"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 25
Klik.
Sambungan telepon terputus begitu saja dari seberang.
Kirana mematung. Gagang telepon di tangannya terlepas, jatuh menggantung ke bawah meja dengan kabel yang berayun pelan. Udara di sekitarnya terasa seakan habis terisap. Lutut Kirana melemas, membuatnya jatuh terduduk di atas lantai berkarpet.
"Tasya... Enggak... Enggak mungkin..." bisik Kirana dengan suara bergetar. Air mata yang sesungguhnya kini tumpah menderas. Rasa bersalah menghantam dadanya dengan sangat keras. Rencana balas dendamnya justru menumbalkan satu-satunya sahabat yang ia miliki.
Satu jam berlalu dalam tangisan tertahan. Kirana masih meringkuk di sudut ruang kerja. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang sangat familier terdengar memasuki pekarangan rumah. Arga telah kembali.
Kirana segera menyeka air matanya dengan kasar. Ia harus kembali memakai topengnya. Ia tidak boleh terlihat kuat. Di mata Arga, ia harus menjadi istri buta yang sudah hancur lebur secara mental dan fisik.
Tak... Tak... Tak...
Langkah kaki santai terdengar menaiki anak tangga. Pintu ruang kerja didorong terbuka. Arga berdiri di ambang pintu, melepas jasnya dengan gaya arogan, menatap istrinya yang meringkuk gemetar di lantai.
"Gimana, Sayang? Udah puas main teleponnya?" sapa Arga dengan nada yang luar biasa santai, seolah ia baru saja pulang dari jalan-jalan sore, bukan dari mencelakai seseorang.
Kirana meraba-raba lantai, beringsut mundur menjauhi suaminya. "Arga... Apa yang kamu lakuin ke Tasya?! Kamu bunuh dia, Ga?! Dia sahabatku!" teriak Kirana histeris.
Arga tertawa kecil. Ia melangkah mendekat, berjongkok di depan Kirana, lalu menarik dagu istrinya dengan kasar.
"Aku nggak bunuh dia, Sayang. Kan aku udah bilang di telepon tadi, polisi jalan raya keburu datang. Sahabat tersayangmu itu cuma butuh ambulans. Mungkin sekarang dia lagi koma di ruang ICU, atau mungkin tulang belakangnya patah. Siapa yang tahu?" jawab Arga dengan senyum mematikan.
"Kamu iblis, Arga! Tasya nggak salah apa-apa! Kenapa kamu lakuin ini ke semua orang di sekitarku?!" isak Kirana, memukul dada suaminya dengan kedua tangannya yang lemah.
Arga menangkap kedua pergelangan tangan Kirana dan mencengkeramnya dengan kuat. "Karena kamu yang mancing aku, Kirana! Aku udah bilang, jadilah istri buta yang penurut! Tapi kamu malah coba-coba hubungin orang luar di belakang punggungku!"
"Aku cuma mau minta tolong, Ga! Aku ketakutan tinggal di rumah ini!"
"Minta tolong untuk apa? Untuk nyebarin cerita karanganmu soal pembunuhan Bi Titin dan Kacul?! Dengar baik-baik, Kirana," Arga mendekatkan wajahnya, meniupkan napas hangat yang terasa menjijikkan di telinga istrinya. "Mulai detik ini, nggak ada satu pun orang yang bisa nyelamatin kamu. Kamu benar-benar sendirian."
Arga melepaskan tangan Kirana, lalu berdiri. Pria itu berjalan menuju meja kerja, meraih kabel telepon rumah, dan menariknya dengan sekali sentakan keras hingga kabel itu putus dari soket di dinding.
"Nah, sekarang mainanmu udah rusak," ucap Arga sambil melempar kabel telepon itu ke lantai. "Oh ya, mumpung kita lagi ngobrol santai, ada satu kabar gembira yang mau aku sampein ke kamu, Sayang."
"K-kabar apa lagi, Ga? Apalagi yang mau kamu hancurin dari hidupku?" lirih Kirana, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Ingat dokumen proyek pembangunan mall yang aku suruh kamu tanda tangani beberapa waktu lalu?"
"Iya... Kenapa dengan dokumen itu?"
"Sebenarnya, itu bukan dokumen proyek, Sayang. Itu adalah surat kuasa mutlak. Surat pemindahan seluruh aset, saham mayoritas perusahaan ayahmu, sampai rekening pribadimu di bank... semuanya secara sah udah berpindah ke namaku hari ini."
Kirana membelalakkan matanya yang dikosongkan. Ia menahan napas, membiarkan raut wajahnya menampilkan keterkejutan dan kehancuran yang sangat natural.
"Apa maksud kamu, Ga?! Kamu nipu aku?! Itu perusahaan milik keluargaku!" jerit Kirana dengan suara melengking, berusaha bangkit berdiri namun tubuhnya sengaja ia buat limbung hingga terjatuh kembali.
"Bukan nipu, Sayang. Aku cuma mengambil apa yang pantas buat aku," jawab Arga sambil bersedekap dada, menatap istrinya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kamu itu udah buta, Kirana. Kamu nggak punya kemampuan buat mimpin Larasati Corp. Jadi, sebagai suami yang berbakti, aku yang ngambil alih beban berat itu."
"Balikin perusahaanku, Arga! Balikin semuanya! Aku bakal laporin kamu ke polisi! Aku bakal seret kamu ke pengadilan karena pemalsuan dokumen!" teriak Kirana sambil menangis sejadi-jadinya, meremas karpet di bawahnya.
"Laporin aja kalau kamu bisa keluar dari rumah ini, Sayang," ejek Arga seraya tertawa lepas. "Lagipula, kalaupun kamu sampai ke pengadilan, Dokter Alibie udah siap bersaksi kalau kamu mengalami gangguan jiwa berat akibat kebutaanmu. Siapa hakim yang mau percaya sama kesaksian orang gila?"
Dada Kirana bergemuruh. Rasa benci dan dendamnya semakin mengkristal melihat tawa puas pria di depannya.
"Kamu benar-benar bukan manusia, Arga... Kamu ngerampas semua milikku," ratap Kirana dengan suara serak.
"Jangan salah sangka, Sayang. Mulai hari ini, kamu cuma numpang di rumahku. Makan dari uangku. Jadi, bersikaplah manis. Kalau kamu jadi istri buta yang penurut, aku mungkin bakal ngasih kamu makan tiga kali sehari. Tapi kalau kamu berani macam-macam lagi..." Arga menendang pecahan botol parfum di lantai hingga mengenai lutut Kirana. "Aku nggak akan segan-segan bikin kamu nyusul orang tuamu."
Arga membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan. "Aku mau mandi air hangat. Bersihin pecahan kaca ini sebelum kamu keluar dari ruanganku."
Pintu ditutup dengan keras. Kirana duduk sendirian dalam keheningan. Ia menyentuh lututnya yang sedikit tergores pecahan kaca. Air matanya seketika berhenti mengalir. Ekspresi wajahnya berubah sekeras batu karang.
'Kamu pikir kamu sudah menang, Arga? Kamu baru saja masuk ke dalam permainanku yang sebenarnya. Nikmatilah kemenangan sesaatmu ini.'
Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah, Rena mondar-mandir di ruang tamunya dengan napas yang memburu. Penampilannya sangat berantakan. Kemejanya kusut dan rambutnya acak-acakan. Ia terus menggigit kuku jarinya sambil menatap layar ponselnya.
Sistem keamanan apartemennya baru saja berbunyi. Ada sebuah kiriman paket anonim di depan pintunya.
Dengan tangan gemetar, Rena membuka pintu perlahan. Tidak ada siapa-siapa di lorong. Hanya ada sebuah amplop cokelat besar tergeletak di keset. Rena mengambilnya dan segera mengunci pintu kembali.
Ia merobek amplop itu dengan cepat. Isinya membuat jantung Rena seakan berhenti berdetak.
Di dalam amplop itu terdapat bukti cetak transfer perbankan yang menunjukkan bahwa dana cadangan Larasati Corp benar-benar telah masuk ke dalam rekening offshore miliknya. Dan yang lebih parah, ada selembar foto hasil cetakan rekaman CCTV jalan tol yang menunjukkan mobil SUV hitam milik Arga menabrak mobil Tasya.
Tiba-tiba, ponsel Rena berdering keras. Nama "Arga" muncul di layar.
Dengan gemetar, Rena mengangkat panggilan itu. "H-halo, Arga?"
"Gimana, Rena? Udah merasa aman sembunyi di apartemenmu?" sapa suara bariton Arga dari seberang dengan nada mengejek.
"Arga, sumpah! Aku nggak tahu menahu soal uang yang masuk ke rekeningku! Ada yang sengaja menjebakku! Kamu harus percaya sama aku!" jerit Rena panik.
"Tenang, Rena. Nggak usah teriak-teriak. Justru aku menelepon buat ngucapin terima kasih sama kamu," ucap Arga santai.
"Terima kasih? Maksud kamu apa?!"
"Peretasan palsu yang kamu bikin tadi pagi itu benar-benar berguna. Gara-gara kekacauan itu, dewan direksi jadi panik. Aku pakai alasan krisis darurat buat maksa mereka nyetujuin peralihan seluruh aset Kirana ke namaku hari ini juga. Semuanya, Rena. Larasati Corp sekarang mutlak milikku."
Mata Rena terbelalak. "Kamu... Kamu manfaatin situasi ini buat ngerampas semuanya sendirian?!"
"Tentu saja. Dan tebak siapa yang sekarang jadi buronan utama dewan direksi karena dituduh menggelapkan dana perusahaan? Kamu, Rena. Bukti digitalnya mengarah kuat ke IP komputermu dan rekening pribadimu."
"Kamu jahat banget, Arga! Kita ini rekan! Kenapa kamu jadiin aku kambing hitam?!" isak Rena, tubuhnya merosot ke lantai apartemen.
"Kamu sendiri yang ngancam aku tadi pagi pakai rekaman suara itu, kan? Kamu pikir aku bakal diam aja diancam sama bawahan sendiri?" balas Arga dengan tawa dingin. "Sekarang posisimu kejepit, Rena. Kalau kamu berani bocorin rekaman itu ke polisi, aku bakal serahin bukti penggelapan dana ini. Kamu bakal membusuk di penjara dengan tuduhan pencucian uang kelas kakap."
"Aku nggak mau masuk penjara, Arga! Tolong aku! Uang itu bahkan nggak bisa aku tarik karena sistemnya langsung dibekukan sama bank!"
"Makanya, jadilah anjing peliharaan yang penurut. Besok pagi, datang ke kantor, beresin semua sisa laporan keuangan, dan tutup mulutmu rapat-rapat. Selama kamu nurut, aku bakal bikin seolah-olah peretasannya dilakukan oleh pihak luar yang nggak dikenal. Paham kamu?"
"B-baik, Arga. Aku paham..." jawab Rena dengan suara serak menahan tangis.
"Bagus. Sampai ketemu besok di kantor, Sayang."
Klik.
Arga memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Rena melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Ia berteriak histeris, menyadari bahwa ia kini telah kehilangan segalanya. Ia tidak punya harta, tidak punya kekuasaan, dan hanya menjadi boneka hidup di bawah cengkeraman pria psikopat yang kapan saja bisa membunuhnya.
Tidak ada yang gratis dalam keserakahan ini. Baik Arga, Rena, maupun Kirana, kini harus bermain di atas jurang kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,