Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Hujan rintik-rintik masih membasahi kaca tebal lantai sembilan Blackwood Medical Center, membiaskan pendar lampu-lampu kota Verona Heights menjadi garis-garis air yang merayap turun secara perlahan.

Suara denting mesin pemantau tanda vital di dalam kamar perawatan intensif VIP berbunyi makin stabil, mencerminkan pemulihan fisik Evangeline yang berangsur membaik.

Tiga hari telah berlalu sejak insiden berdarah di tebing Villa Mistral.

Dominic kini sedang berada di ruang rapat steril di ujung koridor bersama Viktor, mengendalikan pergerakan pasukan penyerang yang terus menekan garis logistik Faksi Rossi di distrik barat.

Keberadaan Dominic yang teralihkan oleh dinamika perang antar-faksi memberi ruang gerak yang sangat berharga bagi Eva.

Ruangan VIP yang sunyi itu hanya diterangi oleh pendar lampu meja berkap kain krem.

Eva mendudukkan tubuhnya perlahan di tepi tempat tidur medis. Bahu kanannya masih tersangga rapat oleh balutan perban ketat dan penyangga kain, namun kekuatan otot tubuhnya sebagai agen teruji The Crow's Veil memungkinkan dirinya bergerak tanpa menimbulkan ringisan rasa sakit yang mencolok.

Pandangan mata hazel Eva tertuju lurus pada brankas besi lapis baja di sudut ruangan, brankas khusus ber-enkripsi biometrik yang digunakan Dominic untuk menyimpan barang-barang paling berharga selama berada di rumah sakit ini.

Eva menahan napasnya, mengamati panel kunci brankas tersebut.

Dua hari lalu, sewaktu dokter memeriksa lukanya, Eva sempat melihat dari pantulan kaca jendela saat Dominic memasukkan kombinasi angka manual setelah memindai ibu jarinya. Kombinasi angka enam digit yang sederhana namun sarat makna, 12-04-12 tanggal wafatnya Lady Vivienne Blackwood.

Dengan langkah-langkah pelan yang nyaris tak terdengar, Eva menggeser kakinya turun dari tempat tidur. Ia membawa selang infus di tiang beroda bersama langkahnya, mengabaikan denyutan nyeri yang menjalar dari luka jahitan di dadanya.

Eva berlutut satu kaki di depan brankas besi. Dengan jemari kiri yang stabil, ia memasukkan enam digit angka tersebut pada panel layar sentuh.

Bip...bip...bip...bip... bip

Klek.

Lampu indikator hijau menyala halus. Pintu tebal brankas besi itu terdorong terbuka pelan.

Di dalam kompartemen brankas, terbaring dokumen tebal berstempel segel lilin merah bertuliskan Konsorsium St. Jude 2012, foto tua ibunya bersama Lady Vivienne, serta pita kaset mikro-audio yang diselamatkannya dari tumpah darah di villa.

Jantung Eva berdentang lebih cepat. Ia tidak menyentuh foto tua itu agar posisinya tidak bergeser satu milimeter pun dari ingatan visual Dominic. Dengan penuh kehati-hatian, jemari kiri Eva menarik keluar dokumen tebal manifes St. Jude 2012.

Eva menyandarkan tubuhnya di dinding samping brankas, membuka lembar demi lembar perkamen tebal yang berbau kertas tua dan aroma darahnya sendiri yang telah mengering di sudut sampul.

Lembar-lembar awal berisi rincian alokasi dana medis, transaksi senjata terselubung, dan skema pembebasan lahan distrik perbatasan tahun 2012.

Namun ketika Eva membalik lembaran menuju bagian paling akhir, alaman otorisasi rahasia yang sebelumnya tak sempat diselesaikannya karena serangan penembak jitu, matanya membeku seketika.

Di lembar terakhir itu, di bawah baris tanda tangan persetujuan resmi milik Lady Vivienne Blackwood dan Don Sergio Rossi, tertera satu baris tanda tangan ketiga yang dibuat menggunakan tinta kaligrafi hitam pekat.

Tanda tangan itu diakhiri oleh sebuah stempel segel lilin perak berukir lambang mawar dengan lima duri mencolok, simbol murni dari Ordo Lima Duri.

Namun yang membuat darah Eva mendadak terasa dingin adalah inisial nama tebal yang tertulis di bawah segel perak tersebut.

"Disetujui dan Disegel oleh G.B."

Eva memicingkan matanya tajam. G.B.

Nama itu bukan bagian dari nama resmi tiga pimpinan faksi utama Konsorsium yang dikenalnya selama ini.

Don Sergio Rossi (S.R.), Vincent Valenti (V.V.), dan Dominic Blackwood (D.B.) atau almarhum ayahnya Arthur Blackwood.

"Siapa pemilik inisial G.B. ini?" gumam Eva.

Apakah sosok berinisial G.B. ini adalah 'Atasan Utama' dari Ordo Lima Duri yang mengendalikan pembunuhan Clara Cross dari balik bayangan.

Sosok yang memerintahkan penyerangan di kamar utama Blackwood Manor, yang membantai para saksi sejarah St. Jude, dan yang sengaja mengadu domba Faksi Rossi serta Faksi Blackwood dalam perang saudara terbuka ini?

Eva menyusuri tulisan tangan di bawah inisial tersebut. Ada satu catatan kecil berhuruf Latin yang ditulis sangat tipis di samping stempel perak.

"Darah di St. Jude adalah harga mutlak untuk pembersihan silsilah. Kunci emas hanya milik mereka yang memegang mahkota asli."

Sebuah kalaparan akan kebenaran mendadak membakar batin Evangeline.

Selama empat belas tahun, fokus dendamnya dan instruksi dari kelompok The Crow's Veil selalu mengarah pada keluarga inti Blackwood sebagai eksekutor utama pembantaian ibunya.

Namun dokumen otorisasi asli ini membuktikan adanya hierarki bayangan yang jauh lebih tinggi, seorang dalang utama berinisial G.B. yang mengatur eksekusi Clara Cross dan Lady Vivienne secara bersamaan.

Mencari tahu identitas asli di balik inisial G.B. kini menjadi tujuan baru dan paling krusial bagi Evangeline.

Ia tidak bisa sekadar mengeksekusi Dominic atau merobohkan keluarga Blackwood secara buta. Jika ia membunuh Dominic sekarang, sosok G.B. akan tetap bertakhta di kegelapan, menguasai kekaisaran Verona Heights dan mengubur kebenaran pembunuhan ibunya selamanya.

"Aku harus menggunakan seluruh akses keluarga Blackwood... untuk membongkar siapa pemilik inisial G.B. ini," batin Eva membulat penuh tekad.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu kulit yang teratur berderap mendekat dari arah koridor luar.

Eva bereaksi dengan refleks kilat. Ia memasukkan kembali dokumen tebal itu ke dalam brankas besi, menyesuaikan posisinya persis seperti semula, lalu menutup pintu brankas hingga terdengar denting kunci yang halus.

Dalam waktu kurang dari tiga detik, Eva telah berdiri tegak di samping tiang infus, mengatur napasnya kembali tenang seraya melangkah pelan menuju jendela berpura-pura sedang menatap hujan di luar.

Pintu geser otomatis kamar VIP bergeser terbuka.

Dominic melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu menyapukan pandangan mata kelamnya ke sekeliling kamar, lalu mengunci matanya pada sosok Eva yang berdiri di dekat jendela.

Aura keletihan fisik terpancar dari raut wajah tampannya, namun binar kelembutan seketika menggantikan hawa pembunuh di matanya saat melihat Eva sudah berdiri.

"Kenapa kau turun dari tempat tidur, Evie?" suara Dominic bergaung rendah seraya melangkah cepat mendekati Eva. Tangannya yang hangat langsung merangkul pinggang kiri Eva, membantu wanita itu menyangga berat tubuhnya.

Eva menyandarkan kepala pelan di dada Dominic, menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan dari kemeja pria itu.

"Aku hanya merasa bosan berbaring terus, Dominic," sahut Eva dengan nada halus yang tertata pas. "Berdiri di dekat jendela membuat rasa nyeri di bahuku sedikit berkurang."

Dominic mengembuskan napas panjang, menundukkan kepalanya dan mengecup pelan kening Eva. "Dokter bilang kau belum boleh terlalu banyak berdiri. Jahitan di bahumu bisa tertarik kembali."

Dominic dengan penuh kehati-hatian menuntun Eva kembali ke tepi tempat tidur medis, membantunya menaikkan kedua kakinya dan menyelimutinya dengan selimut wol hangat.

Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi samping tempat tidur, menyilangkan jemarinya dengan tangan kiri Eva.

"Bagaimana rapat dengan Viktor?" tanya Eva pelan, memancing pembicaraan untuk mengukur sejauh mana informasi yang dipegang Dominic.

Mata Dominic meredup tipis. "Sektor barat sudah sepenuhnya terisolasi. Don Sergio mengirim pesan diplomatik setengah jam lalu dia meminta pertemuan darurat di Zona Netral besok malam."

Eva memicingkan matanya tipis. "Zona Netral? Gedung Arsip Lama di distrik tengah?"

"Ya," jawab Dominic dingin. "Sergio mengklaim bahwa dia tidak pernah memerintahkan penembak jitu di Villa Mistral. Dia bersumpah demi nama Faksi Rossi bahwa seseorang telah mencuri amunisi berstempel organisasinya untuk menjebaknya."

Eva menatap Dominic dengan cermat. "Apakah kau mempercayainya?"

Dominic membisu selama beberapa detik, pandangannya menerawang menatap brankas besi di sudut ruangan.

"Aku tidak mempercayai siapa pun di Konsorsium ini, Evie," bisik Dominic, suaranya sangat serak.

"Tapi pola penyerangan itu... terlalu rapi untuk ukuran Sergio yang impulsif. Seseorang dengan kekuasaan yang sangat tinggi di atas Tiga Faksi sedang memandu gerak-gerik kita dari balik layar."

Pernyataan Dominic secara tidak langsung membenarkan dugaan Eva tentang keberadaan sosok berinisial G.B. tersebut.

"Dominic," kata Eva pelan, mengusap punggung tangan Dominic dengan ibu jarinya secara halus.

"Apakah... apakah ibumu pernah menceritakan tentang anggota senior pendiri Konsorsium yang lain? Seseorang yang posisinya berada di atas faksi-faksi utama?"

Dominic memutar kepalanya menatap Eva, alis tebalnya bertaut tipis oleh pertanyaan tersebut. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

Eva menyusun alibi verbalnya dengan kecepatan yang sangat presisi.

"Saat kita di Villa Mistral kemarin..." kata Eva, memoles ketakutan palsu pada wajah gadingnya, "...sebelum penembak jitu itu menembak, aku sempat mendengar salah satu penyerang bertopeng di luar berteriak tentang 'Perintah Atasan G'. Aku hanya... aku takut jika orang itu masih memburu kita."

Dominic membeku sejenak. Tangannya yang menggenggam jari Eva mengetat perlahan.

"Inisial G?" desis Dominic, matanya berkilat oleh kalkulasi taktis yang intens.

"Aku tidak mendengar nama lengkapnya," tambah Eva halus, menyuntikkan racun rasa penasaran secara perlahan ke dalam pikiran Dominic. "Hanya huruf awal itu yang terdengar sebelum ledakan terjadi."

Dominic berdiri dari kursinya, melangkah dua langkah mendekati brankas besi di sudut ruangan. Pria itu menyapu dadanya dengan napas berat, memorinya berputar menggali catatan-catatan tua keluarga Blackwood.

"Tahun 2008..." gumam Dominic pelan, lebih pada dirinya sendiri, "...sebelum ayahku tewas dan sebelum Konsorsium St. Jude dibentuk, ada satu nama dari Dewan Pendiri Pendahulu yang mengundurkan diri secara rahasia. Seseorang yang memegang kode otoritas emas."

Eva menahan napasnya di atas tempat tidur medis. Dewan Pendiri Pendahulu.

Dominic memutar tubuhnya kembali menatap Eva, raut wajahnya dipenuhi oleh kegelapan dendam yang kian pekat.

"Jika orang dengan inisial G itu benar-benar masih hidup dan mengendalikan Ordo Lima Duri..." kata Dominic dingin, "...berarti penyerangan pada ibuku empat belas tahun lalu dan serangan padamu di villa adalah bagian dari rencana eksekusi yang sama."

"Siapa dia, Dominic?" pancing Eva, matanya menatap lurus ke dalam iris kelam pria itu.

Dominic menggelengkan kepalanya pelan. "Nama-nama Dewan Pendiri Pendahulu dihapus total dari buku induk Konsorsium oleh Nenek setelah tragedi St. Jude. Hanya ada satu tempat di mana arsip nama-nama itu masih disimpan secara utuh."

"Di mana?"

"Di dalam Brankas Besi Kelabu di ruang rahasia bawah tanah Blackwood Manor," jawab Dominic tegas. "Tempat yang hanya bisa dibuka dengan stempel otorisasi pribadi milik Lady Eleanor."

Dada Evangeline berdesir hebat.

Kini seluruh benang merah itu terhubung dengan sempurna.

Inisial G.B. pada dokumen berdarah ibunya, catatan otorisasi St. Jude 2012, dan arsip nama Dewan Pendiri Pendahulu semuanya bermuara pada satu lokasi Brankas Besi Kelabu di bawah tanah kediaman utama Blackwood.

Dan berkat pengorbanan darahnya di villa, Lady Eleanor baru saja memberikan hak akses otorisasi tingkat dua kepada Eva sebagai bagian resmi dari keluarga Blackwood.

"Aku akan ikut bersamamu kembali ke manor besok," kata Eva dengan nada penuh kepastian yang tidak menerima penolakan.

Dominic menatap Eva dengan kecemasan yang jelas. "Lukamu belum sembuh total, Evie. Kau harus berada di rumah sakit ini sampai-"

"Tidak," potong Eva cepat, mengulurkan tangannya dan meraih jemari Dominic kembali. "Rumah sakit ini terlalu terbuka untuk serangan susulan. Aku merasa jauh lebih aman berada di sisimu di dalam manor, Dominic. Apalagi jika orang berinisial G itu masih mengincar kita."

Dominic menatap mata hazel Eva yang berpendar penuh tekad. Kehangatan dan proteksi buta yang kini sepenuhnya mendominasi batin sang penguasa mafia membuat Dominic tidak sanggup menolak permintaan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya tersebut.

Dominic menundukkan tubuhnya, menangkup pipi Eva dengan kedua telapak tangannya yang hangat dan mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Eva. Ciuman kali ini dipenuhi oleh rasa terima kasih dan janji perlindungan yang mutlak.

"Baiklah," bisik Dominic pelan di depan bibir Eva.

"Besok pagi, kita kembali ke Blackwood Manor. Dan aku sendiri yang akan membawamu turun ke ruang rahasia bawah tanah itu."

Eva membalas usapan tangan Dominic di pipinya dengan senyuman lembut yang paling sempurna.

Di balik senyuman istri yang setia itu, sang agen Ghost Rose telah menetapkan langkah catur terbarunya.

Misteri di balik sosok berinisial G.B. telah menjadi kompas baru dalam permainannya. Evangeline tidak lagi sekadar menjadi pemburu di balik bayangan Dominic, ia kini melangkah bersama penguasa Blackwood itu menuju jantung konspirasi terbesar yang membantai keluarganya empat belas tahun lalu.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!