Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARREN DI SERANG

Alesya terdiam beberapa detik.

"Andai saja aku ada bersamamu, pasti tidak akan ada kejadian mengerikan seperti semalam"

Alesya memeluk erat tubuh Reana

"Maafkan aku Reana, harusnya aku tidak meninggalkan mu semalam"

Ucap Alesya penuh penyesalan, bisa ia bayangkan seberapa takutnya Reana semalam.

"Udah berlalu kok, kamu ga usah khawatir, aku juga pernah tidak bisa membantu mu saat kamu di bawa oleh sipir waktu itu" Balas Reana membuat Alesya kembali Tersenyum.

Kemudian perlahan, senyum jahil muncul di wajahnya.

"Oalah..."

Reana langsung menatapnya curiga.

"Apa?"

"Enggak."

Alesya berdiri dari tepi ranjang.

"Cuma baru tahu ternyata ada orang yang bisa bikin Darren sampai rela babak belur."

Reana langsung memerah.

"Alesya!"

Gadis itu terkekeh.

"Apa? Aku cuma ngomong fakta."

"Dia cuma menolongku."

"Oh, cuma menolong?"

"Iya!"

"Terus cuma menolong juga sampai tidur sambil peluk-pelukan?"

Reana langsung bungkam, Wajahnya semakin merah.

"Aku nggak minta dipeluk!"

Senyum Alesya melebar.

"Tapi kau tidak menolak."

Reana membuka mulut, namun tidak menemukan jawaban. Alesya tertawa kecil.

"Nah kan... Keliatan, kalian ngapain aja nih?"

"Udah ahhh, kenapa sih nyebelin banget"

Mereka kemudian keluar dari sel dan berjalan menyusuri lorong menuju tempat makan. Sepanjang perjalanan, Alesya tidak berhenti menggoda.

"Jadi... nyaman?"

Reana mendengus.

"Diam."

"Hangat?"

"Alesya!"

"Pelukannya erat?"

Reana mempercepat langkahnya.

"Kau benar-benar menyebalkan."

Alesya menyusul sambil tertawa.

"Jawab saja, Reana."

"Enggak mau!"

"Berarti iya."

"BUKAN!"

Suara tawa kecil Alesya menggema di lorong. Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di tempat makan. Reana langsung mengambil tempat duduk, berharap Alesya berhenti menggodanya.

Namun gadis itu justru duduk di sampingnya dengan senyum penuh arti. Reana menghela napas panjang.

Sepertinya perjalanan menuju tempat makan tadi belum cukup untuk membuat Alesya puas.

***

Beberapa menit kemudian, Jessica tiba di tempat makan. Hanya sendirian, Tidak ada Clara ataupun Violeta bersamanya. Gadis itu berjalan menuju meja Reana dan Alesya, lalu menarik kursi di hadapan mereka.

Namun bukannya langsung mengambil makanan, Jessica justru menatap Alesya lekat-lekat.

Tatapannya tajam, Seperti sedang menginterogasi seseorang. Alesya yang sedang makan akhirnya mengangkat pandangan.

"Apa?"

Jessica menunjuknya dengan telunjuk.

"Kau..."

Alesya mengunyah makanannya dengan santai.

Jessica melanjutkan,

"Kau bisa bela diri."

Gerakan tangan Alesya berhenti sebentar, Reana langsung melirik Jessica. Jessica menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kau lupa? Kau banting sipir penjara itu di depanku."

Alesya hanya acuh. Ia kembali memasukkan makanan ke mulutnya.

Jessica mengangkat alis.

"Gerakanmu cepat. Dan jelas bukan gerakan orang yang baru pertama kali berkelahi."

Reana ikut memperhatikan Alesya. Gadis itu hanya mengambil makanannya lagi.

Jessica mendesak,

"Jadi?"

Alesya menelan makanannya.

"Jadi apa?"

"Kau memang bisa bela diri?"

"Lalu kenapa? Mau kuajari?" Jawabannya begitu enteng.

Jessica terdiam sesaat.

"Emang boleh?"

Alesya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai beberapa makanan di mulutnya hampir keluar, Jessica tidak marah. Ia justru tampak kebingungan melihat perubahan sikap Alesya.

"Ya... setelah kemarin menindasku, sekarang kau malah minta aku mengajarimu?"

Jessica mengembuskan napas.

"Temanmu ke mana?" Reana tiba-tiba ikut menyahut.

Jessica hanya menatap malas.

"Bukan urusanmu."

Jawabnya acuh.

"Yaaa... kau tidak tahu, dia ditinggalkan teman-temannya," ucap Alesya sambil kembali tertawa.

Entah kenapa suasana hati Alesya sedang bagus sekali pagi ini.

Kael yang duduk tidak jauh dari sana hanya memperhatikan sebentar, lalu tersenyum tipis.

"Dia tidak pernah benar-benar berubah" gumam cowok itu.

Sementara itu, Darren yang duduk jauh di belakang juga sempat tersenyum kecil ketika melihat ke arah Reana.

Tatapan mereka bertemu.

Reana langsung terdiam.

Namun, wajah penuh luka itu sama sekali tidak membuat tatapan Darren kehilangan ketegasannya. Pria itu tetap menatap Reana dengan sorot mata yang begitu dalam, seolah-olah rasa sakit yang tergambar jelas di wajahnya tidak mampu menghalangi perhatiannya kepada gadis itu.

Tatapan pria itu begitu intens hingga membuat Reana salah tingkah sendiri.

Gadis itu buru-buru menundukkan wajahnya.

Namun Darren masih menatapnya.

Reana bisa merasakan tatapan itu bahkan tanpa berani mengangkat kepalanya kembali. Entah kenapa, hanya dengan ditatap seperti itu, jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

Beberapa saat kemudian, Reana mencuri pandang.

Darren masih di sana.

Masih menatapnya.

Dan kali ini, senyum tipis kembali muncul di sudut bibir pria itu.

Reana langsung membuang muka, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

“Bukannya kau suka membully sesama napi? Masa enggak bisa bela diri?”

“Itu sebabnya... ada Clara sama Violeta,” jawab Jessica.

Ia menghela napas kecil.

“Sekarang mereka sudah berteman dengan napi lain. Mereka takut sejak melihat Dante waktu itu.”

Alesya mengangguk-angguk pelan.

“Emmm...”

Ia menatap Jessica dari atas sampai bawah.

“Berani kalau keroyokan.”

Jessica diam-diam mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berusaha menahan amarah yang mulai mengepul di dalam dada. Namun beberapa detik kemudian, Alesya justru tersenyum.

“Emm... boleh saja.”

Mata Jessica langsung membelalak.

Tatapannya seketika berbinar.

“Serius?”

“Emm. Tapi enggak gratis.”

Senyum Jessica langsung menghilang. Bahunya kembali merosot.

“Apa?”

Alesya tersenyum lebar.

“Kau harus jadi babu-ku.”

Jessica terdiam.

Ia menatap Alesya dengan wajah tidak percaya.

Kemudian—

Alesya tertawa terbahak-bahak.

Tawanya cukup keras sampai menarik perhatian beberapa napi dan sipir di sekitar mereka.

Namun tidak ada yang berani menegur.

Terlebih Kael ada di sana.

Alesya lalu menyenggol lengan Reana.

“Benarkan, Rea?”

Reana tersentak.

Ia baru sadar Alesya sedang berbicara kepadanya.

“A... apa?”

Alesya mengerutkan kening.

“Kau tidak mendengarkanku?”

Reana semakin gugup.

“Aaa... bukan itu. Anu... ehh, aku—”

Alesya mengikuti arah pandangan Reana.

Dan seketika ia tahu.

Tatapan Reana ternyata sejak tadi sesekali tertuju pada Darren.

Senyum jahil perlahan muncul di wajah Alesya.

“Ahhh...”

Reana langsung menyadarinya.

“Apa?”

Alesya menyeringai.

“Enggak ada.”

Ia berdiri dari kursinya.

“Udahlah. Enggak usah ngomong sama orang yang lagi kasmaran.”

“Alesya!”

Wajah Reana langsung memerah.

Alesya malah semakin tertawa. Ia kemudian menarik lengan Jessica.

Jessica terkejut.

“Eh! Kau mau apa?”

Alesya menoleh sambil tersenyum jahil.

“Kau suka bergosip?”

Jessica mengernyit bingung.

“Hah?”

“Ahhh, sudahlah. Ayo ikut aku.”

Alesya kembali menarik lengan Jessica dan membawanya pergi.

Jessica masih berusaha mengikuti langkahnya.

“Alesya... kau mau ke mana?”

Alesya tidak menjawab.

Ia hanya terus berjalan.

Sampai akhirnya, ketika mereka sudah beberapa meter menjauh dari meja Reana, Alesya tiba-tiba berhenti.

Jessica hampir menabraknya.

“Apa lagi?”

Alesya menoleh ke belakang.

Kemudian, dengan suara keras, ia berteriak—

“AKU TIDAK MAU MENGGANGGU ORANG YANG SEDANG KASMARAN!”

Suaranya menggema di seluruh tempat makan.

Beberapa napi langsung menoleh.

Reana membeku.

Wajahnya seketika merah padam.

Ia buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Nyeseeel aku cerita sama kamu...”

gumamnya malu.

Di sisi lain ruangan, Darren yang sejak tadi memperhatikan Reana hanya diam.

Tatapannya masih tertuju pada gadis itu.

Lalu, perlahan—

sudut bibirnya terangkat.

Senyum tipis kembali muncul di wajah pria itu.

Seolah-olah ucapan Alesya barusan sama sekali tidak mengganggunya.

Justru sebaliknya.

***

Sementara itu, Dante...

Cowok itu kini sedang mengendap-endap menyusuri lorong belakang penjara.

Langkahnya sangat pelan.

Hampir tanpa suara.

Sesekali ia berhenti dan menempelkan tubuhnya ke dinding ketika mendengar langkah kaki dari arah berlawanan.

Setelah memastikan lorong kembali sepi, Dante melanjutkan perjalanan.

Tujuannya adalah ruang penyimpanan yang berada tidak jauh dari area dapur.

Tempat yang jarang dilewati napi.

Dante tiba di depan pintu.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Kosong.

Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan menyelinap masuk.

Ruangan itu gelap dan dipenuhi berbagai macam perlengkapan milik para sipir.

Tatapan Dante bergerak cepat menyusuri setiap sudut. Ia bukan mencari makanan, Bukan pula sesuatu untuk dirinya sendiri.

Dante sedang mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk rencana gilanya. Tangannya mulai membuka beberapa lemari penyimpanan.

Satu per satu.

Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Tekad.

Dan sedikit kegilaan.

“Harusnya ada di sini...”

gumamnya nyaris tak terdengar.

Tiba-tiba—

SUARA LANGKAH KAKI terdengar dari luar.

Dante langsung membeku.

Tangannya berhenti.

Suara itu semakin dekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Dante segera mematikan lampu kecil yang tadi ia nyalakan dan bersembunyi di balik rak.

Pintu ruangan perlahan bergerak.

Kreeeek...

Dante menahan napas, Bayangan seseorang muncul di celah pintu.

Seorang sipir.

Pria itu berdiri beberapa detik sambil memeriksa keadaan sekitar. Dante mengepalkan tangannya.

Kalau sipir itu masuk lebih jauh, semuanya akan berakhir.

Namun setelah beberapa saat, sipir tersebut hanya mengamati ruangan dari ambang pintu.

Kemudian pergi.

Langkah kakinya perlahan menjauh.

Dante tetap diam.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Barulah ia keluar dari persembunyiannya.

Ia kembali menatap lemari di hadapannya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Ketemu...”

Dante mengambil sesuatu dari dalam penyimpanan itu. Namun sebelum melakukan apa pun, ia kembali mendengar suara dari kejauhan.

Kali ini bukan hanya satu orang.

Ada beberapa langkah kaki.

Dante langsung memasukkan benda itu ke balik pakaiannya.

Ia menutup kembali lemari dan keluar dari ruangan dengan cepat.

Tetapi saat ia berbelok di ujung lorong—

Dante mendadak berhenti, Beberapa napi sudah berdiri di sana, Menunggunya.. Jumlahnya tidak sedikit, sekitaran Lebih dari lima belas orang, menurut perkiraan nya.

Mereka berdiri memenuhi lorong, lengkap dengan berbagai senjata di tangan masing-masing. Tatapan mereka tertuju kepada Dante. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada yang berbicara.

Mereka semua terlihat seperti sedang menunggu satu hal—

kesempatan untuk menerjang.

Dante berhenti, Matanya menyapu seluruh kelompok itu dengan tenang. Salah seorang napi melangkah maju. Namun Dante belum sempat mengatakan apa pun, orang itu tiba-tiba berteriak—

“HABISI DIA!”

Dalam sekejap, seluruh kelompok itu bergerak. Dante tidak bergeming. Bahkan ekspresinya tidak berubah. Ia adalah salah satu napi yang paling ditakuti di ADX. Dan lima belas orang di hadapannya?

Bukan lawan yang sepadan.

Dante mengembuskan napas panjang.

“Huff...”

Ia menundukkan kepala sebentar.

“Ini nih...yang mempersulit pekerjaan ku”

Tangannya perlahan mengepal.

Krek.

Jari-jarinya menegang, Napi pertama menerjang. Dante menggeser tubuhnya sedikit, Serangan itu meleset. Dalam satu gerakan cepat, Dante menghantam lawannya hingga terjengkang ke lantai.

Belum sempat napi kedua mencapai dirinya—

Dante sudah berbalik, Satu pukulan membuat pria itu kehilangan keseimbangan. Napi ketiga datang dari samping.

Dante menunduk.

Serangannya melewati atas kepala. Dante langsung membalas dengan tendangan yang membuat pria itu terhempas ke belakang.

“BANGSAT!”

Teriakan mulai memenuhi lorong. Mereka menyerang Dante bersamaan. Namun justru itulah kesalahan mereka. Dante bergerak cepat di antara mereka.

Satu demi satu serangan berhasil ia hindari. Ketika dua orang mencoba mengepungnya, Dante menggunakan tubuh salah satu dari mereka untuk menghalangi serangan yang lain.

DUK!

Keduanya terjatuh, Seorang napi lain mencoba menyerang dari belakang. Dante seolah sudah mengetahuinya.

Ia berbalik tepat waktu. Tangannya menangkap pergelangan pria itu. Dante menatapnya dingin.

“Giliranmu.”

Dalam hitungan detik, pria itu sudah tersungkur.

Napi-napi lainnya mulai ragu, Mereka saling berpandangan. Beberapa bahkan mundur selangkah.

Dante berdiri di tengah lorong. Napasnya masih teratur, Tidak terlihat panik, Tidak terlihat kelelahan. Ia hanya mengangkat wajahnya, Tatapan dinginnya kembali menyapu pada mereka semua.

“Masih mau lanjut?”

Tidak ada jawaban.

Namun dari belakang kerumunan, seseorang berteriak—

“JANGAN TAKUT! DIA CUMA SENDIRIAN!”

Beberapa napi kembali maju.

Dante menghela napas.

“Ya ampun...”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Kali ini, senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kalau begitu...”

Tatapannya berubah tajam.

“Gue habisi kalian semua sekaligus.”

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!