menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serba Salah Sama Cewek
Di koridor lantai dua dan area pinggir lapangan, puluhan pasang mata siswa-siswi yang sedang bebas jam istirahat mulai berkerumun.
Mereka menonton dengan antusias campur geli melihat pemandangan langka di tengah terik matahari: gerombolan ciwi-ciwi sedang dijemur dengan rambut acak-acakan dan seragam yang sudah tidak berbentuk.
"Kalian ini ya! Baru hari kedua sekolah, otaknya sudah ditaruh di mana, hah?! Toilet dan koridor kalian jadiin arena ring tinju! Mau jadi preman pasar kalian?!" Omelan Pak Guru BK menggelegar, napasnya naik-turun menahan emosi.
Di tengah khotbah maut itu, Edel datang bersama Alifasa dengan langkah santai, membelah kerumunan murid yang menonton.
Edel langsung melenggang mendekati barisan hukuman, sama sekali tidak memedulikan Pak Guru yang wajahnya sudah memerah padam karena marah-marah.
"Kak Silva dihukum?" tanya Edel polos, menatap Silva yang kucel.
Belum sempat Silva menjawab, Baffin tiba-tiba muncul dari belakang Edel. Wajah cowok posesif itu tampak tidak suka.
Tanpa banyak bicara, tangan besarnya langsung terulur menarik pergelangan tangan Silva untuk dibawa pergi dari sana.
Sret!
Silva langsung menyentak tangan Baffin dengan kasar. Gadis itu melotot sebal. Di dalam kepala polosnya, semua keributan ini—termasuk fakta bahwa dia digencet kakak kelas—adalah murni kesalahan Baffin yang terlalu posesif hingga membuatnya jadi pusat perhatian.
Memang dasar Silva, Baffin selalu menjadi kambing hitam terbaiknya.
Melihat Silva menyentak Baffin, Kenya yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung pasang badan. Ia melangkah cepat, menyempil di antara Baffin dan Silva, lalu mendorong Silva ke belakang tubuhnya agar menjauh dari jangkauan Baffin.
Tadi, saat baru sampai di lapangan, Kenya dan Silva sempat berdiri bersebelahan dan saling membisikkan kronologi kejadian masing-masing.
Silva sudah menegaskan kalau dia mau jaga jarak dulu dengan Baffin, jadi sebagai teman yang baik (dan galak), Kenya tentu saja langsung bertindak sebagai perisai.
"Lo pergi aja. Kita masih dihukum," ujar Kenya ketus, tahu betul kalau Baffin berniat menarik Silva ke kantin. "Lo kalau mau makan, makan sendiri sana. Silva juga bisa makan sendiri nanti... sama gue."
Meskipun Pak Guru di depan mereka masih komat-kamit mengomel, dua anak baru ini malah asyik mengobrol sendiri seolah dunia milik berdua.
Melihat pemandangan itu, salah satu siswi yang ikut dijemur di sebelah Kenya mendecih sinis. Ia berbisik pada temannya, "Caper tuh... caper banget depan cowok..."
"Iya, ih. Si satunya juga sok-sokan nolak lagi, padahal mah girang," sahut temannya penuh kedengkian.
Telinga tajam Kenya menangkap bisikan ember itu. Jiwa barbar yang baru saja tenang seketika menyala kembali.
Kenya langsung menoleh dengan wajah sangar."Bukannya tadi pagi Lo habis ngaca ya? Harusnya sadar kalau kalian yang dari tadi caper," sindir Kenya pedas.
Sambil memasang wajah menantang, Kenya melangkah mendekati cewek itu. Tanpa permisi, ibu jari Kenya terulur, mengusap pipi cewek itu dengan kasar hingga menyisakan garis kulit asli di antara bedaknya. "Pake bedak setebal ini kalau bukan buat caper, terus buat apa? Mau ikut lenong?"
"Sialan! Lo apa-apaan, sih?!" Pekikan itu menjadi sumbu kompor.
Bruk! Sret! Aw!
Keributan kembali pecah. Pertarungan sengit jambak-jambakan part 2 resmi dimulai di depan tiang bendera.
Kenya langsung menerjang lawannya, dan Silva yang niatnya mau membantu Kenya, malah ikut terseret dalam pusaran baku hantam antar-perempuan tersebut.
"HEH! SUDAHHHH!!! SUDAH! SUDAH!!!" teriak Pak Guru BK, suaranya sampai serak karena frustasi setengah mati.
Sumpah demi apa pun, Pak Guru rasanya mau gila. Tadi saat dia menemukan mereka pertama kali di toilet dan koridor, mereka juga tidak langsung berhenti saat dilerai. Sekarang, sudah berdiri di bawah terik matahari pun mereka malah lanjut ronde kedua tanpa rasa takut sedikit pun.
Melihat tunangannya berada di posisi yang tidak menguntungkan di tengah badai jambakan, Baffin tidak tinggal diam. Ia menerobos kerumunan ciwi-ciwi itu dan langsung menarik Silva masuk ke dalam dekapannya untuk melindunginya.
Teman-teman Baffin yang lain ternyata juga ada di pinggir lapangan. Archard hanya menatap datar ke depan, bersedekap dengan aura dingin seolah keributan di depannya hanyalah angin lalu.
Sebaliknya, Novel malah memasang wajah super senang, matanya berbinar-binar menonton pertunjukan gratis itu. "Wah... gila, gila. Baru hari kedua sekolah sudah ribut gini aja," celetuk Novel sambil terkekeh kagum. "Gue yang cowok ngerasa kalah jantan. Ikutan gabung apa ya?"
"Sana," balas Kaisan pendek dengan nada malas. Hari ini dia terpaksa memakai seragam baru karena seragam lamanya sudah sukses menjadi korban tumpahan sampah Kenya tadi pagi.
Sementara itu, Cyriel yang merasa kasihan melihat situasi mencoba ikut melerai. "Kok keroyokan sih kalian? Silva sama Kenya cuman berdua, gak adil dong!"
Plak!Tiba-tiba, gulungan kertas absen milik Pak Guru mendarat mulus di kepala Novel.
"Aduh! Kok saya yang dipukul, Pak?" protes Novel sambil memegangi kepalanya.
"Malah diam saja kamu! Bukannya bantu melerai, malah menonton! Saya sudah pusing ini!" semprot Pak Guru dengan napas memburu.
Pandangan frustasi Pak Guru kemudian beralih ke Kaisan yang berdiri di sebelah Novel.
Sebelum Pak Guru sempat menyuruhnya, Kaisan langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. "Saya diam aja ya, Pak. Gak mau ikut campur," cetus Kaisan buru-buru. "Itu cewek-ceweknya ngeri banget. Saya tadi pagi aja sudah kena apes begitu sama si Kenya. Takutnya kena sial part dua kalau deket-deket."
Setelah Baffin berhasil mengamankan Silva, dan Cyriel turun tangan menarik Kenya mundur, suasana di lapangan lambat laun mulai tenang.
Ciwi-ciwi kelas sebelah yang mengeroyok tadi mendadak mati kutu dan tidak berani maju lagi. Mana mungkin mereka berani merangsek kalau lawannya sudah berada di dalam dekapan dan perlindungan cowok-cowok hits sekolah itu.
Namun, Kenya yang merasa risih karena tubuhnya ditahan oleh Cyriel langsung memberontak. Ia melepaskan diri dengan gerakan kasar.
Plak! Bukannya berterima kasih karena sudah ditolong dari keroyokan, Kenya malah mendaratkan satu pukulan keras di lengan Cyriel.
"Main peluk-peluk aja Lo! Modus?!" kesal Kenya, menatap Cyriel dengan pandangan tidak suka yang amat kentara.
Cyriel langsung melongo, mengusap lengannya yang terasa panas sambil geleng-geleng kepala. Kehabisan kata-kata dengan kegalakan anak baru itu.
"Ya elah, Neng... ditolongin itu mah," sahut Novel yang menyaksikannya, menahan tawa. "Serba salah emang kalau urusan sama cewek. Niat baik malah disangka modus."
Di sisi lain, Silva juga langsung melepaskan diri dari dekapan Baffin. Gadis itu merapikan rambutnya yang mencuat ke mana-mana sambil cemberut. "Kamu ngapain kesini sih? Kalo mau makan sana makan aja ke kantin, gak usah ngurusin aku."
Edel yang sejak tadi menonton dengan santai langsung menyambar pergelangan tangan Silva. "Ayo, Kak, makan. Aku laper."
"Eh? Heh! Mereka ini masih dihukum! Kenapa malah diajak pergi?!" tanya Pak Guru, benar-benar lelah batin melihat otoritasnya diinjak-injak oleh murid-murid ini.
"Ya kan sudah waktu jam istirahat dan jam makan, Pak," ujar Edel dengan wajah tanpa dosa, seolah argumennya adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
"Sudahlah, ayo Kak. Kak Kenya juga, ayo ikut." Edel langsung menarik tangan Silva pergi dari lapangan. Kenya, tanpa membuang waktu dan tanpa melirik Pak Guru lagi, langsung melangkah lebar mengikuti mereka dari belakang.
Empat gadis itu berjalan santai menuju kantin, meninggalkan kekacauan di lapangan.
Melihat Kenya dan Silva melenggang pergi, ciwi-ciwi lain yang juga sedang dihukum langsung bersiap-siap hendak ikut membubarkan diri.
Namun, langkah mereka langsung dihadang oleh Pak Guru yang merentangkan kedua tangannya.
"Kalian gak boleh pergi! Tetap di tempat!" bentak Pak Guru tegas.
"Lah, kok gitu, Pak? Mereka aja sudah selesai dan boleh pergi!" protes salah satu siswi tidak terima sambil menunjuk punggung Alifasa, Edel, Silva, dan Kenya yang mulai menjauh.
"Saya gak bilang mereka sudah selesai!" balas Pak Guru ngegas.
"Tapi mereka sudah pergi, Pak!"
"Bukan saya yang menyuruh mereka pergi!"
"Tapi Bapak diam aja tadi pas mereka jalan!"
"Saya melarang mereka tadi, kamu gak denger saya teriak?!" Pak Guru mulai kehabisan kesabaran.
"Tapi mereka tetep pergi tuh, Pak. Bapak gak berwibawa banget," gerutu yang lain.
"Kalau begitu salah saya di mana?!" tanya Pak Guru frustasi, menunjuk dirinya sendiri.
"Bapak gak ngejar mereka!" seru ciwi-ciwi itu kompak.
Pak Guru mengusap wajahnya yang terasa panas, menatap langit siang dengan pasrah. "Ya percuma saya kejar! Dia kan dibawa sama Edel! Siapa yang berani berurusan sama bocah itu?! Pokoknya kalian belum selesai hukuman. Diam di sini sampai bel masuk berbunyi!" tegasnya, tidak mau dibantah lagi.
Ciwi-ciwi itu langsung menghentakkan kaki ke tanah dengan kesal, terpaksa kembali berjemur.
Sementara itu, Baffin dan teman-temannya yang merasa urusan mereka di lapangan sudah selesai, langsung berbalik arah dan berjalan santai menuju kantin untuk menyusul gadis-gadis itu.