Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dari samping, bayangan besar terlihat, tangannya memegang sebuah gagang payung berwarna hitam
Cahaya lampu makam yang terang berada tepat di belakangnya
Menjadikan wajahnya tenggelam dalam gelap. Hanya garis rahang dan bahunya yang tergambar samar, seperti potongan bayangan
Clare tidak bisa melihat ekspresinya. Yang terlihat hanya siluet tinggi yang berdiri diam, mengawasi
Lalu sosok itu melangkah maju satu kali, keluar dari cahaya dan...
Clare terpaku saat melihat yang keluar dari cahaya itu siapa
"Jhon!?" suaranya keluar lirih, nyaris seperti bisikan
Rasa takut yang tadi mencekam seketika berubah menjadi rasa kesal
"apa yang kamu lakukan di sini! Kamu membuatku takut!" tanya Clare, Suaran bergetar karena marah
Jhon tak menjawab. Ia melangkah mendekat. Bayangannya memanjang di atas tanah makam
"apa kamu membututiku!" tanyanya, terdengar menghakimi
"tidak!" jawab Jhon, suaranya rendah namun serak
"lalu! Mengapa kamu bisa sampai di sini"
"mungkin kebetulan!"
Clare mengendus, melihat wajah Jhon dengan jelas "berhenti berbohong!" desis Clare
"aku sama sepertimu! sedang berziarah dan kebetulan bertemu" jelas Jhon. Namun Clare tidak gampang untuk mempercayai omongannya
"jika kamu tidak percaya biar aku antarkan kamu ke makam Nenek ku sekarang!" ujarnya, meyakinkan
Angin malam bertiup, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja,
Clare menatap mata Jhon lama. Pria itu tidak berkedip. Tatapnya lurus, seolah benar-benar tidak ada yang ia sembunyikan
Clare menghembuskan napas besar, Rasa curiga dalam dadanya mengempis, berganti dengan rasa bersalah karena telah menuduh
"maaf" gumamnya pelan "aku..... hanya terkejut!"
Jhon tak menjawab, ia hanya mengangguk satu kali singkat
"Sekarang! Mari kita pulang" ajaknya
Clare mengangguk, ia berjalan di samping kanan Jhon
Sekian lama berjalan, mereka sudah keluar dari area makam, langkah terasa lebih cepat karena tak sendiri
Di parkiran, mobil hitam milik Jhon menunggu, ada seseorang di jok supir itu, sedang tertidur, punggungnya bersender
"pulang bersamaku, ke rumah kita!"
Clare berhenti berjalan, kaku mendengar kata 'rumah kita' yang terasa asing untuknya
"Jhon..." suara Clare pelan "aku ingin pulang ke rumahku saja!"
Jhon menatapnya, mata gelap itu tidak berkedip sama sekali. Tidak ada ruang untuk Clare negosiasi bersamanya
"Baiklah! Ke rumahku, karena rumahku adalah rumahmu" ujarnya, terdengar seperti paksaan
"Naik!" perintah Jhon. Singkat. Tegas
Clare menggigit bibir, ia menoleh ke arah makam yang gelap di belakangnya. Lalu menoleh lagi ke arah Jhon
Angin malam berhembus, mencekam. Membuat badannya merinding
Clare menghela napas. Kalah
"iya," gumamnya
Jhon berjalan membuka pintu kursi penumpang, mempersilahkan Clare untuk masuk
Di dalam mobil..
Bima masih tertidur, pulas. Tak terbangun kan oleh suara suara berisik di sekitar
Jhon menoleh ke jok depan, menghela napas panjang
"Bima!" panggilnya, berat, memerintah
Bima tersentak, matanya langsung terbuka, bingung namun waspada "siap! tuan!" jawabnya cepat
"kamu dipekerjakan bukan untuk tidur!"
Bima langsung duduk tegak, punggungnya kaku, ia menelan ludah
"maaf, tuan. Saya ketiduran" katanya cepat
Clare di samping Jhon ikut menahan napas. Aura Jhon saat marah berbeda, seperti pembunuh
Jhon bersandar di jok, matanya masih menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras
"jalankan mobil," perintahnya
"baik, tuan" Bima buru-buru menyalahkan mesin
Hening...
Suara mesin meraung pelan, memecah keheningan di dalam mobil
Clare mencuri pandang ke arah Jhon. Pria itu tidak meliriknya sama sekali
*Dirimu yang ini sungguh menakutkan, Jhon* batin Clare