Arabella Nandhita, gadis berusia 21 tahun, seorang mahasiswa dan pekerja paruh waktu di sebuah cafe ternama di kotanya, bekerja sambil kuliah, pilihan yang tepat untuk membantu meringankan beban kedua orangtua tercintanya.
Sifatnya yang manis, sopan dan periang membuatnya menjadi gadis supel dan mudah berteman dengan siapa saja.
Raka Brahmana, Seorang Rich Man berusia 27th yang kini menjabat sebagai CEO menggantikan ayahnya, Putra dari seorang pengusaha properti ternama di negeri ini, Indra Brahmana pendiri Brahmana Corp.
Sifat Raka yang cool dan sedikit introvert membuatnya selalu di segani.
Raka yang sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong di cafe, jatuh hati pada salah satu karyawan cafe langganannya.
Ikuti kisah manis dan pahit perjalanan cinta mereka yukkk...
Happy Reading DarL..😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Pagi harinya Raka terbangun dan dilihatnya Ara juga sudah bangun, bahkan dia tersenyum manis kepada Raka.
Hati Raka jadi berbunga bunga karena mendapat senyuman manis dari gadis yang di sukai nya, di sukai? apakah Raka sudah yakin dengan perasaanya?
"selamat pagi" sapa Raka.
"paaagi" sahut Ara yang mulai lancar berbicara, istirahat membuat tubuhnya kembali fit.
Cuph...
"morning kiss" kata Raka setelah mengecup bibir Ara sekilas.
"ish.. suami bukan, pacar bukan, main sosor aja!" ucap Ara sambil mengusap pelan bibirnya yang barusan di kecup oleh Raka.
"ups.. maaf, ga boleh ya?" tanya Raka, ada raut kecewa di wajahnya.
"heleh, udah nyosor baru nanya boleh atau ga nya!" sergah Ara.
"maaf..." katanya lagi dengan wajah lesu.
"ya berhubung kamu udah baik, jadi di maafkan" ucap Ara.
"aku kan memang selalu baik!" tukas Raka.
"selalu?? lupa dulu pernah menghina aku abis abisan???" kata Ara mengingatkan Raka tentang kelakuannya beberapa waktu lalu.
"ssstttt...cukup, ga usah di bahas lagi, semua sudah berlalu dan telah menjadi masa lalu!" ucap Raka sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"cih..!" Ara berdecih, dia masih saja kesal jika mengingat kata kata pedas yang keluar dari mulut Raka.
"ngomelnya di stop dulu, aku mau menelpon bunda mu!" kata Raka.
Raka mengambil ponselnya dan menghubungi bunda Ara, bunda Ara yang mendapat kabar baik dari Raka, segera ke rumah sakit, bunda tidak sabar untuk bertemu dengan putri tercintanya.
"sebentar lagi bunda mu datang!" sambung Raka.
"hmmm..." jawab Ara singkat.
"eh.. semalem sayup sayup aku mendengar seseorang berjanji, jika aku sadar, dia tidak akan menggangguku lagi dan akan menjauhiku!" kata Ara sambil pura pura berpikir.
Raka jadi salah tingkah, ternyata Ara mendengar janji yang sempat dia ucapkan ketika Ara belum sadar.
"eemm.. apa aku mimpi ya?" kata Ara lagi, lalu melirik Raka yang nampak salah tingkah.
"eemm.. itu aku yang berbicara!" sahut Raka akhirnya mengaku.
"lalu?"
"lalu apa?? apa kau ingin aku menjauhi mu?" tanya Raka dengan raut wajah yang di tekuk.
"menurut mu??" tanya Ara menggantungkan kata katanya.
"aku tidak tahu!" sahutnya lalu menundukkan kepala dengan lesu.
"menurut mu apa aku ingin kau menjauh setelah berkali kali mencium ku tanpa ijin??"
Raka mendongakkan kepalanya dengan tatapan tak percaya, antara paham dan tidak pada ucapan Ara.
"lalu?" hanya itu yang Raka bisa ucapkan.
"lalu apa?? kau maunya seperti apa?" Ara bertanya balik pada Raka.
"aa..aaku.. ingin memilikimu!" ucap Raka terbata.
"memiliki? sebagai apa? karyawan cafe mu?" Ara sok bodoh di depan Raka.
"kalau aku hanya ingin memilikimu sebagai karyawan, buat apa aku berada disini sekarang dan meninggalkan pekerjaanku!!" sungut Raka gemas pada Ara.
"lalu?"
"lalu lagi lalu lagi!! kapan selesainya pertanyaan mu itu hem?"
"sampai aku benar benar paham dan mengerti apa yang sedang terjadi pada mu!"
"AKU MENCINTAI MU ARA!!!!" Ucap Raka dengan lantang, bersamaan dengan itu bunda Ara datang dan tertegun mendengar pengakuan Raka barusan.
Reflek saja, Raka dan Ara menatap horor ke arah bunda.
"bunda....!" ucap Ara.
"iii...iiibu!" ucap Raka.
"apa apaan ini?" tanya Bunda.
"bu.. ma..maaf, saya bisa jelaskan semuanya!"
"tidak perlu, tolong kamu keluar dulu, bunda mau bicara dengan Ara!" ucap Bunda pada Raka.
Raka hanya bisa menuruti perintah bunda dan dia bergegas keluar dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.
Setelah Raka keluar, bunda langsung memeluk Ara,
"ya Allah nak, alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga, bunda khawatir sekali!" ucap Bunda sambil menitikkan air mata.
"maafin Ara bund, sudah buat bunda khawatir!"
"gapapa nak.. namanya juga musibah!"
"bundaaa...." Ara berusaha membalas pelukan bunda.
"lalu apa tadi itu?" tanya bunda menatap tajam kepada Ara.
"tadi? yang mana bund?" tanya Ara pura pura tidak mengerti.
Bunda menjewer pelan telinga Ara karena Ara pura pura tidak mengerti dengan pertanyaan sang bunda.
"auw sakit bund!" keluh Ara sambil memegangi telinganya yang barusan di jewer bunda.
Ara mengaduh terlalu keras, sampai Raka yang berada di luar mendengarnya, Raka spontan saja masuk karena mendengar Ara mengaduh,
"kamu kenapa Ra?" tanya Raka dengan wajah paniknya.
Bunda dan Ara melongo melihat kepanikan di wajah Raka.
"aku gapapa!" sahut Ara.
"Lalu kenapa kamu mengaduh?" tanya Raka sambil memeriksa tubuh Ara di semua bagian.
"di jewer bunda!" sahutnya sambil mencebikkan bibir.
"oh... aku kira kau kesakitan lagi!" ucap Raka lega karena yang di khawatirkan tidak terjadi.
"coba kalian jelas kan pada bunda, ada hubungan apa kalian sebenarnya?" tanya bunda menengahi mereka berdua.
"ga ada apa apa kok bund!" sahut Ara dengan cepat.
"lalu?" Bunda masih ingin tahu lebih banyak.
"saya mencintai Ara bu!" sahut Raka.
"apa?? yang benar saja! mulai kapan?" tanya bunda makin kepo.
"saya juga tahu mulai kapan bu, tapi melihat kondisi Ara seperti kemarin, saya merasa takut kehilangan Ara!" jawab Raka berusaha menjelaskan perasaannya pada bunda.
"dan kau Ara, apa kau juga mencintai nak Raka?" tanya bunda pada Ara.
"hah??" Ara nampak terkejut dengan pertanyaan sang bunda.
"kamu mencintai nak Raka atau tidak?" tanya Bunda sekali lagi.
Raka menatap tajam kearah Ara, Raka juga ingin mendengar jawaban Ara,
"ii...ii..ya bund!" sahut Ara tergagap.
Raka tersenyum senang setelah Ara mengakui perasaannya.
Bunda malah menunjukkan raut wajah sedih, Ara penasaran dengan ekspresi wajah sang bunda dan bertanya,
"kenapa bunda terlihat sedih?" tanya Ara.
"Bunda hanya berpikir, bisakah kalian menjalani hubungan yang lebih dalam lagi, mengingat status kalian yang bagai langit dan bumi! kau dan Raka berbeda kasta!" ucap Bunda.
"Bu.. saya tidak mempedulikan status Ara! yang saya tahu, saya mencintainya dan selamanya akan tetap seperti itu!" sahut Raka tanpa ragu.
"kau bisa menerima Ara, lalu bagaimana dengan keluarga mu? apa mereka juga bisa menerima perbedaan kasta di antara kalian berdua?"
"saya akan berusaha agar Ara di terima oleh seluruh keluarga saya, dan saya yakin keluarga saya pasti selalu mendukung apapun keputusan yang membuat saya bahagia bu!" jawab Raka dengan begitu mantapnya.
"kalau kau memang yakin, Bunda hanya bisa mendoakan dan memberikan restu bunda untuk hubungan kalian!" ucap bunda lagi.
"terimakasih bu karena telah mempercayai saya, saya berjanji akan menjaga Ara dan membahagiakannya!"
"Bunda ga butuh janji, tolong kau buktikan saja!"
"saya akan buktikan pada ibu dan seluruh dunia!"
Bunda merasa lega, karena perasaan Raka begitu dalam untuk Ara, Bunda mulai yakin jika Raka bersungguh sungguh dengan ucapannya.
"semoga kalian selalu bahagia nak!" kata Bunda mendoakan Ara dan Raka.
"aamiin..." sahut Ara dan Raka bersamaan lalu tersenyum setelah mendapat restu dari sang Bunda.
🎗🎗🎗🎗🎗🎗
pengorbanan ara sia² pdhl yg dia lakukan demi kamu dan anak istrimu..
mending Ara tinggalin aja Raka