Dia dilahirkan bukan dari darah bangsawan, namun takdir memilihnya sebagai pewaris tahta. Elisa, sang putri mahkota justru menolak singgasananya bukan karena takut, tapi karena keyakinan bahwa saudaranya lebih pantas menduduki posisi itu. Namun niat tulusnya justru memicu perpecahan, meninggalkan luka dan kepergian sang kakak dalam diam.
Dalam pencarian untuk memulihkan kehormatan dan cinta keluarganya, Elisa terseret dalam pusaran pengkhianatan, ambisi, dan cinta yang menghancurkannya. Ditinggalkan oleh cinta pertamanya, dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya, dan dipertemukan dengan cinta baru yang penuh tantangan. Elisa belajar bahwa "Mahkota" tak selalu berupa logam mulia, kadang mahkota sejati tersembunyi dalam kebenaran, keberanian, dan ketulusan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. SEBUAH PESAN DALAM MIMPI
(Ini hanya ilustrasi belaka)
Di sisi lain, jauh dari hiruk-pikuk istana, kesadaran Elisa terjatuh ke dalam sebuah ruang yang tak bernama.
Ia berdiri di tengah kehampaan.
Tak ada dinding, tak ada langit, tak ada tanah yang jelas batasnya. Segalanya serba putih, seperti kabut yang membeku. Ruangan itu tampak luas namun menyesakkan, seolah dunia ini sengaja diciptakan untuk menelan suara dan harapan.
Elisa memutar tubuhnya perlahan.
“Di… mana aku? Tempat apa ini?" gumamnya pelan.
Elisa merasa bingung dan takut lalu berusaha untuk bangkit, menoleh ke sekeliling ruangan mencari jalan keluar.
Langkahnya terdengar kosong. Setiap kali ia melangkah, pantulan suaranya kembali kepadanya sendiri, seakan ruangan itu hanya mau menjawab dengan gema kebingungannya.
Ia berlari kecil, mencari pintu, mencari celah, mencari apa pun yang bisa disebut jalan keluar. Namun tak ada ujung. Tak ada sudut, tak ada arah.
Ruangan itu seperti lingkaran tanpa akhir. Elisa menelan ludahnya sendiri. Dadanya terasa sesak.
Tiba-tiba, suara muncul menggema di segala sudut.
“ELISA…”
Tubuhnya seketika menegang.
“ELISA…”
Suara itu berat, sedikit serak, namun memiliki kekuatan yang membuat tulang-tulangnya gemetar. Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia seolah berasal dari segala penjuru, dari udara, dari ruang kosong itu sendiri.
Elisa memutar tubuhnya dengan panik.
“Si… siapa itu?” teriaknya, suaranya bergetar.
Tak ada siapa pun, hanya dirinya.
Ia memegangi lengannya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang semakin liar.
“Tempat apa ini…?” bisiknya. “Apa aku sudah mati?”
Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Lututnya melemah, hingga akhirnya ia terduduk di tengah ruangan putih itu. Napasnya berat, dadanya naik turun dengan cepat.
Lalu suara itu muncul kembali.
“Kau tidak perlu takut.”
Elisa tersentak dan menoleh ke sekeliling.
“Aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan.”
Hening kembali menyelimuti ruang itu.
“Pesan…?” Elisa mengangkat kepalanya. “Siapa kau sebenarnya?”
Namun tak ada jawaban.
Kesunyian terasa lebih mengerikan daripada teriakan. Elisa mengepalkan tangannya.
“Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?” suaranya mulai meninggi. “Jawablah!”
Lama tak ada suara, hingga akhirnya gema itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas.
“Dengarkan baik-baik.”
Tubuh Elisa seketika membeku. Jantungnya berdetak keras seolah ingin keluar dari dadanya. Ia menengadah, menduga suara itu datang dari atas.
“Pergilah ke sebuah gunung. Puncaknya bersinar oleh cahaya bulan purnama. Di sana terdapat tujuh air terjun pelangi.”
Elisa menahan napas.
“Tenangkan pikiranmu di bawahnya. Buang semua keraguanmu.”
Kata-kata itu meluncur perlahan, seperti doa sekaligus perintah.
“Bagaimana aku bisa ke sana?” Elisa bertanya lirih.
“Burung rajawali bermata biru akan menuntun mu pada jawaban yang kau cari.”
Elisa mengernyit. Otaknya berusaha mencerna setiap kata.
“Burung… rajawali?”
Namun suara itu belum selesai.
“Perjalananmu tidak akan mudah. Akan banyak rintangan yang menghadang.”
“Apa maksudmu?” Elisa bangkit setengah berdiri. “Rintangan apa? Jelaskan padaku!”
“Berhati-hatilah…”
Suara itu mulai melemah, seperti angin yang menjauh.
“Tunggu!” Elisa berlari ke arah asal suara itu. “Jangan pergi!”
Namun yang tersisa hanyalah keheningan.
“Kenapa aku harus ke sana?” teriaknya. “Di mana tempat itu? Jawab aku!”
Namun berkali-kali ia berteriak, tak ada jawaban apapun, suasana pun kembali hening.
Ia berputar-putar dengan napas memburu, rambutnya basah oleh keringat, matanya dipenuhi kebingungan.
“Keluarkan aku dari sini!”
Tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul di hadapannya. Elisa menutup wajah dengan lengannya. Suara berdengung memenuhi telinganya, seperti ribuan lonceng berdentang bersamaan.
“Ahh…!”
Tubuhnya terasa ringan, lalu berat, kemudian kosong. Dan dalam sekejap ia terbangun.
Napasnya tersengal, jantungnya masih berdetak liar. Tangannya meraba tanah di sekitarnya. Daun kering, rumput, dan batang pohon menyentuh kulitnya.
Ia membuka mata perlahan.
Langit biru, daun hijau, cahaya matahari menyusup di sela ranting.
“Aa… astaga…”
Ia masih berada di bawah pohon besar tempat ia tak sadarkan diri.
“Aku… kembali?”
Ia duduk dengan tubuh gemetar, memegangi dadanya sendiri.
“Di mana aku tadi…?”
Matanya kosong, penuh tanda tanya. Ia mengingat suara itu. Sebuah Gunung, tujuh air terjun, dan rajawali bermata biru.
“Itu… hanya mimpi?”
Namun perasaan aneh masih tertinggal di dadanya. Terlalu nyata untuk disebut sekadar bunga tidur.
Elisa mengusap wajahnya. Pandangannya berkeliling, memastikan dunia ini nyata.
“Oh… ternyata hanya mimpi…”
Namun kata-kata itu terasa hampa. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu jika mimpi itu bukan mimpi biasa. Itu adalah panggilan. Dan mungkin awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Sementara itu, di dalam istana, kekacauan yang berbeda sedang terjadi.
Rain berlari menyusuri lorong-lorong marmer dengan napas tersengal. Suara sepatunya menggema keras, memantul di dinding istana yang biasanya sunyi dan agung. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“ELISA…!” teriaknya putus asa.
Ia membuka setiap pintu kamar, menyingkap tirai, bahkan mengintip ke balik pilar-pilar besar. Namun yang ia temukan hanya kehampaan.
Tak ada jejak keberadaan Elisa. Seolah sang putri lenyap ditelan udara.
Ia bergegas menemui para pelayan.
“Kalian melihat Putri Elisa?” tanyanya dengan suara gemetar.
Para pelayan saling berpandangan.
“Maaf, Pangeran… sejak tadi kami tidak melihat Putri Elisa.”
Rain menggeleng frustasi.
“Tidak mungkin… aku sendiri yang membawanya ke kamar!”
Namun tak seorang pun mempercayainya.
Bagi mereka, yang dilihat Rain hanyalah kecemasan seorang kakak yang terlalu mencintai adiknya.
Bagi Rain, dunia terasa seperti berbalik arah. Saat kebenaran tak dipercaya, yang tersisa hanyalah kesepian dalam keyakinan sendiri.
Rain berjalan mundur beberapa langkah. Dadanya terasa perih.
“Kenapa tidak ada yang percaya padaku…?” bisiknya.
Ia mengepalkan tangannya. Matanya memerah bukan hanya karena panik, tapi karena merasa sendirian dalam ketakutan itu.
Ia kembali menyusuri koridor istana, memanggil nama Elisa berulang kali, hingga suaranya serak.
“Elisa… jangan sembunyi… aku mohon…”
Langkahnya melemah. Untuk pertama kalinya, Rain merasakan sesuatu yang lebih menakutkan dari perang. kehilangan seseorang tanpa jejak, tanpa saksi, tanpa jawaban membuat ia terjebak akan kebimbangan yang tak berujung.
Ada kehilangan yang tidak disertai kematian, namun terasa lebih menyakitkan daripada perpisahan.
Ia berhenti di tengah lorong, bersandar pada pilar besar. Nafasnya bergetar.
“Jika ini hanya mimpiku… mengapa rasa takut ini begitu nyata?”
Kadang manusia tersesat bukan karena tak ada jalan, melainkan karena tak mengerti ke mana harus melangkah.
Jika jawaban tak datang saat dipanggil, mungkin karena seseorang belum siap mendengarnya.
Tidak semua mimpi adalah ilusi. Ada yang datang sebagai pesan, ada yang hadir sebagai peringatan.
Bersambung...
Apa maksud dari mimpi Elisa kali ini? Apa ada kaitannya dengan mimpi sebelumnya?
Akankah Elisa pergi ke tempat tersebut?
Bagaimana reaksi Rain jika Elisa berada di tempat semula ia pingsan?
Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe. Terimakasih 😊 🥰.