Masih proses remake :v
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carlito Vazquez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Kemah Tes
"Kau, bagaimana bisa?! Garis lengkungan apa itu!?"
Garis lengkungan? Oh, dia membicarakan yang tadi kulihat. Ini milik siapa– Jangan-jangan, aku??
"Dengan ini, BERAKHIR SUDAH!!"
Kenapa jurus itu tidak bekerja? Apakah ... cuma kebetulan?
Hari ini masa skorsku berakhir, tepatnya seminggu setelah acara puncak festival. Sekarang aku di rumah, membaca buku sihir Takedown. Entah kenapa kekalahan waktu itu jadi terbayang-bayang sekarang.
"Di mana...?" Halaman demi halaman, kucari terus penjelasan mengenai energi lengkungan itu. "Tidak ada, sampai bagian terakhir pun aku tak menemukannya. Mungkin itu bukan sihir Takedown–" Mendadak aku kepikiran sesuatu.
Paman pernah mengatakan ini. Jika aku membutuhkan ilmu yang kuinginkan, maka buka ruang bawah tanah. Tidak membutuhkan kunci, katanya kuhanya perlu membuka pintunya.
Justru itu yang kuragukan. Sejak awal, aku sekalipun belum pernah mencobanya.
Aku pun berdiri, tidak lupa mengembalikan buku tadi ke laci meja. "Mungkin akan kucoba hari ini." Pintunya ada di kamarku, untuk ke sana aku hanya perlu ke belakang, tanpa berbelok.
Aneh rasanya ... padahal tiap hari kulewati, hal pertama yang selalu kulihat setelah bangun. Dan sekarang, aku malah baru berniat memeriksanya. Seperti kata orang, ketertarikan pasti diiringi dengan niat.
"Apa benar, cuma Llyod saja yang mampu membuka– Nya...." Terbuka tuh. Barusan, energi sihirku seperti terkuras begitu saja– K-kepalaku.... "A-apa ini?! Informasi tempat ini mendadak masuk ke kepalaku?!" Membuatku seketika menghapal denah dan barang di sana.
H-hebat! Nggak kusangka begitu banyak barang di sini. Buku, senjata, alat, bahkan benda aneh pun ada. Buku sihir Takedown seri ke-2– Serius? Jilid kedua?? Tidak bisa kupercaya, sesuatu yang kubutuhkan benar-benar ada di depan mataku!
Kini kupegang, melihatnya sembari terheran-heran. "Paman itu peramal 'kah?? Kok bisa–"
Gumamanku terhenti gara-gara kemunculan seruan ini, "Zale~! Berangkat bareng yuk~!" Suara yang begitu menyebalkan ini ... dia. Orang aneh itu.
Bukunya kututup tanpa sempat terbaca, kukembalikan ke tempatnya dan aku langsung naik ke atas. Tentu takkan kubiarkan siapa pun melihat tempat itu. "Tunggu dulu, Yuba! Aku akan segera ganti baju," ucapku setelah menutup pintu.
Aman. Untung dia di Interior toko.
****
"Yah~! Pagi yang enak banget," ungkap Yuba seusai menghirup udara sembari mengangkat kedua tangannya. "Fuuh ... kuuuh~! Rasanya seperti lama tidak datang ke sini."
Ya. Apa saja yang kami lewatkan?
"Palingan nggak terjadi apa-apa." Toh itu yang kukatakan. Mendadak pikiranku berubah ketika melihat kerumunan di depan gerbang sekolah. "Hmm? Yuba, memangnya hari ini ada pemeriksaan?"
Dia hanya menggelengkan kepalanya, juga sama bingungnya sepertiku.
"Baik, jangan main dorong-dorong~! Pemeriksaan akan cepat selesai jika kalian bersabar."
"Buku, bekal, dan alat tulis. Tidak ada yang mencurigakan. Ini, kamu boleh lewat sekarang."
"Tidak boleh lho! Membawa majalah dewasa itu melanggar peraturan, jujur juga sangat tak sopan. Kusita ini."
"T-tidak mungkin ... padahal baru kemarin belinya."
Uwah, lumayan tegang di sana. Komisi Kedisiplinan melakukan pemeriksaan yang cukup ketat. Yah, bukan berarti itu buruk untukku. Lagipula aku tidak pernah membawa barang mencurigakan.
Begitu menengok sebelah, saat itulah aku baru menyadari teman anehku ini tengah panik. "G-gawat!" serunya langsung memutar tas punggungnya ke hadapan dadanya, membuka dan menengok isinya. "Aku dalam bahaya Zale! H-hari ini aku juga membawa majalah dewasa."
Mendengarnya saja sudah memberiku alasan yang cukup untuk menepuk wajah.
"A-aku pulang dulu!!" Berbalik dan secepat kilat lari ke arah berlawanan dengan sekolah, sekejap saja sosoknya bisa langsung hilang dari pandangan.
"Ya ampun." Tanpa membuang waktu lagi, kuputuskan segera memasuki barisan pemeriksaan. Cukup beruntung karena tidak bertambah lagi, kebetulan ini deretan panjang terakhir.
Lima menit berlalu, akhirnya tiba giliranku. Sisa orang yang belum diperiksa bisa dihitung jari, bahkan anggota Komdis di sini hanya tersisa tiga orang.
"Ohh! Temannya Yuba*-ya*\~ Pagi. Sudah kelar skorsnya?" Kakak perempuan Yuba. Benar-benar nggak jauh banget dari adiknya\, belum apa-apa sudah berisik. "Eh? Di mana??"
"Jika senior mencari Yuba...." Kuangkap jari tangan di atas bahu, menunjuk belakang dengan jempol. "Kira-kira lima menit yang lalu, adikmu pulang ke rumah lagi." Di saat yang sama kuserahkan tasku kepadanya. "Ini, silakan periksa."
"Dasar~ Adikku ini. Pasti dia membawa majalah itu," umpatnya dikala tangannya dengan tenang dan cepat memeriksa isi tasku.
Aku tidak mau menghabiskan awal hariku dengan mendengarkan omongan orang aneh, jalani aja dan jangan tanya apa pun. Yakinlah pertanyaanmu akan terjawab di kelas nanti, Zale.
****
Fiuh ... akhirnya bisa duduk santai di kursiku. Jam menunjukkan pukul 06:56, teman-teman sekelasku satu demi satu berdatangan. Ada yang sudah sejak awal di sini, masih menyibukkan diri, ada juga yang mengobrol dengan kawannya.
Hingga suatu ketika, gadis bersurai hitam dengan netra ungu pemilik senyum malaikat ini melintas di sebelah. Langsung melambai tangan sehalus mutiaranya, menyapaku. "Selamat pagi, Zale."
*Deg* *Deg* *Deg*
Reflek kupegang dadaku, merasakan betapa kencangnya detak jantung. Merasa seperti sudah lama tak merasakan perasaan bergejolak ini. Aku bisa mendengar hatiku baru saja berteriak senang.
"P-pagi...." Hasilnya kujawab gagap tanpa memperhatikannya. Bagaimana tidak, pipi semerah ini mana bisa kuperlihatkan padanya.
Dia memang tidak curiga dan langsung melanjutkan langkahnya. Entah kenapa aku merasa payah sekarang.
Terima kasih asupan paginya!
Pukul tujuh pagi, kelas sepenuhnya terisi. Barusan juga ada guru masuk, tidak membawa apa pun. Dia bukan Bu Arte, malah Pak Fredrick. Wali kelas orang biasa ruang kesatu ini.
"Semuanya lengkap?"
Ketua kelas langsung berdiri. "Ya! Tidak ada keterlambatan hari ini," jawabnya sopan menggunakan nada yang sesuai. Lalu duduk kembali.
Apa pertanyaanku benar-benar akan terjawab sekarang?
"Kalian masih ingat apel dua minggu lalu? Benar, hari ini Bapak akan mulai menjelaskan soal kemah tes itu. Tolong untuk didengarkan baik-baik, karena cukup penting untuk persiapan di lokasi nanti."
Kemah tes, penjelasannya kira-kira sama persis dengan yang dikatakan kakaknya Yuba. Hanya di sini, ada informasi tambahan berupa kapan dan siapa pengetes khususnya.
Pesertanya tentu seluruh tahun pertama, nantinya akan berangkat bersama masing-masing wali kelas menggunakan balon udara. Pemberangkatan dimulai pukul tiga sore, makanya sekarang para murid diberikan waktu untuk persiapan.
"Itu saja yang bisa Bapak sampaikan. Hari ini tidak ada pelajaran, jadi gunakan delapan jam kalian sebaik mungkin." Pak Fredrick mulai melangkah pergi. "Jangan sampai telat ya–" Sosoknya sepenuhnya menghilang dari pandangan.
Baiklah, untuk sekarang tokonya harus ditutup. Jika tidak, bisa kemasukan pencuri. Tiga hari ... bukan waktu yang lama, para pelanggan pasti takkan keberatan.
****
Delapan jam berlalu, aku pun segera pergi ke aula sekolah. Tengah perjalanan, Yuba dan Chloe baru saja menyusulku. Tak lama kemudian, Kurin dan Senior Luna juga muncul.
"Senior! Kau 'kan bukan tahun pertama, buat apa ikut ke aula juga?" tanyaku.
"Mau bagaimana lagi~ Sebagai Ketua Komdis aku juga harus di sana, menjaga ketertiban bersama anggotaku."
Sebenarnya aku juga tidak begitu mempermasalahkannya, toh yang tadi sekedar iseng nanya. Meski aneh, dia masih terlihat sangat bisa diandalkan.
"Dek Kurin, manis banget~!" Kakak Yuba sejak tadi memeluk gadis labil itu, terus membawanya seperti boneka. Lihat, orangnya menatapmu penuh benci sekarang. Matanya menyala merah terang, bagai hewan buas.
Seketika berubah begitu senior aneh itu mengendus rambutnya. "Kyaa– Lepasin! Lepasin! Hwehhehe...." Layaknya anak kecil, dia mencoba melepaskan diri, tapi sayangnya tak berdaya. Berakhir merengekkan hal yang sama.
"Kyuuh~ Pingin banget kujadiin adik, Dek Kurin mau 'kan?"
"Aku bukan anak kecil senior! Lepasin dong hwehee...."
"Tapi~! Rasanya kurang banget cuma punya adik laki-laki yang manis, Luna juga mau adik perempuan~!" Makin lama senior suka mengeluskan wajahnya pada pipi Kurin, begitu gemas menyayangi gadis yang bahkan tidak pendek itu.
Nggak pantes banget. Lihat hal lain aja ah.
"Kau tadi ke mana sehabis pengumuman tadi?" tanya Yuba yang baru saja menyenggol tanganku dengan siku.
"Oh itu, cuma balik ke rumah. Tokonya harus kututup."
"Benar juga." Kini pandangannya terfokus pada benda yang kubawa, terlihat penasaran. "Buku itu...."
"Buku latihan sihir Takedown jilid kedua. Pagi tadi aku menemukannya di kamar."
"Heh ... kelihatan sudah tua." Chloe. Dia nampaknya ingin bergabung ke percakapan. "Pamannya Zale ternyata juga bisa lupa merawat buku ya. Syukurlah sekarang bisa dirawat olehmu, hehe."
Paman 'kah ... rahasianya memang terlalu banyak. Di mana dia bekerja, dari mana buku-bukunya, dan kenapa dia jarang menceritakan soal dirinya. Sampai sekarang aku belum mengetahuinya.
Tapi, mengejutkan sekali. Aku tidak pernah tahu soal jilid kedua ini. Waktu kecil, paman pernah bilang kalau dia menghilangkannya di suatu tempat. Pantas saja nggak ketemu di rumah ibu, toh ternyata tergeletak di rumah lamanya.
"Apa saja isinya?" tanya Yuba antusias.
Jilid kedua ini memiliki 121 halaman. Pagi itu, sekilas aku melihat halaman mengenai tata cara menyeimbangkan energi sihir pada titik tertentu. Mari lihat....
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Pemusatan Energi pada Titik tertentu
Dengan sihir Takedown, penyihir dimungkinkan mampu memfokuskan energi sihirnya di satu maupun banyak titik pada tubuhnya. Perlu diketahui bahwa jumlah Mana yang dikeluarkan tidak boleh sembarangan, takarannya harus sesuai dengan sihir yang digunakan dan tubuh penyihirnya.
Keseimbangan adalah kunci dari penguasaan Takedown. Berbeda dengan Sculpt, sihir ini sebenarnya akan sangat membebani penggunanya dan bisa berbahaya jika energi sihir yang digunakan tak seimbang terlalu lama.
Maka dari itu penyihir diharuskan mampu mengendalikan seberapa banyak sihir yang digunakan dan dipusatkan pada tubuh. Berikut cara memudahkan pengendaliannya :
· Meditasi
· Olahraga
· Bertarung langsung
· Tarik napas dan fokus
III
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
"Ternyata hampir nggak ada bedanya dengan punyaku."
"Ya." Memang sih, sejak awal aku sudah tahu itu.
"Kapan-kapan mau latihan denganku?"
Bukan tawaran yang buruk. Aku tidak ada alasan untuk menolak. Lagipula, kudengar dia punya banyak alat latihan sihir, salah satunya Floaters yang dibelinya waktu itu. Konsep sihir kami hampir mirip.
Makanya sekarang kutunjukkan senyum senang bersemangat, mengacungkan jempol di hadapannya. Setelah itu kami tidak berbicara lagi, sebentar lagi gedung aula akan nampak.
****
Seusai apel.
"Anak-anak, bagaimana perasaan kalian?" tanya Pak Fredrick. Saat ini dia mengumpulkan kami–tahun pertama kelas bangawan satu–melingkarinya.
Apa yang kurasakan? Tidak ada yang spesial. Mungkin karena belum pernah ikut. Aku hanya merasa ... penasaran. Ingin tahu seperti apa kemah tes itu.
Memang, ini pertanyaan yang tidak perlu jawaban langsung. Dia hanya cukup melihat dan sudah, tersenyum yakin. "Ayo." Singkat tapi sederhana, itu saja mampu membuat kami mematuhinya.
"Uhhh~! Nggak sabar banget!"
"Mari kita berjuang, Zale."
Ya....
Kapal udara sihir, tepatnya Bloat. Hampir apa saja ada di sana. Ruang latihan kedap suara, pemandian, ruang hiburan, kamar tidur, ruang makan, dan perpustakaan. Sejak awal, kendaraan terbang ini milik Eisenwald. Atas izin Baginda Raja Sirius, Bloat ini bebas digunakan untuk tumpangan umum murid.
Yang masuk duluan, tentu anak-anak dari kelas bangsawan. Dari ruang pertama hingga akhir, satu per satu masuk bersama wali kelas mereka. Hingga akhirnya giliran kelasku tiba.
"Diharap masuknya urut sesuai nomer absen, biar pendataan dan konfirmasinya mudah," ucap Pak Fredrick sembari terus sedikit mendorong anak yang mendapat giliran masuk. "Saya megang kalian ada alasannya. Kepala Sekolah menempel sihir pendeteksi pada tangaku, untuk memastikan. Jadi tolong jangan menolak."
"Ya!!"
Semuanya terjadi begitu cepat, tahu-tahu cuma tinggal Yuba dan aku. Orang aneh itu masuk duluan, kemudian setelah tersentuh barulah aku menyusulnya.
Heeh ... dari dalam ternyata luas sekali. Kanan maupun kiri sama-sama panjangnya, kira-kira jika dibayangkan keseluruhannya berbentuk oval. Lalu yang di tengah ini pasti ruangan-ruangannya.
"Lihat-lihatnya bisa nanti. Untuk sekarang, Bapak antar ke kamar-kamar kalian."
Kamar? Oh ya, aku lupa menanyakan sesuatu.
"Pak," panggilku sembari mengangkat tangan.
"Kenapa, Nak?"
Begitu, rupanya cukup lama. Jarak yang harus ditempuh dari sini hingga Myeirs ternyata 250 kilometer. Kecepatan yang dimiliki Bloat hanya mencapai 30 kilo perjam, jadi kira-kira akan sampai dalam kurun waktu delapan jam setengah.
Kok bisa jauh? Wajar saja, toh dekat banget sama perbatasan Fyord-Horoki.
Setelah pembicaraan singkat ini, kami mulai pergi mengikuti Pak Fredrick. Memasuki kusen pintu yang tak jauh dari lokasi tadi, di saat itulah aku mulai tercengangkan dengan pemandangan di dalam.
Layaknya penginapan mewah, bagian tengah kapal ini memiliki Interior yang sangat luas. Terdapat tiga lantai. Lantai ini adalah tempat bebas. Perpustakaan, ruang makan, pemandian, dan semacamnya. Kumpulan kamar ada di lantai dua, lantai tiga merupakan ruang kontrol kapal.
"Sudah cukup sampai sini." Tangan Pak Fredrick menyentuh sebuah papan nama salah satu kamar di lantai dua ini. "Lihat ini? Benar, papan ini merupakan penanda siapa yang menghuni kamar tersebut. Yang lain juga berlaku."
"Teman-teman! Di sini ada papan denahnya lho!" seru Yuba melambaikan tangannya, dikala menoleh ke sini.
Mendengar itu mereka langsung berbondong-bondong ke sana, berdesakan, berebut posisi nyaman untuk mengamati.
"Selama perjalanan, kalian bebas berkeliling di sekitar kapal. Pastikan untuk tidak mengganggu pekerja di sini, jika lapar kalian bisa datang kapan pun ke ruang makan. Mengerti?"
Haha, sayang sekali Pak. Banyak yang nggak dengerin, bahkan malah pada langsung hilang dari pandangan. Tersisa aku, Yuba, dan Chloe.
Tapi nampaknya dia tidak mempermasalahkan itu, justru malah senyum-senyum aja. Tadinya sempat berbalik, tak jadi karena seperti baru teringat sesuatu. "Hampir lupa. Nak Yuba, bisa ikut Bapak sejenak? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Oke Pak~!"
Hanya berdua. Bagai dalam situasi yang–sebenarnya ramai–sunyi, tatapan mata kami bertemu. Diam seribu bahasa, terus memperhatikan satu sama lain.
Waduh, kok jadi canggung gini? Kau hanya perlu pergi Zale– Tidak tapi ... rasanya nggak sopan banget ninggalin teman begitu saja. Sebaiknya, apa yang kukatakan??
"Jika tidak keberatan, maukah kamu berkeliling bersamaku?" tanyanya sangat sopan, terdengar begitu halus dan seperti biasa menentramkan hati.
He– Y-ya!
Di saat bersamaan, terdengar suara langkah kaki, makin lama mendekat kemari. Reflek kutengok pemiliknya. Dia adalah pria berikat kepala yang mungkin juga orang biasa sepertiku, dilihat dari cara berpakaiannya.
"Yo. Jadi kau Zale Llyod yang terkenal itu. Nggak begitu jauh dari bayanganku."
"Lalu kau?"
"Namaku...."
To be Continued...
Chapter 1.1 : Pahlawan — Chapter 2.8 : Penguasa Kota (Jangan baca dulu selain chapter chapter ini)
(Catatan akan diperbarui tiap waktu)