AVARAIN, berkisah tentang seorang gadis tomboy bernama Dealova Wilson, biasa dipanggil Ava. Ava adalah siswa baru dikelas XI IPS 5 Sekolah Menengah Atas Nusa Bakti. Ava adalah cewek blasteran Indonesia Amerika. yang tomboy, jago balap dan bela diri.
Ava bertemu dengan Nicholas Rain Abiyasa disebuah pertandingan balap liar yang diadakan disebuah jalanan ibu kota.
Ava adalah penantang misterius Rain, yang notabene adalah Juara bertahan lomba balap liar yang diadakan sebuah geng motor yang diketuai oleh Bang Erland.
Rain penasaran dengan sosok misterius yang telah mengalahkannya 2 kali berturut-turut. Dia menyelidiki Ava, yang ternyata teman satu sekolahnya di SMA Nusa Bakti.
Dari musuh menjadi Cinta, keduanya jatuh cinta, setelah saling melindungi saat terjadinya tawuran antar geng motor.
Namun cinta keduanya menjadi rumit, saat Rain mengetahui sebuah fakta, bahwa Ibunya Ava adalah Selingkuhan Ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOMA
Tubuh tinggi dan sedikit kurus itu, tergolek lemah diatas brankar rumah sakit. Dengan tubuh yang dipenuhi slang dari alat kesehatan untuk menunjang agar raga itu tetap bernyawa.
Ava, Reynald dan Lidia, hanya bisa menatap raga itu dari balik jendela ruang ICCU. Tak terasa air mata menetes dari sudut manik hijaunya. Mami Lidia merengkuh pundak Ava dan memeluknya untuk memberi kekuatan pada putrinya.
"Kenapa bisa kecelakaan,Vid?" tanya Ava, saat dia melihat David kembali ke rumah sakit.
"Ada orang yang menyeberang tiba-tiba, saat Rain sedang balapan, dia menghindari orang itu dan membanting motornya ke trotoar, menghindari tabrakan dengan motor..." David terdiam sesaat. "Va, bukannya tadi Lo ikut balapan?" tanya David setengah berbisik, takut ketahuan Reynald.
"Nggak Vid, gue nggak balapan tadi, motor gue dipake Adrian barangkali," jawab Ava, ikutan berbisik.
"Oh!" jawab David singkat.
"David!" panggil Reynald.
"Ya, Om!" jawab David.
"Apakah Rain ikut balap motor liar?" tanya Reynald dengan tatapan tajam.
"Oh...oh, I...Iya ...Om!" jawab David gugup, namun dia lebih memilih jujur dari pada harus membohongi orang tua Rain.
"Sudah Om duga!" Rain menarik nafasnya kasar. "Anak itu, sudah di bilangin berkali-kali, tetap saja berulah," omel Reynald marah.
"Sudahlah, Rey! Jangan marah-marah, semua sudah terjadi, sekarang kita hanya perlu mendoakan agar Rain cepat sembuh!" ucap Lidia menenangkan.
"Mami benar, Pa! Kita harus berusaha agar Rain cepat sembuh!" ucap Ava.
Reynald terdiam, dia menyandarkan kepalanya kebelakang, di sandaran tempat duduknya.
"Mami, sebaiknya Mami bujuk Papa Reynald agar mau pulang, biar Ava dan David yang akan menjaga Rain disini," ucap Ava, melihat keadaan Reynald yang tampak terpukul.
Tak lama berselang, Farah datang ke rumah sakit bersama Laura, wanita itu tampak marah -marah. "Kenapa kalian tidak memberitahuku, kalau Rain kecelakaan," teriaknya menunjuk pada Reynald dan Lidia.
"Maaf Farah, kami semua sedang panik, hingga aku lupa memberitahumu, yang penting sekarang kamu sudah berada disini, kan?" jawab Lidia.
"Hah, kalau saja Laura tidak memberitahuku, aku ...!" Farah menghentikan ucapannya, saat Ava memotong pembicaraannya.
"Cukup Tante, jangan ribut, ini rumah sakit dan Rain sedang kritis di dalam,"
"Hei, siapa kamu? Berani sekali kamu memerintah ku!" Farah menatap Ava dengan wajah kurang bersahabat. Namun dia kaget saat melihat raut wajah Ava, wajah blasteran itu mengingatkannya pada seseorang.
"Saya Dealova Wilson, Tante! Saya kekasihnya Rain," jawab Ava lantang.
"Dealova Wilson?" Farah mengeja nama itu dalam hati, bukankah orang yang dekat dengannya sekarang juga mempunyai nama belakang Wilson.
"Oh, jadi kamu yang namanya Ava?" Farah menatap Ava sinis.
"Ya, Tante!" jawab Ava masam.
Wanita itu kemudian diam.
Ava berbisik pada mami Lidia untuk membujuk Reynald pulang, karena ada David dan dirinya yang akan menemani Rain di rumah sakit.
Mami Lidia mengangguk,
"Rey, kita pulang dulu saja ya, biar Ava dan David yang jagain, biar kita bisa gantian buat jaga Rain," kata Lidia.
"Baiklah, tapi aku ingin menemui dokter dulu, Sayang!" Reynald ditemani Lidia, meninggalkan Farah dan yang lainnya, yang masih berdiri di depan ruang ICCU, tempat Rain di rawat.
Reynald tampak terpukul mendengar kenyataan, bahwa Rain akan mengalami koma, untuk waktu yang lama. Karena cidera di kepalanya, sangat parah.
"Kami akan melakukan beberapa tindakan operasi pada tengkorak yang retak, Pak Reynald, jadi kami harap anda bisa bersabar," kata dokter.
"Lakukan yang terbaik, dokter berapapun biayanya!" kata Reynald.
"Tentu Pak Reynald, kami akan mengusahakan yang terbaik bagi Rain, setelah itu kita serahkan semuanya pada Tuhan yang maha menciptakan.
"Baik Dok, kalau begitu saya permisi!" Reynald dan Lidia keluar dari ruangan dokter itu, dengan wajah yang tampak suram.
Farah hanya diam, saat Reynald memberitahunya tentang keadaan Rain, keinginannya untuk mengajak Rain ke Amerika pupus sudah karena kecelakaan yang dialami putranya itu.
"Aku tetap akan berangkat besok pagi, Rey! Karena aku tidak bisa menundanya lagi," kata Farah.
"Tidak masalah, Farah, pergilah! Aku dan Lidia yang akan merawat Rain disini, jika terjadi sesuatu pada Rain, kami akan mengabari mu!" Ucap Reynald tulus.
"Lidia, bisakah kita bicara sebentar!" Farah menarik Lidia ke sudut lorong rumah sakit.
"Ada apa, Farah?" Lidia heran dengan sikap mantan istrinya Reynald itu.
"Aku hanya mau menanyakan sesuatu tentang Ayah Ava?" ungkap Farah.
"Kenapa dengan ayah Ava?" tanya Lidia.
"Apakah suamimu, orang Amerika?" tanya Farah.
"Aku belum pernah menikah sebelumnya, Farah, Ava bukan putriku," jawab Lidia sinis.
"Lalu siapa ibunya?"
"Namanya Melva Ariana, dia meninggal saat melahirkan Ava, Ayahnya bernama Adam Wilson, seorang tentara Amerika, yang saat itu bertugas di tepi Barat Gaza," jawab Lidia jujur. Farah mengangguk.
"Kamu mengenal Adam Wilson?" tanya Lidia lagi, sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak, tapi aku mengenal saudaranya Aaron Wilson, dia calon suamiku," jawab Farah jujur.
"Oh, kalau begitu, sampaikan salam ku pada Adam, jika kamu bertemu dengan dia nantinya Farah," ujar Lidia.
"Baiklah, akan ku sampaikan nanti, terimakasih sudah mau merawat Rain, Lidia,"
Ujar Farah tulus.
"Sudah tugasku Farah!"
"Aku minta maaf, jika selama ini...!"
"Tidak perlu minta maaf, Farah, lupakan semua masa lalu! Sekarang kita harus menatap ke depan," potong Lidia.
Farah memeluk Lidia dengan erat, dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.
...----------------...
Sudah hampir 3 bulan, Rain koma di rumah sakit, belum ada tanda-tanda cowok itu akan bangun. Ava setiap hari berada disisi Rain, agar dia bisa melihat perkembangan kesehatan Rain.
"Rain, bangunlah, sudah terlalu lama kamu tidur disini, banyak hal yang harus kau ketahui tentang hubungan kita," ucap Ava.
"Kamu harus tahu Rain, bahwa kita bisa melanjutkan hubungan kita kembali. Aku bukan anak kandung Mami Lidia," Ava masih terus berusaha mengajak Rain untuk bicara, walau tidak ada respon sama sekali.
"Aku tahu kamu marah padaku, Rain! Maafkan aku ya!" Ava meraih jemari yang masih terpasang jarum infus. mengusapnya lembut.
"Rain, aku ingin kita pergi bersama lagi, ketempat-tempat yang indah, tempat yang belum pernah aku kunjungi, aku ingin pergi ke Bali, Rain, berdua denganmu menggunakan sepeda motor. Pasti seru ya! " Suara Ava terdengar sedikit bergetar. Ava keluar dari kamar perawatan Rain, menumpahkan air mata yang tak lagi mampu untuk di bendung.
"Bagaimana keadaan Rain, Va!" tanya Rayna saat anak-anak IPS 1 berkunjung ke rumah sakit.
"Masih sama, Rayna! Belum ada perubahan," jawab Ava mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Yang sabar ya, kita semua berdoa untuk kesembuhan Rain!" ucap Jaka.
"Terimakasih," jawab Ava singkat.
...----------------...
"Adrian, kok Ava nggak pernah kesini lagi, udah 3 bulan Lo, kalian berantem?" tanya ibu Maria, siang itu saat Adrian kembali dari bengkel.
"Ava di rumah sakit, Bu!' jawab Adrian sambil terus berlalu menuju kamarnya.
"Ava sakit apa?"
"Bukan Ava yang sakit, tapi kekasihnya," jawab Adrian lagi.
"Jadi Ava sudah punya kekasih?!" Maria tampak kecewa, "Siapa orangnya, kamu kenal?"
"Ya Bu! Ava itu sudah punya kekasih, namanya Rain, dia putra Reynald Abiyasa, pengusaha kaya itu," jawab Adrian kecewa.
"Oh,...tapi kamu masih punya kesempatan kan ?" tanya Maria lagi.
"Entahlah Bu, aku tidak yakin!" Maria menarik nafasnya perlahan, dia bisa melihat gurat kekecewaan di mata putranya.
"Memangnya, Rain itu sakit apa?"
"Kecelakaan motor, Bu! Sudah tiga bulan dia koma di rumah sakit,"
"Kasihan sekali anak itu!" desis Maria.
...----------------...
Ava baru saja masuk ke ruang perawatan Rain, menggantikan Mami Lidia yang pulang untuk beristirahat. Perlahan jemarinya menyisir rambut Rain yang sudah kembali gondrong.
"Rain, bangun dong! Aku kangen balapan motor lagi sama kamu, hanya kita berdua!" ucap Ava.
Ava merasa ada sesuatu yang bergerak dalam genggamannya. Jari telunjuk Rain bergerak, lemah.
"Rain! Kamu bisa mendengar ku!" Ava tampak terharu, saat satu per satu jemari itu bergerak makin nyata,"
"Suster! Rain sadar!" Ava berlari keluar ruangan rawat Rain mencari suster yang berjaga di luar.
Bersambung..