Ketika seluruh Bataliyon Sekutu diperintahkan untuk mundur, ada satu Divisi yang secara kebetulan tidak menerima perintah itu.
Yang pada akhirnya membuat mereka masih tetap bertahan di garis depan, bertempur mati-matian untuk mempertahankan Ibukota yang sedang mereka tempati sambil berharap agar bala bantuan segera datang.
Namun semua berubah ketika musuh yang telah lama mereka lawan tidak lagi sama, mereka menjadi makhluk yang mengerikan, mereka monster!
Catatan:
1. Ini bukan cerita cinta
2. Sistem
3. Protagonis rasa Antagonis
4. Pedagang Lintas Dimensi
5. Over Power
6. Expert Management Kota
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Aku telah memasang beberapa dungeon tingkat A di 3 provinsi yang berbeda. Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Sulawesi Utara. Namun tak lama setelahnya, dungeon-dungeon itu dapat di taklukkan.
Ada banyak sekali Guild besar yang mulai bermunculan karena apa yang aku lakukan dan dapat menangani dungeon itu dengan sangat baik.
Karenanya, aku merasa kesal. Permainan ini menjadi sedikit tak begitu menyenangkan karena apa yang aku ciptakan dapat dikalahkan begitu saja oleh mereka.
Akibatnya, aku marah-marah tanpa alasan yang begitu jelas ke beberapa orang. Melempar beberapa alat makan dan membalik sebuah meja. Tentunya Elf adalah satu-satunya target pelampiasan yang paling ideal.
"Kau Elf sialan! Apa kau pikir teh ini rasanya enak?!" tanyaku penuh akan amarah.
Karena keributan yang aku perbuat, Kaila memasuki ruangan.
"Siapa yang membuat teh ini bedebah?!" tanyaku ke arah Sasya.
Sang Ratu Elf itu, aku sedikit muak melihatnya. Karena sedari tadi dirinya mondar mandir melewati ruanganku yang pintunya tak tertutup.
"A-aku..." jawab Kaila dengan nada yang terdengar sedikit bergetar.
"Benar!" ucapku singkat. Tak menyangka bahwa Kaila lah yang bertanggung jawab atas minumanku ini.
"Namun karenamu!" ucapku sambil menunjuk ke arah Sasya. "Teh ini terasa hambar dan menyedihkan, bahkan tanaman pun akan mati setelah meminumnya."
Aku memaki dan menunjuk ke arah Sasya dengan amarah yang memuncak. Namun sang Ratu hanya dapat tertunduk dalam diam dengan kondisi mata yang mulai berkaca-kaca.
Karena sudah merasa puas dengan apa yang aku lakukan barusan, aku memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan kekacauan itu di belakang.
Di dalam ruang singgasana. Tanpa kehilangan fokus sedikitpun, Doni terlihat menikmati waktunya sambil membaca sebuah koran.
"Aku memarahi Elf itu agar kau tak perlu melakukan hal yang sama kepada Elf lain di luar sana," ucapku menghela nafas.
"Hmm ... argumen yang sungguh menarik," gumamnya. "Aku membaca koran agar kau tak perlu melakukannya."
Kebijakan pers telah di perbaharui di negara ini. Semua media swasta di perbolehkan untuk mencetak sendiri majalah atau koran harian yang nantinya akan di publikasikan hingga ke seluruh kota.
Saat ini, selain Ibukota. Ada 2 kota besar yang mulai di bangun di sekitarnya. Yaitu Kota A dan Kota B. Pembangunan kota-kota itu rencananya untuk menunjukkan kestabilan produksi dan penyelarasan ekonomi yang lebih terjangkau bagi sebagian masyarakat.
Tak lama berselang, selanjutnya Victor datang dan melaporkan beberapa hal kepada kami.
Saat tengah mengejar para Separatis Elf masuk lebih dalam ke Hutan Suci. Para Prajurit menemukan sebuah rawa di hutan. Karenanya, banyak yang mati di rawa itu.
"Oh hebat sekali Elf itu," ucapku.
"M-maaf! Namun Prajurit kami tewas bukan karena Elf. Melainkan buaya, " jawab Victor yang membuat kami terkejut setelahnya.
Mereka yang tewas karena serangan binatang buas adalah sebuah tragedi, sedangkan mereka yang mati karena serangan Separatis dapat disebut sebagai seorang Pahlawan. Dua pernyataan itu mungkin sedikit kontroversial di kalangan banyak orang, namun memang kenyataannya seperti itu.
Karenanya, dalam suasana hati yang penuh akan duka. Aku menyempatkan diri untuk hadir ke pemakaman 29 Prajurit yang tewas karena serangan binatang buas.
"Bagaimanapun, mereka semua tewas selama bertugas."
Dengan demikian, pidatoku mengakhiri pemakaman kali ini dan semua orang turut prihatin atas apa yang terjadi.
...-...
...--...
...-...
Kasus bunuh diri untuk pertama kalinya tercatat dalam sejarah. Seorang pria paruh baya tewas setelah loncat dari gedung setinggi 11 lantai.
Wasiatkan hanya mengatakan bahwa dirinya sudah muak dengan apa yang terjadi. Lelah akan masa lalu yang terus menghantui dirinya.
Karena kebebasan pers yang baru, membuat kasus bunuh diri ini menjadi sedikit lebih populer di banyak majalah dan koran. Dengan cepat dapat menggiring opini banyak orang.