Puber kedua, menghancurkan pernikahan Tatiana Ramos dan Brandon Wirawan. Ketika sang istri sibuk mengembangkan bisnis di luar negeri, suaminya yang ditinggal selama 2 bulan justru sedang mabuk kepayang dengan gadis muda yang usianya 10 tahun lebih muda dari istrinya.
"Kamu membiarkan dia menginap di kamar kita, mas? apa kamu sudah gilaa?"
"Siska tak punya kerabat di kota ini, dia sebatang kara. Ingatkah saat aku bertemu denganmu pertama kali, kamu juga sebatang kara Tatiana!"
Dengan dalih mirip dengan istrinya 10 tahun lalu, untuk pertama kalinya selama 10 tahun, Brand mendebat Tatiana.
"Maafkan aku Nyonya, tempat tinggal ku sedang diperbaiki..."
Mata Tatiana melebar, wanita itu bahkan mengenakan gaun tidurnya. Dia tidak tahan lagi, hanya dua bulan, dan itupun demi perusahaan mereka yang sempat merugi milyaran rupiah. Tapi begitu dia kembali, suaminya malah bermain api.
'Suami pengkhianatan dan bodoh seperti ini, aku benar-benar tidak butuh' geram Tatiana dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Brandon mencoba berpikir kembali. Kemana istrinya itu pergi. Di rumah tidak ada, di villa jelas-jelas tidak ada, karena dia juga baru mengantarkan Siska ke villa. Di rumah Yuli pun tak ada.
Setahunya, Tatiana sama sekali tidak punya siapa-siapa. Tidak mungkin juga pergi ke ruang Lulu sekertaris nya. Lulu tinggal dengan orang tuanya. Tidak mungkin Tatiana nekat kesana.
Akhirnya, Brandon pergi ke rumah orang tuanya. Begitu sampai disana, Brandon tak melihat ayah atau ibunya. Keduanya tentu saja sudah tidur.
"Nyonya dan tuan sudah tidur..." Pelayan mencoba memberitahu Brandon.
"Apa Tatiana di sini? dia di kamar mana?" tanya Brandon.
Yang dia pikirkan, terakhir kali ya cuma rumah orang tuanya. Karena memang tidak ada tagihan kartu kredit, atau debit. Kalau Tatiana menginap di hotel, harusnya ada penarikan dana di ATM atau pakai kartu, dan notifikasinya akan masuk ke ponsel Brandon. Tapi sampai sekarang sudah ada. Jadi, Brandon pikir, istrinya itu pasti pergi ke rumah orang tuanya.
"Tidak tuan, nyonya muda tidak datang. Terakhir kali saat makan siang itu..."
"Tatiana!" geram Brandon.
**
Pagi menjelang, Brandon bahkan ketiduran di sofa. Feby yang memang sudah terbiasa bangun pagi, terkejut melihat anaknya yang tidur di sofa, bahkan tanpa selimut.
"Brandon!"
Feby menggoyangkan lengan Brandon, membuat Brandon terganggu dan akhirnya bangun.
"Ibu..."
"Kamu kenapa tidur di sini? kenapa tidak tidur di kamar?" tanya Feby cemas.
Brandon mengusap wajahnya dan memposisikan dirinya duduk di sofa itu. Feby juga segara duduk di sebelah anaknya.
"Ada apa? ada masalah di perusahaan? memangnya apa kerja istrimu itu? bukannya harusnya dia yang mengatasi semua masalah di perusahaan?"
Brandon masih diam. Hingga Burhan datang, dan wajahnya tampak serius.
"Ada apa? kenapa tengah malam kemari? bertengkar dengan Tatiana? apa gara-gara sekertaris kamu itu lagi?" tanya Burhan curiga.
"Ayah bicara apa sih? kenapa seolah menyalahkan Brandon. Kalau mereka bertengkar, itu pasti ulah Tatiana!"
Burhan mendesah kasar.
"Ada apa?"
"Tatiana, tidak pulang ke rumah. Tidak juga di rumah Yuli. Aku pikir Tatiana mungkin disini..."
Burhan segera berdiri.
"Dia tidak pulang? apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Burhan tampak marah.
"Ayah, kenapa berteriak begitu pada Brandon? tidak pulang ke rumah, paling dia ke villa. Disana juga sangat nyaman kan?" kata Feby.
"Ibu, dia tidak mungkin disana. Rumah kontrakan Siska sedang diperbaiki, aku mengijinkan Siska tinggal di villa!"
"Apaaa!" Burhan sekali lagi membentak Brandon.
"Ayah, Siska itu disini sebatang kata...!"
"Tatiana tahu soal itu?" sela Burhan.
"Dia tahu!"
Plakk
"Suamiku, kenapa memukul Brandon?" Feby segera menjadi penengah antara Burhan dah Brandon.
Karena baru saja, Burhan memukul Brandon dengan cukup keras.
"Kamu tanya aku? kenapa aku pukul dia? sekarang aku tanya padamu, kalau aku mengijinkan sekertaris ku tinggal di villa kita. Bagaimana perasaan mu?" tanya Burhan pada Feby.
Dan Feby yang sejak tadi terus pembela anaknya dan membantah perkataan suaminya langsung bungkam seribu bahasa. Dia tentu saja, tidak akan rela dan tidak akan senang kalau hal itu sampai terjadi.
"Sudah tahu kenapa Tatiana marah, dah pergi? dasar anak tidak tahu malu, tidak tahu diri. Memangnya kalau kontrakannya di renovasi, itu menjadi tanggung jawab mu untuk menampungnya. Katanya dia cuma sekertaris mu, kan? kenapa kamu bertindak sejauh itu?" Burhan sangat marah pada Brandon.
Brandon juga mendengus kesal.
"Ayah, aku hanya kasihan pada Siska. Dia itu sebatang kara di kota ini. Dulu, Tatiana juga begitu. Aku sudah bilang pada Tatiana, aku hanya akan mengajarinya selama tiga bulan, setelah dia bisa menguasai pekerjaannya. Aku akan jaga jarak dengannya. Tatiana tidak mau dengar sama sekali!"
Brandon membela dirinya di depan ayahnya. Dan ibunya tampak percaya. Tapi bagi Burhan, itu hanya alasan anaknya membenarkan tindakannya yang tidak benar.
"Usia ayah sudah dua kali lipat lebih banyak daripada usiamu, Brandon. Kamu pikir ayah percaya dengan semua yang kamu katakan?"
"Ayah..."
"Jika sampai terjadi sesuatu pada menantuku, aku tidak akan menganggap mu anak lagi!" sela Burhan bicara dengan begitu tegas pada Brandon.
Faby langsung panik, dia juga kaget selain.
"Ayah, kenapa bicara begitu!"
"Kamu juga diam! selama ini kamu juga sudah banyak bicara tajam pada Tatiana. Seandainya kalian tahu, apa saja yang sudah dia upayakan untuk keluarga ini!" geram Burhan.
Burhan mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi menantunya. Dia khawatir sekali pada Tatiana.
Cukup lama juga, panggilan itu tersambung tapi tidak diangkat juga. Hingga ketiga kalinya akhirnya panggilan itu diterima Tatiana. Ya, karena dia memang masih tidur. Itu masih sangat pagi.
[Halo ayah...]
"Tatiana, nak. Syukurlah kamu mengangkat telepon ayah. Bagaimana keadaan mu? kamu baik-baik saja?" tanya Burhan.
Brandon yang mendengar panggilan dari ayahnya diterima, tapi panggilan darinya sudah puluhan kali tidak dijawab. Menjadi sangat kesal.
[Aku baik-baik saja ayah. Ada apa ayah?]
Feby tampak mencebikkan bibirnya. Bisa-bisanya masih bertanya kenapa? karena kecemburuan Tatiana yang membabibuta, anaknya dipukul oleh ayahnya. Dan harus tidur di sofa. Feby jadi kesal sekali pada Tatiana.
"Ayah dengar kamu tidak pulang ke rumah, kamu tinggal dimana Tatiana? jika memang masih marah pada Brandon, tidak mau bertemu dengannya untuk sementara waktu. Kamu bisa tinggal di rumah ayah nak!"
[Ayah, ayah tahu darimana...]
"Brandon yang bilang, dia juga sudah mengakuinya. Dia biarkan sekertaris nya itu tinggal di villa. Itu kan yang membuatmu marah nak. Tatiana, ayah minta maaf untuk apa yang Brandon lakukan. Ayah akan minta dia mengusir wanita itu. Tidak aman tinggal di luar nak, pulang ya!"
[Ayah, ayah tidak perlu lakukan itu. Untuk sementara aku tidak bisa pulang. Aku tidak bisa ceritakan pada ayah di telepon. Nanti aku akan mengunjungi ayah, aku harus bersiap. Aku akan berangkat ke perusahaan. Aku usahakan siang ini mengunjungi ayah]
"Baiklah nak" Burhan pun tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia menghormati apapun keputusan Tatiana.
"Dia benar-benar ya, aku menghubunginya puluhan kali..."
Brandon menjeda ucapannya karena ayahnya melotot padanya.
"Mandi sana, jernihkan otakmu! ayah tidak mau tahu. Wanita bernama Siska itu, usir dari villa hari ini juga!"
"Tapi ayah, dia akan tinggal dimana?"
"Apa itu urusanmu? memangnya dia anak asuhmu?" pekik Burhan.
"Brandon, dengarkan ayahmu. Nanti ayahmu sakit!" kata Feby.
Brandon mengepalkan tangannya. Dia heran, kenapa ayahnya selalu lebih membela Tatiana daripada dirinya.
***
Bersambung...
kok🥹🥹
yah begitulah, selingkuh emang penyakit.
susah sembuh nya...jadi jgn pernah kasih maaf kalau pasangan kita udah selingkuh,tuman dia.
kalau kata koh juga,dr cerita si air hujan. yg disangkanya ketemu danau,itu ujungnya tapi ternyata bukan.
karena pada akhirnya air ujung ke laut.
dan kalau kau jodohku,pasti cepat atau lambat kau akan datang padaku.
karena dr awal memang kau milikku
jiaaaaah...
terimakasih atas cerita indah nya Thor...😍😍😍😍