Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata darah!
Malam pun tiba. Jarum jam menunjukkan pukul tuju ketika sebuah mobil sedan putih berhenti mulus di halaman rumah megah milik Julian.
Lampu taman yang temaram menerangi sosok Natasya yang melangkah keluar dari kendaraan dengan anggun, membawa sebuah tas belanjaan berisi bahan-bahan makanan segar di tangannya.
Di dalam rumah, Julian yang baru selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian santai mendengar suara langkah kaki mendekati pintu depan.
Begitu bel berbunyi pelan, Julian langsung membukanya. Rasa lelah yang menyiksa sepanjang hari itu seolah menguap begitu saja saat matanya menangkap sosok Natasya yang berdiri di ambang pintu sambil melempar senyum manis.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Julian menyambut hangat kedatangan kekasihnya. Ia melangkah maju, merengkuh pinggang Natasya mendekat, dan menyambut bibir wanita itu dengan sebuah kecupan hangat yang dalam.
Natasya tersenyum di sela-sela ciuman mereka, membalas dekapan Julian seraya membiarkan tas belanjaannya tergantung santai di jemarinya.
"Kangen banget ya?" goda Natasya pelan setelah Julian melepaskan kecupannya, memamerkan deretan giginya yang putih bersih dengan sorot mata yang dipenuhi kasih sayang.
"Banget," bisik Julian. Ia mengambil alih tas belanjaan dari tangan Natasya dan menggenggam jemari wanita itu erat-erat untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
"Makasih ya udah datang malam ini. Rumah rasanya sepi banget dari tadi."
"Kan aku udah janji mau masakin kamu makan malam," sahut Natasya manis seraya melepas sepatu dan melangkah masuk menuju dapur berdesain modern yang terletak di tengah rumah.
"Kamu kelihatannya lelah banget, Sayang. Lingkaran hitam di mata kamu itu gak bisa bohong."
Julian menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja bar dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik Natasya yang mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan.
Wanita itu bergerak dengan lincah, menyalakan kompor, dan mulai meracik bumbu. Aroma harum masakan perlahan-lahan memenuhi ruangan.
"Fano gimana kabarnya sekarang?" tanya Natasya santai seraya memotong sayuran di atas nampan.
Julian menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis.
"Gak ada yang perlu dikhawatirkan kok. Dia cuma masih banyak mengeluh lemas. Biasalah, efek orang yang kaget habis kecelakaan." Julian sengaja tak ingin mengungkit igauan Fano soal rasa mencekik.
Natasya mengangguk-angguk mengerti, lalu berbalik menatap Julian sambil tersenyum hangat.
"Ya udah, kamu duduk aja di ruang tamu dulu. Jangan ganggu koki lagi masak," candanya manis.
Julian tertawa pelan, melangkah mendekat untuk sekali lagi mendaratkan kecupan singkat di dahi Natasya sebelum melangkah menuju sofa ruang tamu.
Setelah menyantap makan malam yang hangat, Julian membawa dua gelas tangkai berisi red wine berkualitas menuju balkon lantai dua rumah mewahnya.
Natasya mengikuti dari belakang, melangkah anggun menuju area terbuka yang menghadap langsung ke pemandangan kelap-kelip lampu kota.
Julian melangkah mendekat, memeluk pinggang Natasya dari belakang dan menyerahkan salah satu gelas ke genggaman wanita itu.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Sayang. Enak banget," bisik Julian lembut di dekat telinga Natasya, sebelum menempelkan bibirnya pelan di bahu kekasihnya.
Natasya menyesap wine di gelasnya, lalu tersenyum manis seraya menyandarkan kepalanya ke dada bidang Julian.
"Sama-sama, Sayang. Aku senang kalau kamu suka."
"Kehadiran kamu yang bikin aku tenang," balas Julian. Ia mengangkat gelasnya, berdenting pelan dengan gelas Natasya, lalu meneguk cairan merah pekat itu perlahan.
Rasa hangat dari alkohol langsung mengalir menembus tenggorokannya, mengusir rasa penat yang menghantuinya sepanjang hari.
Lampu-lampu kota dari kejauhan terlihat indah di bawah langit malam yang jernih. Suasana di balkon terasa begitu intim dan romantis, dibalut oleh denting gelas dan desir angin malam yang sejuk.
"Oya, besok kamu ada acara gak?" tanya Natasya seraya memutar-mutar gelas wine di tangannya, membiarkan cairan merah itu memantulkan cahaya lampu balkon.
"Gak ada kok. Kenapa?" tanya Julian seraya mengusap rambut panjang Natasya dengan penuh kasih sayang.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kita udah lama banget gak spent time berdua tanpa ada gangguan dari teman-teman kamu," jawab Natasya dengan nada sedikit manja, menengadah menatap wajah Julian.
Julian tertawa pelan, lalu mengecup dahi Natasya dengan hangat.
"Boleh. Besok seharian penuh cuma buat kamu. Mau ke mana pun bakal aku anterin."
Natasya tersenyum puas, memeluk pinggang Julian lebih erat seraya kembali menikmati pemandangan malam dari atas balkon.
Malam makin larut, dan jarum jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Natasya meletakkan gelas winenya yang telah kosong di atas meja balkon, lalu berbalik menatap Julian dengan senyum tipis.
"Sayang, udah malam banget nih. Aku pamit pulang ya," ujar Natasya pelan seraya merapikan letak tas tangannya di bahu.
Namun, sebelum Natasya sempat melangkah jauh, Julian bergerak cepat. Ia meraih jemari wanita itu dan menariknya lembut, lalu melingkarkan kedua tangannya untuk menahan pinggang Natasya dari belakang.
Julian menyandarkan dagunya di bahu Natasya, menghembuskan napas hangatnya yang beraroma wine tepat di leher sang kekasih.
"Jangan pulang dulu," bisik Julian dengan suara yang mendadak berubah serak dan dalam.
Natasya terkekeh pelan, mencoba menoleh.
"Kan tadi janjinya cuma masakin makan malam. Kamu kan udah makan kenyang banget tadi."
Julian tersenyum tipis, mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Natasya hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak. Tangannya yang hangat perlahan merayap naik, mengusir dinginnya angin malam di balkon tersebut.
"Perut aku emang udah kenyang gara-gara masakan kamu." kata Julian dengan nada rendah yang sarat akan godaan.
"Tapi diri aku yang lapar, Sayang. Udah lama banget kan kita gak melakukan, itu?"
Natasya mendadak bungkam, menyadari arah pembicaraan dan perubahan fokus pada tatapan mata Julian yang kini menatapnya intens.
"Malam ini kamu tidur di sini aja ya?" bisik Julian lagi, sebelum mendaratkan sentuhan bibirnya yang hangat dan makin berani di sepanjang garis leher Natasya, mengunci wanita itu dalam dekapan yang tak membiarkannya pergi ke mana-mana malam ini.
"Aku kangen banget sama kamu," bisik Julian penuh kehangatan, merapatkan dekapan tangannya di pinggang Natasya. Suaranya terdengar begitu intens di tengah keheningan malam yang melingkupi balkon rumahnya.
Natasya menarik napas pelan, merasakan kehangatan tubuh Julian yang menyapu dinginnya angin malam.
Sensasi sentuhan dan bisikan manja dari Julian membuat pertahanannya melunak seketika. Ia memutar tubuhnya perlahan di dalam lingkaran lengan Julian, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti seraya menatap lurus ke dalam mata sang kekasih.
"Kamu selalu tahu cara bikin aku gak bisa nolak," bisik Natasya pelan, membiarkan jemarinya merayap naik dan menyisip di antara rambut Julian.
Julian tersenyum puas mendengar kepasrahan manis itu. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Natasya dan tangan lainnya di punggung wanita itu, lalu mengangkatnya ke dalam gendongan dengan mudah.
Natasya terperanjat pelan sebelum akhirnya tertawa kecil dan melingkarkan kedua tangannya di leher Julian.
Julian melangkah keluar dari balkon, membawa Natasya masuk menembus pintu kaca menuju kamar tidur utama.
Pintu kaca balkon tertutup rapat, mengunci kehangatan dan gelak tawa manja di dalam kamar tidur utama. Di luar, suasana malam seketika berubah menjadi sunyi.
Dari kegelapan sudut balkon tempat mereka baru saja berdiri, udara dingin mendadak berembun tebal.
Keheningan malam dipatahkan oleh suara isak tangis yang teramat pilu, sebuah bisikan merintih yang sarat akan rasa sakit dan kemarahan mendalam.
Perlahan-lahan, sesosok wanita bertubuh kurus melangkah keluar dari balik bayang-bayang.
Mata merah menyalanya menatap menembus pintu kaca balkon, menyaksikan Julian melangkah menuju tempat tidur bersama Natasya.
Dari sudut matanya yang seram, lelehan darah segar berwarna merah pekat menetes perlahan, mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi dan jatuh menimpa lantai balkon.
Tangannya yang dingin meraba permukaan kaca yang berembun, meninggalkan jejak cetakan lima jari yang memudar sangat lambat.
thor semangat yah up nya