TOLONG TINGGALKAN JEJAK SETIAP MEMBACA UNTUK MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT DALAM BEKARYA! Terimakasih.
.
.
.
"Ya, akulah pemenangnya. Jadi sekarang aku adalah pemimpin kamu ya, Dara."
–––
Di sebuah sekolah dengan sistem yang buruk, Dara di masukan di dalamnya. Di sana dia bertemu Damian dan menjadi partner satu sama lain. Tapi yang tidak mereka ketahui, ketua sembilan naga memiliki dendam pribadi atas Damian membuat kehidupan sekolah mereka penuh dengan intrik dan juga konflik dalam permainan yang mempertaruhkan diri mereka sendiri. Biasakah Dara bertahan, atau memilih berhenti karena semua hal gila yang dia alami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuriha Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SCHOOL SYSTEM No. 24] : Permainan Di Mulai! William dan Damian.
Damian melihat William yang tengah berdiri di ujung taman itu. Terlihat jelas dari lampu jika William tengah menelpon seseorang.
"Apa yang kamu rencanakan!" teriak Damian sesaat sampai ke sana.
"Baiklah, dia sudah sampai," kata William sembari menutup ponselnya. "Orang bodoh mana yang memberitahu rencana mereka, bahkan bayi saja tidak akan melakukan itu," lanjut William.
Damian masih diam di sana, ada hal yang sudah berjalan lain hal dengan William yang satu langkah ada di depannya. "Kamu menginginkan Dara?" tanya Damian. "Aku tidak akan memberikannya percuma."
Tepukan singkat tepat pada tangan William tersenyum simpul menandakan sebuah kemenangan. "Aku tidak menginginkan dia, hanya ingin tau dia siapa. Tapi saat kamu menawarkan aku juga tidak akan menolak nya," ucap William.
Tangannya terhenti di pundak Damian, "Ayo kita lakukan sedikit permainan," ucapnya kembali.
"Cih! Jika ingin Dara ambil saja, tapi jangan ganggu aku!" teriak Damian.
Tatapan William seolah tidak menjawab apapun. Tangannya tepat menunjuk pada siluet hitam jelas ada di belakang mereka. Seorang yang mendengarkan percakapan mereka.
"Aku tau Damian kita memiliki masalah bahkan sebelum kita di sini, tapi kamulah yang menariknya di dalam masalah ini," jawab William.
Mata Damian membuka seolah ada yang aneh di sana. Senyuman tidak bisa lepas dari William. Entah kenapa dia berbicara seperti itu, menandakan ada sesuatu hal yang terjadi.
"Ya, sepertinya ada tikus yang mendengarkan kita," ucap Damian.
Suara desir semak menandakan sebuah gerakan. Damian menutup matanya terlihat jika itu adalah Dara. Seperti jebakan yang sudah William rencanakan sebelumnya.
Tanpa berucap apapun lagi Damian mendekati semak itu. Rambut Dara terlihat jelas di antara terang lampu taman. Terlihat jelas dari atas sana jika Dara menutup mulutnya kuat tak bersuara.
Perlahan Dara berdiri untuk melihat apa yang telah terjadi. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Damian sesaat Dara menampakkan wajahnya.
Wajah gugup tidak bisa Dara sembunyikan, beberapa langkah dia mundur sialnya ada William yang tiba-tiba saja memeluk pundak Dara. Perbincangan lebar terjadi di sana, hingga akhirnya Damian pergi karena sudah kehilangan kata-kata.
'Sial! Haruskah aku merubah rencana?' batin Damian bergegas menuju asrama miliknya.
Sesudah sampai Damian langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Terasa sebuah perasaan tak tenang di sana saat dia tidak tau apa yang ajan William lakukan. Dirinya terus saja bergerak, lantas duduk di tepi ranjang.
"Sial! Sial! Sial! Ini salah ku terlalu menyepelekan jika dia tidak akan tau," gerutu Damian sembari mengacak rambut nya sendiri.
Beberapa saat dia berdiam, lantas ada sebuah notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Terlihat jelas itu adalah nomor kosong yang belum pernah Damian simpan sebelumnya.
[Ayo bermain, aku memang menginginkan Dara tapi tidak percuma] tulis dalam pesan singkat itu.
Damian bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Buku berisikan nomor satu sekolah itu benar-benar membutuat Damian geram. Banyak pesan yang masuk ke nomor ponselnya, baik hanya orang iseng ataupun mereka yang mau menantang Damian. Sekarang waktunya, William.
Beberapa saat kemudian terlihat pesan yang menunjukkan tempat dia di undang untuk bermain. Damian memiliki perasaan jika ini hanyalah jebakan, tapi dia tidak bisa menolak egonya yang di remehkan karena menolak tawaran.
"Bagaimana apakah aku harus pergi?" tanya Damian pada dirinya sendiri.
Terlihat pantulan cermin membuat Damian diam. Dia menatap dirinya perlahan dengan senyuman simpul yang tercipta dari sana. "Kenapa tidak, pergilah," desiran suara itu membuat Damian langsung beranjak dari ranjang nya.
Tanpa berpikir panjang Damian langsung pergi. Dia adalah Damian Cardaiga, tidak mungkin menolak tawaran permainan seperti itu. Damian tidak pernah terkalahkan setelah dia masuk, bahkan jika nilainya kecil Damian bisa menantang guru tersebut.
"William," panggil Damian sesaat sampai di tempat tujuan.
Ini adalah ruang OSIS, di mana tepat ada sembilan naga yang berkumpul di sana. Tantangan resmi dengan empat drone yang sudah berada di samping William.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya, bagaimana bisa aku percaya jika kamu tidak berbuat curang?" tanya Damian.
"Kecurangan sangat di tentang sekolah ini Damian, bahkan itu jelas tercantum dalam ikrar. Drone pengawas ada di sini karena aku yang meminta mereka, bukan karena aku yang menyettingnya," jelas William.
Sesaat salah satu dari anak yang berdiri tepat meminta Damian untuk duduk di depan William. Permainan kartu biasa tidak ada yang akan terjadi. Permainan ini sedikit unik, William meminta kemenagan mutlak atas dua selisih poin kemenangan. Bahkan jika mereka hanya unggul satu masih ada kesempatan imbang.
Permainan berjalan alot, hingga tengah malam mereka masih belum juga bermain. Entah Damian yang menang, ataupun William hanya bisa selisih satu poin. Mungkin ini adalah hal yang melelahkan bagi Damian ataupun William, tapi orang yang melihat ini adalah hal yang sangat mengagumkan. Melihat stategi keduanya yang sama-sama imbang.
"Menarik sekali, sudah lama aku tidak bermain seserius ini," ucap William memilah kartunya lantas melemparkan satu di atas meja.
"Ya, aku juga," balas Damian tidak ingin menanggapi.
Senyuman simpul tercipta dari William, sesaat dia menutup semua kartunya lalu meletakkan di atas meja. "Tapi mungkin aku akan tetap bosan Damian, karena kali ini aku juga menang," ujar William langsung melebarkan semua kartunya.
Sempurna, William menang dengan lima puluh empat kemenangan, berbanding dengan Damian yang lima puluh dua kemenangan. Damian hanya berdiam seolah tidak terjadi sesuatu, lantas dia pergi dari sana.
"Kamu dan Dara bukanlah partner lagi, apakah kamu tidak terkejut?" tanya William menahan Damian yang akan pergi dari sana.
"Hanya satu minggu, lagipula ini tidak lama," jawab Damian. Tak ingin lebih lama Damian langsung pergi dari sana.
Terlihat jawah William yang kesal dengan hal ini, dia memang tapi tidak merasa puas. Tidak ada wajah terkejut atau cemas dari Damian, dia malah merasakan kekalahan biasa dalam sebuah permainan.
"Greece, kumpulkan para jurnalis sekolah dan jadikan ini sebuah berita. Dara Caroline bukan lagi partner dari Damian Cardaiga, dia kalah setelah mempertaruhkan pendamping nya sendiri," ujar William.
Sesaat William beranjak dari kursinya, rasa kesal William sesaat melihat Damian yang pergi dari ruangan OSIS tanpa beban. Dia baru saja kalah dalam permainan, dan Dara dia juga telah mempertaruhkan nya. Terlihat dari atas sana jika Damian membuka ponselnya untuk melihat peringkatnya di sekolah.
"Dia terlalu percaya diri, tidak tau saja kekuatan hati yang tersakiti," gumam William.
Lain hal dengan Damian, dia turun melihat nilai angka yang turun dari ponselnya. Level Damian yang semula 2190, kini hanya 1190. Turun seribu mungkin itu adalah hal yang besar, tapi tidak dengan Damian. Dia bisa mendapatkan seribu poin dengan cepat jika dia terus menang.
Hal yang tidak William sangka sebelumnya jika Damian membawa salah satu kartu dari tempat William. "Jadi ini keistimewaan kamu, William Shakespeare."