Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipeku, CEWEK DEWASA

Tipeku, CEWEK DEWASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: fithria sulaeman

Bolak balik jatuh cinta pada seorang wanita dewasa, sudah menjadi hal biasa bagi Reno Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fithria sulaeman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesialan bertubi-tubi.

Masih dalam suasana mengendarai motor. Kali ini, aku sendiri. Tak ada lagi Rena yang menumpang di jok belakang. Perjalanan terasa sepi saat ini. Walau saat bersama Rena tadi, suasana tetap saja sepi. Tapi, kali ini berbeda.

Entah, apa yang membedakannya. Hanya saja, aku merasa berbeda.

Semilir angin di teriknya matahari jam dua belas siang, terasa sedikit menyejukkan badan yang kepanasan akibat terpaparnya badan oleh panas.

Tiba tiba bibir ini menyunggingkan sebuah senyum. Sekelebat bayangan wajah Rena hadir menghalangi pandangan. Untuk sejenak, aku menikmati seraut wajah yang ku sadari, ternyata menyimpan sebuah kecantikan yang tak ku lihat, karena peristiwa yang membuatku kesal padanya.

"Wey! Hati hati dong, kalau bawa motor!"

Aku tersentak. Motor ku rem mendadak, hingga membunyikan sebuah suara.

Terkejut bukan kepalang. Karena keteledoran dariku, aku hampir saja menabrak seorang pejalan kaki.

"Turun, kamu?!" teriaknya lagi sambil memerintah. Mau tak mau, membuatku menuruti keinginannya. Karena aku merasa, aku memang salah.

"Maaf, mbak. Maaf, saya nggak sengaja." Aku menangkupkan kedua tangan di depan. Meminta maaf dengan sopan.

"Eh, kurang aj*Ar ya kamu! Seenaknya aja manggil aku mbak. Emang aku ini embak-mu?! Lagian, sejak kapan pula, aku nikah sama Abang kamu?! Panggil aku Kakak. Jangan embak. Aku bukan embak-mu. Apalagi istrinya Abangmu!" ujarnya menggerutu yang membuat aku melongo seketika itu juga.

Kesambet apa aku semalam? Hingga dari sejak berangkat dari rumah Rio sampai sekarang, aku belum juga sampai pulang. Jangankan untuk pulang dengan tenang, yang ada aku malah ketimpa kesialan bertubi tubi terus. Pertama ketemu Rena yang hampir kecopetan. Berlanjut dengan copet itu yang ternyata adalah suruhan dari temannya Rena sendiri.

Duh, ribet sekali hari ini. Dan sekarang, aku melamun memikirkan senyum Rena, hingga aku hampir aja nabrak orang.

Nasib! Nasib!

"Eh, malah bengong! Kamu dengerin aku ngomong enggak?!" tanyanya dengan wajah sangar. Dia membentukku.

Aku mengerjapkan mata. Tersadar, kalau aku sedang berada dalam sebuah masalah.

"Eh, iya, iya. Denger kok. Maafin saya ya, Kak. Saya gak sengaja. Lagi banyak pikiran barusan. Jadi, saya kurang konsentrasi," ujarku sedikit gelagapan. Sedikit mengada-ada juga, kalau aku banyak pikiran. Padahal yang sebenarnya, aku tak sengaja kebayang wajah Rena yang tiba tiba saja muncul di depan mata. Jadilah, konsentrasi ku buyar. Aku kehilangan fokus.

"Heh! Anak kecil!" tudingnya padaku. Mataku langsung membola mendengar ucapan yang tak enak di dengar barusan.

'Anak kecil?!' Enak saja dia bilang. Dia belum tahu saja, seorang anak kecil ini mampu meluluhkan hati seorang wanita dewasa. Apa ia ingin coba?

"Kalau banyak pikiran itu diem di rumah! Jangan so so'an pakai acara bawa motor segala. Bahaya tau! Untung aja aku gak kenapa napa. Kalau aku sampai kenapa napa. Apalagi sampai kecelakaan, geger otak atau koma. Aku tuntut kamu, ya! Mau kamu?!"

Berrr! Tiba tiba merinding. Seperti dibelakang ada setannya. Eh, di depan maksudnya.

Lalu, napasku memburu mendengar ucapannya yang terkesan berlebihan dan terlalu mengada ada. Kenapa sih dia?

"Saya 'kan udah minta maaf, mbak. Eh, Kak. Maksud saya," ucapku yang langsung meralat nama panggilan yang salah padanya.

Bod*oh! Pake acara lupa segala lagi. Alamat cari lagi masalah aku ini.

Lihat saja, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi tak suka, saat aku salah menyebutkan nama. Apakah sepenting itu? Atau, dia merasa tua, aku memanggilnya dengan sebutan mbak?

Entahlah! Tapi itu mungkin saja.

"Kamu tuli atau budeg? Atau pura pura gak inget? Aku bilang kan jangan panggil aku mbak! Masih aja ngeyel! Dasar anak kecil!"

Dia menyebutku lagi dengan panggilan anak kecil. Kali ini aku benar benar geram.

"Berapa kali saya harus bilang minta maaf, supaya mbak yang maunya di panggil kakak ini, mau maafin saya. Lagian, saya ini bukan anak kecil, Mbak. Kalau mbak aja gak mau saya panggil dengan sebutan mbak. Berarti saya pun gak mau di bilang anak kecil. Apa mbak paham?!" ujarku dengan setengah emosi yang kutahan dalam dada.

Sekuat tenaga, aku mengontrol emosi agar tak keluar seluruhnya. Tapi, sulit sekali ternyata. Apalagi kutahu, wanita di hadapanku ini tampaknya tak mau kalah saat berucap. Bahkan, saat ia salah pun.

"Oh, jadi kamu nantangin saya?!" Dia berkacak pinggang. Wajahnya makin sangar menatapk ke arahku. Apalagi setelah aku mengganti nama panggilan untuknya dengan sebutan mbak kembali.

Haduh!

Aku menepuk jidatku sendiri. Pusing sekali berurusan dengannya. Kenapa wanita yang satu ini? Apa tagihan pancinya sudah jatuh tempo, hingga ia marah marah dan melampiaskannya padaku?

"Gini ya, Mbak ya. Gini. Saya itu gak ada niatan nantangin mbak segala. Buat apa coba? Saya dari tadi udah minta maaf sama mbaknya. Tapi, mbak malah memperpanjang masalah ini. Sekali lagi, saya minta maaf dan ngaku salah. Mbaknya gak kenapa napa bukan? Kalau enggak, dan gak ada yang lecet sama tubuh mbak. Saya permisi dulu. Udah terlalu siang. Saya laper," ujarku selembut mungkin. Walau hati ini dongkol setengah pingsan. Tapi, kucoba untuk meredam emosi.

"Enak aja, main mau pergi aja. Gak bisa. Kamu harus ganti rugi. Seenaknya aja ninggalin orang sendirian."

Aku melongo lagi. Maunya apa sih wanita yang satu ini?

Huh! Ingin ku remas tanganku di hadapannya secara kuat kuat. Namun, sekuat tenaga kutahan lagi.

Sabar! Sabar!

Begitu kata hatiku berucap.

Huft! Masih aja hati kecilku bisa berucap demikian. Padahal, aku sudah benar benar kehabisan stok sabar menghadapinya.

"Jadi, mbak maunya saya ini ngapain? Ganti rugi? Lah, mbak nya kan gak kenapa napa. Kenapa saya jadi harus ganti rugi? Orang gak kena kok motor saya sama mbaknya. Cuma kaget aja kan?" ujarku seraya bertanya.

Ku lihat tubuhnya dari atas sampai bawah. Semuanya masih normal. Tak ada yang berubah atau lecet. Dia seratus persen baik baik saja.

"Nah, itu kamu tau!" ucapnya tiba tiba.

Aku yang tak mengerti dengan omongannya dan maksudnya, langsung bertanya, "Maksud mbaknya?"

"Ganti rugi karena udah ngagetin saya."

Duarr!

Rasanya ada petir yang menyambar di siang bolong yang cerah ini. Tak ada angin kencang apalagi angin ****** beliung. Bahkan, hujan pun tak nampak meneteskan airnya. Tapi, petir itu datang bersamaan dengan keterkejutanku akan jawaban dari wanita aneh di hadapanku ini.

"Aneh mbak ini. Kalau semua orang kayak mbaknya, gak akan ada yang kerja dong. Cuma modal kaget Aja, udah bisa dapet ganti rugi." Aku mencibir, berharap dia tersindir. Namun, apa yang aku lihat?

1
SUKARDI HULU
Jangan lupa like, follow dan beri hadiah ya kk♥️🥰🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!