SEMPURNA. Kata yang tepat untuk mewakili Naela Alexandria Vegar pewaris tunggal keluarga Vegar yang cantik, kaya raya, cerdas, terkenal dan multitalenta.
Sayangnya manusia tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Naela, karena dia hanyalah seorang PUTRI BONEKA.
Semua kegiatannya dari pagi hingga malam, sudah terjadwal apik oleh mamanya. Ia tidak memiliki hak untuk menentukan keinginannya sendiri dan hanya menuruti keinginan orang tuannya.
Namun dibalik kepatuhannya Naela memiliki banyak rahasia yang tidak diketahui semua orang, termasuk orang tuannya.
Lalu bagaimanakah cerita hidup Naela Sang putri Boneka? Akankah Naela bertahan dan tetap patuh? atau melawan? Atau malah rahasia yang dijaga Naela akan terbongkar?
______
27/01/2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quella.Vedirra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTRI BONEKA Chapter 24
BRAKK
"ASTAGA NONA" Teriak Jila begitu memasuki ruang rawat inap Naela
"Nona kenapa bisa begini?" tanyanya sambil mengecek kondisi Naela
"Nona mana saja yang sakit? Saya akan panggilkan dokter terbaik di negeri ini untuk menyembuhkan nona" kata Jila khawatir.
Tadi Jila sedang menyiapkan jadwal rapat nonanya saat mendengar kabar kecelakaan Naela.
Dan setelah mendengar kabar itu, ia buru-buru datang untuk mengecek kondisi nonanya.
"Nona baru sehari saya pergi, tapi nona sudah babak belur seperti ini" Kata Jila sedih
"Jila tenanglah, aku baik-baik saja" kata Naela pasrah dengan Asistennya ini
"Hanya sedikit lecet" kata Naela menunjukkan luka di dahinya
"Tapi tetap saja nona, saya tidak tenang" kata Jila
"Saya merasa bersalah, seharusnya saya menjaga nona"
"Jila sudahlah" kata Naela menepuk punggung tangan Jila
"Aku benar-benar baik-baik saja" yakinnya
"Dia baik-baik aja" kata seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi 2 perempuan didepannya ini.
Mendengar suara laki-laki asing, Jila segera membalikkan badannya.
"Anda?" tanya Jila menujuk Bara dengan sopan
Sedari tadi Bara hanya melihat tanpa minat interaksi Naela dan asistennya.
"Bara" jawab Bara singkat
"Asisten Lo udah dateng, gue balik" katanya menatap Naela
"Yaudah, makasih sekali lagi" kata Naela
"Hati-hati" katanya yang hanya dibalas lambaian tangan dari Bara
"Tuan muda itu sepertinya saya pernah melihatnya tapi dimana?" gumam Jila menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Bara
"Dia tuan muda Xaver" kata Naela menanggapi pertanyaan Jila
"Tuan muda Xaver?"
"Barra Salvino Xaver?" tanya Jila memperjelas
"Iya, dia orangnya" jawab Naela menganggukkan kepalanya
"Lalu mengapa dia disini nona?" tanya Jila
"Dia yang menolongku" jawab Naela
"Tumben" kata Jila aneh
"Ha? Apanya yang tumben? Kan wajar nolong orang lain?" tanya Naela bingung
"Iya wajar untuk orang lain, tapi untuk tuan muda Xaver itu hampir mustahil" jawab Jila serius
"Maksudnya?" tanya Naela tak paham
"Nona, tuan muda Xaver itu terkenal dingin dan tak tersentuh. Boro-boro mau nolongin orang apalagi bawa ke rumah sakit, dia mau nelpon ambulance buat bantuin orang aja udah syukur alhamdulilah" kata Jila mulai menggosip
"Dia itu udah terlahir dingin tanpa emosi dari lahir nona"
"Jila, jangan nyebarin rumor yang enggak bener" tegur Naela entah mengapa merasa tak terima jika ada yang menjelekkan Bara
"Ini bukan rumor, ini fakta. Hampir seluruh orang di kota ini percaya sama rumor itu" kata Jila semangat
"Yah yah terserah kamu saja" kata Naela lelah
"Yasudah kalau nona tidak percaya" kata Jila cuek
"Oh ya, Nona. Tuan besar dan Nyonya baru saja pergi ke LA. Mereka menitipkan salam untuk nona dan minta maaf karena tidak bisa menjaga nona yang sedang sakit" kata Jila memberikan informasi
"Aku sudah menduganya" kata Naela tersenyum miris
"Bagi mereka bisnis lebih penting daripada putrinya sendiri" katanya membuat Jila menjadi tak enak hati
"Nona, anda jangan berpikir seperti itu" kata Jila sedih.
Dirinya sedikit merasakan kesedihan nonanya. Apalagi disaat sakit seperti ini orang-orang terdekatnya tidak ada untuk menemaninya. Jika itu adalah dirinya, ia pasti sudah sangat kecewa.
"Aku mengantuk"
"Aku mau tidur" kata Naela mengabaikan ucapan Jila
"Baiklah, Nona" kata Jila membantu merapikan selimut dan bantal Naela supaya nyaman.
"Selamat tidur nona" bisik Jila pelan lalu keluar dari ruangan tersebut sehingga menyisakan Naela yang hanya diam menatap langit-langit kamar.
"Sebenarnya aku ini apa untuk kalian? Putri kalian? Alat bisnis? Atau hanya sebagai pengganti Kak Rendra?" gumam Naela sedih lalu menutup matanya untuk menuju ke alam mimpi.
...----------------...
Disebuah gedung berwarna putih, terlihat seorang perempuan berambut merah mengangkat teleponnya yang sedari tadi berdering.
"Ada apa?"
"Nona, bagaimana kondisi anda saat ini?"
"Aku baik-baik saja"
"Perlukah saya memanggil Oleander untuk menemui nona"
"Tidak usah, ini hanya luka kecil"
"Baiklah, tapi lain kali nona harus berhati-hati. Jangan sampai nona ketahuan"
"Kamu kira saya sebodoh itu"
"Maaf, nona"
"Sudahlah" desah perempuan itu lelah sembari memijit pelipisnya untuk meringankan pusingnya
"Jangan beritahu DIA"
"Tapi, nona"
"Kamu ingin melawan perintahku" katanya sinis
"Ti-tidak nona"
"Bagus, kalau begitu lakukan seperti yang aku perintahkan" katanya puas
"Baik, nona"
"Selamat malam"
"Selamat malam, Zeus" kata perempuan berambut merah itu lalu mematikan teleponnya.
...----------------...
Keesokan harinya,
Di Vegar School.
"YANG BENER??!!" teriak Kana syok
"Bener" kata Liam menganggukkan kepalanya
"Jangan bohong" ancam Lucia juga
"Kita nggak bohong" kata Liam serius
"Yakin?" tanya Kana menyelidik
"100% yakin" kata Diego juga
"Kalau kalian nggak percaya tanya aja Bara"
"Kemarin Naela kecelakaan, mobilnya nabrak pohon. Terus kebetulan Bara lagi lewat jalan yang sama dan ngelihat Naela dan bawa dia ke rumah sakit" kata Diego menjelaskan
"Terus keadaan Naela sekarang gimana?"
"Dia baik-baik aja kan?"
"Nggak parah?"
"Dia nggak kenapa-napa kan?" tanya Kana beruntun
"Naela baik-baik aja. Cuma butuh istirahat beberapa hari" kata Liam
"Nanti pulang sekolah kita jenguk dia dirumah sakit" kata Lucia yang diangguki mereka semua
"Tapi, tunggu dulu" kata Diego membuat semuanya menatap kearahnya dengan serius
"Bara dimana?" tanya Diego menyadarkan mereka bahwa Bara tidak ada bersama mereka bahkan tidak terlihat disekolah sedari tadi.
"Mungkin dia bolos" kata Kana
"Jahat banget, bolos nggak ngajak" kata Diego sedih
"Guekan juga mau bolos"
"Bego" ejek mereka semua pada Diego lalu meninggalkannya sendirian
"Nasib orang ganteng selalu ditinggal" keluh Diego menatap kepergian teman-temannya
...----------------...
Disisi lain,
"Kamu nggak sekolah?" tanya Naela pada Bara yang duduk di sofa pojok kamar inap Naela.
Tadi pagi, Naela dikejutkan dengan kedatangan Bara yang tiba-tiba. Bahkan Bara membawakannya bubur ayam dan buah-buahan. Saat ditanya alasannya, dirinya hanya menjawab ingin.
"Gak" jawab Bara singkat
"Kenapa?" tanya Naela
"Gak" jawab Bara
"Huft"
"Aku nggak papa" kata Naela tersenyum tipis
"Kamu mending sekolah aja" kata Naela yang disambut tatapn tajam khas Bara.
Sejenak Naela merasa merinding melihat tatapan itu. Dan hanya bisa tertawa paksa.
"Hehehe"
"Kalau kamu mau disini, yaudah disini aja" kata Naela canggung
"Nih" kata Bara memberikan apel yang sudah dikupas dan dipotongnya
"Terimakasih" kata Naela menerima apel itu dan memakannya lahap.
Tanpa Naela sadar, Bara mengukir senyum tipis melihat lahapnya Naela makan.
"Bar, beneran nggak papa bolos?" tanya Naela pada Bara
"Gak" kata Bara cuek
"Yakin?" tanya Naela lagi
"Hm" kata Bara
"Tapi-"
"Makan" titah Bara menyodorkan sepotong apel ke mulut Naela dan dengan polos Naela memakan apel itu tanpa menyadari bahwa jantung Bara tiba-tiba berdebar kencang.
...----------------...