Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GODAAN PAGI HARI
SEL BLOK_C
Cahaya pagi perlahan menyusup melewati celah kecil jeruji sel.
Reana membuka matanya perlahan.
Beberapa detik ia hanya terdiam, masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.
Tubuhnya masih berada dalam pelukan Darren.
Cowok itu masih tertidur di belakangnya.
Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Reana, seolah sepanjang malam Darren tidak pernah sekalipun melepaskannya.
Reana tidak bergerak. Ia hanya diam, merasakan hangat tubuh Darren yang berada tepat di belakangnya.
Untuk sesaat, gadis itu bahkan lupa bahwa mereka sedang berada di dalam penjara.
Yang ia rasakan hanya satu hal.
Aman.
Sementara Darren masih terlelap, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya. Tidak ada tatapan dingin. Tidak ada rahang yang mengeras.
Hanya seorang pria yang masih memeluk seseorang yang sejak semalam tidak ingin ia lepaskan.
Perlahan, Reana berbalik hingga kini mereka saling berhadapan. Darren masih tertidur. Reana menatap wajah cowok itu dalam diam.
Wajah yang tetap tampan meskipun dipenuhi luka.
Ada lebam samar di tulang pipinya, goresan kecil di dekat alis, serta luka di sudut bibirnya. Beberapa bagian wajahnya bahkan masih menyisakan bekas darah yang sudah mengering.
Reana tahu dari mana semua luka itu berasal.
Semalam...
Darren mendapatkannya karena melindunginya dari George. Tatapan Reana melembut, Perlahan tangannya terangkat. Ujung jarinya menyentuh pelan bagian dekat alis Darren, sangat hati-hati agar tidak mengenai lukanya.
Kemudian turun ke tulang pipinya.
Reana tersenyum tipis.
"Masih tampan..." gumamnya tanpa sadar.
Jarinya berhenti, Reana baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya langsung memanas, Ia hendak menarik tangannya.
Namun tiba-tiba—
Darren membuka mata.
Tatapan tajamnya langsung menangkap Reana.
Reana membeku.
Tangan yang tadi menyentuh wajah Darren masih berada di sana. Darren menatapnya beberapa detik. Lalu matanya turun ke tangan Reana, kemudian kembali menatap wajah gadis itu.
"Kau bilang apa?"
Reana langsung gugup.
"Enggak."
"Aku dengar."
"Enggak ada."
Darren mengangkat sebelah alisnya, Wajahnya tetap datar meskipun penuh luka.
"Pembohong."
Reana menggigit bibir.
Darren tidak bertanya lagi. Ia hanya menarik Reana sedikit lebih dekat ke dalam pelukannya.
"Kalau mau lihat wajahku..."
Suara Darren rendah dan serak.
"...jangan sembunyi-sembunyi."
Reana menatapnya.
Dan entah kenapa, melihat Darren yang penuh luka namun masih mampu bersikap sedingin itu justru membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
Darren memejamkan matanya kembali.
"Dan jangan sentuh lukanya."
Reana mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Darren membuka mata sedikit.
" sakit."
Reana terdiam.
Kemudian Darren menambahkan dengan nada datar,
"...Tapi kalau kau yang pegang, terserah."
Reana langsung membisu, Darren kembali memejamkan mata.
Seolah barusan tidak mengatakan sesuatu yang mampu membuat jantung Reana berantakan. Namun belum sempat Reana mengatakan apa-apa, tiba-tiba
—
BRAK! BRAK! BRAK!
Suara gedoran keras menghantam pintu besi sel.
"Bangun!"
Darren yang baru saja kembali memejamkan mata langsung membuka matanya.
Ekspresinya berubah kesal.
Ia menghela napas panjang, lalu mengumpat pelan.
"Sial..."
Gedoran kembali terdengar.
BRAK! BRAK!
"Hei! Kalian di dalam!"
Darren mengusap wajahnya dengan kasar. Wajah tampannya yang penuh luka kini terlihat semakin kusut karena gangguan itu.
Sementara Reana yang masih berada dalam pelukannya hanya menatap Darren.
Kemudian...
Senyum kecil muncul di bibir gadis itu.
Darren meliriknya.
"Apa?"
Reana menggeleng cepat.
"Enggak."
"Kau senyum."
"Karena wajahmu lucu kalau kesal."
Darren menatapnya datar.
"Lucu?"
Reana mengangguk kecil sambil menahan senyum.
Darren mendengus.
"Kau berani sekali pagi-pagi."
BRAK! BRAK!
"BANGUN...."
Darren memejamkan mata sebentar, jelas semakin kesal. Kemudian ia menatap Reana lagi.
"Sipir sialan"
Reana kembali tersenyum kecil, tapi Darren mengerutkan kening.
"Kenapa kau malah senang?"
Reana tidak menjawab, Ia hanya menatap Darren dengan senyum tipis yang masih bertahan di wajahnya.Setelah itu, langkah kaki terdengar menjauh. Darren menghela napas kesal.
"Akhirnya."
Ia bangkit dari ranjang, Reana pun ikut bangun beberapa detik kemudian. Namun begitu matanya mengarah pada Darren, Tubuhnya mendadak kaku.
Darren berdiri di depan ranjang dengan tubuh bagian atas tanpa pakaian. Otot-otot tubuhnya terlihat jelas, sementara beberapa luka dan lebam dari pertarungannya dengan George masih menghiasi tubuhnya.
Reana tanpa sadar menelan ludah, Ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Namun terlambat.
Darren sudah melihatnya, Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kenapa?"
Reana menggeleng cepat.
"Enggak kenapa-kenapa."
Darren menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia sengaja melangkah mendekat.
"kau Yakin?"
Reana mundur setengah langkah.
"Iya."
Darren tersenyum kecil.
"Tadi bukannya kau yang bilang aku masih tampan?"
Reana langsung membelalakkan mata.
"Kau dengar?"
"Jelas."
Wajah Reana memerah.
"Itu... aku cuma bicara sendiri."
Darren mengangguk pelan, masih dengan senyum tipis yang jarang sekali terlihat di wajahnya.
"Kalau begitu, lain kali bicara lebih pelan."
Reana mengerutkan kening.
"Kenapa?" Darren menatapnya lurus.
"Supaya aku tidak tahu."
Ia berbalik mengambil kaosnya, lalu menambahkan dengan nada datar,
"Atau..."
Darren melirik Reana dari sudut matanya.
"...kalau memang mau memuji, bilang saja langsung."
Reana terdiam.
Sementara Darren memasang kembali ekspresi dinginnya, seolah tidak baru saja menggoda gadis itu. Namun senyum tipis di sudut bibirnya masih belum hilang.
Darren akhirnya melangkah menuju pintu sel.
Sebelum keluar, ia sempat melirik Reana sekali lagi. Senyum tipis masih bertengger di sudut bibirnya. Senyum yang jarang sekali terlihat dari pria sedingin Darren.
"Jangan terlalu banyak mikir," ucapnya datar.
Reana hanya memandangnya dengan wajah yang masih memerah. Darren kemudian keluar dari sel dan berjalan menyusuri lorong.
Namun, Di ujung lorong, Alesya berdiri terpaku.
Matanya membesar, Ia baru saja melihat dengan jelas dari mana Darren keluar.
Dari sel sahabatnya.
Alesya perlahan menoleh ke arah pintu sel Reana.
Kemudian kembali menatap punggung Darren yang semakin menjauh.
Alisnya terangkat tinggi.
"Sejak kapan Darren masuk ke sel Reana...?"
gumamnya pelan. Dan yang membuatnya semakin curiga—
Darren berjalan pergi dengan senyum tipis yang masih tersisa di wajahnya.
Alesya menyipitkan mata.
"Oh..."
Senyum kecil mulai muncul di bibirnya.
"Ini menarik."
Alesya masih menatap ke arah Darren yang semakin menjauh.
Senyum kecil masih tersisa di wajahnya.
Tiba-tiba—
"Ngapain kau berdiri di sini?"
Suara Kael terdengar dari belakang. Alesya sedikit terkejut dan langsung berbalik.
Kael berdiri santai di belakangnya. Wajahnya datar, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada apa yang baru saja terjadi. Alesya menunjuk ke arah ujung lorong.
"Itu tadi..."
Kael bahkan tidak menoleh.
"Apa?"
Alesya mengerutkan kening.
"Darren."
"Oh."
Hanya itu, Kael memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu berjalan melewati Alesya begitu saja. Alesya mengikuti langkahnya.
"Kau tidak penasaran?"
"tidak"
"Dia baru keluar dari sel Reana."
Kael tetap berjalan.
"Terus?"
Alesya terdiam sesaat.
"Ya... aneh, karena kulihat dia sama kayak kamu, dingin kayak kulkas"
Kael mengangkat bahu.
"Bukan urusanku."
Nada suaranya benar-benar datar, Seolah hal itu sama sekali tidak penting baginya. Alesya menatap punggung Kael sambil menghela napas.
"Kau memang tidak seru"
Kael berhenti sebentar, Menoleh sedikit.
"Lalu?"
Setelah mengatakan itu, ia kembali berjalan. Alesya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar."
Namun diam-diam, rasa penasarannya terhadap Reana justru semakin besar. Alesya akhirnya berhenti memperhatikan Kael yang sudah berjalan lebih dulu.
Ia berbalik dan melangkah menuju sel Reana, Pintu besi itu masih terbuka. Alesya mengetuknya dua kali sebelum masuk.
"Reana?"
Reana yang masih berdiri di dekat ranjang langsung menoleh. Begitu melihat Alesya, wajahnya sedikit berubah.
"Oh... Alesya."
Alesya masuk dan menutup pintu di belakangnya. Namun baru beberapa langkah, matanya langsung menyapu isi sel.
Kemudian berhenti pada Reana.
Rambut gadis itu masih sedikit berantakan. Wajahnya tampak kemerahan, dan ekspresinya terlihat seperti seseorang yang baru saja menyembunyikan sesuatu.
Alesya menyipitkan mata.
"Aku mengganggu?"
Reana mengerutkan kening.
"Mengganggu apa?"
Alesya tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.
"Enggak apa-apa."
Tatapannya masih mengamati Reana.
Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Tapi aku punya satu pertanyaan."
Reana menelan ludah.
"Apa?"
Alesya mencondongkan tubuh sedikit.
"Kenapa Darren keluar dari selmu pagi-pagi?"
Reana sontak terkejut, Matanya membesar.
"A-Apa?"
Alesya hanya mengangkat alis.
"Darren, kulihat dia Keluar dari selmu."
Reana terdiam, Wajahnya kembali memerah saat bayangan kejadian semalam berputar di kepalanya.
Akhirnya, ia menghela napas pelan.
"Semalam..."
Reana mulai menceritakan semuanya.
Dari awal.
Tentang bagaimana George tiba-tiba menculiknya dan menyeretnya melewati lorong menuju sel Darren. Tentang bagaimana ia ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya Darren datang. Dan tanpa ragu, Darren melawan George demi dirinya.
Pukulan demi pukulan diterima Darren. Bahkan ketika wajah dan tubuhnya mulai terluka, cowok itu tetap berdiri di antara dirinya dan George.
Reana menunduk.
"Dia terluka karena aku..."
Alesya yang tadinya hanya penasaran perlahan menjadi serius.
"Lalu bagaimana dengan pria botak itu?"
"Darren membunuhnya, semuanya termasuk Alex "
Reana memainkan jemarinya sendiri.
"Setelah semuanya selesai... Darren membawaku kembali ke sini."
Ia berhenti sebentar, Kemudian suaranya mengecil.
"Dia juga... menemaniku tidur."
Alesya terdiam.
"Menemani?"
Reana mengangguk kecil.
"Iya."
Pipinya semakin merah.
"Dia tidur di sampingku."
Alesya menatapnya lekat-lekat.
"Di sampingmu?"
Reana mengangguk lagi.
"Lalu... dia memelukku."
Mata Alesya langsung membesar.
"Dia apa?"
Reana buru-buru menunduk.
"Memelukku."
"Semalaman?"
Reana mengangguk pelan.
"Iya."
Alesya terdiam cukup lama, Kemudian ia melirik ke arah pintu sel yang tadi dilewati Darren.
Sementara Reana masih menunduk, mengingat bagaimana Darren semalam menariknya ke dalam pelukan tanpa mengatakan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, Reana mengakui sesuatu yang bahkan kepada dirinya sendiri belum pernah ia katakan.
Semalam...
Ia merasa aman dalam pelukan Darren.
***