Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Keesokan harinya, berita tentang rencana pernikahan Jovan Narendra akhirnya meledak di berbagai media. Nama pembalap muda itu mendadak menjadi salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan.
Foto Jovan bersama Serina dan Farel kembali bermunculan. Namun kali ini, bukan sekadar rumor.
Beberapa media mulai memberitakan bahwa Jovan Narendra memang akan menikahi Serina Nirmala.
Salah satu judul berita bahkan terpampang besar di layar televisi sebuah kafe:
"JOVAN NARENDRA AKAN MENIKAH! SIAPA SOSOK WANITA YANG BERHASIL MENAKLUKKAN HATI SANG PEMBALAP?"
Berita itu kemudian diikuti berbagai artikel lain.
"Jovan Narendra Segera Lepas Masa Lajang."
"Pembalap Muda Pilih Janda Satu Anak sebagai Calon Istri."
"Serina Nirmala, Wanita yang Akan Menjadi Istri Jovan Narendra."
Tak butuh waktu lama bagi nama Serina untuk ikut menjadi sorotan.
Yang membuat keadaan semakin rumit, informasi mengenai rencana pernikahan tersebut pertama kali beredar luas setelah Marcella memberikan keterangan kepada salah satu media.
Tentu saja, Marcella tidak mengatakan bahwa sebelumnya ia merupakan orang yang berada di balik penyebaran rumor tentang Jovan dan Serina.
Ia justru tampil tenang di depan kamera.
"Jovan memang akan menikah. Sebagai keluarga, kami tentu menghormati keputusan yang sudah dibuatnya."
Pernyataan itu membuat berita semakin panas.
Namun Jovan sendiri? Ia memilih tidak menanggapi.
Ketika Leo menunjukkan berbagai pemberitaan tersebut, Jovan hanya melirik layar ponselnya.
"Lo nggak mau klarifikasi?" tanya Leo.
Jovan menggeleng. "Untuk apa?"
"Nama lo lagi di mana-mana."
"Biarkan."
"Jovan..."
Jovan menyandarkan tubuhnya. "Selama mereka tidak mengganggu Serina dan Farel, gue nggak peduli."
Leo menghela napas.
"Lo sadar kan, semakin lo diam, semakin banyak orang yang bikin cerita sendiri?"
Jovan tersenyum tipis. "Gue sudah capek menjelaskan sesuatu kepada orang yang memang tidak mau percaya."
Leo terdiam.
Jovan menatap sebuah foto Serina dan Farel yang tersimpan di ponselnya. "Yang penting Serina tahu kenapa gue menikahinya." Tatapannya melembut.
"Farel juga tahu gue nggak pernah berniat menggantikan ayahnya."
"Itu yang penting."
*
*
Sementara itu, di sebuah pabrik tempat Serina bekerja...
Suasana pagi mendadak ramai. Reva, salah seorang teman dekat Serina, baru saja membuka ponselnya ketika matanya membelalak.
"HAH?!"
Beberapa pekerja langsung menoleh.
"Kenapa, Reva?"
Reva menunjukkan layar ponselnya.
"Ini Serina!"
Salma yang berada di dekatnya langsung mendekat.
"Kenapa?"
"Dia mau nikah!"
Reni ikut melihat.
"Serius?"
Reva membaca berita tersebut dengan mata membesar.
"Jovan Narendra!"
Mereka semua terdiam. Beberapa detik kemudian, Reva menepuk meja.
"Pantas saja Serina sudah seminggu ini nggak masuk kerja!" Ia tertawa tidak percaya. "Rupanya dia benar-benar mau nikah sama si pembalap Jovan!"
Reva menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aih... beruntung sekali si Serina. Dengan statusnya yang janda satu anak, bisa mendapatkan pria yang masih bujangan dan pembalap terkenal lagi!"
Salma tertawa kecil. "Jangan iri."
"Bukan iri!" Reva menunjuk layar ponselnya. "Gue cuma nggak menyangka. Jovan Narendra itu loh!"
Reni mengangguk.
"Semua orang juga tahu siapa dia." Reva kemudian mengerutkan keningnya. "Tapi gue penasaran."
"Apa?"
"Kenapa Jovan mau menikah dengan Serina?"
Salma mengangkat bahunya. "Mungkin cinta?"
Reva tertawa. "Kalau cinta, kenapa harus sampai jadi berita sebesar ini?"
Reni langsung menyahut. "Karena dia pembalap terkenal."
Reva mengangguk. "Iya juga sih." Ia kembali membaca artikel tersebut. Namun kemudian ekspresinya berubah. "Kasihan juga Serina."
"Kenapa?"
"Lihat komentar-komentarnya."
Mereka bertiga melihat kolom komentar. Berbagai pendapat bermunculan. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang penasaran, Namun tidak sedikit pula penggemar Jovan yang merasa kecewa.
"Jovan serius mau menikah?"
"Kenapa harus dengan wanita itu?"
"Jovan masih muda, kenapa memilih wanita yang jauh lebih tua?"
"Bukankah wanita itu sudah pernah menikah?"
"Bukannya anak itu anak Jovan?"
"Aku baru tahu Jovan dekat dengan seorang janda."
Reva mengerutkan keningnya. "Netizen memang keterlaluan."
Salma mengangguk. "Mereka bahkan belum tahu cerita sebenarnya."
Reva tiba-tiba berdiri. "Gue mau ke rumah Serina."
Reni terkejut. "Hah?"
"Gue mau tanya langsung."
"Memangnya, Serina sekarang ada di kontrakan?"
Reva tersenyum. "gue yakin dia, masih tinggal di kontrakannya."
Sore harinya, Reva akhirnya sampai di kawasan kontrakan Serina. Namun langkahnya terhenti.
Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di sekitar rumah. Ada dua mobil besar terparkir di depan.
Reva menelan ludah. "Astaga..."
Salah satu bodyguard mendekatinya. "Ada keperluan apa Nona?"
"Saya Reva. Temannya Serina."
Bodyguard tersebut memeriksa informasi terlebih dahulu melalui alat komunikasi. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk.
"Silakan menunggu."
Reva memandang rumah kontrakan itu dengan takjub. "Ini rumah Serina atau markas pejabat?"
Ia menghela napas. Rupanya setelah berita pernikahan Jovan semakin ramai, keamanan di sekitar Serina diperketat.
Jovan tidak ingin paparazzi atau orang-orang yang berniat buruk mendekati Serina dan Farel. Bahkan ketika Serina hendak keluar membeli sesuatu, selalu ada pengawalan. Bukan karena Jovan ingin mengurungnya. Melainkan karena ia tahu perhatian publik terhadap mereka sudah semakin besar.
Di dalam rumah, Serina sedang duduk bersama Farel. Farel sibuk bermain mobil-mobilan.
Ketika seorang bodyguard memberi tahu bahwa Reva datang, Serina langsung terkejut.
"Reva?"
"Iya."
"Suruh masuk."
Tidak lama kemudian Reva masuk. Begitu melihat Serina, Reva langsung memeluknya.
"Astaga, Serina!"
Serina tertawa kecil.
"Apa?"
"Lo benar-benar mau nikah sama Jovan Narendra?!"
Serina tersipu. "Iya."
Reva melepaskan pelukannya. "Ya ampun!" Ia memandang Serina dari atas sampai bawah. "Jadi semua berita itu benar?"
Serina mengangguk. "Benar."
Reva duduk.
"Gue sampai nggak percaya."
Serina tersenyum tipis. "Semua terjadi begitu cepat."
"Dan lo nggak takut?"
Serina terdiam sejenak. "Takut, sih "
"Terus?"
Serina menatap Farel. "Tapi Jovan selalu bilang aku tidak perlu menjalani semuanya sendirian."
Reva mengikuti arah pandangan Serina. Farel sedang tertawa sambil memainkan mobil-mobilannya.
Reva tersenyum. "Kayaknya Farel juga bahagia."
Serina mengangguk."Iya."
Kemudian Reva bertanya pelan, "Lo benar-benar cinta sama Jovan?"
Pertanyaan itu membuat Serina terdiam. Ia tidak langsung menjawab.
"Aku belum tahu bagaimana mendefinisikan perasaanku."
Reva mengangkat alisnya. "Tapi lo mau menikah dengannya."
Serina tersenyum samar. "Karena aku percaya padanya."
Jawaban itu membuat Reva terdiam. Sementara di luar sana...rasa penasaran publik justru semakin besar. Banyak penggemar Jovan mulai mencari tahu latar belakang Serina. Mereka menemukan bahwa Serina pernah menikah dengan Riki Sanjaya. Mereka menemukan bahwa ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Farel.
Dan karena foto Jovan bersama Farel sebelumnya telah tersebar luas, muncul kembali dugaan bahwa Farel adalah anak Jovan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Riki adalah ayah kandungnya Farel.
Namun bagi sebagian orang di internet, fakta tidak selalu menjadi hal pertama yang dicari. Mereka lebih tertarik pada sebuah cerita yang terdengar menarik.
Dan cerita tentang seorang pembalap terkenal yang menikahi seorang wanita biasa, seorang janda yang memiliki anak, jelas menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya.
Sementara itu, Jovan sama sekali tidak memperdulikan komentar tersebut. Yang ia pikirkan hanya satu. Hari pernikahannya dengan Serina semakin dekat. Dan sebelum hari itu tiba...
ia ingin memastikan Serina dan Farel merasa aman.
Karena bagi Jovan, pernikahan ini bukan sekadar berita yang sedang ramai diperbincangkan. Ini adalah keputusan hidupnya. Dan untuk pertama kalinya...Jovan tidak ingin melarikan diri dari keputusan itu.
Bersambung...