Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Perjuangan di Tanah Perbatasan

Jalan berakhir di batas hutan pinus yang lebat. Sisa perjalanan dua kilometer harus ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri lereng yang licin dan curam. Di pundak Lala kini tersandang tas kain tua peninggalan ibunya, di saku baju terselip pisau kayu peninggalan leluhur, dan di dadanya — foto keluarga yang ia peluk erat setiap kali napasnya mulai tersengal.

Udara di sini dingin, menusuk sampai ke tulang. Kabut putih tebal menyelimuti pandangan, menyembunyikan apa pun yang ada di kejauhan. Reno berjalan selangkah di depan, sesekali menoleh memastikan gadis itu masih sanggup melangkah. Ia tahu betapa beratnya jalan ini — dulu ia pernah menempuhnya saat masih kecil, digendong ayahnya yang kelelahan bekerja sampai mati demi menyisakan sepotong roti untuknya.

“Berapa lama lagi?” tanya Lala dengan napas memburu, kakinya yang terbiasa lantai marmer kini perih tertusuk ranting dan batu tajam.

“Sebentar lagi. Di balik bukit itu,” jawab Reno lembut, tapi matanya memancarkan kekhawatiran. Ia tahu apa yang menanti di sana. Bukan sambutan hangat. Melainkan tatapan curiga, bisik-bisik meremehkan, dan kenyataan pahit bahwa nama besar Saraswati tidak berarti apa-apa di tanah yang terisolasi ini.

Sesampainya di pemukiman — sekumpulan rumah kayu reyot berjejer di tepi jurang — suasana seketika berubah. Penduduk berhenti beraktivitas, menatap Lala dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat. Anak-anak berlari menjauh. Para petani tua meludah ke tanah saat melihatnya.

“Ini dia… putri konglomerat yang katanya mau belajar bertani,” gumam seorang pria paruh baya dengan nada sarkas yang terdengar jelas. “Datang pakai sepatu bagus, baju bersih. Besok kalau hujan sedikit pasti lari pulang ke kasur empuknya.”

Lala menahan air mata yang mendesak keluar. Ia ingin berteriak bahwa ia bukan seperti yang mereka kira. Tapi ia sadar — kata-kata tidak akan pernah cukup membuktikan apa pun di sini. Hanya kerja keras yang bisa mengubah pandangan mereka.

Malam pertama adalah malam terpanjang dalam hidupnya. Kamar yang disediakan hanyalah ruang kecil beralaskan tanah, beratap rumbia yang bolong-bolong. Angin malam masuk tanpa hambatan, membawa dingin yang menggigilkan seluruh tubuhnya. Selimut yang dibawanya terlalu tipis. Di kejauhan terdengar suara binatang buas, dan sesekali gemuruh angin seolah mau merobohkan dinding kayu yang sudah lapuk itu.

Lala duduk memeluk lutut di sudut kamar, menatap lubang di atap tempat bintang terlihat samar di balik kabut. Air mata akhirnya jatuh, satu per satu, menghangatkan pipinya yang membeku. Ia teringat kamarnya yang luas dan hangat di rumah besar. Teringat pelukan Ayah dan Ibu yang selalu menenangkannya setiap kali ia ketakutan. Teringat Bagas yang selalu menyelip ke sampingnya saat malam hujan.

Apakah aku salah datang ke sini? Apakah aku terlalu lemah?

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kayu. Reno berdiri di luar, wajahnya tertutup kabut dan embun, di tangannya memegang tumpukan kain tebal dan sebungkus sesuatu yang masih mengepul hangat.

“Aku tahu dingin sekali malam ini,” suaranya rendah, takut didengar orang lain. “Ini selimut tambahan — milik ibuku dulu. Dan ini… bubur jagung panas. Masih hangat. Makanlah, supaya tenagamu tidak habis oleh dingin.”

Lala menerima piring itu dengan tangan gemetar. Menghirup uap hangatnya saja sudah membuat matanya semakin perih.

“Kau tidak perlu melayaniku, Reno. Kau sudah cukup menanggung beban menemaniku ke sini. Aku tidak mau menambah bebanmu lagi.”

Reno menatapnya lekat-lekat, matanya di bawah cahaya bulan purnama tampak begitu dalam dan tulus.

“Aku tidak melayanimu, Lala. Aku menjagamu. Dan aku janji — tidak peduli seberapa berat hari-hari ke depan… aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian. Bahkan kalau seluruh desa menentangmu, aku berdiri di sisimu.”

Malam itu, Reno duduk di luar pintu kamar Lala sepanjang malam. Ia tahu ada serigala yang berkeliaran di area hutan dekat pemukiman, dan ia juga tahu bahwa beberapa penduduk desa masih menyimpan dendam lama pada keluarga Saraswati. Ia tidak tidur sedikit pun — matanya terjaga menembus kegelapan, tangannya menggenggam tongkat kayu yang sudah ia siapkan. Demi satu sumpah yang ia ucapkan di depan Ayah Lala. Demi satu gadis yang membuatnya merasa masih memiliki hati manusia.

 

Hari-hari berikutnya adalah ujian yang tak berbelas kasihan. Lala bangun sebelum matahari terbit — sama seperti petani lain — dan turun ke ladang. Ia memetik buah kopi, membersihkan tanah, memikul keranjang berat di punggungnya sampai pundaknya memerah dan melepuh. Tangannya yang dulu halus kini kasar, penuh luka dan kotoran tanah yang menempel di kuku. Badannya yang dulu terbiasa makanan bergizi seimbang kini menahan lapar dan haus saat panen terlambat datang.

Namun yang paling menyakitkan bukan fisiknya. Melainkan penolakan yang terus datang setiap hari.

Saat ia menawarkan membantu menimba air di sumur umum, wanita-wanita desa saling berbisik lalu berbalik pergi. Saat ia memberikan obat-obatan yang dibawanya untuk anak yang demam, ibu anak itu menolaknya dengan kasar seolah obat itu racun. Saat ia duduk berusaha mengobrol dengan para petani tua di bawah pohon beringin, mereka langsung berdiri dan berpindah tempat.

Sore itu, setelah seharian bekerja tanpa ada satu orang pun yang berbicara padanya, Lala duduk sendirian di tepi jurang, memandang ke bawah dengan mata yang kosong dan lelah. Tubuhnya terasa remuk, tapi hatinya terasa lebih sakit berkali-kali lipat.

“Mereka membenci aku, Reno,” bisiknya parau, air mata menetes jatuh membasahi tanah di bawahnya. “Mereka melihatku sebagai musuh. Sebagai anak dari orang kaya yang datang main-main dengan kehidupan mereka. Mungkin… mungkin mereka benar. Mungkin aku memang tidak pantas di sini.”

Reno duduk di sampingnya, menatap hamparan perkebunan kopi yang hijau bergelombang tertiup angin.

“Dulu saat aku masih kecil, penduduk desa juga membenci keluargaku. Karena nama Darmawan. Karena nenekku dipermalukan di sini. Aku tumbuh dengan tatapan yang sama persis seperti yang kau terima sekarang. Aku tahu rasanya — rasanya ingin menghilang, ingin membuktikan diri tapi merasa seolah dinding tinggi berdiri di depanmu dan tidak ada pintu yang terbuka.”

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh menatap Lala dengan tatapan yang menguatkan namun penuh kepedihan.

“Tapi aku belajar satu hal — rasa benci itu tidak dihancurkan dengan amarah. Ia dihancurkan dengan kesabaran. Dengan ketekunan. Dengan tetap ada di sini, tetap bekerja, tetap peduli… bahkan saat mereka mengusirmu berkali-kali. Waktu yang akan menjawab semua pertanyaan mereka, Lala. Bukan kata-katamu.”

Hari itu jawaban itu datang lebih cepat dari yang mereka duga.

Sore menjelang gelap, hujan deras turun tiba-tiba. Tanah di lereng atas desa mulai bergerak. Getaran gemuruh terdengar dari kejauhan. Reno yang paling pertama menyadari bahaya itu — ia tumbuh di gunung ini, ia tahu suara tanah longsor.

“LONGSOR! SEMUA ORANG KELUAR! CEPAT!” teriak Reno sekuat tenaga sambil berlari dari rumah ke rumah memukul pintu kayu.

Kepanikan melanda desa. Orang-orang berlarian kebingungan, tidak tahu harus menyelamatkan apa dulu — anak-anak, ternak, atau barang-barang mereka. Tebing di atas desa mulai runtuh perlahan, tanah dan bebatuan besar meluncur turun dengan kecepatan yang mengerikan.

Saat semua orang sibuk menyelamatkan diri sendiri, Lala melihat satu hal yang tidak dilihat siapa pun. Di salah satu rumah kayu yang paling dekat dengan tepi jurang, terdengar tangis anak kecil yang memilukan. Anak bungsu dari keluarga yang paling dingin dan menolaknya selama ini — si kecil Ujang yang baru berusia empat tahun, masih terperangkap di dalam rumah yang lantainya sudah mulai miring ke bawah.

Tanpa berpikir dua kali, Lala berlari menuju rumah itu.

“LALA! JANGAN! BERBAHAYA!” Reno berteriak histeris melihatnya menerobos hujan dan lumpur menuju rumah yang setiap detiknya bisa hancur terjun ke jurang.

Lala tidak berhenti. Ia merobek kain penutup jendela, melompat masuk ke dalam rumah yang sudah miring hampir empat puluh lima derajat. Langit-langit berderak di atas kepalanya. Batu-batu kecil menghantam punggungnya. Ia melihat Ujang terikat di tempat tidur, menangis ketakutan. Lala merobek ikatannya, memeluk anak itu erat di dadanya, lalu berteriak sekuat tenaga saat ia melihat pintu depan sudah tertutup longsoran tanah.

“DI SINI! KITA KELUAR DARI JENDELA BELAKANG!”

Saat ia berhasil mendorong anak itu keluar jendela ke tangan Reno yang sudah menunggu, bagian tengah rumah itu ambruk tepat di tempat Lala berdiri sedetik sebelumnya. Balok kayu berat menghantam punggungnya keras sekali. Lala menjerit kesakitan, lalu tubuhnya meluncur terjatuh ke tepi jurang — hanya satu tangannya yang berhasil mencengkeram akar pohon tua yang menonjol dari tebing curam.

“LALA!” Reno berteriak sekuat tenaga, melemparkan Ujang ke pelukan ayahnya yang baru saja tiba berlari, lalu tanpa ragu melompat turun ke lerang curam itu, merayap di antara batu dan tanah yang terus meluncur.

Di atas tebing, seluruh penduduk desa terdiam membeku. Mereka melihat gadis yang selama ini mereka benci dan remehkan — bergelantungan di tepi kematian, pucat, kesakitan, tapi tangannya masih mencengkeram erat sambil menahan air mata dan rasa sakit yang luar biasa. Gadis yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan anak dari orang-orang yang bahkan tidak mau menyapanya.

Reno akhirnya meraih tangan Lala. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, dengan napas yang terengah dan darah yang menetes dari kakinya yang teriris batu tajam, ia menarik tubuh gadis itu naik perlahan-lahan, sampai akhirnya Lala jatuh ke pelukannya di atas tanah yang aman.

Lala terbaring di tanah lumpur, napasnya tersengal hebat, punggungnya terasa terbakar sakit, tapi matanya masih terbuka menatap wajah-wajah penduduk desa yang kini berdiri melingkar di atasnya. Wajah-wajah yang tadinya penuh kebencian kini penuh kekaguman, rasa bersalah, dan ngeri. Ibu Ujang berlutut di sampingnya, menangis tersedu-sedu, memegang tangan Lala yang penuh luka dan kotor.

“Maafkan kami… maafkan kami, Nak…” isak wanita itu, menundukkan kepalanya sampai menyentuh tangan Lala. “Kami bodoh. Kami jahat. Dan kau… kau menyelamatkan nyawa anakku dengan nyawamu sendiri. Kami tidak pantas menerima kebaikanmu.”

Lala tersenyum lemah, meski rasa sakit di punggungnya hampir tak tertahankan.

“Aku tidak melakukan ini sebagai putri siapa-siapa… atau pemilik tanah apa pun. Aku melakukannya… karena kita semua sama. Kita semua manusia. Dan kita harus saling menjaga. Seperti yang diajarkan Ayah dan Ibuku.”

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Lala datang, pintu-pintu rumah desa terbuka untuknya. Mereka membawanya ke rumah terbesar di desa, mengobati lukanya dengan ramuan tradisional terbaik, memberinya tempat tidur jerami yang bersih, dan menyiapkan makanan terbaik yang mereka miliki — meski itu hanya nasi jagung dan ikan asin.

Kepala desa yang paling keras kepala sekalipun datang dan duduk di sampingnya, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau sudah membuktikan siapa dirimu, Lala Saraswati. Bukan dengan kata-kata. Bukan dengan nama besar. Tapi dengan keberanian yang tidak dimiliki banyak orang kaya. Mulai hari ini… tanah ini adalah tanahmu. Sama seperti kami semua adalah keluargamu.”

Di sudut ruangan, Reno berdiri diam menyaksikan semua itu. Ia tersenyum bangga — bangga bukan karena ia ikut berjasa besar, tapi karena ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana gadis yang dicintainya mengubah kebencian menjadi cinta hanya dengan ketulusan dan keberanian. Ia tahu perjalanan mereka masih sangat panjang dan berat. Tapi malam ini, di desa terpencil di tengah kabut gunung itu, ia tahu satu hal dengan pasti — gadis ini akan menjadi orang yang luar biasa. Lebih luar biasa dari siapa pun di keluarganya.

Dan jauh di kota besar, di kediaman utama keluarga Saraswati, Agung dan Larasati terbangun bersamaan di tengah malam. Keduanya tidak tahu mengapa — tiba-tiba saja dada mereka terasa sesak, lalu perlahan terisi oleh rasa bangga yang hangat, seolah hati orang tua mereka tahu tanpa diberi kabar bahwa putri mereka baru saja melewati ujian terberatnya dan keluar sebagai pemenang sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!