Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengintaian
Di tempat lain, di sebuah kedai kopi yang agak sepi, Selina sedang duduk berhadapan dengan dua orang pria yang berpakaian rapi namun tatapan matanya tajam dan tidak bersahabat. Itulah orang-orang kepercayaan Juragan Irwan. Di tangannya, Selina memegang selembar kertas berisi catatan yang ia tulis sendiri.
"Ini dia. Saya sudah mengamati selama beberapa hari terakhir. Pagi tadi saya melihatnya keluar dari gedung apartemen mewah di kawasan pusat kota itu. Dia selalu keluar sekitar jam sepuluh pagi, biasanya dikawal, tapi hari ini sepertinya ada orang lain bersamanya," jelas Selina sambil menyerahkan kertas itu yang berisi alamat dan ciri-ciri bangunan tersebut.
Salah satu pria itu menerima kertas itu, membacanya sekilas, lalu menatap Selina dengan tatapan yang menilai.
"Kau yakin benar dia tinggal di sana? Jangan sampai kita bergerak sia-sia hanya karena kesalahan pengamatanmu," ucapnya dengan nada mengancam.
Selina mengangguk cepat, wajahnya terlihat sedikit takut namun tetap mempertahankan senyumnya.
"Saya yakin seratus persen. Saya mengenalnya sejak kecil, tidak mungkin saya salah lihat. Lagipula, ciri-cirinya yang berbeda itu sangat mudah dikenali. Dia pasti orangnya. Dan lihat ini..." ia mengeluarkan foto yang ia ambil secara diam-diam dari kejauhan, "...ini dia. Kalau Bapak ragu, bisa dilihat sendiri."
Pria itu mengambil foto itu, menelitinya dengan saksama, lalu mengangguk puas.
"Bagus. Informasi ini sangat berharga. Kau dan orang tuamu akan mendapatkan apa yang dijanjikan Juragan. Sekarang kau boleh pulang. Jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun, atau kau dan keluargamu akan menanggung akibatnya," peringatannya tegas.
"Saya mengerti, Pak. Saya tidak akan bilang apa-apa. Saya hanya berharap semuanya berjalan lancar," jawab Selina dengan nada patuh.
Setelah orang-orang itu pergi, Selina duduk kembali di kursinya, menatap ke arah jalan raya dengan ekspresi yang campur aduk.
'Maafkan aku, Yasmin. Tapi kau memang pantas mendapatkan ini, ini satu-satunya cara agar kami bisa terlepas dari masalah. Toh kau akan hidup enak bersama Juragan Irwan, jadi tidak ada ruginya kan?' batinnya, tersenyum sinis dan penuh kemenangan seolah sebentar lagi Ia akan mendapatkan hadiah begitu berharga.
Di ruang kerja miliknya, Juragan Irwan menerima laporan dari anak buahnya lewat telepon. Wajahnya yang awalnya datar perlahan berubah menjadi senyum lebar dan penuh kemenangan.
"Jadi begitu... dia tinggal di kawasan elit itu, ya? Tapi siapa Pria yang bersamanya, sepertinya orang yang punya kekuasaan juga, karena orang yang tinggal di apartemen itu bukan orang biasa." gumamnya, lalu tertawa pelan. "Tapi itu tidak masalah. Semakin sulit didapat, semakin menarik rasanya. Kalau dia cuma gadis biasa, aku pun tidak akan tertarik karna sudah bosan. Tapi Yasmin tetap begitu cantik meski kulitnya albino."
Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, pikirannya sudah menyusun rencana langkah demi langkah.
"Katakan pada mereka, awasi terus pergerakannya. Jangan bertindak sembarangan dulu. Kita cari waktu yang tepat, saat Pria itu sedang sibuk atau tidak ada di sampingnya. Saat itu tiba, bawakan dia kepadaku. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat dia sadar bahwa dia sudah berada di tanganku," perintahnya dengan nada yang dingin dan penuh tekad.
"Baik, Juragan. Kami akan melaksanakannya dengan hati-hati," jawab suara dari seberang sambungan.
"Bagus. Dan ingat, jangan sampai melukainya. Dia harus tetap utuh dan sehat. Aku tidak mau mendapatkan barang yang rusak," tambahnya lagi, lalu mematikan sambungan telepon.
Juragan Irwan menatap ke luar jendela, senyumnya semakin melebar.
"Tunggu aku, Yasmin. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Tidak ada yang bisa melindungimu selamanya, bahkan Pria itu sekalipun..." bisiknya pelan.
Sementara itu, di perjalanan menuju pusat perbelanjaan, di dalam mobil yang dikemudikan oleh Baskara, suasana terasa hening namun nyaman. Yasmin duduk di kursi penumpang, sesekali melirik ke arah Baskara yang sedang fokus mengemudi. Hatinya terasa hangat, menyadari bahwa pria di sampingnya ini rela meluangkan waktunya hanya untuk memastikan keamanannya.
"Pak..." panggil Yasmin pelan.
"Apa?" jawab Baskara singkat, matanya tetap menatap jalanan.
"Terima kasih... sudah mau menemani saya. Saya tahu Bapak pasti sibuk, tapi Bapak tetap meluangkan waktu. Saya merasa sangat aman saat bersama Bapak," ucapnya dengan tulus.
Mendengar kalimat itu, tangan Baskara yang memegang setir tertegun sejenak. Ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia menelan ludah, lalu berusaha bersikap biasa saja.
"Jangan salah paham. Saya hanya tidak mau kau membuat masalah dan menyusahkan Saya nantinya. Kalau kau aman, berarti saya juga tidak akan kerepotan mengurusmu. Itu saja," jawabnya, namun nadanya tidak lagi terdengar dingin, justru ada nada lembut yang tersembunyi di dalamnya.
Yasmin hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Ia sudah paham, bahwa di balik kata-kata yang tegas itu, tersimpan perasaan yang mulai tumbuh perlahan.
"Ya, saya mengerti. Tapi tetap saja, saya bersyukur," balasnya lembut.
Baskara tidak menjawab lagi, namun sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak terlihat oleh Yasmin. Ia menginjak pedal gas pelan-pelan, memastikan perjalanan mereka berjalan dengan aman dan tenang. Namun, ia tidak tahu bahwa di balik bayang-bayang, sepasang mata sedang mengawasi pergerakan mereka, menunggu kesempatan yang tepat untuk melaksanakan rencana jahat mereka. Bahaya itu semakin dekat, namun keduanya belum menyadari sepenuhnya seberapa besar ancaman yang sedang mengintai kebahagiaan kecil yang baru saja mereka rasakan.