"Ahhh , Ah aku harus bagaimana "ucap ku dengan sangat frustasi .
Mengapa takdir ku begini !!
Sangat sial di mana umurku masih belasan tahun , Tapi aku harus berjuang dengan kerasnya hidup yang aku hadapi ini. Belum lagi Di saat Adikku balita yang harus aku rawat sendiri , tanpa bantuan orang lain ....
" Sangat sial bukan " ucap Raver
Bagaimana kisah ini selanjutnya , Apa yang akan Raver lakukan untuk melanjutkan kehidupan bersama adiknya itu .
Raver hanya hidup sebatang kara ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arys@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24...Sona * Jay
Setelah beberapa waktu, Sona bersama Jay kembali ke desa untuk merayakan acara tradisional yang penting bersama keluarga dan teman mereka. Mereka memberikan cinta mereka secara terbuka dan mengabaikan semua pandangan miring orang-orang terhadap hubungan mereka. Mereka menikmati kebersamaan mereka dan mengambil momen yang akan menjadi kenangan seumur hidup.
Hubungan Sona dan Jay terus berkembang dan mereka berdua merasa bahagia di samping satu sama lain. Mereka saling mencintai, saling menghargai dan menyadari bahwa keseimbangan antara keluarga, pekerjaan dan hubungan adalah hal yang sangat penting.Dan di lain sisi Sona sedang menyembunyikan bahwa ,
" kakak maafkan aku, karena aku tidak memberi taukan sesuatu tentang ini pada, Jay adalah anak dari bibi yang menghina kita waktu itu ." ucap Sona dengan raut wajah yang menyembunyikan kesedihannya di dalam hatinya saat ini.
Sona terbangun di pagi hari yang cerah dan indah. Ia merasa sangat senang dan bersyukur, dan merenung sejenak tentang kebahagiaan yang selalu hadir dalam hidupnya.
Dia berjalan menuju jendela dan membuka tirai, dan segera matahari pagi terbit dan melembutkan cahayanya di wajahnya. Dia menghirup udara segar dan menikmati suara burung bernyanyi di luar.
Sona merasa begitu bahagia karena ia bersama keluarganya. Ia sudah bertahun-tahun merasa terkurung di dalam rumah, merasa terpisah dari orang-orang di sekitarnya. Namun sejak bertemu dengan Jay dan Abangnya, hidupnya menjadi lebih berwarna.
Sona ingat betapa kecil dan mudahnya hidupnya dulu, ketika dia masih tinggal di pedesaan dengan keluarganya. Tapi kemudian, krisis ekonomi dan masalah lainnya memaksa keluarganya untuk pindah ke kota dan mencari nafkah di sana.
Sona mengambil napas dalam-dalam dan menghela napas panjang. Dulu, hidupnya selalu dipenuhi dengan kesulitan dan kegelisahan. Dia sering merasa kesepian, tetapi sejak bertemu Jay dan Abangnya, dia merasa memiliki keluarga yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Sona bersyukur memiliki saat-saat seperti ini, saat dia merasa bahagia dan senang bangun di pagi hari. Dia merasa begitu beruntung hidup dengan kebahagiaan di sekelilingnya. Dia mengendarai sepeda ke toko dan membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan sekalian menikmati udara segar di pagi hari.
Sampai di rumah, Sona menemukan Abang nya sedang sarapan. Mereka duduk di meja makan dan membaca koran sambil menikmati sarapan.
"Sona, kau sudah bangun?" tanya Rav , seraya meletakkan koran di atas meja.
"Ya, aku suka bangun pagi," jawab Sona.
Abangnya menambahkan, "Bagaimana cuaca di luar?"
"Indah. Sangat cerah dan segar," kata Sona sambil tersenyum.
Mereka mengobrol dan tertawa bersama-sama, menikmati kesenangan dan rasa sukacita yang dirasakan bersama-sama. Sona sangat senang karena ia merasa bahagia dan beruntung hidup dalam kebersamaan seperti ini.
Setelah sarapan, mereka mengambil rute ke taman yang indah di dekat rumahnya. Mereka berjalan-jalan dan menikmati indahnya pemandangan dan udara segar pagi.
Mereka lalu duduk di bawah pohon yang rimbun, menikmati minuman dan camilan yang dibawa dari rumah, sambil bernyanyi dan tertawa bersama-sama.
Sona menatap ke arah Abang nya, kemudian ia menghela napas dalam. Dia merasa bahagia, dan tidak bisa dibayangkan kehidupannya tanpa orang-orang yang ia sayangi ini.
Dia menyadari, hidup kecilnya dulu tidak selalu identik dengan bahagia, karena hidup kecilnya tidak menawarkan kebahagiaan seperti ini. Dan ia bersyukur, sudah dihadiahi hidup yang penuh kebahagiaan seperti sekarang.
Sona menatap ke langit yang terang dan terasa berharap, semoga hidupnya selalu begitu, selalu penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan seperti sekarang.
Jay menetapkan matanya pada jam di tangan kanannya. Sudah pukul 3 sore, seharusnya ia sudah tiba di rumah Sona dan bertemu dengan abangnya. Jay mengira ia tidak akan bisa sampai di sana tepat waktu, tetapi ternyata ia berhasil sampai di sana hanya lima menit terlambat.
Jay menekan lonceng rumah dan tidak menunggu lama, segera Sona membuka pintu. "Jay! Kau akhirnya datang! Masuklah!" Sona menarik Jay ke dalam dan langsung menutup pintu.
"Maaf, aku sedikit terlambat," kata Jay, sambil menarik nafas panjang setelah melepaskan tasnya.
"Tidak masalah. Abang ku sedang menunggumu di kamar." Sona mengarahkan Jay ke sisi rumah dan menuju kamar abangnya, Rav .
Jay berdiri di depan pintu kamar, ragu-ragu untuk mengetuk pintu, lalu ia memutuskan untuk langsung membuka pintu dan memasuki kamar. Saat ia melihat Rav duduk di sofa dengan ekspresi murung, dia langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang salah.
"Apa yang terjadi?" Jay bertanya seraya mendekati abang nya Sona .
"Sedang bermasalah dengan pekerjaanku," jawab Rav ,sedikit tertekan.
Jay merasa mencium aroma minuman keras dan asap rokok di kamar tersebut. "Tampaknya kau membutuhkan minum," kata Jay, lalu ia keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.
Di lain sisi ,Rav sedang ingin menguji Jay saat ini.Rav hanya berpura-pura minum dan ingin mengajak nya bersama.
" Jay ,ayo kemari lah ..! Duduk bersama ku dan kita minum minuman ini ...! " ucap Rav saat ini, sambil berpura-pura pusing.
"Tidak, tidak Abang..!" ucap Jay menolak tapi di lain sisi Jay sangat hobi minum minuman itu .
Sona duduk di ruang tamu dan menunggu, kemudian ia bangkit dan menawarkan Jay minuman. Jay memilih untuk minum warna merah anggur dan keduanya duduk berbincang-bincang di sofa.
"Sona, kau tahu bagaimana merayu seseorang, kan?" Jay bertanya.
"Uhh, aku rasa aku tahu sedikit, mengapa kau bertanya?" Sona menjawab dengan tatapan bingung.
"Aku ingin membujuk abang mu agar berhenti merokok yang berlebihan. Ini harus berhenti secepatnya, ini sudah berlangsung terlalu lama." Rav merasa kesal dengan kebiasaan buruk Jay yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
"Mungkin kau bisa mencarikan dokter atau konselor untuk membantunya berhenti merokok dan minum," sarankan Sona heran dengan tingkah Abang nya kali ini .
Jay merasa seperti ia telah mencoba berbagai cara namun tidak berhasil. "Saya rasa saya perlu mencoba metode yang berbeda," katanya.
Sona mengangguk dan diam untuk beberapa saat, kemudian ia mengeluarkan ide yang tidak terduga, "Kita mencoba memanggil seorang dukun?"
Jay tidak yakin dengan saran Sona. "Tidak, mungkin lebih baik mencarikan dukun yang dipercaya orang-orang terdekat," kata Jay.
Sona mengetahui dukun yang dipercaya oleh keluarganya dan memberitahunya kepada Jay. Meskipun terdengar aneh, Jay memutuskan untuk mencoba metode ini sebagai upaya terakhir untuk membantu abangnya.
Mereka pergi bersama ke dukun tersebut, Jay merasa gugup dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sementara Sona mantap bahwa ini adalah langkah yang tepat. Ketika mereka sampai di rumah dukun, terlihat banyak orang yang menunggu. Dukun itu sendiri duduk di atas tikar, dan langsung menarik Jay dan Sona ke dekatnya.
Dukun itu mulai melakukan ritual, meminta mereka untuk membawa barang-barang tertentu sebagai persembahan, dan menyuruh mereka untuk duduk dan berdoa. Setelah beberapa saat, Jay mulai merasa seperti dia disentuh oleh sesuatu, lalu ia meminta izin untuk memasuki kamar dukun.
Setelah berbicara dengan dokter, Sona dan Jay keluar dari rumah dukun, merasa harapannya bangkit kembali. Sejak waktu itu, Robi berhenti merokok dan minum alkohol, dan kehidupannya menjadi lebih stabil. Jay dan Sona bahkan menjadi teman baik, dan sering bertemu untuk minum dan bercanda bersama.
Melalui percakapan menyenangkan mereka, Jay mengetahui bahwa Sona sebenarnya berusaha menyembunyikan rasa cintanya padanya.
"Kali ini aku yang harus bertanya, Sona. Bisakah kita menjadi lebih dari teman?" tanya Jay tiba-tiba.
Sona menatap Jay dengan gugup, kemudian dia menjawab dengan senyum lebar, "Tentu saja, Jay. Aku sudah menunggu untukmu."
Dan dengan begitu, Jay menemukan hiburan baru dalam kehidupannya pada akhirnya, dan bersama dengan Sona, ia menemukan jalan keluar dari masalah keluarganya.
seruuu