Rana yang sangat mencintai Revan pada akhirnya sadar bahwa cinta Revan bukanlah untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfitri Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Revan mulai menegakkan bendera kuniang
Sambil menyeduh kopi nya Revan memikirkan bagaimana cara agar anak nya tidak jatuh lagi dari tempat tidur. Sejenak terlontar di kepala Revan untuk tidak memakai tempat tidur, namun cuma pakai kasur saja. Itu lebih baik dari pada iya harus kehilangan anak nya. Revan segera menghabis kan kopi nya. Setelah kopi di rasa habis Revan pun menyusul Rena ke dalam kamar mereka. Melihatnya anak nya yang masih tersedu sedan, Revan tidak bisa menahan sesak di dada nya. Hati nya perih sekali membayang kan anak semata wayang nya harus jatuh dari tempat tidur akibat kelalaian mereka. Revan pun mulai mendekati Rena dan menceritakan ide nya untuk tidak memakai tempat tidur dulu. Rena yang mendengar penjelasan sang suami langsung setuju dengan ide tersebut. Setelah berbincang - bincang, mereka pun melewatkan malam panjang dengan melepaskan rindu dan hasrat satu sama lain.
Keesokan hari nya Revan langsung melaksanakan ide nya semalam. Iya mulai membuka tempat tidur itu, yang tersisa hanya lah kasur nya saja yang tingginya sekitar 50 cm. Menurut mereka dengan ketinggian segitu gak mungkin anak mereka akan jatuh lagi.
***
Hari berlalu, Revan masih dengan kebiasaan nya pagi pergi ke rumah orang tua nya dan malam hari nya baru pulang. Kalau di tanya masalah uang belanja Revan selalu beralasan ini dan itu. Hingga di suatu hari Rena lagi gak punya uang buat beli pempers dan susu anaknya, iya pun minta uang pada Revan. Bukan nya di kasih, eh malah Rena di ajak ribut. Karena Rena sudah sangat kesal sama Revan iya pun meladeni Revan. Rena mulai bicara kasar sama Revan, iya pun mulai menuntut Revan untuk menjadi suami yang bertanggung jawab. Dasar Revan orang nya gak pernah sadar dengan kekurangan dan kesalahan iya malah balik berkata kasar. Sampai - sampai Revan mengungkit - ungkit tentang kakak nya Rena yang gak pernah menghargai nya.
"Emang dasar ya kamu tu sekeluarga gak pernah hargai aku. kalian anggap aku ini apa ha? Kalian pikir aku ini pembantu kalian? Yang se enak jidat berkata apapun pada ku." Revan bicara tanpa sadar padahal iya lah yang telah membuat keluarga Rena membenci nya. Mereka tinggal di lingkungan keluarga Rena, jadi sedikit banyak nya keluarga Rena tau akan tingkah laku Revan sehari - hari. Apalagi Revan yang sering pulang malam dan jarang ngasih Rena uang. Bukan Rena nya yang ngomong pada keluarganya kalau Revan jarang ngasih uang, namun ibu Rena lah yang bilang sama kakak - kakak Rena. Ibu nya Rena tau karena Rena lebih sering minta uang buat beli ini itu kepada orang tua nya.
"Hati - hati kamu kalau ngomong ya. Mau di hormati seperti apalagi sih mau mu? Kamu sadar gak sih kalau emang dari awal hubungan kita gak ada satu pun dari keluarga aku yang suka sama kamu. Jadi kamu mau nuntut gimana? Harus nya kamu yang bakal bikin mereka srek sama kamu, bukan malah kamu nya yang nuntut mereka harus baik - baikin kamu. Terus satu lagi, sebelum nikah kamu gak ada bikin perjanjian sama keluarga aku kalau setelah nikah biaya aku dan anak - anak harus keluarga aku yang tanggung. Kok sekarang kamu malah seperti orang yang gak mau bertanggung jawab? Setiap hari alasan kamu kerja, kerja dan kerja terus. Tapi setiap di minta uang nya selalu ada alasan ini dan itu. Kamu pikir hidup itu cuma butuh cinta apa? Kamu pikir hanya dengan cinta perut kita bakal kenyang. Kamu iya bisa makan enak dengan keluarga kamu, sementara aku dan anak mi gak tau kadang entah makan entah tidak. Kamu pernah mikir gak??? Rena gak kalah keras nya menelan Revan. Namun walau pun begitu Revan gak pernah menyadari semua perbuatan nya. Iya selalu merasa benar. Begitu lah Revan, sifatnya memang sangat egois.
"Kamu tau gak aku tuh kerja buat kamu juga. Ya kebetulan aja sekarang belum ada uang nya. Kenapa kamu gak ngerti - ngerti juga sih? Apa di otak kamu itu hanya ada uang, uang dan uang? Hah?"Terus satu lagi tolong kamu bilang ain sama kakak kamu itu ya, jangan di ulangi lagi bentak - bentak ibu ku. Kalian pikir aku dan ibu ku itu pembantu kalian? yang seenak jidat kalian bentak - bentak." Kemaran Revan mulai merembet kemana - mana.
"Apa kata kamu? Kakak aku bentak - bentak ibu kamu? Aku gak salah dengar kan? Kapan kakak aku ketemu dengan ibu mu? Pulang aja dia bisa di bilang sangat jarang. Apalagi mau ketemu ibu kamu. Jangan ngaco kamu ah. Kalau kita ada masalah tuh, jangan di libat kan orang lain dong, ntar kalau kedengaran orang nya bisa berabe urusan nya". Rena berusaha menjelas kan.
"Emang ibu ku gak pernah ketemu kakak mu, tapi di dalam telfon. Waktu kamu lahiran di rumah sakit. Kakak mu nelfon aku yang kebetulan waktu itu yang angkat hp aku ibu. Kakak kamu langsung marah - marah dan bentak - bentak ibu aku." Kilatan di mata hitam Revan mulai muncul. Iya sepertu orang yang akan menerkam mangsa nya.
"Oh kejadian itu. Hebat ya ibu kamu, bisa memfitnah juga. Terus apa lagi kata ibu kamu? Aku mau dengar seberapa niat nya tuh di ibu pengen buat hubungan kuta hancur berantakan." Rena sengaja mancing emosi Revan. Iya tau kalau udah menyangkut keluarga nya pasti Revan bakal kayak orang kebakaran jenggot.
" Iya kakak kamu bilang nyuruh aku cepat ke rumah sakit. Masak istri di rumah sakit aku enak - enakan tidur di rumah. Trus kakak kamu juga bilang aku yuh orang nya gak bertanggung jawab. Aku selalu bikin susah kalian. " Revan bersorak dengan keras nya.
" Wah hebat ya ibu kamu". Rena terkesima mendengar nya sambil bertepuk tangan. " Hei sekarang kamu dengar ya, aku akan cerita kejadian yang sebenar nya. Pas ketika kakak aku mau balik ke kota, aku takut sendirian. Karena waktu itu aku gak punya pulsa buat nelfon kamu, maka nya aku minta tolong sama dia buat hubungi kami. Saat telfon nya tersambung ternyata yang angkat bukan nya kamu tetapi malah ibu mu. Kakak aku langsung menanyakan keberadaan kamu. Terus ibu mu bilang kalau kamu lagi tidur. Kakak aku minta tolong agar iya membangun kan kamu, tapi ibu kamu kayak nya keberatan kalau harus membangun kan kamu. Iya bilang kalau kamu tuh baru aja tidur karena baru selesai nyuci baju aku dan bayi kita. Mendengar begitu kakak langsung langsung nanya kok bisa nyuci nya selama itu. emangnya nyuci nya keluar negeri? Karena gak masuk akal aja gitu, nyuci pakaian 3 setel Dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang. Kalau menurut aku gak ada yang salah dengan kata - kata kakak aku. Dan iya pun memanggil kamu dan keluarga kamu dengan sopan. Terus kenapa kamu malah bilang kalau kakak aku kurang ajar sih? Dimana letak kurang ajar nya? Bisa dak kamu menjelas kan" Rena menantang Revan. Iya udah capek jadi anak yang penurut.