Seorang gadis yang sudah menggeluti dunia hitam sejauh otaknya bisa menggigat, selalu dibayangi rasa bersalah disetiap hembusan nafasnya. Ia menyesal sudah merenggut masa depan seorang anak. Sisa hidupnya akan dilakukannya untuk menebus dosa yang ia perbuat.
"Aku akan memberikanmu kehidupan yang bersih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MN.Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuan Mereka Sebenarnya
"Aku akan melanjutkan proses pengintaian. Kalian cukup tahu beres saja. Ingat, ini tugasku, jadi jangan membebani diri kalian sendiri. Selanjutnya, kalian masih harus mengerjakan misi dari klien." Kata Aldino.
"Iya iya. Kami cuma ingin tahu progresnya kok." Brian mengangkat kedua bahunya.
Velly mengambil salah satu foto dan melihatnya. Yang dikatakan Aldino memang benar, mereka tidak diwajibkan ikut mencari Zergan. Tapi rasanya sangat menyebalkan saat tahu orang yang menipunya untuk membunuh Ergino masih bebas berkeliaran.
"Velly, aku harap kamu menjaga Adrian dengan baik. Karena Zergan ada di kota ini, aku takut mereka mengincar Adrian." Aldino menasehati.
"Baik kak."
...****************...
Keesokkan harinya. Adrian sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Dia sudah sarapan bersama anak-anak lain. Dan sekarang dia sedang memakai sepatu.
"Selamat pagi."
Adrian mendongak. Pandangannya bertemu dengan Velly yang sedang tersenyum. "Kakak?" Meskipun sangat senang, tapi Adrian ingin pura-pura marah agar kakaknya itu tahu kesalahannya soal meninggalkan dia kemarin.
"Kuantar ya."
"Tidak usah!" Adrian buru-buru pergi setelah selesai mengenakan sepatu.
"Ada apa? Kamu marah ya?" Tanya Velly sambil mengejar Adrian. Tapi setelah itu dia ingat kejadian kemarin. "Maaf kemarin aku buru-buru, jadi meninggalkanmu sama Brian."
"Dimaafkan. Tapi..." Adrian berhenti berjalan dan menatap Velly. "Nanti kakak harus menjemputku."
Velly mengangguk. "Tenang saja. Aku malah ingin menunggumu sekolah."
"Hah?! Menungguku?!"
Bukannya menjawab, Velly malah menarik Adrian pergi. "Ayo ayo, nanti kamu telat."
Setelah sampai di sekolah, Adrian langsung masuk karena hampir saja dia terlambat. Sementara Velly menunggunya di gerbang sekolah sesuai perkataannya.
Dia masih disana?
Adrian yang berada di kelas, bisa melihat Velly berdiri di dekat gerbang melalui jendela di kelasnya. Adrian tidak habis pikir kenapa kakaknya tiba-tiba ingin menunggunya sekolah? Benarkah kakaknya itu merasa bersalah karena meninggalkannya kemarin?
"Adrian!"
Adrian tersentak saat guru yang sedang mengajar tiba-tiba meneriakinya. "Ya Bu?"
"Matamu melihat kemana? Ibu guru sedang menjelaskan disini, ya lihat kesini! Kalau kamu tidak mau memperhatikan pelajaran ibu, keluar sana!"
Adrian hanya menunduk dan mulai membuka bukunya. Dia juga heran kenapa para guru jadi suka memarahinya sejak nilainya turun? Dulu saat dia masih menjadi si nomer satu, para guru selalu menyanjungnya, tersenyum, dan bersikap baik. Mereka berkata kalau dia adalah harapan sekolah. Tapi setelah nilainya turun, bukannya semakin memperhatikannya, dan mengajarinya lebih, mereka malah marah-marah tidak jelas. Padahal Adrian hanya pura-pura bodoh dan sengaja menurunkan nilainya.
"Selanjutnya, kita akan membahas tentang nilai ujian minggu lalu."
Sementara itu Velly menunggu sambil melihat-lihat ponselnya. Brian mengirim daftar misi yang masuk untuk hari ini. Semuanya misi kelas rendah. Dia yakin kalau Brian akan memberikan misi itu pada orang lain.
Berarti jadwalku kosong kan? Aku bisa beristirahat sebentar.
Velly terus menggulirkan ponselnya melihat misi-misi lain. Kebanyakan adalah misi mencuri berkas. Belakangan ini, banyak pembisnis yang saling senggol, jadi mereka banyak misi untuk dikerjakan.
...****************...
Di tempat lain. Di sebuah bangunan tua bekas gudang barang. Sekelompok orang sedang berkumpul menghadap laki-laki yang duduk diatas box barang.
"Zergan, semuanya sesuai rencana."
Laki-laki tadi melompat turun dari atas box. Dia tersenyum bangga dan menepuk bahu bawahannya yang selesai melapor tadi. "Bagus Alexa."
Zergan beralih pada perempuan berambut biru yang sedang menatapnya dingin. "Apa? Kau ingin protes lagi?" Tanya Zergan, dan perempuan itu segera menggeleng.
Zergan lalu berjongkok dan menatap gadis kecil yang tadi hanya bersembunyi dibalik tubuh ibunya. "Qiaqia. Paman bangga padamu. Aktingmu bagus sekali. Besok lakukan lagi."
Gadis kecil bernama Qiaqia itu hanya mengangguk, dan kembali bersembunyi dibalik ibunya.
"Mereka pikir, mereka menang atas kita. Tapi, mereka tidak akan pernah tahu tujuan kita yang sebenarnya. Masa bodoh dengan 11 tahun lalu! Tujuan kita dari dulu masih sama. Yaitu dia!" Zergan menunjuk gambar yang dia pajang dengan penuh coretan kekesalan. "Samuel Frankie."
...****************...