Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

"A-aku..." lirih Estella terbata-bata. Lidahnya terasa kaku, seluruh persendian tubuhnya bergetar hebat di bawah cengkeraman jemari Lucian. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap iris mata yang kelam itu.

"Diam dan tidur di tempatmu," desis Lucian amat pelan. Suara deep voice-nya mengalun penuh penekanan mutlak yang tak menoleransi bantahan.

Sensasi dingin dari intonasi pria itu merambat cepat ke seluruh saraf Estella. Tanpa berani mengulur waktu satu detik pun, Estella langsung menurut. Dengan gerak perlahan dan napas yang tertahan, ia menarik kembali kakinya ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya secara amat hati-hati agar tidak menekan luka jahitan di punggungnya, lalu menarik selimut tipis hingga menutupi sebatas dada.

Suasana ruangan kembali diselimuti kesunyian yang tegang. Hanya ada desis halus pendingin udara dan bunyi detak jantung dari layar monitor.

Estella memejamkan mata rapat-rapt, namun rasa terbakar di tenggorokannya yang kian menyiksa mengalahkan rasa takutnya. Dengan sisa keberanian yang tersisa, bibirnya yang pucat dan pecah-pecah bergerak halus.

"A-aku... haus..." cicit Estella teramat lirih, hampir tenggelam di dalam keheningan malam.

Lucian tak mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu mengalihkan pandangannya pada pecahan kaca di lantai, melangkah melaluinya tanpa memicu suara sedikit pun, lalu menghampiri nakas di sisi lain ruangan. Ia mengambil cangkir baru yang masih bersih, mengisinya dengan air hangat dari dispenser, dan melangkah kembali ke samping ranjang Estella.

Lucian menyusupkan satu tangannya ke belakang tengkuk Estella, menyangga kepala gadis itu dengan amat perlahan agar ia bisa menyandarkan tubuhnya tanpa menyakiti luka di punggung. Tangan sebelahnya mengarahkan cangkir air ke bibir Estella.

Merasakan sensasi air hangat yang membasahi lidah dan tenggorokannya, Estella meminumnya dengan tegukan-tegukan kecil yang serakah namun lemah. Setelah air di cangkir itu habis, Lucian menarik kembali tangannya dan menurunkan kepala Estella secara perlahan ke atas bantal empuk.

Rasa hangat air hangat bercampur dengan kelelahan fisik yang amat dahsyat membuat kelopak mata Estella kian berat. Dalam hitungan detik, napas gadis itu perlahan teratur, menandakan ia telah kembali terlelap dalam tidur pulasnya.

Lucian berdiri mematung di samping ranjang. Iris mata sehitam jelaganya menatap raut wajah lelap Estella dalam jangka waktu yang teramat lama. Jarinya yang berada di dalam saku jas secara tak sadar meremas erat liontin bintang perak buatan tangan yang tersimpan di sana. Bayangan gadis kecil bergaun merah muda belasan tahun lalu berbenturan hebat dengan sosok ringkih penuh luka di hadapannya saat ini.

Keesokan paginya, sinar matahari tipis menembus tirai jendela kamar rawat.

Estella perlahan membuka matanya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa menyengat, namun tidak sehebat malam sebelumnya. Seorang dokter senior beserta dua perawat sedang berdiri di samping tempat tidur, memeriksa infus, tekanan darah, serta balutan kasa di tubuhnya.

Di sudut ruangan dekat jendela, Lucian berdiri tegak dengan pakaian serba hitamnya yang rapi, memperhatikan proses pemeriksaan itu tanpa ekspresi.

"Kondisi luka luka Nona Estella sudah mulai stabil," ujar dokter itu ramah seraya mencatat hasil pemeriksaan di kertas medisnya. "Namun jaringan kulit dan otot di punggung serta pahanya masih sangat rentan robek. Nona harus istirahat total, tidak boleh banyak bergerak, apalagi melakukan aktivitas berat selama beberapa minggu ke depan."

Estella hanya diam mendengarkan penjelasan tersebut. Ia menatap langit-langit kamar yang putih bersih dengan pandangan mata yang redup dan hampa. Ucapan dokter tentang penyembuhan terasa seperti lelucon konyol di telinganya.

"Percuma..." gumam Estella amat lirih, hampir tak terdengar oleh dokter yang mulai mengemas peralatannya. "...nanti juga dibunuh lagi habis 25 hari lagi."

Gumamannya teramat tipis, dipenuhi kepasrahan seorang gadis yang merasa vonis matinya tinggal menghitung hari.

Namun, di sudut ruangan yang sunyi itu, pendengaran tajam sang Vex Noir menangkap setiap suku kata dari gumaman tersebut secara sempurna. Iris mata Lucian seketika berkilat tajam, terkunci lurus pada wajah pucat Estella yang masih menatap hampa ke atas ranjang.

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!