Rini Atmaja Kesuma membalas dendam kepada paman yang telah merampas harta mereka dan menghilangkan nyawa sopir mereka.
Ternyata tujuannya untuk merebut kembali harta mereka ini akan membuka banyak tabir rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yaff has, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
"O.. gitu ya.. jadi waktu itu kamu dan pamanmu ikut Bi Asih ke kota nya..? "
"Iya Mang. Tapi sebenarnya Aku sangat kesal dengan Mang Karmin karena ikut terpengaruh dengan fitnahan itu."
"Han, namanya juga gosip yang sudah menyebar. Tentu saja semua warga ikut terpengaruh, tidak baik menyalahkan Mang Karmin dan warga. " Bu Retno menenangkan Burhan.
"Betul nak maaf kan kami semua atas ketidaktahuan kami bahwa berita itu fitnah. "
Burhan hanya diam tak menghiraukan perkataan Pak Kades. Untung nya Siti segera mencairkan suasana yang sedang kaku.
"Terus Mulyo sekarang tinggal di mana Ret..?"
Sontak Burhan dan Bu Retno berpandangan. Keduanya seperti terkejut mendengar pertanyaan itu. Tentu saja mereka gelagapan, selama tujuh tahun mereka tidak tau kemana Mulyo dan Istrinya selama ini hingga sekarang.
"Oh.. Mulyo sih masih betah tinggal di kampung istrinya. Mereka beternak ayam kampung di sana. Walaupun begitu, kami masih punya waktu saling mengunjungi. Minggu depan giliran Mulyo yang berkunjung, sekalian memasok telur dan ayam ke beberapa rumah makan langganan mereka di kota ku."
"Wah.. hebat dong Mulyo ya Pak...?.tak disangka hobbi nya melihara ayam malah jadi peternak ayam yang sukses.. "
Burhan sedikit lega. Untungnya Bu Retno pandai sedikit mengarang cerita.
Burhan mengalihkan pandangan ke pergelangan tangannya.
"Mi, sebaiknya kita berangkat..! Jangan sampai orang yang janjian dengan kita itu bosan menunggu. "
Burhan segera berdiri dan melangkah menuju mobil. Melihat hal itu Tejo segera berdiri dan mengikuti majikannya. Namun, Tejo terlebih dahulu mengucapkan terima kasih banyak kepada tuan rumah.
"Oh.. Iya itu sudah kewajiban kami menjamu tamu nak.." kemudian Tejo dan Pak Kades saling berjabat tangan.
Melihat hal itu Retno pun segera berdiri dan mengucapkan terima kasih dan sedikit berbasa basi juga.
"Ya.. Mang. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak atas jamuannya. Siti jika ada waktu datang dong main ke rumah ku.."
"Ya.. Sama -sama Nduk.."
" Ya.. Tentu saja jika ada kesempatan dan waktu. Yang penting saat ini kita semua dalam keadaan sehat. "
"Amin." Tejo dan Pak Kades mengaminkan ucapan Siti. Sementara Retno hanya tersenyum saja. Mereka pun segera menyusul Burhan ke dalam mobil.
Mobil segera melaju menuju tempat pertemuan untuk menyurvei lahan dan sekaligus melakukan Transaksi jika semua sudah merasa cocok.
"Mi.. Untungnya tadi mami pande ngarang cerita tentang Paman Mulyo."
"He..he.. Iya Han, Mami hampir bingung mau jawab apa."
"Tapi.. , memangnya Paman dan Tante Mirna kemana ya Mi..? kok tiba-tiba aja menghilang..?"
"Mami juga heran, Kemarin aja Mami sempatkan ke kampung halaman Tantemu. Mereka tetap tak tahu kabar Paman dan Tante mu."
"Aneh ya Mi..?"
"Hmmm.."Bu Retno menghela nafas panjang.
*****
Pov Mulyono
Tak sengaja Aku mendengar percakapan Burhan dengan Mbak Retno ketika mereka asik bercengkrama di depan televisi. Tentu saja karena rumah kami ini juga tidak besar. Sehingga untuk melewati ruangan ini saja Aku berjalan di dekat mereka. Namun, anehnya mereka tidak menyadari keberadaan ku.
Semenjak Tuan Abdi bangkrut karena di tipu oleh sekretaris pribadinya. Mungkin karena syok, Tuan Abdi sakit-sakitan dan mengalami gejala Stroke. Sementara rumah di sita Bank. Akhirnya dengan senang hati kami membawa mereka ke rumah kami yaitu rumah yang kami tempati dulu dan pernah juga di tempati Burhan untuk sementara. Rumah ini adalah peninggalan orang tua Marni.
Hati ku berdesir tatkala mendengar sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Burhan.
***"Gini aja mi, kita singkirkan dua orang itu, kemudian kita merencanakannya, dan akhirnya kita leluasa beraksi gimana mi..?"***
Aku tersentak mendengar perkataan Burhan. Dua orang..? Siapa yang dia maksud..? Apakah Aku dan istriku..?
Aku pun segera berlari menuju kamar, ingin mendengarkan lebih lanjut percakapan mereka. Untungnya mereka membelakangi ku sehingga mereka tak melihat aku yang sedang tergesa-gesa masuk ke dalam kamar ku.
****"Maksudmu membunuh papi dan adikmu..? Gila kamu han..!! Kamu pengen nginap di hotel prodeo ya..? Gila kok ngajak mami..? " Mami sekali lagi menoyor kepalaku.
"Bukan seperti disengaja mi, akting mi... akting.."
"Maksudnya apa sih..?"
"Kita putus rem mobil Atmaja ketika hendak pulang ke desanya. Kan desanya itu melewati jalan berbukit dan banyak jurangnya, tiba-tiba mobil nya blong dan masuk jurang emangnya kita yang di salahkan..?" Aku menaik turunkan alis ku pertanda ide ku ini sangat masuk akal.
"Emang gila nih anak..tapi terserah kamu aja deh.."
"Nah, ape gue bilang..? Akhirnya mami setuju kan..? Tapi mami juga harus merestui anak mami ini untuk menikahi Tini..."
"Dasar mabuk janda..."
"Ha.. ha.. ha.."*****
Mereka tertawa lepas, Kesimpulannya Aku yakin jika Mbak Retno juga menyetujui rencana Burhan. GILA...
Tak ku sangka ke dua orang yang ku kenal berkepribadian baik itu berubah menjadi penjahat hanya karena 'HARTA'.
Malam pun tiba, tak sanggup rasanya untuk memejamkan mata. Tak ada tanda-tanda mata yang hendak tidur. Semua percakapan Burhan tadi yang sempat ku dengar, terngiang di telinga. Hal itu membuatku tak tenang .Sehingga tubuhku pun tak bisa diam di atas ranjang reot kami.
"Kenapa sih Mas..? Kok dari tadi kayaknya Mas gak bisa tenang.? Ranjang kita jadi ribut nih.., Nanti Mbak Retno sama Burhan mikirnya yang lain lagi.. gak malu apa..? Hei..? " Marni mencubit pinggang ku karena tidak merespon perkataan nya sehingga Marni makin curiga.
"Ah.. Sakit neng.."
"Makanya jangan melamun.. Ada apa sih Mas. ?"
Aku menatap mata Marni dengan tajam. Haruskah aku menceritakan semuanya percakapan Burhan yang sudah Aku dengar..?
"Kamu pasti terkejut mendengar cerita ku . Mas aja sampe tak.."
"Terkejut... cerita aja dulu Mas...!" Marni menggoyang lengan ku.
"Baiklah. Kita duduk saja biar Aku cerita. Aku memang sungguh tak tenang jika menyimpan nya"
Marni segera mengikuti arahan ku. Sekarang dia sudah duduk dan sangat siap mendengar cerita ku . Marni memang sudah hapal kebiasaan ku. Jika ada beban pikiranku Aku selalu bersikap seperti ini. Aku pun segera duduk di samping nya.
Dengan gamblang ku ceritakan semuanya. Tuntas sudah beban pikiranku. Kini tinggal ekspresi Mirna yang menunjukkan keterkejutan nya mendengar cerita ku.
"Jadi, gimana menurut mu Mas..? Kasihan Pak Abdi..."
"Ya.., walaupun Retno kakak kandung ku. Tetap saja Aku tak pernah setuju dengan rencana mereka. Makanya Mas ingin dengar pendapat mu gimana..?"
"Hm.. gila ya...?. Neng gak abis pikir dengan Mbak Retno. Kenapa tiba- tiba Mbak Retno jadi gitu ya..? "
"Itu makanya Neng... Ngeri kuping Mas mendengar kata bunuh dari mulut ponakan Mas sendiri. "
"Gini aja Mas, Kita harus tetap berusaha nguping pembicaraan mereka dulu. Agar kita tahu apa yang akan mereka rencanakan. "
"Ya betul juga. Kalau tidak salah minggu depan waktu nya Atmaja mengunjungi Tuan Abdi ya neng..?"
"Nah, Betul Mas.. Pasti saat itulah mereka menjalankan aksi mereka. Sebelum terlambat kita harus bergerak cepat Mas.."
"Ya, tentu saja.. bagaimana pun Mas gak tega dan tak akan memaafkan diri ku jika mereka ber hasil melakukan pembunuhan itu."
"Saya juga Mas.. Ya ampun.. Burhan, Mbak Retno.. ada apa dengan mereka ..?"
Ternyata, Nasib baik masih berpihak kepada kami. Karena Marni masih sempat mendengar lagi rencana untuk memutus rem mobil itu. Setelah kedatangan Atmaja kami sudah tak sabar untuk memberitahukan nya.
Tentu saja kami langsung menceritakan semuanya kepada Atmaja.yaitu rencana pembunuhan kepada Atmaja dan Tuan Abdi dengan cara memutus rem mobil milik Atmaja.
Sehingga nanti akan terjadi kecelakaan tunggal di saat melewati jalan pedesaan yang berkelok, curam dan naik turun.
Tengah malam Aku segera memperbaiki mobil Atmaja hanya seadanya saja, benar saja rem nya sudah hampir putus. Tentu Burhan sudah melakukan itu kemarin. Karena besok pagi Atmaja akan kembali ke desa dan membawa Tuan Abdi ikut serta.
Setelah Atmaja dan Tuan Abdi meninggalkan rumah. Aku dan Istriku berpamitan hendak ke pasar. Padahal, Atmaja sedang menunggu kami di persimpangan. Di sana sudah menunggu mobil yang baru di belikan Atmaja untuk kendaraan kami menuju Kota Bi Asih. Hanya Bi Asih keluarga kami satu-satunya yang masih ada.
Pakaian kami seadanya sudah terlebih dahulu di masukkan ke bagasi sewaktu aku memperbaiki rem mobil.
Atmaja menunggu kami tidak terlalu jauh dari rumah. Sehingga rem mobil nya mesih berfungsi untuk menghentikan mobil itu. Sementara itu mobil rusak ini di suruh Atmaja untuk di bawa drek ke alamat yang di berikan dan di buang ke jurang.
Sehingga Burhan dan Mbak Retno akan mendengar berita yang membahagiakan bagi mereka. Dengan judul berita
'Sebuah Mobil Terjun Bebas Ke Dalam Jurang '
Sementara itu, kami berpindah mobil dan mengganti arah tujuan ke Kota yang lain...
'BURHAN , MBAK RETNO... SUATU SAAT NANTI KAMI AKAN KEMBALI DAN MEMBERIKAN KEJUTAN '
***** Bersambung *****