kedatangan Rani sebagai CEO baru mereka, banyak pemegang saham yang meremehkan Rani untuk memimpin mereka, dari wajah Rani yang cantik ternyata sedikit dari mereka tidak menyukai Rani yang terlihat masih bau kencur untuk memimpin perusahaan kakeknya.

Rani berjalan masuk ke dalam lift menuju ruangannya bersama kakek dan juga Dimas, Ting bunyi lift terbuka lebar Rani berjalan menuju ruangannya menatap setiap sudut ruangan, yang telah di rubah dengan sesuai keinginannya.

"Rani nga yakin untuk memimpin mereka, opa."

"Sayang, jangan merasa berkecil hati Dimas akan membantu mu untuk mempelajari semuanya."

"Apa opa yakin."

"Opa sudah yakin jangan merasa takut sayang."

"Baiklah opa."

"Kalau begitu opa pamit pulang, Dimas tolong bimbing Rani untuk mempelajari semua data perusahaan." Kata Arya menepuk pundaknya.

"Serahkan semuanya kepada saya tuan besar, nona Rani akan mengerti secepatnya." Ucap tegas Dimas.

Arya tersenyum bahagia segera keluar dari ruangan cucunya berjalan menuju lift, Rani berjalan duduk di atas kursi kebesarannya menatap kosong ke luar jendela memperlihatkan, jalan raya Bandung yang terlihat ramai dengan kendaraan.

"Nona muda sudah siap." Tanya Dimas.

"Siapa apa mas." Ucap Rani.

"Siap untuk belajar."

"Sudah kok."

Dimas memberikan beberapa berkas perusahaan untuk di pelajari Rani selama seminggu sebelum mengikuti meeting bersama semua pemegang saham, Rani mengusap pelipisnya melihat semua berkas yang berada di depannya namun tak ada jalan lain, tidak ada yang bisa membantu mereka selain dirinya dan akan mengingat pesan Rinjani untuk menjaga kakeknya dan juga perusahaan kakeknya.

thisa cantik banget ya😘❣️❤️

Duhh Rani cantik banget😘❣️❤️

1
Yuli Winarsini
baguss
Sagitarius🐻
Di tunggu ya Kak terima kasih🫶🏻
Sisca Yakub
lanjut
Sisca Yakub
lanjut thor
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
lanjut thor dan semangat thor bikin novelnya
Hustle Flyswat
Hiiii.. makasih loh thor karena udah bikin aku baper parah sama ceritanya hiks
flower bean
Semangat Thor! Jiwa membaraku masih semangat baca semua update-anmu! Mau berapa ratus aku tungguin!
infinite soul
Aduh aku sampe tahan napas baca beberapa bagian ceritanya. Excited banget
zuluandzephyr
Rasanya kaya terombang ambing bacanya! Aku bener-bener merasa seperti nyata!
Winda Utami
Ya author yg chakeeep, bisa kali aku jadi pemeran di dalem ceritanya huehue
Princess D
jejek dulu🥰
Mulya Damanik
Ceritanya bagus thor! Keep it up, ya!
floufrouu
Aku pengen bisa buat cerita kaya kamu Thor. Kamu selalu bikin orang-orang bahagia karena karyamu dibaca orang lain :)
CutieBun
Aku pasti dukung kamu Thor meskipun kamu gantungin ceritanya wkwkwkw Lanjutannya ya Thor!
Anindha.
Semangat untuk karyanya thor🤗

Salam dari "His Heartbeat" 🌺
Hania
like untuk karyamu yang kereeeeen thor
👍👍👍💗💗💗
next
salam dari MAHABBAH RINDU
KETEGARAN BUNDA
SENYUM ANYA
Pin-Up Yang Elegan
up thor,seru banget sumpahhhh
tuan angkasa
Semangat nulis nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!