Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.
Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?
"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "
by Morata
FB Nolan s
Ig Sihalohoherlita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Morata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. TELEPON DARI IBU ERNALA
Ketika Emin sudah tiba di lantai dua tepatnya di ruang CEO, Ia melihat ruangan itu masih kosong. Belum ada tanda-tanda adanya orang di sana. "Syukurlah Pak Paris belum ada di kantor. Itu artinya aku tidak terlambat." gumam Emin di dalam hati tetapi hati ini merasa bersalah. Setelah Emin mengetahui pertengkaran antara Abelano dan Paris penyebabnya adalah Emin Sendiri.
Emin memilih untuk mengerjakan tugas-tugasnya sebelum Paris tiba di kantor. Ia berusaha untuk menjadi karyawan yang baik disana. Berharap jenjang karir Emin Disana dapat berkembang. Agar Emin dapat membantu ekonomi keluarganya. Ketika Emin sedang berkutat di laptopnya, ia dikejutkan dengan suara deringan ponselnya.
Emin sengaja mengganti nomor ponselnya agar Abelano tidak mengetahui dan dapat menghubungi dirinya. Emin Menatap layar ponselnya. "Siapa yang menghubungiku? tidak ada seorangpun yang tahu nomor ponselku ini selain Arumi." gumam Emin di dalam hati.
Emin menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Ia sama sekali tidak mengetahui nomor siapa yang menghubungi dirinya. Tetapi karena penasaran Ia pun akhirnya mengangkat. "Hallo assalamualaikum, Sapa Emin di dalam telepon selulernya.
"Waalaikumsalam, Emin ini Ibu. Mengapa kamu tidak pernah pulang ke rumah dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu Ernala kepada Emin. Ibu, Lain kali saja kita bicara. Ada sesuatu hal yang penting yang harus Emin bicarakan kepada ibu.
Tetapi sebelumnya dari mana Ibu mengetahui nomor ponsel Emin. Sementara tak ada satupun yang mengetahui nomor ponsel Emin selain Arumi." ucap Emin kepada ibu Ernala. "Ibu memintanya kepada Arumi awalnya Arumi menolak. Tetapi karena Ibu memaksa akhirnya, Arumi memberikan nomor ponsel baru ini.
"Tolong temui ibu setelah pulang dari kantor. jangan seperti ini. Kamu harus menyelesaikan permasalahan Kamu dengan Tuan Abelano. Jika perceraian satu-satunya jalan terbaik untuk kalian. Ibu tidak akan pernah melarang Mu, karena pernikahan kalian itu bukan karna cinta. Temui ibu setelah pulang dari kantor." Ibu Ernala kembali menegaskan kepada Emin. Agar Emin menemui dirinya sore nanti.
Emin dan ibu Ernala pun akhirnya sepakat bertemu di sebuah taman tempat dimana Emin biasa untuk melepas dahaganya.
Tiba-tiba Paris masuk ke ruang kerjanya. Ia melihat Emin sudah sibuk berkutat di laptopnya.
"Kamu sudah lama? tanya Paris sembari memperhatikan Emin dari ujung kaki hingga ujung rambut. Melihat tatapan Paris begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya, Emin mengerutkan keningnya. "Mengapa pak Paris memandangku seperti itu? Apa ada yang salah di penampilan Emin.
"Oh no, hanya saja aku terpana melihat kecantikan Mu." Puji Paris seolah-olah Emin tidak mengetahui apa yang terjadi antara Abelano dengan Paris.
"Oh ya, agenda hari ini apa?
Emin membacakan apa saja yang harus mereka kerjakan hari ini.
"Syukurlah jadwalku tidak terlalu pada. Soalnya mood ku kurang baik."
"Mengapa seperti itu? SMKN masih pura-pura tidak mengetahui permasalahan antara Abelano dengan Paris. Tetapi Paris juga enggan bertanya kepada Emin mengenai status Emin yang sebenarnya.
Karena di dalam KTP Emin, masih tertera wanita yang masih singel parent. "Jika aku bertanya kepada Emin mengenai hubungannya dengan Abelano apa Dia akan tersinggung? Tetapi kalau tidak aku tanyakan langsung, sepertinya mengganjal di hati ini. Paris bermonolog sendiri di dalam hatinya.
"Ada apa Pak Paris? Mengapa anda bengong? "Oh tidak tidak apa-apa." Paris menepis dirinya tidak memikirkan sesuatu. "Ya sudah kalau gitu saya pamit sebentar keluar ada sesuatu yang harus aku kerjakan di ruang kerja Arumi. Tidak apa-apa kan pak? tanya Emin berharap Paris tidak merasa komplain.
"Silakan saja, tetapi jangan terlalu lama. Oh iya sebelum kamu ke ruang kerja Arumi, Tolong buatkan saya secangkir kopi." ujar Paris dibalas anggukan dari Emin. Emin berlalu dari ruang kerja Paris, menuju pantry yang lokasinya tidak jauh dari ruang kerja Paris.
Salah satu OB yang bertugas di sana terhenyak melihat kehadiran Emin disana. "Eh Emin mau ngapain di pantry?
"Hanya ingin membuatkan kopi untuk pak bos." sahut Emin sambil mengembangkan senyumnya.
"Biarkan saja saya yang membuatnya Emin. "Tidak kang, Biarkan saja Emin yang membuat, sesuai dengan permintaan Pak Paris" ucap Emin sambil membuat kopi pesanan Paris.
Beberapa menit kemudian Emin sudah tiba di ruang kerja Paris dengan membawakan secangkir kopi. "Pak Paris ini kopinya Silakan diminum." ucap Emin sambil menyuguhkan kopi pesanan Pak Paris.
" Ada lagi yang bisa saya bantu Pak? tanya Emin penuh selidik. "Tidak, Nanti kalau saya butuh kamu akan saya hubungi." sahutnya tetapi sambil fokus Menatap layar laptopnya. memantau perkembangan keuangan dan perkembangan proyek yang sedang berjalan saat ini.
Sepeninggalan Emin, Paris menyeruput kopi buatan. "Wow enak sekali kopi ini." Puji Paris ketika dirinya menyeruput kopi buatan Emin.
Emin masuk ke ruang kerja Arumi. Arumi terlihat khawatir kalau Emin akan marah besar kepadanya.
"Ya Allah mungkin Emin marah kepadaku, karena aku memberikan nomor ponsel barunya kepada Ibu Ernala." gumam Arumi di dalam hati.
"Arumi Mengapa kamu memberikan nomor ponsel baruku kepada ibu? tanya Emin penuh selidik. Lalu Arumi pun menjelaskannya berharap Amin tidak kecewa kepadanya.
"Aku ampuni kamu memberikan nomor ponselku kepada ibuku. Tetapi aku tidak terima Jika kamu memberikan nomor ponselku kepada orang lain. Karena aku tidak ingin terlibat masalah kepada setiap orang." ucap Emin sambil menatap Arumi dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Arumi meminta maaf kepada Emin keduanya saling berpelukan. Jika kamu memiliki masalah, Mengapa kamu tidak pernah bicara kepadaku." tanya Arumi penuh selidik karena sepertinya ketika Ibu Ernala berbicara kepada Arumi, sepertinya Emin menyembunyikan sesuatu darinya membuat Arumi penasaran masalah apa yang yang menimpa sahabatnya.
"Emin hanya mengembangkan senyumnya menatap Arumi. Belum saatnya aku cerita sama kalian. Suatu saat Emin akan cerita sama kamu. ucap Emin kepada sahabatnya m dan tolong jangan berikan nomor ponselku sama siapapun, selain Daren. Jika kamu memberikan nomor ponselku kepada Daren, katakan sama dia jangan berikan nomor ponselku kepada siapa pun." ujar Emin berharap Arumi tidak akan memberikan kepada siapa siapa nomor ponsel miliknya.
Hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓
Dan semoga Emin selalu sukses di luar sana,Jgn mau di pujuk pulang oleh pria tua itu lagi iya Emin..👍🏻