Indonesia
NovelToon NovelToon
GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Zombie
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.

Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.

Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?

Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.

"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"

Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.

Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"

Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Permainan Emosi

Napasnya memburu di koridor sempit yang buntu terkepung oleh erangan zombie yang menggema.

Saat tangan-tangan pucat bersisik pucat itu menjangkau wajahnya Ruby mengayunkan pedang dengan kedua tangannya.

Suara Jleb - Krek! Yang mengerikan terdengar saat logam tajam memutus rahang bawah zombie terdepan hingga hancur berkeping-keping.

Jaringan otak dan darah pekat tebal terciprat ke dinding, menyisakan keheningan sesaat yang mencekam di bawah temaram lampu yang berkedip.

"Waahhh.. Makin hari kamu makin hebat!" Seru Glen memberi pujian. Yang lainnya juga sangat hebat, tapi entah kenapa Ruby terlihat lebih menonjol, gerakannya seperti sudah menyatu dalam dirinya.

"Ehmm.. Berhentilah memuji!" balas Ruby yang sudah terbiasa mendengar pujian itu. Dia juga merasakan tenaga fisiknya makin kuat.

"Kalau begitu, kamu puji aku saja!" ucap Glen sambil berdiri dengan percaya diri, seolah sudah siap menerima pujian.

Ruby menggeleng kecil, sikap Glen yang blak-blakan dan humoris sangatlah berguna untuk tim di saat-saat mereka sedang kelelahan.

"Benar! Aku harus memujimu.!" kata Ruby. "Ilmu medismu sangatlah berguna untuk kami. Terima kasih sudah mau berjuang dengan kami!"

"Ya. Ilmu yang sangat berguna!" sela Jack.

Glen tertegun, dia sedikit tersipu. Padahal yang dia inginkan adalah pujian bertarungnya melawan para zombie.

"Hahaha . Hei Glen apa yang kamu harapkan?" Kety tertawa melihat rekannya itu yang sangat kanak-kanakan..

"Oh ayolah.. Sedikit pujian saja, misalnya aksiku saat menombak mata zombie!"

"Keren!" ucap Ruby dan yang lainnya dengan serempak.

Glen tersenyum puas, tapi kenapa merasa ada yang aneh. "Hmm aku memang keren!"

"Ya ya.. Sangat keren, gagah dan berani. Apa sekarang sudah puas?" tanya Mohan sambil menghela napas panjang.

"Hahaha... Bro, kamu yang paling mengerti isi hatiku!"

Setelah drama pujian itu, Ruby dan yang lainnya baru sadar jika ada sekelompok orang di sisi lain sudut ruangan.

Mereka berada di gedung kosong, gedung yang sudah terbengkalai beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum Virus Zombie bermula. Jadi pertanyaannya, apa yang mereka cari di gedung terbengkalai itu? Pasti sudah tidak barang yang berguna.

"Ehh.. Itu tadi, maaf ya sudah melihat lelucon!"

"Bukan masalah. Mencari sedikit hiburan bukanlah hal yang memalukan!" ucap seorang wanita.

"Ya. Dan terima kasih atas bantuannya!" sela seorang Pria.

"Bukan apa-apa. Kami cuman kebutulan lewat! Tapi ini gedung tua, apa yang kalian cari?" tanya Ruby sedikit penasaran.

"Emm kami sedang memburu zombie.!" jawab salah satu mereka dengan jujur.

Ruby sedikit terkejut. "Memburu Zombie? Apa kami sudah mengganggu tugas kalian?"

"Eh mana mungkin. Kami juga tadi sangat kewalahan.!" jawabnya membantah. "Apa kalian juga sedang memburu zombie?" tanyanya karena perkataan Ruby seoalah sudah tahu mereka sedang menjalankan tugas.

"Nggak! Kami dengar dari beberapa penyintas. Ada pangkalan yang menyediakan makanan tapi harus membunuh zombie terlebih dahulu. Jadi aku langsung menebak, kalian juga sedang bekerja!" jelas Ruby.

"Benar. Kami sedang memburu zombie untuk tetap bisa hidup. Dan kebetulan, tadi ada beberapa zombie di gedung ini, jadi kami masuk saja. Tapi kami sudah kelelahan!"

"Terima kasih atas bantuannya! Kalian sangat hebat!"

"Hmm sudah, jangan berterima kasih lagi!" kata Ruby sambil berjalan keluar. Dia makin penasaran dengan pangakalan tersebut.

Mereka berkumpul di depan gedung, kelompok itu bertanya dari mana Ruby berasal, apakah mereka tinggal di pangakalan pemerintah atau militer?

Ruby menjelaskan, jika dia dan lainnya tinggal di pangkalan yang mereka bangun sendiri.

"Sudah siang. Apa kalian ingin ikut ke tempat istirahat kami?!" ajak Ruby. Dia sudah sangat yakin pangakalan itu pemimpinnya pasti si Pameran utama.

Ruby tidak terburu-buru, dia ingin mereka sendiri yang bernisiatif untuk ikut bergabung dengannya. Bukan dia tidak suka cara kerja yang dibuat oleh pemeran utama.

Tidak ada salahnya bekerja untuk makan, karena diperkebunan juga seperti itu. Tapi Pameran utama hanya memanfaatkan mereka.

Setiap hari harus berburu zombie dengan berkelompok. Meski mereka berhasil membunuh banyak zombie, jatah yang mereka dapat juga untuk sehari, padahal pameran utama mendapatkan banyak hadiah dari sistem.

Kelompok itu juga tidak bisa berbuat curang, karena nama mereka sudah tercatat resmi di pangkalan dan otomatis terhubung dengan sistem, jadi sistem bisa tahu berapa jumlah zombie yang mereka bunuh dalam sehari.

Itu sangat tidak sebanding dengan jerih payah mereka yang mempertaruhkan nyawa hanya untuk makan sehari.

Dan yang lebih parah, jika ada yang tidak berguna di pangkalan, pameran utama akan menularkan virus zombie dan membunuhnya dengan tangannya sendiri karena dia akan mendapat hadiah dua kali lipat.

***

Mereka tiba di rumah kosong, Ruby dan timnya sudah membersihkannya sebagai tempat peristirahatan mereka selama ada di daerah tersebut.

Rumah itu memiliki pagar tembok yang tinggi, jadi sedikit membuat mereka bisa bersantai dari zombie.

"Jangan ragu! Kami sudah membersihkannya dengan baik.!" kata Ruby setelah membuka pintu rumah dan mempersilahkan mereka masuk. Setelah bersih-bersih di halaman luar.

Kelompok itu awalnya tidak ingin ikut, mau bagaimanapun mereka baru saja bertemu, tidak ada salahnya bersikap hati-hati dan waspada kepada orang asing.

Jack dan yang lainnya sudah terbiasa dengan permainan perasaan yang dilakukan Ruby. Memberi kenyamanan, tidak mengusir dan tidak menyuruhnya tinggal, hanya benar-benar mampir saja.

Kety masuk dapur dan mengeluarkan beberapa botol air dan makanan ringan.

"Minumlah! Setelah itu kalian bisa istirahat!" ucap Ruby. "Cuman makan seadanya saja, kami nggak berani membuat makanan yang beraroma kuat!"

"Terima kasih!"

Kelompok itu tertegun melihat botol air dan roti yang masih tersegel. Itu artinya bukan diisi sendiri, Ruby benar-benar punya stok makanan.

"Kami nggak bisa terima. Kalian cepat sembunyikan!" ucap salah satu dari kelompok tersebut.

"Benar! Kalian pasti bersusah payah untuk mendapatkannya. Simpan saja, kami juga masih ada air!" ucap yang lainnya sambil mengeluarkan air dari botol minum yang diisi ulang.

Ruby tersenyum, jika itu orang yang serakah pasti langsung mengambilnya tanpa ragu, bahkan bisa saja langsung merampok tas mereka saat di jalan tadi.

"Kami masih ada untuk beberapa hari. Kalian makanlah!" pinta Ruby sambil membuka bungkus rotinya.

Roti itu perbekalan yang di bawa oleh Leo beberapa hari yang lalu. Di perkebunan sudah ada pabrik makanan manual, seperti roti itu hasil dari panen gandum yang digiling jadi tepung.

"Benar nggak apa-apa?" tanyanya dengan ragu tapi matanya terus memandangi roti dengan tatapan lapar.

"Tentu saja. Makanlah! Aku juga mau bersih-bersih dan berganti pakaian.!" ujar Ruby sambil beranjak. "

Kety dan yang lainnya juga berpamitan untuk mandi dan beristirahat. Rumah itu lumayan besar, memiliki 7 kamar dengan ukuran yang sama.

Di gudang tempat penyimpanan ada genset, jadi mereka bisa menyalakan listrik untuk menampung air.

Kelompok itu saling tatap, kewaspadaan mulai turun tapi mereka tidak langsung memakan roti itu. Siapa yang tahu, apa yang ada di dalam roti itu?

"Aku yang akan mencicipinya lebih dulu!" ucap seorang pria sambil mengambil roti dan membukanya. Dia mengendus dan tidak mencium ada bau yang aneh.

"Tunggu! Bagaimana kalau kita cari tikus untuk mengetesnya? Jangan bertindak gegabah, di zaman sekarang, mana ada orang sebaik itu?"

"Hmm benar juga! Tapi, mereka terlihat bukan orang jahat! Jikapun mereka orang jahat, apa niatnya? Kita tidak punya apa-apa!"

keempat orang itu masih berdebat dengan pendapat mereka masing-masing tanpa menyadari rekan mereka diam-diam sudah memakan rotinya.

.

.

.

.

1
Dandelion
ohhh Tuhan...di gantung lagi sama ka othor nya...
Dandelion
next ka
Dandelion
berasa kurang banyak bacanya...😁
next ka...
Dandelion
seru2 semoga orang2 yg di tolong oleh tim ruby di bawa keperkebunan milik ruby...
next ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
lanjut kq
Dandelion
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
lanjut ka
Dandelion
next ka
Dandelion
hmmmm...nggak berasa bacanya...berasa kurang trs 😁
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
makin seru dan menegangkan ceritanya
next ka
Dandelion
lanjut ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
seru...seru...seru...
next ka
Dandelion
bener2 menegangkan ceritanya 😁
next ka..
Dandelion
knp novel ka othor yg ini bikin menegangkan...serasa ikut terbawa suasana mengerikan 😁
lebih seram dr cerita horror...next ka...
Fii: makasih kk🙏 jangan lupa ajak teman2nya mampir kk 😊
total 1 replies
Dandelion
ceritanya bikin dag dig dug ...serasa ikut jd spt ruby..😁
next ka
Dandelion
wahhh jd ikut deg2an 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!