Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk Aku, Gwi.
Gwiyomi terbangun saat mendengar ketukan pintu dengan suara yang cukup keras. Ia berusaha mengumpulkan setengah nyawanya yang masih belum lengkap. Ia sedikit mengernyit saat melihat jam yang menunjukkan pukul tengah malam.
"Mungkin Hazel sudah pulang," gumam Gwiyomi segera beranjak untuk membukakan pintu.
Sebelum Gwiyomi membuka pintu, ia mengintip sedikit siapa orang yang datang dari lubang kecil yang ada ditengah pintu. Namun, sedetik kemudian matanya membulat sempurna saat melihat sosok Hazel yang pulang dengan keadaan babak belur.
Gwiyomi cepat-cepat membuka pintu dan Hazel langsung ambruk di dalam pelukannya.
"Hazel! Kau kenapa?" Tanya Gwiyomi dengan begitu paniknya. "Ayo masuk dulu," ujar Gwiyomi memapah Hazel masuk kedalam kamar mereka.
Gwiyomi tidak tahu apa yang sudah terjadi hingga membuat Hazel terluka parah seperti ini. Ia hanya tersenyum miris melihat luka-luka lebam dan juga goresan disekitar tubuh Hazel.
"Kamu tiduran aja, aku ambil kompres dulu," kata Gwiyomi membantu Hazel untuk rebah lebih nyaman, ia juga melepas jaket dan juga sepatu pria itu agar lebih nyaman.
Gwiyomi mengambilkan kompres dan juga obat untuk Hazel dengan cepat. Raut khawatir dalam wajahnya itu tidak bisa disembunyikan lagi hingga rasanya ia ingin sekali menangis.
"Siapa yang sudah melakukan ini padamu? Kau bertengkar?" Gwiyomi mulai membersihkan luka Hazel dengan kapas.
"Ssshhhhhh ..." Hazel meringis kesakitan, lukanya semakin perih saat Gwiyomi memegangnya.
"Maaf, maaf, kita kerumah sakit aja ya? Luka kamu parah banget ini Haz," ujar Gwiyomi semakin cemas.
"Nggak usah." Hazel menggeleng pelan.
"Tapi ini parah Haz, kau harus dirawat," kata Gwiyomi sudah hampir menangis, ia tidak tega melihat luka-luka di sekujur tubuh suaminya.
"Aku tidak apa-apa, aku pasti sembuh kalau kau merawat ku," ujar Hazel mencoba tersenyum meski lukanya sakit jika digunakan untuk tersenyum.
"Aku tidak mau kau kenapa-kenapa Haz." Gwiyomi malah menangis dan langsung memeluk Hazel dengan erat, pria ini sudah menguasai hati dan jiwanya, ia tidak sanggup jika harus melihat Hazel terluka seperti ini.
Hazel tersenyum tipis namun rasanya ia ingin menangis, kalau saja Gwiyomi tahu apa yang sudah dilakukannya, apakah wanita ini juga akan menerimanya seperti ini?
"Gwi, jangan menangis. Kau tidak pantas menangisi pria seperti diriku," ucap Hazel mengusap air mata Gwiyomi perlahan.
"Kenapa tidak? Kau yang sudah membuatku seperti ini Haz," kata Gwiyomi justru kian menangis.
"Gwi, aku ingin mengatakan satu hal padamu. Mungkin, hal ini bisa membuatmu marah dan mungkin saja akan membenciku," ujar Hazel ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Gwiyomi.
"Aku akan membenci mu kalau kau tidak menurut padaku. Mulai sekarang kau tidak boleh bekerja lagi, aku akan minta uang kepada Papa untuk biaya hidup kita," tukas Gwiyomi kembali mengobati luka Hazel.
"Tidak Gwi, kau harus tahu kalau aku-"
"Sudah diamlah, jangan banyak berbicara. Aku akan mengobatinya dulu, nanti kau boleh berbicara lagi," sergah Gwiyomi tidak mau mendengarkan apapun, ia hanya ingin mengobati luka Hazel dengan tenang agar tidak infeksi.
Hazel menipiskan bibirnya, ia sudah tidak bisa lagi mengatakan apapun. Mungkin nanti ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan. Biarlah Gwiyomi membencinya sekarang, wanita itu berhak tahu kalau dulu dia memang se brengsek itu meski kini ia benar-benar mencintai wanita itu.
"Sakit banget ya? Kenapa sih anak cowok itu kalau nyelesaiin masalah harus pakai otot? Di omongin baik-baik nggak bisa apa?" Gwiyomi khawatir seraya mengomel kesal.
"Sudah bawaan lahir," sahut Hazel sekenanya.
"Aku nggak suka ah kalau kamu kayak gini lagi," tukas Gwiyomi mengerutkan dahinya kesal.
"Kau benar-benar mencintaiku ya sekarang?" ujar Hazel secara tiba-tiba.
"Apa aku perlu mengatakannya?" Gwiyomi menjawab seraya melirik Hazel dengan kesal.
Hazel tersenyum, ia meraih tangan Gwiyomi lalu menciuminya. "Jika kau memang mencintaiku, apakah kau mau memaafkan ku jika aku telah melakukan hal jahat padamu?" ucap Hazel dengan tatapan sendunya.
"Kau ini aneh, kalau kau mencintaiku, kau tidak mungkin berbuat hal jahat padaku." Gwiyomi malah mengernyit heran mendengar ucapan Hazel. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tebaknya entah kenapa merasa curiga.
"Aku ... " Hazel ragu untuk mengatakannya saat melihat wajah Gwiyomi. Apakah sekarang ia harus mengatakannya? Haruskah semua kebahagiaan ini berakhir sekarang juga?
"Aku apa?" Gwiyomi menanti jawaban dari Hazel.
"Aku tidak akan berbuat jahat padamu, aku selalu mencintaimu dan akan menjagamu melebihi nyawaku sendiri."
Nyatanya nyali Hazel tidak seberani itu untuk mengakui perbuatannya kepada Gwiyomi. Ia bukan hanya merusak wanita ini, tapi ia juga sudah berniat sangat buruk dengan menjadikannya taruhan. Hazel langsung memeluk Gwiyomi dengan sangat erat hingga nafasnya sesak.
"Maafkan aku."
"Haz?" Gwiyomi malah kebingungan dengan sikap Hazel ini, ia merasa pundaknya basah pertanda jika Hazel sedang menangis.
"Kau kenapa Haz?" Gwiyomi mengurai pelukannya, ia menatap wajah Hazel yang memerah lebam dan juga menangis.
"Aku hanya sedih karena akhirnya bisa mendapatkan cintamu. Malam ini, aku ingin tidur memelukmu," kata Hazel mengusap air matanya dengan cepat.
Gwiyomi masih terlihat heran, tapi ia tidak mau memperpanjang karena ia tahu jika Hazel saat ini butuh istirahat. "Baiklah, tapi kau ganti baju dulu," kata Gwiyomi bangkit dari duduknya.
Gwiyomi mengambilkan baju untuk Hazel, ia juga membantu pria itu melepas kaosnya. Entah matanya yang salah lihat atau bagaimana, ia melihat luka seperti luka bakar dileher belakang Hazel. Saat ia ingin menyentuhnya, pria itu sudah keburu memakai bajunya kembali dan langsung merebahkan dirinya.
"Peluk aku, Gwi." Hazel merentangkan kedua tangannya, meminta Gwiyomi masuk kedalam pelukannya.
"Ya." Gwiyomi mengangguk cepat, ia ikut merebahkan dirinya dan Hazel langsung memeluknya dengan erat.
"Selamat tidur," ucap Hazel dengan mata terpejam.
"Selamat tidur juga," sahut Gwiyomi melirik Hazel sekilas.
Tadi itu luka apa? Aku yakin tidak salah lihat. Bagaimana Hazel bisa memiliki luka seperti itu dilehernya? Selama ini Hazel juga tidak pernah mengganti baju didepannya. Sampai sejauh ini ia hanya melihat Hazel telanjang dada saat mereka bercinta. Apakah hal ini yang sedang Hazel tutupi?
Pikiran-pikiran itu terus berlomba merasuki otak Gwiyomi hingga wanita itu tidak bisa tidur. Ia penasaran dan ingin melihat luka itu tadi, tapi ia malah merasa takut jika apa yang dicemaskan nya justru membuatnya terluka.
Tidak, tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah berjanji untuk selalu percaya pada Hazel. Pria itu tidak mungkin melakukan hal keji itu.
Gwiyomi membuang pikiran gila itu jauh-jauh, ia memutuskan untuk langsung tidur dengan memeluk Hazel di dalam dekapannya.
******
Keesokan harinya, Gwiyomi terbangun saat hari sudah cukup siang. Ia melirik Hazel yang masih terlelap damai di alam mimpi. Ia mengernyit saat melihat luka Hazel yang kini terlihat sangat jelas.
"Bagaimana dia bisa terluka separah ini," gumam Gwiyomi tidak habis pikir.
Gwiyomi beranjak turun dari kasurnya, ia ingin mencuci mukanya namun niatnya diurungkan tatkala ia mendengar bel apartemen berbunyi.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Gwiyomi heran, tidak biasanya ada tamu yang datang ke Apartemen mereka.
Gwiyomi segera beranjak untuk melihat siapa tamu yang datang. Ia sedikit mengintip dan semakin heran saat melihat sosok orang yang datang.
"Selamat pagi, Gwi." Brian langsung mengulas senyuman khas dirinya saat Gwiyomi membuka pintu.
"Ada apa kau kesini?"
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa