Johni, seorang pemburu harta karun profesional yang juga adalah seorang agen khusus kepolisian. Seorang penjelajah alam yang tampan juga flamboyan, suka berpetualang cinta dan menaklukan wanita. karena begitu banyak wanita dalam hidupnya dia mendapatkan julukan pria penghibur. baginya wanita adalah sebuah pertualangan dan hiburan saja akankah dia menemukan wanita yang bisa menaklukan hatinya dan menjadi cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon agung nathanael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Untuk Johni Dari Nyonya Besar
Keempat pria misterius penyerang rumah Jhoni itu menjadi ciut nyalinya menghadapi senjata berat buatan Rusia yang dikeluarkan oleh Jhoni.
Senjata khas militer itu bukanlah musuh yang sebanding dengan senjata api milik mereka. Lalu,
"Kaburr!" teriak salah seorang dari keempat pria misterius itu.
Niat dari Johni yang hanya ingin menakut-nakuti mereka itu, membuatnya tidak ingin mengejar keempat pria misterius yang lari tunggang langgang ketakutan.
"Brengsek!" gerutu Jhoni sambil menurunkan senjata berat itu.
"Apa katamu Jhon?" tanya Dini yang tiba-tiba sudah ada disamping Jhoni.
"Oh, maaf Din.Bukan kamu maksudku. Tapi, orang-orang itu tadi Din, maaf-maaf Din," ucap Jhoni.
Sementara itu di mobil van hitam para penyerang di rumah Jhoni barusan tadi,
"Sial bos, orang itu punya senjata otomatis, bisa mati konyol kita! Waduh bisa-bisa jadi janda istriku nanti, Bos," ucap salah seorang penyerang rumah Jhoni dengan memegangi jok depan mobil kepada pria yang sedang menyetiri mobil van hitam itu.
"Brengsek, kenapa nyonya besar tidak memberitahu kita tentang hal itu, sial!" maki Pria itu dan memukul keras setir mobil itu membuat mobil itu sedikit limbung berjalannya.
"Awas Bos!" seru Temannya yang duduk dibelakang saat mobil yang dikendarainya itu hampir saja menabrak nenek-nenek yang hendak menyeberangi jalan yang sedang sepi itu.
"Sialan," gerutunya sambil melihat sepion mobilnya.
Tampak sang nenek mengacungkan tinjunya dengan rasa marah, yang terlihat dari sepion mobilnya yang berjalan perlahan.
Di rumah Jhoni,
"Siapa mereka, Jhon?" tanya Dini setelah menganggukkan kepalanya sebagai jawaban permintaan maaf Jhoni kepadanya tadi.
"Entahlah, Din. Tapi feelingku mengatakan mereka orang-orang suruhan dari si Randi, Din," jawab Johni yang masih berdiri di teras rumahnya sambil menatap pintu rumah yang baru saja diperbaikinya itu menjadi rusak parah terkena berondongan peluru keempat pria misterius itu.
Tiba-tiba, terdengar suara nyaring dari ponsel Jhoni.
Ringggg,ringgg,ringgg!
Lantas Jhoni mengangkat ponsel itu. Lalu, terdengar suara dari dalam ponsel itu. Katanya,
"Selamat siang, Jagoan. Sudah sampaikah hadiahku untukmu? Serahkanlah patung emas itu jagoan. He.he.he.he!
Johni mendengar suara wanita yang sedikit serak dari dalam ponsel itu yang menertawakannya. Lalu, cepat-cepat Jhoni mematikan ponsel itu.
Sialan, siapa orang itu? Dan apa hubungannya dengan patung emas itu? ucap Johni dalam hatinya.
"Ada apa Jhon?" Dini penasaran melihat Johni yang terdiam setelah menerima telepon dari handphonenya.
"Entahlah, Din. Sepertinya feelingku kali ini salah. Rupa-rupanya yang mengirim orang-orang tadi bukanlah Randi, Din. Semua ini ada hubungannya dengan patung emas itu Din" jawab Johni yang lantas duduk di teras termenung berpikir. Hatinya bertanya-tanya siapa wanita misterius itu.
"Patung emas, Jhon katamu," desis Dini yang masih berdiri di teras itu, menatap Jhoni.
"Iya Din, mereka menginginkan patung emas itu," sahut Johni.
"Kita harus melacak nomor ini,Din"Johni lantas menyodorkan handphonenya kepada Dini.
"Ya, Jhon. Tapi panggilan itu nomornya dirahasiakan," jawab Dini setelah mengecek handphone Johni kemudian mencari panggilan yang terbaru di handphone itu.
Panggilan yang nomornya tidak terlihat dilayar itu sedikit menyulitkan Dini
"Sepertinya kita harus minta bantuan unit cyber Jhon untuk melacak panggilan ini," ucap Din lagi.
"Ya, Din. Akupun berpikir sama sepertimu. Aku akan coba menemui sahabatku di kota ini untuk membantuku melacaknya nanti Din," balas Jhoni.
"Biar aku saja Jhon. Aku akan melacaknya di kantorku bersama temanku," ucap Dini yang sedikit memaksa Jhoni dan enggan menyerahkan handphone itu ke Johni.
"Tapi, Din. Ya deh, kalau kamu memaksa, tapi aku ikut ya? Gak nyaman rasanya kalau tidak ada handphone itu," Akhirnya Johni pun terpaksa memberikan handphonenya dengan Dini asalkan dia ikut serta dalam penyidikan itu.
Tadinya Johni ingin menyelidiki sendiri masalah itu namun,
Sudahlah Dini sekarang kan sudah bagian dalam hidupku, biarkanlah ucap Johni dalam hatinya.
"Baiklah, Din. Kapan kita berangkat? Sekalian aku antar kamu pulang ke kotamu. Bukankah kamu juga ingin pulang?"tanya Johni yang kemudian berdiri menatap Dini.
"Oh ya, Jhon. Aku memang sudah bersiap-siap. Barang-barangku pun sudah kukemasi tadi pagi untuk kembali pulang. Kita berangkat satu atau dua jam lagi,ya," jawab Dini.
"Sial," gerutu Johni. Yang membuat Dini bertanya padanya, tanyanya,
"Kenapa lagi, Jhon?"
"Gara-gara empat pengacau itu rumahku jadi berantakan, terpaksa aku membereskan ini semua baru bisa kita berangkat, Din. Aku tinggal kamu sebentar ya. Aku akan keruang bawah tanah dulu ,Din. Mengembalikan ini dan mengambil peralatan untuk memperbaiki ini semua. Sekalian aku ingin melihat patung emas itu Din," jawab Johni yang menunjukkan senjata beratnya.
"Tolong handphone ku Din," pinta Jhoni dengan menggunakan tangan kirinya.
"Oh ya ini, sekalian juga rompiku Jhon," ucap Dini yang kemudian melepas rompi anti peluru itu dan memberikan handphone yang dipinta oleh Johni dan juga rompi anti peluru itu kepada Johni.
Johni kemudian bergegas ke ruang bawah tanahnya.
Tanpa disadari mereka, keempat pria misterius itu kembali ke rumah Jhoni dan mengendap- endap. Mencari kesempatan untuk menyerang Jhoni.
Setelah keempat pria itu melapor ke majikan mereka yang mereka panggil dengan Nyonya besar itu. Mereka dipaksa kembali untuk menghabisi Johni. Dan dengan perasaan terpaksa keempat orang itu mematuhi perintah Nyonya besar. Walaupun mereka sebenarnya sudah merasa takut dengan Jhoni.
Keempat orang itu langsung masuk ke rumah Johni yang saat itu sedang berada di ruang bawah tanah.
Dini yang sedang berada di kamar, tidak mengetahui kedatangan dari keempat orang itu yang sedang berjalan perlahan mengendap-endap memasuki ruang tamu dari rumah Jhoni. Lalu,
gludak!
Salah seorang dari mereka menyenggol meja tamu Jhoni dan menjatuhkan vas bunga yang ada diatas meja itu.
"Maaf Bos," desis Orang itu.
"Sst! Itu!" Pimpinan dari para penyerang misterius itu menunjuk Dini yang sedang berada di dikamar namun pintu kamarnya terbuka separuh sehingga membuat dirinya terlihat oleh keempat pria misterius itu.
"Jhon," seru Dini yang mendengar suara yang berasal dari ruang tamu itu dan memanggil Jhoni tapi tak ada sahutan dari Johni
"Johni!" panggilnya lagi denga suara agak keras namun tetap saja Johni tidak menyahut.
Dini merasakan sesuatu yang aneh saat itu kemudian meninggalkan pakaian yang sedang dirapikannya diatas tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamar itu.
Tiba-tiba,
"Siapa kalian!" bentak Dini yang sangat terkejut melihat empat orang itu.
Keempat orang itu langsung menyergap Dini yang tadi sempat berusaha melawan, namun keempat orang itu adalah para pembunuh profesional yang dengan mudah melumpuhkan Dini.Lalu,
"Jhon, Jhon!" teriak Dini yang telah ditangkap dan berontak oleh keempat orang misterius itu lalu dipakaikan penutup kepala dan dibawa kedalam mobil van hitam mereka.
Tidak lama kemudian Jhoni muncul dari ruang bawah tanahnya di ruang tamu itu dengan membawa sekotak peralatannya.