Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Edo gegas menepis rasa penyesalan yang sempat menyelinap ke dalam hatinya. "Sudahlah! Buat apa juga menyesali perempuan yang sudah diceraikan?" gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Mending aku pinjam uang ke Bela." Ia pun meraih ponsel pinjaman dari Ohang, lalu mencari nomor kekasihnya itu. Tanpa berpikir panjang, Edo segera melakukan panggilan.
Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung diangkat.
"Halo, Aa." Suara Bela terdengar manja dari seberang. "Aa sudah sampai rumah?"
"Sudah, Sayang. Baru saja. Kamu lagi apa?"
"Aku baru selesai mengerjakan PR." Bela terkikik kecil. "Kenapa, Aa? Kangen, ya, sama aku?"
Walaupun hatinya sedang kalut, Edo memaksakan diri untuk tetap bersikap romantis. "Kangen banget, Sayang," jawabnya. "Dari tadi Aa kepikiran kamu terus."
"Ih, sama! Aku juga kangen banget sama Aa. Rasanya pengen ketemu sekarang."
Edo tersenyum tipis. "Sabar, Sayang. Nanti kita ketemu, ya."
"Iya, Aa."
Edo terdiam sejenak. Senyumnya perlahan memudar ketika kembali teringat masalah cicilan motor yang harus segera dibayarnya. Ia menggaruk tengkuknya, merasa sedikit canggung untuk menyampaikan maksud sebenarnya. "Sayang, Aa mau minta tolong, nih."
"Minta tolong apa, Aa?"
"Emmm ... tapi kamu jangan marah, ya? Ini agak memalukan, sih, buat Aa."
Bela langsung mengernyitkan kening meskipun Edo tidak bisa melihatnya. "Lho, memangnya Aa mau minta tolong apa?"
Edo mengembuskan napas panjang, sengaja membangun kesan bahwa dirinya sedang menghadapi persoalan berat. "Jadi begini, Sayang." Edo mulai menjalankan rencananya. "Mia meminta uang lima juta rupiah kepada Aa sebagai kompensasi perpisahan kami."
"Apa?!" Bela spontan memekik. "Lima juta?!"
"Iya, Sayang."
"Ya ampun! Buat apa dia meminta uang sebanyak itu? Memangnya selama ini dia nggak pernah menikmati uang Aa?"
Edo hampir tersenyum mendengar reaksi kekasihnya. Namun, ia segera memasang nada sedih. "Itulah yang bikin Aa pusing. Katanya, selama ini dia sudah banyak berkorban untuk rumah tangga kami. Makanya, dia meminta uang sebanyak itu sebelum benar-benar melepaskan Aa."
Bela mendengkus kesal. "Dasar perempuan nggak tahu diri! Sudah bercerai, masih saja merepotkan Aa. Memangnya mencari uang itu gampang apa?"
Edo mengangguk kecil meskipun Bela tidak bisa melihatnya. "Iya, Sayang. Aa juga nggak mau masalah ini berlarut-larut. Aa cuma ingin semuanya cepat selesai supaya bisa menjalani hidup dengan tenang."
"Tapi Aa jangan mau ditindas begitu saja!"
"Iya. Makanya, Aa berusaha mencari jalan keluar." Edo berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya, Aa sudah punya sebagian uangnya. Tapi masih kurang delapan ratus lima puluh ribu supaya genap lima juta."
"Oh, jadi Aa sudah mengumpulkan uangnya?"
"Iya, Sayang. Cuma kurang sedikit lagi." Edo sengaja tidak menjelaskan bahwa uang yang dibutuhkannya sebenarnya untuk membayar cicilan motor. Ia ingin Bela percaya bahwa dirinya sedang berusaha memenuhi tuntutan Mia. "Makanya, Aa mau minta tolong sama kamu. Aa mau pinjam uang delapan ratus lima puluh ribu. Nanti kalau Aa sudah gajian, pasti Aa kembalikan."
Bela terdiam sebentar.
Edo mulai gelisah. Ia takut kekasihnya menolak permintaan tersebut. "Sayang?" panggilnya hati-hati.
"Iya, Aa. Aku masih di sini."
"Kamu bisa bantu Aa, kan?"
Bela mengembuskan napas pelan. "Bisa, A. Kebetulan aku punya uang di celengan."
Mata Edo langsung berbinar. "Benarkah, Sayang?"
"Iya. Nanti aku buka celengannya, ya."
Edo nyaris bersorak kegirangan. Ia sama sekali tidak menyangka Bela memiliki tabungan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. "Alhamdulillah!" serunya spontan. "Sayang, kamu memang penyelamat Aa!"
Bela terkikik mendengar reaksinya. "Memangnya Aa butuh uangnya kapan?"
"Kalau bisa, besok pagi, Sayang."
"Besok pagi?"
"Iya. Soalnya Aa harus segera menyelesaikan masalah ini. Aa nggak mau Mia terus mengganggu kehidupan Aa."
Bela terdiam sebentar, lalu menjawab dengan nada yakin, "Ya sudah, besok pagi aku kirim uangnya, ya, Aa."
Edo tersenyum lebar. Beban yang sejak tadi menghimpit pikirannya seolah langsung terangkat. "Benar, ya, Sayang? Jangan sampai lupa, lho."
"Iya, Aa. Tenang saja. Aku nggak akan lupa."
"Terima kasih banyak, Sayang. Aa benar-benar bersyukur punya pacar seperti kamu."
"Ih, Aa! Aku kan cuma membantu. Lagian, kita harus saling membantu kalau salah satu sedang kesulitan."
Edo mengulum senyum. Dalam hatinya, ia merasa sangat beruntung memiliki kekasih yang begitu mudah mempercayainya. "Iya, Sayang. Aa janji akan mengembalikan uang kamu."
"Iya, Aa. Aku percaya sama Aa."
Edo merasa semakin lega. Setidaknya, besok ia tidak perlu lagi kebingungan mencari uang untuk membayar cicilan motornya. "Kalau begitu, kamu istirahat, ya, Sayang. Jangan tidur terlalu malam."
"Iya, Aa. Aa juga istirahat. Jangan terlalu memikirkan masalah itu."
"Iya, Sayang. Selamat malam."
"Selamat malam juga, Aa. Aku sayang Aa."
"Aa juga sayang kamu."
Setelah berbasa-basi sebentar, panggilan itu pun berakhir.
Edo menurunkan ponsel dari telinganya, lalu menatap layar dengan senyum lebar.
"Yes! Akhirnya dapat juga uangnya!" serunya sambil mengepalkan tangan. Ia merebahkan tubuh di kasur dengan perasaan jauh lebih tenang.
Besok pagi, Bela akan mengirimkan uang yang dibutuhkannya. Ia bisa membayar cicilan motor tepat waktu. Edo memejamkan mata dengan senyum puas. "Untung ada Bela. Kalau nggak, entah bagaimana nasib motor kesayanganku," gumamnya.
____
Mia baru saja menyelesaikan salat Isya ketika ponsel yang diletakkannya di atas kasur berdering. Perempuan itu melipat mukena, kemudian meraihnya untuk melihat siapa yang menelepon. Senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat nama yang tertera di layar.
Teh Erma.
Mia segera mengangkat panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum, Teh."
"Wa'alaikumsalam, Mia..."
Baru mendengar suara Erma, Mia langsung menyadari suara perempuan itu terdengar bergetar, seolah sedang menahan tangis.
"Mia...." Erma terdiam sejenak. Terdengar helaan napas berat dari seberang sana sebelum akhirnya ia kembali berbicara. "Teteh mau minta maaf sama kamu, ya, Nak."
Mia mengernyit kecil. "Minta maaf untuk apa, Teh?"
"Untuk semua perlakuan Edo selama ini. Untuk semua hal yang sudah dia lakukan sampai membuat kamu terluka." Suara Erma mulai serak. "Teteh tahu, permintaan maaf ini nggak akan bisa menghapus semua yang sudah kamu alami. Tapi, teteh benar-benar minta maaf."
Mia terdiam. Jemarinya yang menggenggam ponsel perlahan mengencang. "Teh..."
"Teteh juga minta maaf karena nggak bisa mendidik Edo menjadi suami yang baik buat kamu." Isak Erma akhirnya pecah. "Teteh kakaknya. Harusnya teteh bisa menasihati dia lebih keras dari dulu. Harusnya Teteh bisa membuat dia sadar kalau seorang istri itu harus dihargai, bukan malah disakiti seperti yang dia lakukan sama kamu."
Mia menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai terasa panas. "Teteh jangan menyalahkan diri sendiri, ya," ucapnya dengan suara bergetar. "Semua yang terjadi bukan salah Teteh."
"Tapi kamu sudah banyak berkorban untuk keluarga kami, Mia. Kamu sudah berusaha menjadi istri yang baik buat Edo. Teteh tahu itu. Teteh juga tahu kamu sering mengalah, bahkan ketika seharusnya kamu yang mendapatkan perhatian dan pengertian." Erma kembali terisak. "Sementara Edo..." Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Dia malah menyia-nyiakan kamu."
Air mata Mia akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Selama ini, ia berusaha menerima kenyataan bahwa pernikahannya dengan Edo telah berakhir. Ada kelegaan yang perlahan tumbuh di dalam hatinya karena ia tidak perlu lagi bertahan dalam hubungan yang terus melukainya.
Namun, bukan berarti semua itu tidak meninggalkan kesedihan.
Mia pernah menganggap keluarga Edo sebagai keluarganya sendiri. Ia pernah berharap bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana bersama laki-laki itu, membangun kebahagiaan sedikit demi sedikit, dan menua bersama.
Sayangnya, harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
"Terima kasih, Teh," ucap Mia setelah berhasil mengendalikan isaknya. "Terima kasih karena selama ini Teteh sudah memperlakukan aku dengan baik. Aku tahu Teteh selalu berusaha menasihati Edo, meskipun dia sering nggak mau mendengarkan."
"Mia...."
"Terima kasih juga karena Teteh mau membantu menyelesaikan perceraian kami. Kalau bukan karena bantuan Teteh, mungkin semuanya akan lebih sulit." Mia menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Aku benar-benar menghargai semua yang sudah Teteh lakukan."
Erma mengembuskan napas panjang. Mendengar ketulusan dalam suara Mia justru membuat hatinya semakin perih. Perempuan yang pernah menjadi adik iparnya itu tidak pernah membalas keburukan Edo dengan kebencian yang berlebihan. Bahkan setelah semua yang terjadi, Mia masih bisa berterima kasih kepadanya.
Sikap itu membuat Erma semakin menyadari betapa besar kesalahan adiknya. "Justru Teteh yang berterima kasih sama kamu, Mia. Selama menjadi istri Edo, kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Kamu nggak perlu merasa bersalah atas apa pun. Teteh harap setelah ini kamu bisa menjalani hidup dengan lebih tenang."
Mia mengangguk meskipun Erma tidak bisa melihatnya. "Iya, Teh."
"Jangan terus-terusan memikirkan Edo, ya. Sekarang kamu sudah kembali bersama orang tua. Ada Bapak, Ibu, dan Malik yang menyayangi kamu. Nikmati waktu bersama mereka. Kamu berhak bahagia, Mia."
Mia tersenyum kecil di sela tangisnya. "Iya, Teh. Aku akan berusaha."
"Dan kalau suatu hari nanti Allah mempertemukan kamu dengan laki-laki lain, semoga dia jauh lebih baik dari Edo. Semoga dia bisa menghargai kamu, menjaga kamu, dan membuat kamu merasa aman. Teteh benar-benar mendoakan itu."
"Terima kasih, Teh. Aamiin."
Erma terdiam sesaat sebelum kembali berbicara dengan suara yang lebih lirih.
"Satu lagi, Mia. Teteh tahu kamu sudah bukan bagian dari keluarga kami lagi secara ikatan pernikahan. Tapi, buat Teteh, kamu tetap Mia yang selama ini Teteh kenal. Kamu orang baik. Jangan pernah merasa dirimu kurang berharga hanya karena Edo gagal menghargai kamu."
Tangis Mia kembali pecah. Ia tidak menyangka akan menerima kata-kata sehangat itu dari seseorang yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga mantan suaminya. "Terima kasih, Teh," bisiknya. "Aku nggak tahu harus membalas semua kebaikan Teteh dengan apa."
"Nggak perlu membalas apa-apa. Teteh cuma berharap kamu baik-baik saja."
Keduanya kembali terdiam. Masing-masing berusaha menenangkan diri setelah percakapan yang begitu menguras perasaan itu.
Beberapa saat kemudian, Erma kembali teringat sesuatu. "Oh, iya. Ada satu orang lagi yang pasti bakal merasa kehilangan kamu."
Mia mengusap pipinya. "Siapa, Teh?"
"Siapa lagi kalau bukan Najwa."
Mendengar nama keponakan kecilnya itu, senyum Mia perlahan muncul di wajahnya, meskipun matanya masih basah. "Najwa sehat, kan, Teh?"
"Sehat. Tadi sebelum tidur, dia sempat bertanya kenapa Bibi Mia nggak datang lagi ke rumah. Teteh bilang kamu sedang tinggal bersama orang tuamu." Erma tertawa kecil di sela isaknya. "Dia malah bilang mau main ke rumahmu."
Dada Mia terasa sesak. Ia memang dekat dengan bocah empat tahun itu. "Ya Allah ...." Mia kembali menyeka air matanya. "Aku juga kangen sama Najwa, Teh."
"Teteh tahu. Makanya tadi Teteh bilang begitu. Najwa mungkin belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Edo. Buat dia, kamu tetap Bibi Mia yang biasa menemaninya bermain."
Mia mengangguk pelan. "Salam buat Najwa, ya, Teh. Bilang sama dia, Bibi Mia juga kangen."
"Iya, nanti Teteh sampaikan."
Keduanya kembali berbincang sebentar sebelum akhirnya memutuskan mengakhiri panggilan.
"Istirahat, ya, Mia. Jangan terlalu banyak menangis. Semoga Allah selalu melindungi kamu."
"Aamiin. Teteh juga, ya."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Panggilan pun berakhir.
Mia menurunkan ponselnya, kemudian meletakkannya di atas kasur. Ia duduk bersandar pada dinding, membiarkan kesunyian kamar menyelimutinya.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅