Gwen, mendapatkan ujian dari sang ayah untuk tinggal di desa selama tiga puluh hari. Wanita itupun setuju demi mengembalikan kepercayaan sang ayah padanya.
Di desa, ia bertemu dengan Wira, anak kepala desa yang memiliki sifat menyebalkan. Gwen dan Wira sering kali bertengkar dan berdebat meski dalam hal-hal kecil. Namun setelah banyak waktu mereka lalui bersama, benih-benih cinta pun tumbuh secara diam-diam.
Keduanya belum sempat saling mengungkapkan sampai tiba saatnya Gwen harus segera kembali ke kota.
Bagaimana kisa mereka akan berlanjut? Akankah keduanya kembali bertemu dan mengungkapkan isi hati masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Mendengar sang adik berteriak, Wira yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka pun segera keluar dari rumah.
"Kak Gwen demam, badannya panas sekali," ucap Felix.
"Apa?" Wira berlari cepat untuk melihat keadaan Gwen.
Saat melihat Gwen tertidur di ruang tengah dengan suhu tubuh tinggi, Wira berusaha membangunkannya. Namun Gwen hanya bergumam pelan, wanita itu seakan tidak punya tenaga untuk bangun.
"Bagaimana ini, Kak? Ibu dan Bapak juga tidak mungkin bisa pulang," ujar Felix khawatir.
"Jangan beritahu mereka dulu, kau bisa membuat Bapak khawatir."
"Lalu bagaimana?"
"Pergi dan susul dokter Yono ke rumahnya. Bawa dia kemari sekarang juga!" perintah Wira.
"Baik, Kak." Felix segera pergi, ia langsung mencari kunci motornya dan berkendara cepat menuju rumah dokter yang dimaksud oleh Wira.
"Maafkan aku, Gwen. Maafkan aku, ini salahku," gumam Wira. Ia menggendong tubuh Gwen dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar.
Wira menempatkan Gwen di atas ranjang dengan kasur yang empuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tubuh Gwen terasa panas, bibirnya pucat, serta kedua pipi merona merah karena suhu tubuh yang meningkat. Gwen tampak mengigau, ia berkali-kali bergumam memanggil Theo.
"Papa," gumam Gwen pelan.
"Pa ...."
"Gwen, Gwen. Kau baik-baik saja? Maafkan aku," ujar Wira dengan khawatir. Ia merapikan rambut Gwen yang menutupi wajah wanita itu. Wira berkali-kali meletakkan telapak tangannya di dahi Gwen.
Sambil menunggu dokter datang, Wira memasak air dan menggunakan kain bersih untuk mengompres Gwen. Dengan hati-hati, ia meletakkan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat di kening wanita itu.
Selang beberapa menit, terdengar suara motor berhenti di halaman rumah. Felix segera berlari masuk bersama seorang laki-laki paruh baya di belakangnya.
"Ada apa, Wira? Siapa yang sakit?" tanya Dokter Yono.
"Maaf karena merepotkan anda malam-malam, Dok. Tolong periksa dia, dia tamu keluargaku," jelas Wira.
Dokter paruh baya itu bergegas memeriksa tubuh Gwen, Wira dan Felix menunggu dengan cemas. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter mengatakan pada dua laki-laki yang sedang menunggu itu bahwa keadaan Gwen tidak seburuk pemikiran mereka.
Gwen memang mengalami demam tinggi, hal itu membuat wanita itu mengigau. Tidak ada tanda-tanda alergi atau gejala lain selain suhu tubuh yang meningkat. Dokter memberikan resep berupa Paracetamol sebagai penurun demam. Mereka hanya perlu menjaga Gwen dan memastikan wanita itu minum banyak air agar demam segera turun.
"Jika dia sudah bangun, beri makanan dan minuman. Setelah itu berikan obatnya. Semoga lekas membaik," ucap Dokter sebelum pergi.
"Terima kasih, Dok." Wira mengantar Dokter keluar dari rumah sementara Felix langsung pergi ke apotek untuk membeli obatnya.
Wira benar-benar khawatir, ia takut melihat keadaan Gwen. Wira merasa bersalah karena ia pikir semua ini salahnya.
Sambil menunggu Felix membeli obatnya, Wira duduk di lantai, tepat di samping ranjang tempat Gwen berbaring. Wira menatap wanita yang sedang memejamkan matanya dengan erat.
"Mama," ucap Gwen dengan suara pelan.
"Gwen! Gwen!" Wira bergegas bangkit. Ia duduk di samping Gwen dan berusaha membangunkan wanita itu.
Perlahan, Gwen membuka matanya. Ia melihat Wira dengan pandangan kabur.
"Kau sudah bangun? Ayo minum," ucap Wira. Ia membantu Gwen bangun dan menopang tubuhnya. Wira memberikan segelas air putih yang sudah ia siapkan di meja.
"Bagaimana keadaanmu? Kau membuatku takut," ujar Wira.
"Kepalaku sakit," jawab Gwen pelan. Wira kembali membaringkan tubuh wanita itu.
"Tunggu sebentar lagi, Felix masih membeli obat untukmu."
"Hmm." Gwen mengangguk.
Tidak berselang lama, Felix pun tiba. Ia segera masuk dan memberikan obat yang ia bawa pada Wira. Sementara Felix menunggu Gwen, Wira ke rumahnya untuk mengambil makanan.
"Ayo makan dulu, sedikit tidak apa-apa. Agar kau bisa minum obat," ujar Wira.
"Hmm." Gwen mengangguk. Wira membantunya duduk.
"Aku bisa sendiri." Gwen berniat mengambil alih piring di tangan Wira, namun laki-laki itu menolak.
"Aku akan menyuapimu."
"Terima kasih."
Felix hanya bisa duduk diam dan menyaksikan adegan romantis di hadapannya. Felix tidak pernah tahu, jika Kakaknya bisa begitu perhatian pada seorang wanita. Wira yang ia kenal sebagai saudara yang menyebalkan dan suka mengatur, rupanya memiliki sikap yang lembut pada Gwen. Padahal, sejak awal mereka sering bertengkar dan berdebat.
...****************...
kurang gereget Thor endingnya, gimna reaksi kemala melihat Wira dan Gwen menikah, gimna Hana dan Clara d penjara, dan terpenting malam pertama Wira dan Gwen,
tp apapun itu karya othor luar biasa, GK bertele tele kayak film ikan terbang,
sukses selalu buat othor , ,
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
mari kita kawal sampai halal 🤭
semoga ngak bertepuk sebelah tangan y Gwen ,,,,