Cerita tentang wanita yg menikah dan bekerja. Tetapi dia menjadi selingkuhan bos nya karena dia harus membiayai pengobatan orang tua nya. Sementara penghasilan dia dan suami hanya cukup untuk kehidupan mereka. Sebelum nya ternyata suami yang di cinta telah mengkhianati dia. Suami nya mengikuti semua yang di perintahkan oleh orang tua nya. Orang tua si suami beranggapan bahwa sang istri dan keluarga nya hanya merepotkan anaknya. Akan di bawa kemana pernikahan ini? Akankah sang istri melanjutkan hubungan dengan bos nya dan meninggalkan sang suami? atau Sang istri bertahan dengan suami nya dan suami nya meninggalkan selingkuhan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Venisia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam Bapak (2)
Janet menoleh ke sumber suara ternyata Kenzi sedang duduk di bangku luar. "Tidak. Aku mencari Adrian" jawab Janet. Kenzi lalu mendekati Janet tetapi ponsel Janet berdering. Kenzi membatalkan niat untuk menggenggam tangan Janet dan mendengarkan Janet berbicara.
Janet : Halo... assalamualaikum
Radit : Walaikumsalam dek. Dek, apa semua nya sudah rapi? Jenazah Bapak sudah boleh di bawa pulang. Mungkin sekitar 15 menit lagi mobil jenazah akan tiba di sana.
Janet : Sudah rapi semua mas. Suami Ibu membantu aku untuk mengurus surat-surat kematian bapak. Adrian dan pak Kenzi membantu ku merapikan ruangan dan memilih tempat pemakaman untuk bapak besok pagi. Besok pagi rencananya Bapak akan di makam kan pukul 9 pagi.
Radit : Di sana ada bos kamu dek? Koq dia bisa tahu alamat di sana?
Janet : Sudah mas. Nanti saja aku ceritakan. Sekarang yang terpenting bapak.
Radit : Baik dek. Mobil Jenazah akan segera jalan ya dek. Telepon mas matikan dahulu. Assalamualaikum
Janet : Baik Mas. Walaikumsalam.
"Jenazah bapak kamu sudah mau tiba?" tanya Kenzi dari belakang. "Kenapa kamu mengagetkan aku? Kenapa kamu harus ke sini? Aku tidak butuh kamu" sahut Janet dengan nada kesal. "Kalau kamu kesal sama saya nanti saja di urus nya. Sekarang lebih baik urus jenazah bapak kamu dan pemakaman nya" timpal Kenzi. Janet hanya dia menatap punggung Kenzi yang berjalan melewati nya untuk bertemu dengan Adrian.
Kurang dari 15 menit mobil jenazah sampai di depan halaman rumah. Para petugas medis turun dan membuka pintu belakang. Kenzi dan Adrian pun cepat tanggap untuk membantu menurunkan jenazah dan membawa jenazah ke dalam rumah. Mereka meletakkan jenazah Pak Danu pada tempat yang di sediakan. Di sana sudah banyak datang pelayat yang sedang membacakan surat Yasin dan ayat-ayat Alquran.
Setelah meletakkan jenazah di tempat nya. Kenzi melangkahkan kaki keluar. Janet melihat Kenzi pergi pun hanya dapat diam. "Pasti dia tidak suka dengan semua ini. Selama ini dia kan tidak punya agama" batin Janet. Adrian menyusul Kenzi keluar. Adrian tidak hanya menyusul Kenzi tetapi dia juga melihat pesan bahwa Nanda sudah sampai.
Nanda sedang duduk di bangku tenda. Dia melihat sosok Kenzi dan Adrian datang mendekati. "Pak Kenzi" ucap Nanda. Kenzi hanya menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan paviliun. Adrian menyambut Nanda "Hai nan. Makasih udah jauh-jauh datang ke sini. Nanda di dalam. Lo mau gue anterin ke dalam?" tanya Adrian. "Hai Adrian. Iya nich baru kali ini nyetir sendiri ke Bandung. Hahaha... boleh dech gue pengen ketemu Janet" jawab Nanda sambil berjalan ke dalam paviliun di temani Adrian.
Janet berterimakasih pada Nanda sudah datang jauh dari Jakarta ke Bandung. Janet meminta Nanda untuk menginap di sini agar bisa menemani nya sampai bapak di makam kan. Dan Nanda pun setuju.
Keesokkan pagi nya Jenazah sudah di mandikan dan siap untuk di sholatkan di masjid terdekat. Mobil Jenazah sudah siap di depan untuk mengantarkan Pak Danu ke peristirahatan nya terakhir. Janet minta Nanda dan Adrian untuk menjaga anak-anak nya selama di pemakaman. Janet dan Radit menjaga ibu nya agar tidak bersikap gegabah saat di pemakaman.
Kenzi pun hadir di sana. Dia melihat anak-anak Janet bersama Nanda dan Adrian. Ingin rasanya mencoba untuk berdekatan dengan anak-anak Janet. Tapi Kenzi merasa takut. Takut tidak dapat akrab dengan mereka.
Proses pemakaman sedang di lakukan. Ibunda Janet menangis tak henti saat melihat jasad Pak Danu di turunkan dan lubang kubur tertutup. "Ibu harus ikhlas dan sabar ya Bu. Kan ada Janet dan Mas Radit bersama ibu" pinta Janet kepada ibunya sambil menahan air mata.