Indonesia
NovelToon NovelToon
Whispers of The Enchanted Realm

Whispers of The Enchanted Realm

Status: tamat
Genre:Elf / Roh Supernatural / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vivin Febry

Cathleen, seorang gadis muda dan cantik yang baru berusia 21 tahun tidak sengaja menemukan sebuah pintu yang ternyata mengarahkannya ke dimensi lain. Ia terjebak di sebuah tempat asing yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk menawan yang bukan manusia. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang pria menawan bernama Evander yang merupakan penguasa di negeri itu. Cathleen terpikat pada pria itu, namun siapa sangka bahwa takdirnya adalah dibunuh oleh pria yang dicintainya. Akankah ia mampu merubah takdir yang telah digariskan untuknya?
Ikuti terus kisah cinta mereka dalam novel ini! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Dengan Evander

Aku mencoba mencerna apa yang baru saja aku dengar. Calon tunangan? Apa yang dimaksud Dalish bahwa dia adalah calon tunangan Evander? Apakah Evander berpura-pura bahwa ia mencintaiku? Apa dia sengaja menyembunyikan ini dariku? Hatiku terasa begitu sakit. Baru semalam aku dan Evander mengikat jiwa dan raga kami, lalu tiba-tiba pagi ini semuanya terasa berantakan.

"Omong kosong!" Evander mengucapkannya dengan nada tinggi penuh emosi.

Dalish mendengus ke arahnya. Ia terlihat tidak takut sama sekali.

"Apa yang kau bicarakan?" tantang Evander.

"Kau berpura-pura lupa atau kau sengaja menghindar dari tanggung jawabmu sebagai pewaris tahta?" Dalish balas menantang Evander.

"Aku tidak pernah menyetujui pertunangan macam apapun!" Bentak Evander.

"Kau konyol! Berhentilah merajuk seperti anak kecil! Keberlangsungan kerajaan ini ada di pundakmu, Evander!" balas Dalish dengan nada tinggi yang sama.

Ketegangan begitu terasa di ruangan ini.

"Kau lupa bahwa orangtuamu telah memerintahkan mu untuk memimpin kerajaan ini bersama dengan ku?"

Evander menggeleng tanpa menjawab.

"Kau jangan pura-pura lupa!" ujar Dalish, "Sebelum meninggal, ayahmu menyuruhmu untuk melanjutkan tahtanya dan menyuruhmu untuk menikahi ku demi memperkuat kerajaan ini." Ia melanjutkan.

"Tapi aku tidak mencintaimu!" jerit Evander.

"Persetan dengan cinta! Yang perlu kau lakukan hanyalah menjalankan perintah untuk memimpin negeri ini!" balas Dalish.

Aku mengikuti pertengkaran mereka berdua.

"Tidak!" bisik Evander.

"Apa? Kau tidak mau menjalankan tugasmu sebagai seorang pemimpin?" ejek Dalish.

"Aku tidak bisa." Kali ini ini suara Evander terdengar seperti bisikan.

"Kau akan mengkhianati orangtuamu?" tantang Dalish.

"Diam!" Kali ini Evander berteriak.

Aku menegang mendengar suara teriakannya. Bahkan aku bisa merasakan raungan Azelyn di dalam benakku. Naga itu pasti memantau situasi yang sedang terjadi saat ini.

Evander berbalik dan berjalan dengan marah meninggalkan ruang makan.

"Kau akan menanggung akibatnya!" teriak Dalish ke arahnya.

Evander menghilang di lorong yang mengarah keluar istana. Mungkin dia akan menemui Azelyn. Aku masih berdiri dengan tubuh kaku dan memandangi Dalish dengan tatapan waspada.

Kali ini tatapan Dalish tertuju padaku. Tatapan yang penuh dengan kebencian.

"Kau!" ujarnya padaku.

Aku bergeming dan tidak menampakkan wajah ketakutan oleh ancamannya.

"Aku akan membunuhmu," bisik Dalish padaku.

"Coba saja!" tantangku.

"Berani-beraninya kau!" teriaknya.

"Kau! Pergilah!" Perintah Baltazar padanya.

Ia mengalihkan tatapannya pada Baltazar dan menggeram marah. Namun ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah.

"Aku terkesima oleh keberanianmu menantang penyihir itu," ujar Baltazar tertawa.

"Aku berbakat dalam menyembunyikan ketakutanku." Aku balas tertawa.

Kami berdua tertawa beberapa saat hingga aku merasakan panggilan Azelyn di dalam kepalaku.

"Azelyn memanggilku, saat ini dia sedang bersama Evander," ujarku pada Baltazar.

Ia mengangguk.

"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu ke sana."

Kami berdua berjalan meninggalkan ruang makan. Namun sebelum pergi, Baltazar membungkus beberapa makanan untukku dan Evander.

"Ini, untukmu dan Evander," ujarnya dan menyerahkan bungkusan makanan itu padaku.

Aku menerimanya dengan senang hati.

"Terimakasih!" ujarku.

"Pergilah! Temui Evander!"

Aku mengangguk dan berlari keluar istana ke tempat Azelyn dan Evander menunggu ku.

Di sana, di lapangan luas di bagian belakang istana, Evander duduk bersandar pada paha Azelyn. Ia tampak lelah. Matanya terpejam. Azelyn melingkupinya dengan sayap besarnya seolah untuk melindunginya. Aku ingin mengabadikan pemandangan itu.

Aku berlari ke arahnya. Evander membuka matanya ketika menyadari kehadiranku.

"Kau datang," ujarnya dengan wajah lesu.

Aku menyerahkan bungkusan makanan itu padanya.

"Baltazar ingin kau memakannya," ujarku.

Ia membuka bungkusan itu dan tersenyum.

"Baltazar selalu tahu apa yang ingin aku makan," senyumnya.

"Baiklah, kalau begitu ayo makan," seruku. Aku mengambil sepotong daging rusa berlumuran madu yang terasa begitu lembut dan lezat.

"Apakah kau mau makan?" tanyaku pada Azelyn.

"Aku baru saja menghabiskan dua ekor rusa berukuran besar di hutan," serunya dengan senang.

"Wow," seruku.

Evander tertawa mendengar seruanku.

"Itu belum seberapa, terkadang dia bisa menghabiskan lima ekor sapi yang berukuran besar dalam sekali makan," jelas Evander padaku.

"Kau harus memiliki banyak stok persediaan sapi di sini," tukasku sambil tertawa.

Evander tertawa bersamaku seolah ia melupakan hal yang membuatnya marah tadi tadi. Melihatnya tertawa ceria seperti ini membuat hatiku terasa hangat. Aku ingin selalu melihatnya tertawa bahagia. Ia berhenti mengunyah ketika menyadari tatapanku yang terpusat padanya.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanyanya terlihat gugup. Apakah elf bisa gugup begitu? Aku tertawa dalam hati.

"Aku senang melihatmu tertawa," balasku.

Ia meletakkan sisa makanannya dan meraihku ke dalam pelukannya. Kami tidak berbicara melainkan hanya menikmati momen kami bersama.

"Perihal ucapan Dalish tadi di ruang makan," ucapannya terhenti.

"Aku tidak ingin membahasnya saat ini," ujarku. Aku tahu bahwa topik itu akan melukai Evander. Jadi aku ingin menghindarinya.

1
Harutya
lanjut kan
Vivin Febry: siap boskuh💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!