~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 JAMUAN NONYA BANGSAWAN
****
Taman utama Istana Kekaisaran Valeria telah berubah menjadi panggung megah bagi para wanita paling berpengaruh di seluruh kekaisaran. Langit musim panas yang cerah menaungi taman yang dipenuhi meja porselen berukir, taplak renda halus, dan serangkaian bunga musim yang mekar sempurna. Wangi mawar Valeria, anggrek biru dari pegunungan utara, serta daun mint khas Ravengard menciptakan aroma yang memabukkan—seolah menyembunyikan racun halus yang mungkin menyelinap dalam setiap teguk teh dan setiap senyum manis yang tersungging di bibir para tamu.
Suara langkah sepatu berhak halus terdengar menggema di antara bebatuan marmer taman. Semua kepala berpaling saat sosok yang dinanti muncul dari gerbang selatan taman.
Iris von Ravengard.
Istri dari Grand Duke Darian. Wanita dari utara. Dan kini, Grand Duchess yang tengah mengandung pewaris darah murni bangsawan utara dan Ravengard.
Rambut peraknya disanggul rapi, menjulang anggun bagaikan mahkota salju abadi, dihiasi tiara safir biru laut yang memantulkan cahaya matahari. Gaun musim panasnya menjuntai halus dalam warna biru kabut dengan aksen perak di lengan dan bahu—simbol dingin tanah utara dan kekuatan Ravengard. Kalung safir oval menghiasi leher jenjangnya, memancar indah di balik sinar mentari.
Bahkan para istri bangsawan dari wilayah selatan pun menahan napas. Aura yang dibawa Iris tak hanya keindahan, tapi ketenangan yang mematikan seperti langit utara sebelum badai salju menggulung daratan.
“Selamat siang, Grand Duchess,” ujar Lady Verencia dari House Tolvare, dengan senyum kecil yang nyaris tak menyentuh matanya. “Sungguh berkah musim panas bisa menyaksikan kecantikan yang luar biasa… dari utara yang beku.”
Iris membalas dengan senyum tipis, “Dan senang sekali bisa melihat Lady Tolvare tak kehilangan selera bercanda, meski musim panas tahun ini terasa... terlalu hangat untuk beberapa orang.”
Tawa ringan terdengar, tajam seperti pecahan kristal. Sebuah sapaan kecil, namun di baliknya, baris-baris pertahanan dan serangan sudah mulai dibentuk.
Di sekeliling taman, para nyonya bangsawan mulai membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Bisik-bisik segera mengalir tentang gaun, perhiasan, dan tentu saja... tentang sejarah.
“Itu dia wanita dari utara, yang katanya memikat Grand Duke Darian.”
“Ah, padahal dulu... Permaisuri yang begitu terpikat oleh sang Grand Duke.”
“Tapi konon, Grand Duke Darian lebih memilih perang daripada meminang sang Permaisuri. Betapa memalukan...”
Iris mendengar dengan jelas, meski mereka berusaha berbisik. Ia hanya menegakkan dagunya, sorot matanya sedikit menyipit.
Menarik... apakah ini alasan Permaisuri memegang perutku kemarin, dengan senyum seperti sedang menandatangani perjanjian kematian?
Ia tidak sempat berpikir lebih jauh karena saat itulah sang Permaisuri Istana tiba.
Langkahnya ringan namun berwibawa. Rambut emasnya disanggul sempurna, mahkota keemasannya menandakan posisinya sebagai perempuan tertinggi di seluruh kekaisaran. Gaunnya, merah tua dengan bordiran emas naga berkepala dua, menyapu tanah taman saat ia berjalan.
Semua wanita berdiri. Bahkan burung-burung pun seolah berhenti berkicau.
“Selamat siang, para Nyonya,” ucapnya dengan senyum lembut. “Musim panas ini begitu indah, bukan? Sangat cocok untuk menyambut... harapan baru.”
Matanya menatap lurus ke arah perut Iris.
Iris membalas dengan anggukan sopan. “Benar, Yang Mulia. Kehidupan baru selalu menandakan kemenangan... bagi darah yang pantas.”
Permaisuri mengerjap pelan. “Kau belajar cepat, Grand Duchess.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Orang utara harus belajar lebih cepat jika ingin bertahan di udara tipis ketinggian istana.”
Suasana menjadi kaku. Hening sejenak. Lalu, senyum kecil kembali menghiasi wajah Permaisuri. “Maka mari kita nikmati udara ini, sebelum musim dingin dari utara tiba lebih cepat dari waktunya.”
Jamuan makan siang dimulai.
Hidangan pertama: sup krim dari jamur langka Sarthwen, dibumbui lada putih Langra.
Kemudian diikuti roti panggang halus berisi daging angsa asap, selada ungu, dan saus kismis.
Namun bukan rasa makanan yang menjadi fokus, melainkan kalimat-kalimat tersirat yang melayang di udara.
“Lady Alestine, kabarnya suamimu akan memimpin ekspedisi ke timur, ya?” tanya Lady Mirceva dengan nada hangat. “Atau, benarkah dia hanya ingin jauh dari rumah?”
“Lebih baik jauh karena dipanggil Kaisar, daripada dekat tapi... tidak diperhitungkan,” balas Lady Alestine sembari mengangkat cangkir tehnya.
Iris memperhatikan. Setiap kalimat, setiap gerak tubuh, seperti permainan catur hidup.
Hingga tibalah giliran dirinya menjadi sasaran.
“Grand Duchess,” suara Lady Virelle terdengar halus namun mengandung sesuatu. “Kabarnya utara masih dingin tahun ini. Bagaimana rasanya mengandung di udara yang berbeda?”
Iris menoleh perlahan. “Dingin melatih kepekaan, Lady Virelle. Dan saya mendengar panas... kadang membuat orang lupa etika berbicara.”
Beberapa nyonya tertawa pelan, tapi lainnya hanya saling melempar pandangan penuh arti.
Lady Virelle menyipitkan mata. “Tentu. Saya harap, darah yang mengalir dalam anak itu cukup kuat untuk bertahan dari segala suhu.”
“Dia akan mewarisi darah Grand Duke Darian,” ucap Iris tenang. “Dan saya pastikan, tidak akan ada suhu yang cukup tinggi... untuk melelehkan es dari utara.”
Permaisuri mengangkat alis, sebelum berbicara santai, “Berbicara tentang utara... apakah ada kabar dari Grand Duke?”
“Terakhir, ia mengirim burung pesan dua hari lalu,” jawab Iris lembut, menyentuh cangkir tehnya. “Kondisi medan perang cukup stabil. Tapi, seperti biasa, utara tidak pernah mudah.”
“Tidak mudah memang,” sela Lady Mireya, menggulung roti lapisnya dengan jemari runcing. “Apalagi bila dibandingkan dengan kenyamanan taman istana...”
“Betul,” timpal Lady Orelinde dari House Caelan. “Berjuang di antara badai salju, sementara yang ditinggalkan bisa bersantai menikmati musim bunga... pasti itu ujian cinta sejati.”
Suara gelak tawa tipis terdengar, tajam dan menyayat dalam balutan keanggunan.
Iris mengangkat pandangan, tenang, senyumnya tipis.
“Saya dan Grand Duke sudah terbiasa hidup dengan badai, para Nyonya. Baik badai salju... maupun badai yang terselubung dalam sutra dan perak.”
“Ah,” Permaisuri berseru kecil, seolah terkesan. “Kukira hanya Darian yang pandai memainkan pedang. Rupanya istrinya pun tahu cara menangkis tanpa perlu mengangkat senjata.”
“Dewi perang pun awalnya hanya dikenal sebagai dewi keindahan,” sahut Iris tanpa ragu. “Sampai akhirnya dunia memintanya turun ke medan.”
Permaisuri mengerjap, lalu tertawa kecil. “Aku suka kau, Grand Duchess. Mungkin musim panas ini takkan terlalu membosankan.”
Jamuan terus berlanjut.
Namun bagi Iris, ini bukan sekadar makan siang. Ini adalah medan. Medan diplomasi, pengaruh, dan kata-kata yang mengukir garis batas antara kekuasaan dan kehancuran.
Ia menatap satu per satu para wanita di sekelilingnya, mengukir wajah, menghafal suara, mencium aroma musuh dan kawan.
Kekuasaan wanita di istana bukan ditentukan dari siapa yang paling dicintai... tetapi siapa yang paling tak tergantikan.
Dan hari itu, semua wanita bangsawan Valeria tahu satu hal.
Salju telah tiba di tengah musim panas.
Dan salju itu... tidak akan mencair.
Musim dingin di perbatasan utara bukan sekadar musim—ia adalah kutukan tahunan yang membekukan bahkan tekad terkuat. Salju turun deras, membungkus pegunungan dengan lapisan putih tebal yang menelan warna dan suara. Namun di balik putih yang sunyi itu, teriakan, denting logam, dan bau darah membubung di udara.
Di garis perbatasan paling utara, perang dengan pasukan sekutu Orthyr telah mencapai titik paling brutal.
Di baris depan, dua sosok berdiri di atas dataran penuh mayat, darah segar mengalir bercampur dengan es dan tanah beku.
Darian von Ravengard, Grand Duke sang panglima tertinggi yang dikenal sebagai Iblis Perak perang, menurunkan helm perangnya. Wajahnya penuh luka, alisnya berdarah, namun matanya—mata kelabu yang dingin—masih membakar dengan amarah dan keberanian.
Di sebelahnya, Duke Maeltorn, ayah kandung Iris dan sang penguasa tua utara, berdiri tegak dengan mantel baja biru tua. Meski usianya tak muda, tidak ada satu pun di pasukan utara yang berani meragukan tebasannya.
"Formasi Sayap Ganda! Lindungi sisi barat!" seru Darian lantang.
Dari bayangan pepohonan cemara beku, para pengawal bayangan utara bergerak cepat bagaikan siluman, mengenakan baju hitam yang menyatu dengan malam dan salju.
"Darian! Fokus ke tengah! Mereka mengirim Beastmaster!" seru Duke Maeltorn, suaranya menggetarkan salju yang menggantung di dahan-dahan.
Darian melangkah maju tanpa gentar. "Biarkan saya yang menghadapi dia. Ini bukan pertama kalinya saya menari dengan kematian."
Dan di hadapan mereka, berdiri Jenderal Rhazul Vantar, panglima musuh yang terkenal karena memanggil binatang buas pegunungan untuk bertarung bersamanya. Dua serigala salju mengiringi langkahnya, dan matanya merah menyala seperti bara yang tertahan.
"Kau... Iblis Ravengard," dengus Rhazul, "kutukanmu menyebar seperti badai di malam buta. Tapi hari ini, darahmu akan mewarnai salju ini."
Darian menjawab tanpa senyum, "Bicara saja terus. Tubuhmu akan segera menjadi pupuk bagi es yang kau cintai."
Duke Maeltorn menyerang sisi pasukan musuh dengan formasi retakan batu—barisan pengapit berbentuk segitiga yang menutup rapat dari dua arah. Pasukan musuh pun mulai terdesak. Denting senjata membelah udara, pekikan kesakitan menggema.
Tapi perhatian semua pasukan tertuju pada satu titik pusat pertarungan: Darian dan Rhazul.
Darian melompat dengan tebasan lurus pedang peraknya, Rhazul menangkis dengan kapak bermata dua. Serangan demi serangan saling beradu. Pedang Darian menusuk, kapak Rhazul membalas menyayat lengan sang Grand Duke. Salju yang turun perlahan berubah warna, mencatat sejarah berdarah.
"Kenapa kau tak pernah takut mati, Grand Duke?" tanya Rhazul dengan napas berat.
Darian menatapnya tajam, "Karena aku sudah mati bertahun-tahun lalu, saat menyadari dunia ini hanya menyanjung kekuatan dan menginjak kelemahan."
"DARIAN!" teriak Duke Maeltorn dari kejauhan, setelah menebas lawan terakhirnya.
Namun perhatian Darian hanya pada Rhazul.
Serangan terakhir datang—Rhazul mengangkat kapaknya tinggi, tapi Darian menikam lurus ke arah dadanya lebih cepat. Pedang menembus zirah dan daging.
Tubuh Rhazul terhuyung, napasnya tercekat.
"A-apa... kau...?" bisiknya.
"Darahmu menghangatkan salju ini." Darian menarik pedangnya, dan tubuh sang jenderal roboh.
Namun Darian juga berlutut, tubuhnya penuh luka terbuka. Napasnya berat, darah mengalir deras di sisi wajah dan dadanya.
"Duke Maeltorn!" teriak salah satu prajurit sambil berlari.
Sang mertua segera tiba di sisi Darian, wajah kerasnya berubah pucat saat melihat luka-luka menantunya itu.
"Jangan mati, anak muda... kau belum selesai."
Darian masih mampu tersenyum tipis. "Kalau aku mati, setidaknya di medan yang layak."
Maeltorn menarik jubahnya, menutup tubuh Darian dari salju yang terus turun. "Kau tidak akan mati. Kita pulang. Ada istrimu yang sedang menunggumu di Ravengard."
Darian memejamkan mata. Di tengah kabut kesakitannya, ia melihat wajah Iris, tersenyum dengan tangan yang mengelus perutnya yang membesar.
"Aku harus pulang..." bisiknya.
"Dan kau akan pulang. Aku bersumpah atas nama utara," tegas Maeltorn, dengan nada setegas raungan badai.
Pasukan utara dan Ravengard bersorak merayakan kemenangan. Bendera bergambar gagak perak dikibarkan tinggi di puncak bukit salju. Pasukan musuh mundur, dan benteng utara kembali berdiri dengan darah dan salju sebagai saksi keabadiannya.
Bersambung