Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Benua Biru
Selamat membaca...
__________
Kehidupan pasca pernikahan yang tenang dan penuh kehangatan akhirnya menyelimuti hari-hari Evan dan Aura. Tidak ada lagi ancaman dari Siska maupun Aris Pratama. Kediaman utama Adijaya kini terasa jauh lebih hidup dengan hadirnya gelak tawa Laras yang semakin sehat dan senyuman Kakek Surya yang kian bugar.
Di lantai empat puluh lima Adijaya Tower, ruangan Presdir tak lagi menjadi tempat yang dingin dan kaku. Aura kini memimpin divisi khusus Forensic Audit & Financial Integrity yang dibentuk langsung oleh Evan untuk menjaga transparansi seluruh anak perusahaan Adijaya Group.
Sore itu, sinar matahari keemasan menerobos kaca jendela raksasa. Aura sedang membolak-balik berkas evaluasi kuartal pertama di meja kerjanya saat dua lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari belakang.
"Masih sibuk, Nyonya Adijaya?" bisik Evan seraya mendaratkan ciuman lembut di ceruk leher Aura.
Aura terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan yang berbalut kemeja putih. "Sedikit lagi, Evan. Laporan ekspansi pasar untuk proyek kerja sama di Eropa ini harus selesai sebelum besok."
Evan tersenyum menawan, meraih dagu Aura lalu mengecup bibirnya singkat. "Kau terlalu bekerja keras. Padahal aku menyuruhmu memimpin divisi itu agar kau bisa berada di dekatku setiap hari, bukan untuk membuatmu kelelahan."
"Aku menikmati pekerjaanku, Tuan Presdir," goda Aura seraya merapikan kerah kemeja suaminya. "Lagipula, membantumu menjaga Adijaya Group adalah bentuk tanggung jawabku sebagai istri seorang CEO."
Binar mata Evan meredup sejenak, berganti menjadi tatapan dalam yang sarat akan rasa cinta. Pria itu menarik Aura berdiri dari kursinya, merengkuh tubuh anggun istrinya ke dalam pelukan erat.
"Kau selalu tahu cara membuatku bangga," gumam Evan tulus. "Nanti malam kita makan malam di luar, hanya kita berdua. Tanpa Pak Bimo, tanpa berkas kantor."
"Janji?" tanya Aura dengan mata berbinar.
"Janji, Sayang."
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu tiga kali yang teratur memutus momen manis tersebut. Pintu terbuka, dan Pak Bimo melangkah masuk dengan raut wajah yang tak biasa. Ada kecemasan samar yang terpancar dari ekspresi asisten pribadi terpercaya tersebut.
Pak Bimo membungkuk hormat. "Tuan Presdir, Nyonya Aura... Mohon maaf mengganggu waktunya."
Evan melepaskan pelukannya dari Aura pelan, namun tetap menggenggam jemari istrinya. "Ada apa, Bimo? Wajahmu terlihat serius."
Pak Bimo berjalan mendekat seraya menyerahkan sebuah surat undangan eksklusif bersampul hitam tebal dengan lambang segel lilin berwarna emas berbentuk burung phoenix.
"Surat ini baru saja diantarkan oleh kurir khusus dari Kedutaan Besar Prancis," terang Pak Bimo. "Undangan menghadiri Global Financial Summit di Paris bulan depan. Namun... ada satu hal lagi."
Pak Bimo meletakkan sebuah tablet digital di atas meja. Di layarnya, terpampang artikel berita bisnis internasional terbaru.
___________________________________________________________________________________________
[Berita Bisnis Global]: "Vanderbilt Consortium\, Konglomerat Terbesar Asal Eropa\, Resmi Menunjuk CEO Baru: Lady Helene Vance. Fokus Utama Ekspansi Dialihkan ke Asia Tenggara."
___________________________________________________________________________________________
Aura mengerutkan keningnya, membaca nama wanita yang tertera di layar. Namun, respon Evan di sampingnya jauh berbeda. Handphone di tangan Evan yang lain mendadak tergenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah tegas sang CEO seketika menegang.
Aura yang menyadari perubahan reaksi suaminya langsung mendongak. "Evan? Kau kenal dengan Lady Helene ini?"
Evan menetralkan raut wajahnya dengan cepat, menghembuskan napas pelan lalu menatap Aura. "Helene adalah mantan rekan satu timku saat aku mengambil program Magister di London. Keluarganya menguasai jaringan perbankan dan investasi terbesar di Eropa."
"Hanya sebatas rekan satu tim?" selidik Aura intuitif. Sebagai wanita dan istri, ia bisa merasakan ada riak misteri di balik nama tersebut.
"Dulu, keluarga Vance sempat mencoba menjodohkan kami untuk menggabungkan aset bisnis," aku Evan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi dari istrinya. "Tapi aku menolaknya mentah-mentah sebelum aku kembali ke Indonesia."
Pak Bimo berdeham pelan. "Tuan Presdir, surat penawaran akuisisi anak perusahaan kita di London yang baru saja ditolak kemarin... ternyata dikirim langsung atas nama Helene Vance. Beliau dijadwalkan mendarat di Jakarta lusa untuk menemui Anda secara pribadi."
Aura menatap surat undangan berstempel emas itu, lalu beralih menatap Evan. Setelah melewati badai Aris dan Siska, kini babak baru pertarungan di bursa bisnis internasional dan mungkin pengujian atas ikatan cinta mereka baru saja dimulai.
Evan menggenggam jemari Aura lebih erat, menatap istrinya dengan pendar keyakinan mutlak. "Siapa pun yang datang, tidak ada yang bisa mengubah posisimu di sisiku, Aura. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak selamanya."
Aura tersenyum tipis, membalas genggaman tangan suaminya. "Aku tahu, Evan. Dan aku siap mendampingimu menghadapi siapa pun."
_______________
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like, Komen dan Vote...