Setelah pertarungan yang berlangsung lama antara penjahat kelas atas dan detektif terhebat di dunia, kini mereka dipertemukan secara langsung dalam pertama kalinya..
Namun sayangnya nasib bagi mereka berdua harus mati saat dalam pertarungan. Dan kini seorang penjahat kelas atas yang dijuluki sebagai Evil Man di transfer ke dunia lain dan bereinkarnasi ke tubuh seseorang yang sangat baik hati dan tidak pernah sekalipun berbuat jahat dalam hidupnya di dunia..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smylygod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 | Serangan Elang Api
"S-sialan. Ternyata memang tidak semudah itu ya." ucapku sambil berusaha bangun. Aku melihat sekitar dan cukup terkejut karena dampak dari kibasan sayapnya bisa meratakan seluruh pohon disini. Seperti dugaanku. Melawan Elang api sebenarnya sama saja dengan bunuh diri.
Bagaimana ini. Aku tidak terlalu suka mempertaruhkan nyawaku dengan pertarungan yang tidak bisa kumenangkan. Mau aku buat rencana sebanyak apapun tetap mustahil bisa mengalahkan burung ini.
Aku berpikir sambil mulai bangkit dari tanah. Jeny juga ikut bangkit dari tanah. Lalu melihat kami berdua mulai bangkit. Dari kejauhan. Humonkey tertawa melihat kami.
"Kekekek. Usaha kalian benar-benar sia-sia huh?" Humonkey tertawa terbahak-bahak lalu melanjutkan perkataanya.
"Kalian berakting seolah kalian tersesat. Kemudian kalian mulai menyerang kami untuk membuat kami fokus kepada kalian dan tidak menyadari adanya serangan diam-diam dari teman kalian. Kemudian menyegelku. Itu memang rencana yang mengesankan tapi."
"Rencana seperti itu tidak akan berhasil karena perbedaan kekuatan kita yang terlalu jauh. Juga kalian hanya memikirkan satu rencana tanpa memikirkan kosekuensi bagaimana kedepannya akan terjadi jika rencana kalian gagal. Singkatnya kalian tidak berpikir beberapa langkah kedepan." sindir Humonkey ke pada kami.
Sindirannya benar-benar menusuk hatiku. Pasalnya aku lah orang yang selalu memberi instruksi strategi kepada mereka. Aku menjadi sedikit kesal dibuat olehnya.
"Tidak. Ini masih belum selesai. Kami juga tau bahwa kekuatan kita berbeda jauh dan tidak pasti bahwa kita bisa mengalahkan kalian sekarang. Tapi. Tidak ada hal yang pasti di dunia ini. Bahkan matahari yang menjulang ke atas pun pada akhirnya jatuh juga ke bawah." ucap Jeny. Membalas perkataan Humonkey sambil ia mulai berusaha berdiri.
Aku melihat dia berdiri. Matanya masih menunjukkan tekad untuk bertarung. Dia sudah mulai mengayunkan pedangnya lagi dan bersiap untuk menyerang. Aku sedikit kagum dia punya tekad seperti ini.
Tidak lama aku melihatnya. Dia langsung menoleh ke arahku dan balas menatapku. Dia menatapku dengan wajah serius dan penuh keyakinan.
"Ayo kita lanjutkan Zen."
Aku terdiam sejenak. Kemudian aku juga mulai bangkit berdiri dan melanjutkan pertarungan. "Yah. Ayo kita beri mereka pelajaran."
Humonkey yang melihat tekad kami masih menyala dia mulai sedikit tersenyum dan mulai tertarik dengan situasi ini. "Oho~."
Sementara Elang api masih ada di atas dan memperhatikan kami yang sepertinya sudah siap lagi untuk menyerangnya.
"Benar-benar manusia yang menyebalkan." ucapnya.
"Zen. Aku akan mencoba mengalihkan perhatian Elang api. Sementara kau bangunkan Marina dan Ajax. Kita akan menggunakan strategimu saat melawan burung api."
"Benar. Ternyata kita sepemikiran Jen. Kalau begitu aku akan membangunkan mereka kemudian kita akan berkumpul untuk melawan Elang ini."
Aku dan Jeny saling tatap sejenak kemudian kami berdua mengangguk bersamaan. Jeny langsung berlari menuju Elang api sementara aku berlari menuju Marina dan Ajax.
Jeny melompat menerjang ke arah Elang api. Elang api juga sepertinya telah menantikan kedatangan Jeny. Jeny dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan mencoba menyerang Elang api. Sedangkan Elang api menghirup nafas dalam-dalam kemudian dia mengeluarkannya. Terlihat sebuah gumpalan bola api keluar dari dalam mulutnya menghampiri Jeny.
Jeny sepertinya telah memprediksi hal itu dan dia telah bersiap dengan pedangnya. "Teknik kabut. Tebasan kabut." Jeny mengayunkan pedangnya ke arah bola api raksasa itu. BUM! Jeny berhasil menangkisnya dan menghasilkan asap kabut sehingga membuat Jeny tidak terlihat.
Elang api dengan cepat langsung mengepakkan sayapnya untuk membuat asap itu hilang. Namun hal yang tidak terduga terjadi. Jeny telah menghilang dari asap-asal itu. Elang api dengan sigap langsung mencari dimana Jeny.
Hanya butuh waktu sedikit dia bisa menemukan Jeny. Terlihat Jeny sepertinya sedang mengatur pedangnya dengan kekuatan kabutnya dari bawah. Seolah bahwa dia sepertinya akan menggunakan serangan jarak jauh.
Elang api yang melihat itu tidak bisa tinggal diam. Dia dengan cepat langsung terbang ke arah Jeny. Jeny sendiri sedang fokus untuk memfokuskan kekuatan kabutnya ke pedangnya.
"Teknik kabut. Dentuman kabut." Jeny mengayunkan pedangnya ke tanah. BUM!
Seketika Elang api langsung berhenti karena dia melihat sekitarnya telah berkabut tebal karena dentuman keras dari jurus Jeny.
"Tsk. Jadi kau mau berniat mengurangi penglihatanku? jangan harap kau bisa." Elang api mulai meregangkan sayapnya dan mulai bersiap untuk mengepakkan sayapnya untuk menghilangkan kabut.
Saat Elang api hampir mengepakkan sayapnya tiba-tiba saja seseorang berteriak.
"SEKARANG!" Jeny berteriak.
"Okey." Jawabku.
Kami berempat berhasil berkumpul berkat usaha Jeny dalam mengulur waktu. Sekarang saatnya bagi kami untuk menjalankan strategi yang pernah kami lakukan saat melawan burung api.
Sebelum Elang api berhasil mengepakkan sayapnya aku telah menembak satu anak panah ke arahnya. Tapi dengan cepat dia masih bisa menghindar. "Hm. Senjata lemah itu tidak akan bisa mencapaiku." ucapnya dengan percaya diri.
Mendengarnya berbicara begitu membuatku tersenyum lebar. "Apakah begitu?"
Tanpa Elang api itu sadari kabut di sekitarnya semakin tebal dan kabutnya sekarang menjadi kabut pasir karena tanah-tanah berterbangan di sekitar. Tidak hanya berterbangan. Tetapi batu-batu tanah kecil itu juga menyerang Elang api. Hal itu membuat Elang api susah untuk melihat.
Kami kemudian lanjut menyerangnya dengan strategi yang sama saat kami mengalahkan burung api. Setelah pandangannya kabur aku langsung menembak anak panah ke arahnya. Elang api langsung terkejut melihat anak panah itu. Dia tidak sempat menghindar dan akhirnya sayapnya kena.
"KHAAG!" Teriak Elang api. Meski sayapnya kena namun ia masih bisa berdiri tegak.
Kemudian dari bawah Ajax telah bersiap mengeluarkan jurusnya. "Rasakan ini dasar Elang sialan. Teknik awan. Tembakan meriam air hujan!" seru Ajax sambil mengangkat tangannya ke arah Elang api.
Sekejap air keluar dari tangannya dan menuju ke arah Elang api. Elang api sedikit terkejut namun dia masih sempat untuk melawan balik. Dia dengan cepat menyemburkan api dari mulutnya. "JANGAN HARAP!" Teriaknya.
Seketika air dan api saling beradu satu sama lain di atas awan. Mereka sama-sama mengeluarkan kekuatan dengan segenap kemampuan mereka. Alhasil serangan mereka seri dan membuat asap bermunculan di awan.
Yah. Karena memang inilah tujuannya. Kami tidak bertujuan serangan Ajax akan mampu mengalahkan serangan Elang api. Justru jurus air Ajax hanyalah untuk memaksa Elang api menggunakan semburan apinya dan membuat kedua elemen itu beradu sehingga akhirnya akan menimbulkan asap. Dari situlah Jeny. Akan menghabisi Elang itu.
Elang api melihat itu sebagai kesempatan juga. Dia dengan cepat langsung melesat ke arah kami dengan kecepatan yang tinggi. Saat dia telah hampir sampai. Tiba-tiba saja Jeny berada di sampingnya. "Mau kemana kau?"
Jeny langsung mengayunkan pedangnya ke arah Elang api. Elang api sendiri sangat terkejut dan tidak sempat menghindar. Akibatnya salah satu sayapnya terpotong.
"KHAAAAAAGH!" Elang api berteriak kesakitan.
Teriakannya itu membuat Humonkey terkejut. Baru kali ini dia melihat Elang api terluka dan kewalahan oleh beberapa orang bocah yang bahkan belum mendapatkan pangkat untuk menjadi warior sama sekali.
"T-tidak mungkin. Apakah ini nyata? Elang api terpojok oleh para bocah tengik ini?" Mata Humonkey melebar seolah tidak percaya apa yang dia lihat.
'Tapi itu juga tidak mengherankan. Karena strategi yang mereka gunakan sangatlah cerdas. Namun meski begitu Elang api sampai kehilangan salah satu sayapnya adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.' Humonkey menatap kami sambil menelan ludah.
"Yosha! Kita berhasil." seru Ajax.
"Tidak. Masih belum. Jangan senang dulu Jax." ucapku menegur Ajax.
"Benar sih.." Ajax tertawa kecil dan mencoba menenangkan diri.
Tepat saat aku bilang begitu. Elang api mulai berteriak sangat keras sehingga semua orang yang ada di hutan ini mendengarnya. Elang api kemudian terbang setinggi-tingginya hanya dengan satu sayap.
"Berani sekali kalian para manusia bajingan. Sepertinya memang aku harus segera membinasakan kalian!" seru Elang api. Matanya menatap kami dengan tajam dan aura membunuh yang terpancar di dirinya sangat kuat.
Elang api kemudian menghela nafas panjang dan dia juga mengepakkan satu sayapnya. Membuat angin yang begitu kencang mengenai kami. Kami yang melihat itu tidak bisa tinggal diam saja. Sudah jelas bahwa Elang api ingin menggunakan kekuatan terkuatnya sekarang.
"Semuanya. Elang itu sekarang ingin membakar habis hutan ini. Kita tidak boleh membiarkannya!" Aku berseru kepada mereka. Kemudian aku menoleh ke arah Ajax.
"Jax cepat keluarkan jurus hujan airmu dan basuhi area sekitar Elang api." tergasku.
Ajax mengangguk dan mencoba mengeluarkan kekuatannya. "Teknik awan. Jurus pemanggil hujan." Ajax merentangkan tangannya ke atas. Seketika awan-awan berkumpul diatas Elang api dan hujan mulai turun dengan sangat deras.
Air-air hujan itu mulai membasahi Elang api dan membuat Elang api kesakitan. "Dasar Sialan." Elang api dengan cepat langsung mengeluarkan kekuatannya untuk mengantisipasi jurus Ajax.
"RAAAAGH! TAMEN API!" seru Elang api dan dalam sekejap tubuhnya telah terlindungi oleh bola-bola api. Membuat air-air hujan itu tidak bisa mengenainya lagi.
"Tsk sialan. Jangan meremehkanku! Teknik awan. Jurus air hujan terjun." Ajax mengayunkan tangannya dari atas ke bawah.
Air-air hujan itu kemudian menjadi air yang besar seperti air terjun. Air itu turun dari langit dan mulai membanjiri Elang api.
Melihat itu membuat Elang api jengkel. Dia dengan cepat membalas serangan itu. "Merepotkan. Semburan Api." Elang api membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menyemburkan api ke arah datangnya air itu.
Ajax juga terus menambah kekuatan pada air itu agar terus membasuhi elang api. Dibalik itu semua. Serangan Ajax hanyalah pengalihan untuk Aku, Jeny dan Marina melancarkan serangan yang sebenarnya.
"Aku telah melakukan tugasku. Sekarang giliran kalian!" seru Ajax dengan wajahnya yang kelelahan. akibat dari kelelahan air terjun yang mengguyuri Elang api mulai mengecil seketika.
"Tentu. Terimakasih atas kerja kerasmu Jax. Sekarang giliran kami." ucapku.
Aku, Jeny dan Marina telah bersiap untuk menyerang Elang itu dari belakang. "Kalau begitu. Mari kita serang."
Sekejap Jeny langsung mengeluarkan pedangnya serta jurus kabutnya. Begitu juga dengan Marina yang mengeluarkan jurus tanahnya. Sementara Aku mengeluarkan busurku dan bersiap menembak Elang api.
"Tanah menjulang!" Marina menekuk tangannya ke tanah dan tanah-tanah mulai menjulang ke atas. Jeny dengan sigap naik ke atas tanah itu kemudian melompat ke arah Elang api.
"Teknik kabut. Jurus tebasan kabut."
"Teknik tanah. Jurus lemparan tanah."
Marina dan Jeny mulai mengeluarkan kekuatannya. Sementara aku juga telah mulai menembakkan panah ke arah Elang api. Sekejap semua serangan kita mengarah langsung ke arah Elang api.
Namun tanpa disangka. Elang api menoleh ke arah kami dengan wajah tersenyum seolah dia telah menduga serangan kami. Dengan cepat dia mulai menghirup udara kemudian mengeluarkannya ke arah kami.
"Selamat tinggal. Manusia sialan!"
Aku yang menyadari apa yang dilakukan elang api langsung berteriak ke arah Jeny. "MUNDUR JEN!" Mendengar teriakanku membuat Jeny tersadar. Namun sudah terlambat. Elang api kini telah menyemburkan api ke arah Jeny.
"Rasakan ini. RAAAAGH!" Elang api menyemburkan api dengan ukuran yang sangat besar dan panas.
"BERLINDUNG!" Aku dengan cepat memerintah mereka untuk berlindung. Pasalnya semburan api ini memiliki skala yang sangat besar sehingga bisa membakar separuh hutan.
semangat🔥