Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Hari pertama Ospek Gabungan Universitas Padjadjaran diawali dengan kabut tebal yang menyelimuti kawasan Jatinangor. Suhu udara berkisar pada angka enam belas derajat Celsius, memaksa ribuan mahasiswa baru yang mengenakan kemeja putih dan rok atau celana hitam merapatkan jaket serta memeluk papan nama masing-masing di lapangan.
Di dalam sedan hitam yang terparkir tenang di bawah naungan pohon perus dekat bundaran utama, Kirana sedang mengaitkan kancing kemeja lengan panjangnya. Di sampingnya, Kenan mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan mengisi kabin selama beberapa saat sebelum masa riuh Ospek dimulai.
"Coba gue periksa papan namanya," ujar Kenan dengan suara rendah khas bangun tidur yang hangat.
Kirana menyerahkan papan dada berukuran A4 berbingkai pita merah-putih. Kenan memeriksanya dengan teliti dari kerapian tulisan nama lengkap, nomor gugus, hingga stempel kelayakan berkas yang telah diverifikasi kemarin. Jemari tegap Kenan mengusap permukaan kertas tersebut sebelum menyerahkannya kembali.
"Sudah sempurna. Beberes tasnya jangan ada yang ketinggalan," kata Kenan.
Ia kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah tempat perhiasan beludru kecil. Ketika dibuka, dua cincin perak polos berkilau diterpa sinar matahari pagi yang tipis.
Kenan mengambil cincin milik Kirana, lalu menggenggam jemari tangan kiri istrinya.
"Waktu di sekolah, kita terikat aturan yang membuat kita harus pura-pura asing," ucap Kenan, menatap lurus ke dalam manik mata Kirana. "Tapi di sini, di Unpad dan ITB, tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan kenyataan. Cincin harus dipakai."
Kenan memasang kan cincin perak itu ke jari manis Kirana, lalu memasang cincinnya sendiri di jari manis tangan kirinya.
Kirana menatap jarinya yang telah terpasang cincin pernikahan mereka. Perasaan haru membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Ia mendekat dan mencium punggung tangan Kenan.
"Makasih ya, Ken. Hati-hati di ITB nanti," bisik Kirana.
"Jam empat sore gue bakalan kesini lagi. Kalau ada apa-apa, langsung telepon," pesan Kenan tegas. Sebelum Kirana membuka pintu, Kenan meraih tengkuk istrinya dan mendaratkan ciuman hangat di keningnya cukup lama, mengalirkan kekuatan dan rasa aman yang tak tergoyahkan.
Suasana Ospek Fakultas Ilmu Komunikasi terasa sangat dinamis sekaligus menegangkan. Ratusan mahasiswa baru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil di bawah pengawasan para senior berjaket almamater biru tua.
Kirana masuk ke Kelompok 12. Di sana, ia berkenalan dengan Nabila, mahasiswi asal Jakarta yang supel dan ramah. Mereka duduk bersila di atas lapangan rumput seraya menyimak pengarahan tata tertib akademik.
"Gue merinding banget pas masuk gerbang tadi, Kir," bisik Nabila seraya merapatkan syalnya. "Tapi ngomong-ngomong, tadi pas di bundaran gue liat lo diturunkan sama cowok yang bawa sedan hitam. Bawaannya kelihatannya berkelas banget. Kakak lo ya?"
Kirana tersenyum tipis, merapikan letak papan namanya. "Bukan, Nabila. Dia suami gue."
Nabila yang sedang meminum air mineral langsung tersedak pelan. Matanya membelalak lebar, memandang Kirana seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri. "Hah! S-suami?! Kir, kita kan baru lulus sekolah tiga hari lalu. Lo serius? Nggak lagi becanda kan?!”
"Gue serius," jawab Kirana tenang dan percaya diri. Ia menunjukkan jari manis tangan kirinya yang melingkar cincin pernikahan. "Kita udah nikah resmi secara hukum dan agama. Dia kuliah di ITB."
Nabila menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatap Kirana dengan rasa takjub dan kagum. "Gila... keren banget lo, Kir. pantesan aura lo tenang banget, ternyata udah ada yang jagain lo di belakang lo."
Namun, ketenangan itu terusik ketika panitia pengarah kelompok datang mendekati barisan mereka. Seorang pemuda bertubuh jangkung dengan name tag bertuliskan Aris - Ketua Kelompok Senior melangkah mendekat. Aris memiliki pembawaan yang cukup populer di kalangan mahasiswa baru, namun matanya yang tajam langsung tertuju pada Kirana sejak sesi pembukaan tadi.
"Kelompok 12, kumpulkan lembar biodata dan analisis studi kasus sekarang," perintah Aris dengan suara tegas.
Saat Kirana menyerahkan lembar kertasnya, Aris sengaja menahan ujung kertas tersebut beberapa detik lebih lama, menatap paras cantik Kirana dari dekat. "Kirana Amanda, lulusan SMA Garuda Jakarta," baca Aris pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Catatan prestasi Mading kamu luar biasa. Nanti jam istirahat siang, kamu saya tunggu di sekretariat BEM untuk diskusi draft buletin kampus."
Permintaan itu terdengar seperti tugas, namun intonasi dan sorot mata Aris memperlihatkan ketertarikan yang cukup jelas.
Kirana menatap Aris dengan pandangan sopan namun penuh jarak. Ia mengangkat tangan kirinya secara wajar saat menarik kembali sisa berkasnya, membuat cincin perak di jari manisnya terpapar jelas di bawah sinar matahari.
"Maaf, kak Aris," jawab Kirana dengan suara halus dan sangat teratur. "Untuk diskusi buletin atau tugas kelompok, saya rasa lebih efektif jika dibahas bersama seluruh anggota di selasar fakultas saat jam resmi. Setelah jam kegiatan usai, saya harus langsung pulang karena suami saya sudah menjemput."
Kata suami saya diucapkan Kirana dengan kejelasan yang amat tegas.
Aris tertegun di tempatnya. Matanya tertambat pada cincin perak di jari manis Kirana. Raut wajahnya yang tadinya penuh percaya diri berubah menjadi sedikit kaku, sebelum akhirnya ia berusaha menguasai diri dengan mengangguk singkat.
"Oke. Kita bahas di selasar bersama yang lain," ujar Aris singkat lalu berbalik meninggalkan barisan.
Nabila menyenggol lengan Kirana seraya berbisik kagum. "Skakmat! Cara lo nolak halus tapi telak banget, Kir!"
“Lagian pesona Lo parah banget masa baru masuk langsung bikin kak Aris itu suka sama lo” ujar Nabila lagi sambil berdecak kagumi.
Kirana terkekeh, “kok Lo bisa sepeka itu”
“Ck, tau lah, dari tatapan matanya kelihatan banget suka sama lo atau lebih tepatnya tatapan pandangan pertama” Nabila mendengus sendiri. Kirana malah terkikik mendengar ucapan teman barunya itu.
“Ck, gue tau gue cantik tapi tetap aja gue udah setia sama Kenan, suami tercinta gue” Batin Kirana tertawa sendiri pada dirinya saat menyebut suami tercinta.
….
Sementara itu, di Kampus ITB Ganesha, suasana Ospek Jurusan Teknik Industri berlangsung dengan tingkat kedisiplinan dan tekanan mental yang jauh lebih tinggi. Ratusan mahasiswa baru dikumpulkan di ruang aula utama untuk mengikuti tes evaluasi logika dan kepemimpinan.
Kenan duduk di barisan paling depan. Postur tubuhnya yang tegap, pembawaannya yang dingin, serta kemampuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan komprehensif dari dosen pembina membuat seluruh ruangan menaruh perhatian padanya.
Saat jam istirahat siang pukul 12.15 WIB, Kenan duduk di selasar gedung aula bersama Rian, tetangga baru mereka dari Dago yang masuk Jurusan Teknik Sipil.
"Gila ya, Ken," ujar Rian seraya membuka botol minumnya.
"Hari pertama aja tekanan soalnya udah kayak ujian akhir. Tapi muka lo datar-datar aja dari pagi, heran gue"
"Udah biasa pas ngatur tim OSIS dulu," jawab Kenan terlalu santai membuat Rian berdecak. Ponsel di saku jasnya bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor khusus tim keamanan keluarga yang disewanya kemarin malam.
Kenan membuka pesan tersebut. Berkas digital mengenai pelacakan nomor misterius yang mengirimkan pesan ancaman ke ponsel Kirana telah keluar.
[Laporan Keamanan]: Nomor seluler terdaftar atas nama mantan anggota struktur yayasan Jakarta yang terkoneksi dengan pihak keluarga Clarissa. Posisi sinyal berada di kawasan Jatinangor dekat area kost mahasiswa.
Mata Kenan menyempit. Cahaya dingin yang mematikan terpancar dari manik matanya. Dugaan mereka benar , ada hubungan nya dengan masalah dari Jakarta mencoba memanfaatkan transisi perkuliahan ini untuk menekan Kirana dari dekat.
"Ken? Lo kenapa?" tanya Rian heran melihat perubahan suasana di sekitar Kenan yang mendadak sangat mengintimidasi.
Kenan menutup layar ponselnya, memasukkannya kembali ke dalam saku. "Rian, lo tahu daerah kos-kosan utama di sekitar gerbang lama Unpad?"
"Tahu banget. Kenapa? Apa ada masalah?!"
"Tolong simpan nomor kontak anak-anak Himpunan Sipil yang biasa pegang area sana. Gue butuh pemantauan lingkungan minggu ini," kata Kenan dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
Rian menelan ludah, menyadari bahwa ketenangan tetangganya ini mengandung kekuatan yang sangat berbahaya jika ada yang berani mengusik ketenangan nya. "Oke, ntar malam gue kirim semua kontaknya ke lo."
Pukul 16.00 WIB, bel tanda berakhirnya seluruh rangkaian Ospek hari pertama di Unpad Jatinangor berbunyi. Ribuan mahasiswa baru berjalan berhamburan keluar dari gerbang fakultas menuju area penjemputan.
Kirana berjalan bersama Nabila menyusuri jalan setapak dekat bundaran. Udara sore Jatinangor terasa semakin dingin, diiringi angin gunung yang berhembus cukup kencang.
"Kirana!" panggil sebuah suara dari arah samping.
Aris melangkah mendekat bersama dua orang panitia senior lainnya. "Mengenai draf revisi studi kasus tadi, besok pagi kamu harus kumpul jam enam di depan sekretariat ya."
Sebelum Kirana sempat memberikan tanggapan, suara deru mesin mobil yang familiar terdengar mendekat. Sedan hitam Kenan berhenti tepat di pinggir jalan, hanya berjarak dua meter dari posisi mereka berdiri.
Pintu kemudi terbuka. Kenan keluar dari mobil. Kemeja putihnya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Pengawasannya yang tajam dan berwibawa langsung mengunci Aris dan senior-senior di sekitar Kirana.
Kenan melangkah mendekati Kirana tanpa ragu sedikit pun. Di depan mata Aris, Nabila, dan belasan mahasiswa baru lainnya, Kenan mengulurkan tangannya, meraih jemari tangan kiri Kirana dan menggenggamnya erat memamerkan cincin pernikahan mereka yang identik di jari manis mereka berdua.
"Ada masalah administrasi yang belum selesai dengan istri saya?" tanya Kenan. Suara bariton rendahnya bergema sangat tenang, namun mengandung tekanan dominasi yang membuat suasana di sekitar mereka seketika menjadi hening.
“Astaga! mode cemburu suami gue mulai on!” Jerit Kirana dalam hati.
Aris membeku di tempatnya. Melihat perawakan Kenan, mobil yang digunakannya, serta aura otoritas yang dipancarkan pria di depannya, Aris sadar betul bahwa Kirana bukanlah mahasiswi baru biasa yang bisa ia dekati dengan posisi kekuasaan seorang senior.
"E-enggak ada," jawab Aris terbata pelan, mencoba mempertahankan sisa wibawanya. "Cuma penyampaian jadwal besok."
"Jadwal resmi fakultas sudah tertera di papan pengumuman rektorat," pangkas Kenan dingin. "Istri saya akan datang sesuai jam resmi, bukan instruksi terpisah."
Kenan lalu merangkul pinggang Kirana, membimbing istrinya mendekati pintu penumpang depan. Ia membukakan pintu untuk Kirana dengan sangat lembut, menunggu sampai Kirana duduk nyaman di dalam, baru kemudian menutupnya kembali.
Sebelum masuk ke kursi kemudi, Kenan menatap Aris sekali lagi dengan tatapan peringatan yang sangat jelas.
Mobil sedan hitam itu perlahan melaju meninggalkan kawasan Jatinangor, membelah jalanan sore menuju Tol Purbaleunyi.
Di dalam kabin mobil yang hangat dan harum aroma kopi, Kirana menghela napas panjang seraya menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kenan.
"Gue tadi deg-degan banget pas lo turun, Ken," ujar Kirana memegang jemari Kenan yang berada di atas konsol tengah.
Kenan melirik istrinya dengan senyuman tipis yang hangat. "Kenapa harus takut? Selama gue masih berdiri di samping lo, gak ada satu orang pun di kampus itu yang bisa menekan atau mengganggu lo."
Kenan lalu menggenggam erat tangan Kirana, mengangkatnya dan mencium cincin perak di jari manis istrinya. "Pesan misterius tadi pagi sudah gue lacak. Pelakunya sudah jelas ada hubungan nya dengan masakan di Jakarta yang coba main-main di Jatinangor. Tim keamanan udah urus pembekuan akses mereka sore ini."
Kirana memandang suaminya dengan rasa kagum yang meluap-luap. Di balik kelembutan dan perhatian yang diberikan Kenan di rumah, pria ini adalah sosok pelindung tangguh yang sanggup menumbangkan setiap ancaman bahkan sebelum ancaman itu sempat menyentuhnya.
"Makasih ya, Kenan," bisik Kirana tulus. "Untuk semuanya."
"Sama-sama," jawab Kenan mesra.
“Gue harus ucapkan terimakasih sama ortu gue karena udah jodohin gue sama Kenan, so sweet banget” jerit Kirana dalam hati. Ck seperti nya ia menelan ludah sendiri, dulu saja ia begitu membenci Kenan sebab dihukum karena telat.
Bersambung…