Aku adalah roh seribu tahun. Bertubuh kecil dan pendek seperti anak kecil. Aku memiliki teman seorang manusia indigo yang hidupnya menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Siti Nurhasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba ada Faraz?
Salah satu kunci kesuksesan dalam hidup Faraz adalah selalu memandang setiap hal dengan serius dan detail, dia tidak meninggalkan satu pekerjaan yang tidak pernah disentuhnya sama sekali, atau membiarkan pekerjaan dengan sengaja. Faraz tentu saja lebih bekerja keras dari yang lain karena itu dia mendapatkan sebuah promosi khusus hingga tanpa alasan dia kembali ke tempat yang menurut Pak Min Faraz lebih baik di tempatkan di kota-kota besar dia juga bisa menikmati kota besar dengan segala sesuatunya.
Pak Min masih melamun panjang sendirian, meski jam bekerjanya sudah berakhir, apalagi di usianya sekarang tanpa sadar dia kehilangan kemampuan alaminya itu. Faraz lebih unggul dia berharap banyak padanya. Namun siapa sangka di tengah karir yang sukses dan naik daun itu Faraz harus berjuang sendirian di ruang rumah sakit, mungkin tubuhnya benar-benar tidak berdaya.
Pak Min masih penasaran soal Fikra, orang baru yang datang ke divisinya itu. Mungkin hanya dia yang tahu siapa orang tua Fikra, Pak Min satu-satunya orang yang paling tahu tentangnya karena dia juga sekarang sedang melakukan tugasnya. Pak Min pernah berharap jika anak baru itu bisa berpartner baik dengan Faraz namun siapa sangka keduanya benar-benar terpisah sekarang.
Setidaknya butuh beberapa orang untuk melakukan penyelidikan, Pak Min butuh orang untuk mencari tahu Fikra, dia sudah dua Minggu tidak masuk bekerja jangan-jangan besok Pak Min mendapatkan surat pengunduran dirinya.
Entah apa yang menjadikan alasan kuat Fikra berhenti bekerja, padahal dia cukup cocok dengan Faraz dan orang yang bisa bertahan selama beberapa hari dengan Faraz. Artinya Fika bukan orang biasa. Tapi benar-benar di luar nalarnya.
"Pak! Pak Min!" Teriakkan khas terdengar ke telinganya. Dia adalah Selly.
Pak Min menoleh dan melihat Selly sudah datang ke rumahnya, di tengah jam seperti sekarang?
"Ada kabar buruk Pak. Kau harus melihatnya sendiri ke kantor." Selly tak mengatakan basa-basi dulu dia langsung membahas intinya dan Pak Min tidak bisa sekedar menghela napas karena kali ini dia harus segera ke kantor lagi.
"Sudah waktunya istirahat, kau malah datang." Gerutunya. Sebenarnya Pak Min kurang senang jika diganggu ketika istirahatnya tapi apa boleh buat Selly tiba-tiba datang dengan panik.
Pak Min tak menyangka ketika dia keluar dari rumah sudah disambut dengan Rio yang membawa mobilnya. Jadi Selly datang ke rumahnya bersama Rio.
"Aku harus berbicara dengan anakku dulu." Ucap Pak Min seraya membuka hp nya berniat menghubungi anaknya yang masih menjalankan pendidikan kuliah.
"Cepatlah, dia tidak pulang ke rumah kan? Jadi untuk apa menelponnya dulu." Selly buru-buru menyeret Pak Min secara paksa masuk ke dalam mobil.
"Astaga, anak muda zaman sekarang ini selalu memaksa orang tua." Gumamnya sendiri.
Pak Min kemudian masuk ke dalam mobil tanpa melihat sesuatu yang mencurigakan dari ekspresi keduanya.
Sebentar mengamati Rio yang sedang fokus menyetir sedangkan Selly sibuk memainkan hpnya.
"Kalian tidak menyimpan sebuah rencana kan?" Ucap Pak Min memecah perhatian orang-orang itu.
"Apa Yang kau katakan? Situasinya benar-benar buruk makanya aku tidak bisa ke kantor dengan Selly tanpa ditemani oleh mu." Jawab Rio berterus terang.
"Apa yang kau katakan Anak sialan? Kau ingin aku bekerja terus. Astaga kalian menyebalkan sekali." Pak Min terus menggerutu sepanjang perjalanan. Ternyata bukan kabar buruk, tapi kedua orang itu tidak bisa masuk kerja tanpa Pak Min. Memangnya ada apa di kantor sampai dia juga harus bekerja lagi menemani dua orang itu.
Pak Min sangat kesal, generasi sekarang tidak bisa membuatnya puas dan bangga. Tetap saja selalu orang tua yang diandalkan dalam berbagai situasi.
"Lebih cepat lagi jalankan mobilnya, kau mau kita datang sangat telat ke kantor?" Ucap Pak Min melihat Rio yang bersantai.
Rio tak menjawab apapun dia hanya terus fokus menjalankan mobil, saat itu Selly juga tidak terlihat panik seperti sebelumnya. Selly lebih terlihat paling santai dan tidak nampak ada Maslaah seperti Yanng dibicarakan.
"Awas saja jika kalian main-main lagi." Ancamnya saat itu.
Butuh waktu setidaknya 39 menit hingga sampai di kantor. Jarak rumah Pak Min memang yang paling dekat diantara yang lainnya dia selalu datang paling awal dari semuanya.
"Cepat turun! Kau diam saja di sana?" Pak Min melihat Rio yang masih duduk.
"Ku juga, Selly. Mau pacaran kalian di dalam mobil?" Pak Min melihat Selly yang diam saja. Padahal Selly yang paling tenang-tenang saja tapi kini Selly tampak gugup.
Pak Min tak ingin berdebat dan bicara tidak penting lagi, dia membiarkan keduanya di dalam mobil.
Ketika Pak Min mendekat ke arah pintu kantor yang ditutup Darii luar dia mendengar suara-suara, seperti sesuatu sedang mengamuk di dalam sana.
Buru-buru Pak Min membuka pintunya, dan sesuatu yang dia lihat di luar nalarnya sekarang.
Seseorang berdiri, tubuh yang tegap dan atletis itu, dengan pakaian yang selalu sama, dan juga keributan dengan semua barang bermatakan di lantai hampir tidak menyisakan satu jengkal langkah pun untuk bisa berjalan.
Pak Min tidak tertarik dengan barang-barang kemudian keributan itu, tapi dia sangat tidak percaya dengan sosok orang yang tengah berdiri di sana. Dia tidak bisa mempercayainya.
"Faraz!" Ucapnya lirih.
Telinga Faraz itu bagaikan telinga milik hewan yang paling peka dengan suara. Seketika Faraz menoleh ke arah Pak Min dengan tatapan yang tajam. "Hei, orang tua di sana. Kau berdiri saja terus. Yang lainnya kabur dan kau masih berdiri di sana?" Teriak Faraz saat itu.
Pak Min tak merespon, mungkin pikirannya benar-benar di luar kendali. Dia mematung dan masih berusaha waras mengingat Faraz benar-benar sudah ada di hadapannya. Padahal Faraz koma beberapa waktu tak lama dia juga datang menjenguknya ke rumah sakit, tapi sekarang Faraz tiba-tiba ada di kantor dan membuat keributan.
"Astaga kalian sama saja." Gumam Faraz dan kembali membuat semua barang-barang berhamburan keluar.
Pak Min kemudian mundur dan berlari lagi ke arah mobil. Tampak dari ekspresinya yang sulit dijelaskan saat itu.
Pak Min membuka pintu mobil melihat kedua orang seperti tikus ketakutan di dalam mobil. "Kalian melihat dia juga? Apa ini nyata?" Ucap Pak Min masih tidak bisa percaya.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat masuk ke kantor dan bereskan semua sampah di kantor!" Suara Faraz tiba-tiba menarik kesadaran ketiganya. Bahkan tidak ada yang sadar sejak kapan Faraz tiba-tiba muncul.
Selly yang paling ketakutan diantara semuanya saat itu.
"Jangan berteriak, aku bukan hantu!" Ucap Faraz pada Selly, dia sudah bisa menebaknya ketika Selly akan berteriak namun berhasil digagalkan.
Kemudian Faraz berjalan kembali ke dalam kantor. "Cepatlah kalian sadar dan sambut orang yang baru saja bangun dari koma itu!" Ucap Pak Min pada keduanya.