Menerima dengan ikhlas pemberian nafkah dari suami sudah dia lakukan. Namun, kebutuhan hidup semakin mahal dan merangkak naik secara berangsur-angsur.
Dia adalah Laras Maharani seorang Ibu Rumah Tangga yang mempunyai anak satu yang masih BALITA. Dalam sepekan, Laras hanya diberi nafkah oleh suaminya 'Banu' senilai lima puluh ribu rupiah. Padahal Banu adalah seorang Manajer tetapi dia tega memberi nafkah kepada istrinya dengan nominal yang sangat kecil.
Zaman sekarang, uang lima puluh ribu rupiah mana cukup untuk digunakan dalam sepekan? Laras hidup dalam dunia modern yang tidak bisa disamakan dengan kehidupan Nenek Moyang dahulu yang walau uang itu nilainya sedikit namun bisa untuk membeli kebutuhan hidup dalam jumlah banyak.
Jadi, nafkah yang disebutnya di atas, digunakan dalam sepekan tidaklah cukup. Untuk menutupi kekurangan hidupnya, Laras tidak hanya duduk bertopang dagu di rumah. Dia sudah berusaha bekerja di rumah tetangganya.
Ikuti cerita selanjutnya di bab berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Sekti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti di Skakmat
Arloji menunjukan pukul 10 pagi, di mana acara 'meeting' di Perusahaan milik Wijaya Atmadja akan segera dimulai. Ferdi Agatha kini memasuki ruangan yang digunakan untuk 'meeting'.
Kini Ferdi dipersilakan oleh wanita cantik yang berpakaian rapi dan berambut sebahu dengan senyum manis. Lalu Ferdi duduk di tempat yang disediakan. Beberapa orang sudah berada di ruangan 'meeting' sambil mempersiapkan berkas-berkas yang sedang diperlukan.
"Ini Pak Ferdi Agatha ya? Selamat bergabung di Perusahaan Kain Sutra milik keluarga Wijaya Atmadja. Kami sangat senang bisa bergabung dengan Perusahaan bisnis milik Anda."
Seorang Manajer berwajah manis dan berlesung pipit mulai menyapa tamu kehormatan seorang CEO Perusahaan 'Property' terkenal tersebut. Manajer tersebut bernama Zidan. Zidan adalah Manajer kepercayaan almarhum Wijaya Atmadja sebelum meninggal karena kinerjanya yang profesional dan menghasilkan ide-ide brilian hingga perusahaan Kain Sutra tersebut berkembang pesat dan berkualitas hingga taraf Internasional.
"Terima kasih atas waktu yang diberikan dan kerja samanya. Kami juga sangat senang bergabung untuk mendiskusikan bisnis yang akan kita rencanakan bersama. Jika boleh tahu, apa sekarang kita bisa mulai 'meetingnya' atau menunggu seseorang?"
Ferdi mulai menanyakan tentang waktu dimulainya 'meeting' karena Ferdi masih banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan.
"Tunggu sebentar. Kita sedang menunggu pemimpin perusahaan ini. Sebentar lagi dia akan datang," jawab Zidan sambil menantikan Laras Maharani datang.
Ceklek!
Tidak lama, ada orang yang membuka pintu.
Pyar!
Tiba-tiba gelas berisi air mineral yang berada tepat di depan Ferdi terjatuh dan pecah. Karena dia terkejut yang datang adalah Laras Maharani. Pikiran Ferdi belum bisa mencerna dengan baik. Jabatan apa yang dimiliki oleh Laras bahwa dia tiba-tiba dia masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk berhadapan tepat di depan Ferdi hingga membuat denyut j*ntungnya berdetak tidak karuan.
"Ma-maaf saya tidak sengaja."
Lalu Ferdi segera berdiri dan akan memunguti pecahan gelas itu namun, dengan sigap petugas kebersihan membersihkan pecahan gelas tersebut karena kebetulan petugas kebersihan sedang bertugas di ruangan tersebut.
"Oh. Tidak apa-apa Pak, Ferdi! Biarkan pak Karim yang akan membersihkan gelas yang pecah tersebut. Oke, langsung saja kita mulai 'meeting' ini karena pemilik perusahaan ini sudah datang yaitu Ibu Laras Maharani yang menggantikan posisi Bapak almarhum Wijaya Atmadja."
Zidan memperkenalkan Laras kepada Ferdi yang terlihat salah tingkah saat datangnya Laras.
"Uhuk, uhuk, uhuk!"
Saat mendengar bahwa Laras adalah pemilik perusahaan tersebut, Ferdi mulai tersedak dan membuatnya sangat malu.
"Pak Ferdi tersedak? Apakah kondisi Bapak baik-baik saja?"
Seorang wanita cantik berambut sebahu menanyakan kondisi Ferdi karena sedari tadi sang CEO tersebut mengalami tingkah yang aneh.
"Maaf sekali lagi. Saya tidak apa-apa. Yasudah, mari kita mulai acara 'meeting' nya. Ehem. Saya ucapkan terima kasih kepada pemilik perusahaan ini yaitu Ibu Laras. Saya di sini ingin bekerja sama dalam pemasaran produk Kain Sutra. Kami menawarkan desain menarik utuk bisa mendesain dan mempromosikan Kain Sutra tersebut agar bisa menarik dan dilirik oleh para pelanggan karena kami mempunyai tim yang ahli dalam bidang tersebut. Bagaimana menurut Ibu maupun rekan-rekan yang ada di sini?"
Ferdi sedikit takjub dan canggung kala melihat pesona Laras yang kini menduduki posisi tertinggi di Perusahaan tersebut. Sebisa mungkin, agar orang yang berada dalam 'meeting' tersebut tidak curiga, Ferdi kini mulai berbicara secara profesional.
Laras yang melihat ada Ferdi dan melihat Ferdi yang salah tingkah, kini dia tertawa lirih dan tersenyum. Dia geli sendiri melihat kelucuan Ferdi kala melihat dirinya datang secara Tiba-tiba. Laras juga tidak menduga bahwa dia benar-benar Ferdi tetangganya yang dia kenal.
Laras juga tidak menduga bahwa tamu kehormatan tersebut adalah Ferdi Agatha. Sebelumnya Laras belum mengetahui bahwa nama panjang Ferdi adalah Ferdi Agatha. Kini dia menjadi tahu, bahwa Ferdi berpura-pura tidak mengenali dirinya.
"Baik, terima kasih kepada Pak Ferdi yang sudah berkenan gabung di Perusahaan milik keluarga Wijaya Atmadja. Kami sangat senang dan menerima tawaran menarik tersebut. Kalau begitu Pak Ferdi bisa mengirimkan contoh sampel desain menarik tersebut kepada Pak Guruh yang juga ahli dalam desainer. Anda dan dia bisa berkolaborasi bersama. Saya di sini hanya mengawasi dan mengoreksi jika ada masalah dan kendala dalam Perusahaan ini. Pun juga karena saya juga masih belajar menjadi pemimpin. Begitu saja dari saya terima kasih untuk waktu nya."
Begitulah penuturan singkat seorang Laras Maharani yang belajar memimpin Perusahaan kakeknya. Kemudian, mereka semua yang berada dalam 'meeting' tersebut mulai mendiskusikan tentang bisnis yang akan mereka kelola hingga pada titik mufakat. Hingga beberapa waktu 'meeting' tersebut telah selesai dengan lancar. Laras bernafas lega karena 'meeting' yang dipimpinnya berjalan dengan lancar.
Setelah selesai 'meeting', Laras merasa haus sekali dan ingin membeli jus jeruk di Kafe yang terletak di samping gedung "Wijaya Atmadja". Almarhum kakeknya sengaja memberi nama Perusahaan tersebut dengan nama nya sendiri agar saat beliau tiada akan dikenang oleh anak cucunya.
Laras mulai duduk di bangku di salah satu bangku yang masih kosong. Kemudian karyawan berpakaian rapi mendatanginya. Dengan segera Laras memesan jus jeruk dan pangsit ayam kesukaannya. Lalu dia duduk termangu sambil menunggu pesanan.
'Kenapa Mas Ferdi berubah sinis kepadaku ya? Apa salahku? Sudahlah tidak penting,' batin Laras yang memikirkan Ferdi yang kini sikapnya berubah.
Beberapa menit kemudian, karyawan Kafe datang dan memberikan pesanan minuman dan menu makanan yang telah dipesan oleh Laras. Setelahnya, karyawan tersebut kembali lagi ke tempat semula untuk melayani pelanggan yang lainnya.
Kini Laras segera menyeruput jus tersebut secara perlahan-lahan. Namun, Laras terkejut karena tiba-tiba Ferdi juga terlihat memesan menu yang sama dan duduk tidak jauh dari bangkunya. Terlihat dia sedang sibuk dengan laptopnya dan sesekali melihat ke arah Laras dengan tatapan elangnya.
'Aneh. Mas Ferdi memesan sama apa yang saya pesan? Ini kebetulan, apa disengaja? Dasar, pria itu seperti jelangkung saja. Selalu saja datang tanpa diundang,' batin Laras kembali yang merasakan hal aneh dalam hatinya kala dia melihat Ferdi Agatha. Laras merasa ada yang disembunyan dari Ferdi kepadanya. Namun, Laras tak mau ambil pusing.
Saat Laras sedang asik menikmati jus untuk menyembuhkan dahaganya, Tiba-tiba Zidan duduk di depan Laras dan satu tempat dengannya.
"Maaf, saya boleh gabung?"
Zidan meminta izin kepada Laras untuk bergabung.
"Apa sebaiknya kamu duduk agak berjauhan dari saya, Zidan? Saya khawatir akan ada omongan yang tidak-tidak dari orsng yang melihat kita."
Laras menasihati agar Zidan tidak duduk bersama dirinya. Dia tidak mau, nama nya tercemar gara-gara seorang pria.
"Jangan khawatir Bu Laras. Saya hanya sebentar. Saya juga memesan jus jeruk dan ingin berbincang sebentar dengan Ibu."
Ferdi ingin mengungkapkan sesuatu yang penting kepada Laras
"Oh. Apakah penting. Coba, cepat katakan!"
Laras penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Zidan.
"Maaf jika saya lancang. Saya hanya ingin mengatakan Ibu cantik sekali. Dan saya terpesona dengan kesederhanaan Ibu. Sudah itu saja."
Sambil cengar-cengir, Zidan mengungkapkan isi hatinya. Zidan seorang brondong yang belum nikah usianya kini menginjak 25 tahun lebih tua dari Laras. Laras kini berusia 23 tahun. Masih muda bukan? Jadi tak salah, jika banyak kaum adam yang tertarik dengan Laras.
"Bisa saja kamu, Zidan. Saya ini sudah mempunyai anak dan suami. Jangan coba-coba untuk ngegombal," jawab Laras yang tersenyum karena Zidan sangat jujur kepadanya dan tidak malu mengungkapkan isi hatinya yang memuji kecantikannya.
Tanpa mereka sadari, percakapan Zidan dan Laras didengar oleh Ferdi hingga dia terbakar api cemburu. Dia sangat tidak terima jika Laras dekat dengan pria yang bukan suaminya. Entah apa yang merasuki pikiran Ferdi dan akhirnya dia berjalan ke arah Laras. Saat sampai di tempat Laras dan Zidan, Ferdi berkata,
"Hai kau Zidan! Ayo berdiri? Kamu Manajer 'kan? Jangan sekali-kali kamu lancang dengan Laras! Dia itu sudah bersuami, jadi jangan coba-coba mendekati dia! Jika kamu sampai lancang menyentuh dia, kau akan berhubungan dengan Ferdi Agatha!"
Tampak Kafe hanya ada pengunjung beberapa orang saja. Namun, tindakan yang dilakukan oleh Ferdi membuat Laras malu. Ferdi menarik kerah kemeja berwarna biru milik Zidan. Dengan mata tajam bagai elang, dia menggertak Zidan yang lancang mendekati Laras. Padahal, baru saja mereka melakukan kerja sama dalam bisnis.
"Ma-maaf, Bro. Saya hanya menyapa Ibu Laras dan memujinya bahwa dia cantik. Tidak lebih. Apa itu keterlaluan. Maaf, Anda cemburu 'kah? Jika Ibu Laras berdekatan dengan pria termasuk saya? Apa Anda jangan-jangan menyukainya?"
Zidan sangatlah cerdas. Dia membuat Ferdi Agatha tak berkutik. Pertanyaan Zidan kepada Ferdi seperti 'skakmat' dalam diri Ferdi. Ferdi terdiam beberapa saat dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Zidan.
Cuma maaf Thor... dari awal yg aga mengganggu itu adalah panggilan Vano ke Laras, "Emak" 🤭
Kenapa gak 'Ibu' atau bunda aja sihh 😁🙏
kalau emak kayanya terlalu kampungan banget gak sihhh buat nantinya status Laras yg ternyata orang no 1 di perusahaan nya . 😁🙏