Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klan Bulan, Ophelia
Semilir angin sejuk menerpa wajahnya yanv sedikit pucat. Ia menatap kembali kepada komandan ksatria yang merupakan salah satu tangan kepercayaannya, dan mengangguk mengisyaratkan bahwa perjalanan mereka bisa dilanjutkan.
Kemudian ia segera kembali memasukkan dirinya ke dalam kereta kuda.
Perjalanan rombongan keluarga kekaisaran Ophelia dari daerah utara benua Astra menuju Reis yang berada di selatan itu kembali di lanjutkan.
Rencananya setelah berhasil mencapai batas pemisah wilayah yaitu hutan Cana yang membentang melingkupi setiap wilayah kekuasan di Astra, mereka akan melanjutkan perjalanan yang sudah mereka tempuh selama kurang lebih 2 harian dengan menggunakan portal teleportasi menuju ibu kota Reis, Aster.
Holus Ophelia, sang kaisar, menatap wanita dengan rambut perak panjang yang tergerai lurus di sebelahnya.
Bulu mata bahkan pupil wanita itu juga senada dengan rambutnya, ia nampak seperti peri di mata para manusia biasa, namun nyatanya, wanita itu merupakan permaisuri kekaisaran Ophelia yang tenang.
"Thea, apa kamu ingin berhenti sejenak sebelum memasuki portal? Kita sudah tiba di Cana."
Mata Lysthea Ophelia yang awalnya terpejam kini terbuka perlahan, wanita itu mengangguk. "Aku merasakannya."
Lysthea menatap pelan ke arah suaminya. "Aku ingin memberi salam secara pribadi, sebentar saja."
Holus mengangguk pasti. Pria itu mengelus surai lembut istrinya dan mengecup keningnya. "Apapun untukmu."
Setibanya rombongan mereka di depan gerbang portal, komandan ksatria Ophelia, Isagi, memerintahkan seluruh ksatria untuk membentuk formasi penjagaan melingkari kereta kuda utama keluarga istana.
Lysthea turun perlahan dari dalam kereta dengan dibantu Holus yang menggenggam tangannya untuk turun.
Gaun putih yang dikenakannya menjuntai jatuh ke hamparan tanah yang bersatu dengan rumbut dan bunga liar.
Lysthea menghirup udara di sekitar hutan Cana yang dirinya rindukan, seketika wanita itu juga merindukannya.
Lysthea sedikit menundukkan pandangannya. Mulutnya nampak menggumamkan sesuatu sampai membuat seluruh tumbuhan bergerak padahal semua orang merasa sedang tidak ada angin disekitar mereka.
Bahkan terdengar kicauan burung yang sangat merdu dan ramai dari segala penjuru.
Seluruh rombongan bahkan Holus ikut menundukkan pandangan.
Pria itu tahu, wanita yang ia cintainya ini bukan sekadar memberi salam, tapi ia meminta sesuatu kepada leluhurnya.
Dan ia mengetahui dengan jelas apa permintaannya. Tentunya terkait keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan orang-orang yang ia cintai.
Dirinya, seseorang yang tengah terbaring pucat di kereta kuda lain tepat di belakang kereta kuda mereka berdua, serta leluhur yang ia rindukan.
Alam seolah merespon salam dari keluarga mereka yang akhirnya datang berkunjung. Holus juga tak tinggal diam, ia dengan senyap ikut menyalurkan sebagian kecil mana nya ke tanah untuk di serap.
Dengan niat sebagai salam dari dirinya yang merupakan salah satu Archmage klan Bulan yang menjaga Astra, serta hadiah berkunjung dari keluarga ipar hutan Cana.
Lysthea Ophelia istrinya, merupakan Spirit Elemen Es yang berhasil berevolusi dan jiwanya berasal dari Cana.
"Kuharap, hanya perang 20 tahun lalu yang akan terjadi. Jauh dari itu, aku mohon hanya kebahagiaan lah yang datang kepada keturunan kami, dan jagalah Astra," lirih Lysthea.
...----------------...
Holus melirik kecil ke arah Lysthea yang menyelesaikan salam nya. Ia dengan sigap merangkul sang istri untuk kembali ke dalam kereta mereka.
Isagi yang melihat tuannya yang sudah bersiap melanjutkan perjalanan pun segera mengkoordinasikan para ksatria yang berada di dalam rombongan.
"Holus, aku ingin berada di samping Lucien," pinta Lysthea dengan suara lirihnya menatap sang suami sebelum mereka memasuki kereta kuda.
Holus melirik sekilas kereta kuda di belakang milik mereka. Asap putih yang dingin terus menguar dari dalam sana.
Lysthea memang sejatinya merupakan spirit es, tapi embun dingin itu merupakan salah satu dari aura mana milik klan bulan yang mungkin bisa saja menyakiti dirinya, karena formasi sihir yang digunakan untuk menjaga kehidupan didalamnya sudah masuk kedalam tahap berat.
Holus menggeleng pelan. "Tidak untuk sekarang, Thea. Maafkan aku. Tapi kamu bisa menemaninya saat kita sudah sampai di Aster," ucap Holus dengan penuh penyesalan.
Tidak ada yang mengetahui kenapa anak satu-satunya dari pasangan kekaisaran di Astra itu harus terbaring lemah dengan kehidupan yang ditopang oleh sihir milik leluhur keluarga Ophelia.
Lysthea yang merupakan sang ibu pun hanya menghela napas pasrah. Ia sudah sangat amat menderita melihat putra semata wayangnya yang baru berusia 11 tahun itu harus menghabiskan masa kecilnya dengan menutup mata.
Namun daripada melihatnya kesakitan, ia lebih memilih untuk percaya kepada suaminya tanpa bertanya apa pun karena dirinya hanya fokus akan keselamatan buah hatinya.
Meski ia bertanya sekalipun, Holus selalu saja seperti memiliki akal untuk mengalihkan pikiran dan pembicaraan mereka saat itu.
Dengan hati yang masih sedih, Lysthea kembali masuk ke dalam kereta kuda bersama suaminya. Ia hanya bisa memandangi kereta sang anak lewat jendela kecil yang mengarah ke belakang tepat dimana Lucien tengah beristirahat.
Setelah Holus mengirimkan sinyal berupa mana nya kepada portal, pola sihir teleportasi dari gerbang tua itu mulai terbuka.
Satu persatu rombongan kekaisaran Ophelia yang mendampingi keluarga istana mulai memasuki pola sihir tersebut, sampai ketika kereta kuda sang pangeran juga ikut masuk ke dalam ruang teleportasi.
Sihir dari portal sontak tertutup, menghadang kabut hitam yang diam-diam membuntuti rombongan untuk masuk ke dalam ruang teleportasi.
Mata lucien perlahan terlihat sedikit terbuka. Jari telunjuknya bergerak kecil dan berhasil membuka kembali portal teleportasi.
Membiarkan kabut pekat itu ikut masuk bersama mereka menuju Aster.