"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Deru mesin mobil SUV hitam milik Ibra perlahan mereda saat kendaraan mewah itu berhenti sempurna di garasi rumahnya. Suasana di dalam kabin masih dibalut keheningan yang serasa menekan dada. Di kursi tengah, Maya tak henti-hentinya mengusap lembut punggung Naya yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu. Tubuh mungil anak empat tahun itu masih sesekali berguncang pelan, sisa-sisa dari rasa takut yang luar biasa usai menyaksikan raungan sang ayah di minimarket tadi.
Ibra mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya ke belakang. Pandangan matanya yang tajam kini melunak sepenuhnya saat menatap dua insan yang sangat ingin ia lindungi itu. Ada rasa sesak yang tak kasatmata mengganjal ulu hatinya melihat wajah Maya yang pucat bersimbah bekas air mata.
"Kita sudah sampai di rumah, Maya," ucap Ibra dengan suara berat namun diatur sedemikian lembut. "Ayo masuk ke dalam. Di luar tidak aman kalau Naya terus-terusan menahan tangis."
Maya mendongak pelan, mengangguk dengan bibir yang gemetar. "Iya, Kak..."
Ibra turun lebih dulu dari pintu pengemudi, melangkah lebar memutari mobil, lalu membukakan pintu tengah untuk Maya. Tanpa ragu, Ibra mengulurkan kedua tangannya dengan sikap yang amat hati-hati.
"Biar aku yang gendong Naya sampai kamar, Maya. Kamu pasti lelah dan masih syok," tawar Ibra tulus.
Maya sempat ragu sejenak, namun melihat tangannya sendiri yang masih berguncang akibat trauma bentakan Bayu, ia akhirnya mengangguk. "Tolong ya, Kak..."
Ibra merengkuh tubuh mungil Naya ke dalam dekapannya dengan amat hati-hati, seolah-olah sedang membawa barang pecah belah yang paling berharga. Naya sempat sedikit terperanjat, namun begitu mencium aroma maskulin yang menenangkan dan merasakan kehangatan dari dada Ibra, anak kecil itu justru semakin erat melingkarkan lengan kecilnya di leher Ibra.
"Suttt... Tidak apa-apa, Nak. Om Ibra di sini. Tidak ada orang jahat lagi," bisik Ibra pelan tepat di telinga Naya sambil mengusap lembut kepala anak itu.
Mereka melangkah masuk menyusuri lorong rumah yang tenang. Bik Nana yang menyambut di dekat pintu depan langsung terperanjat melihat kondisi Maya yang sembap dan Naya yang menyembunyikan wajahnya. Namun, dengan isyarat tangan yang halus, Ibra meminta Bik Nana untuk tidak banyak bertanya dan menyuruhnya membuatkan teh hangat serta susu cokelat hangat untuk Naya.
Ibra membawa Naya menuju kamar utama lantai bawah yang ditempati Maya dan putrinya. Dengan perlahan, pria bertubuh tegap itu membaringkan Naya di atas kasur empuk berseprai lembut. Maya bergegas duduk di tepi ranjang, melepas sepatu kecil Naya dan membelai rambut putrinya yang basah oleh keringat dingin.
Naya tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari ibu jarinya Maya, sementara tangan satunya lagi secara mengejutkan meraih ujung lengan kemeja Ibra yang hendak beranjak.
"Jangan pergi... Om Ibra jangan pergi..." lirih Naya dengan suara parau yang amat serak. Matanya yang sembap menatap Ibra penuh permohonan. "Nanti... nanti Pipo datang lagi... Pipo teriak-teriak lagi sama Mimo..."
Hati Ibra bagai ditusuk sembilu mendengar rintihan polos anak kecil yang terluka jiwanya tersebut. Pria itu mengurungkan niatnya untuk berdiri. Tanpa ragu, Ibra berlutut di samping ranjang, meletakkan tangannya yang besar di atas jemari mungil Naya.
"Om tidak akan ke mana-mana, Naya. Om ada di sini, menjaga Naya dan Mimo," ucap Ibra mantap, menatap lurus ke dalam iris mata Naya yang ketakutan. "Om janji, siapapun tidak akan ada yang boleh teriak-teriak atau jahat lagi sama Mimo dan Naya. Rumah ini aman."
"Beneran, Om?" t anya Naya polos, sebuah bulir air mata kembali menetes melewati pipinya yang kemerahan. "Pipo tadi galak banget... Mimo ditunjuk-tunjuk... Naya takut Mimo dipukul..."
Maya tidak sanggup menahan rasa sesaknya lagi. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, air matanya kembali tumpah deras. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya. Karena ketidakmampuannya di masa lalu, anaknya harus menyaksikan figur seorang ayah yang berubah menjadi sosok monster yang menakutkan.
Ibra yang melihat Maya menangis mendadak merasa dadanya begitu nyeri. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, dengan sangat canggung namun penuh ketulusan, ia mengusap punggung tangan Maya yang bebas.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Maya," bisik Ibra tegas namun menenangkan. "Kamu ibu yang luar biasa. Kamu sudah melindungi Naya sejauh ini dari bahaya yang sebenarnya. Hari ini bukan salahmu."
Maya menatap Ibra melewati selaput air matanya. Ketegasan di wajah pria itu, rasa aman yang memancar dari kehadirannya, dan bagaimana Ibra pasang badan di minimarket tadi mendadak membuat bayangan pembicaraan mereka tadi pagi kembali melintas. Apakah kamu siap saya nikahi? Pertanyaan itu kini tak lagi terasa seperti gertakan atau tawaran spontan, melainkan sebuah uluran tangan dari pelindung sejati.
Tak lama kemudian, Bik Nana masuk membawa nampan berisi teh hangat dan cangkir susu cokelat. Dengan sigap, Bik Nana membantu menyuapkan susu itu sedikit demi sedikit kepada Naya yang perlahan mulai tenang. Kehadiran Ibra yang tetap duduk setia di samping ranjang sembari menggenggam tangan kecilnya menjadi jangkar kedamaian bagi anak itu.
Usai meminum susunya, perlahan-lahan kelopak mata Naya mulai terasa berat. Trauma dan rasa lelah yang menguras tenaganya akhirnya memicu rasa kantuk yang tak tertahankan. Napas anak kecil itu perlahan teratur, pertanda ia telah tertidur lelap dalam dekapan kehangatan kamar tersebut.
Maya membetulkan letak selimut Naya, lalu mengecup kening putrinya lama sekali.
Ibra berdiri pelan, memberi kode pada Maya untuk berbicara di luar kamar agar tidak mengganggu tidur Naya. Maya mengangguk, mengusap sisa air matanya, lalu mengekor di belakang langkah tegap Ibra menuju teras belakang yang menghadap ke taman.
Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa kesegaran yang sedikit mengurai ketegangan di antara mereka. Ibra menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas teras, memandangi langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Maafkan saya, Kak Ibra..." suara Maya memecah keheningan.Ia berdiri sekitar dua langkah di samping Ibra. "Karena masalah saya dan masa lalu saya... Kak Ibra jadi harus repot sampai terlibat bentrok di tempat umum seperti tadi. Saya benar-benar merasa sangat bersalah."
Ibra menoleh pelan, menatap Maya dengan pandangan dalam yang sulit diartikan.
"Berapa kali aku harus bilang, Maya? Aku tidak pernah merasa direpotkan," kata Ibra tenang. "Yang membuatku marah tadi bukan karena aku harus berurusan dengan pria itu, tapi karena melihat bagaimana dia memperlakukanmu dan Naya di depan umum tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun."
Maya menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Mas Bayu... dia tidak akan berhenti, Kak. Setelah kejadian tadi, setelah dia tahu Kak Ibra melindungi kami, saya takut dia akan melakukan hal yang lebih nekat untuk merusak hidup saya."
Ibra melangkah mendekati Maya, memotong jarak di antara mereka hingga Maya bisa merasakan aura ketegasan yang terpancar kuat dari pria di depannya.
"Biarkan dia mencoba, Maya," ujar Ibra dengan nada suara dingin namun sarat kepastian. "Dia mungkin punya amarah dan obsesi, tapi aku punya seluruh sumber daya untuk memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Proses perceraianmu di Pengadilan Agama akan dikawal oleh tim pengacara terbaikku mulai besok."
Maya mendongak, menatap mata hitam Ibra yang memancarkan perlindungan tanpa syarat.
"Dan soal pertanyaanku tadi pagi..." Ibra melanjutkan, suaranya melembut, mengikis sisa-sisa ketakutan di hati Maya. "Kamu tidak perlu dijawab sekarang jika kamu masih merasa ragu. Tapi lihatlah Naya hari ini, Maya. Anak itu butuh rasa aman yang nyata, dan kamu butuh benteng hukum serta agama yang tak bisa digoyahkan oleh pria itu. Pikirkan baik-baik demi masa depan kalian berdua."
Maya terpaku di tempatnya. Kata-kata Ibra meresap dalam ke sanubarinya, membakar habis sisa-sisa rasa sungkannya. Di hadapan ketulusan Ibra yang begitu masif, Maya menyadari satu hal, pelarian dan rasa mindernya tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mungkin, inilah saatnya ia harus berani melangkah ke depan pelabuhan baru yang ditawarkan oleh Ibra.