Indonesia
NovelToon NovelToon
Mechabest

Mechabest

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Penyelamat / Action / Tamat
Popularitas:403
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

​Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.

​Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan Teman Sendiri

"Yasing, bodoh! Lawan dia atau kita habis di sini!" teriak Rian dari kejauhan. Suara Rian nyaris tenggelam di tengah dentuman ledakan dan gesekan logam yang memekakkan telinga.

Rian sendiri sedang dalam kondisi yang kacau. Pedang energinya berpendar redup, terpaksa beradu dengan sabetan tajam dari para Neo Tracker yang bergerak seperti mesin pembunuh tanpa ampun. Carbon X, monster mekanis dengan perisai karbon yang hampir tak bisa ditembus, terus merangsek maju, menghancurkan apa pun di depannya. Tapi, perhatian Rian tidak bisa lepas sepenuhnya dari Yasing.

Di sisi lain arena yang penuh asap dan percikan api, Yasing benar-benar terdesak. Maul—sahabat yang selama ini selalu ada di sisinya—kini berdiri di depannya dengan sorot mata yang kosong, dikendalikan sepenuhnya oleh chipset jahat yang tertanam di tengkuk lehernya. Setiap serangan Maul bukan main-main. Pukulan tangan mekanisnya membuat Mecha armor Yasing retak, berderit kesakitan setiap kali benturan terjadi.

"Gue nggak bisa, Yan! Gue nggak bisa nyerang dia!" sahut Yasing parau. Air matanya benar-benar tumpah, panas mengalir di pipinya, kontras dengan dinginnya logam armor yang ia kenakan.

Maul mengayunkan tinjunya lagi, kali ini mengarah tepat ke kepala Yasing. Dengan refleks yang tersisa, Yasing menangkis, tapi tenaganya tidak sebanding. Ia terlempar mundur hingga punggungnya menghantam dinding beton reruntuhan. Maul tidak berhenti. Ia menyerbu lagi, siap menghabisi Yasing tanpa keraguan sedikit pun.

Di tengah gempuran serangan itu, ingatan Yasing berputar layaknya film yang diputar paksa.

Ingat nggak, Yas? Suara Maul waktu itu masih terngiang.

Saat itu, gue cuma bisa bengong di depan kantin karena gue ga punya duit sama sekali. Perut gue bunyi, laper banget, tapi duit sepeser pun nggak ada. Lo datang, tanpa banyak tanya langsung beli dua naskun, satu buat gue, satu buat lo.

Terus pas gue disuruh pindahin meja besi guru yang beratnya minta ampun, tangan gue gemeteran, hampir jatuh. Lo datang dari belakang, narik beban itu dari bahu gue sambil ketawa, 'Biar gue aja, badan lo kayak lidi gitu mau gaya-gayaan angkat besi.'

Belum lagi pas gue demam tinggi sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur. Lo datang sembari bawa makanan sama obat penurun panas. Lo duduk di samping gue sampai gue tertidur.

"Kenapa, Maul... kenapa harus lo yang jadi begini?" racau Yasing di sela-sela tangkisan.

Maul menghantam dada armor Yasing. Brak! Yasing tersungkur. Napasnya mulai memburu, sistem life-support di armor-nya mulai memberi peringatan merah. Maul mengangkat kaki besinya, bersiap menginjak dada Yasing.

"Yasing, sadar! Itu bukan Maul yang lo kenal! Itu cuma cangkang yang dikendaliin mesin!" teriak Rian lagi. Rian baru saja berhasil menumbangkan dua Neo Tracker, tapi kini dia dihadang Carbon X yang memuntahkan tembakan laser. Rian terpaksa fokus pada hidupnya sendiri, namun hatinya hancur melihat sahabatnya hampir mati di tangan sahabatnya yang lain.

Yasing memejamkan mata. Ia melihat Maul—tapi bukan Maul yang ini. Ia melihat sosok Maul yang selalu berbagi jaket saat ia kedinginan. Sosok Maul yang selalu jadi pendengar setia setiap Yasing curhat tentang mimpinya yang dianggap remeh orang lain. Maul adalah keluarganya. Satu-satunya orang yang tidak pernah menuntut apa-apa dari Yasing.

"Lo selalu lindungin gue, Maul. Lo selalu ada di garda depan buat gue," bisik Yasing, suaranya pecah. "Sekarang, giliran gue yang harus jaga lo. Meski gue harus mati di tangan lo, gue nggak akan nyerang lo."

Maul mengayunkan tinjunya sekali lagi, kali ini dengan kekuatan penuh yang sanggup meremukkan beton. Yasing tidak menangkis. Ia melepaskan semua pelindung energi di armor-nya. Ia membiarkan dirinya terbuka.

Tepat saat tinju itu berjarak beberapa milimeter dari wajah Yasing, sebuah ledakan besar terjadi di sisi gedung. Carbon X yang menyerang Rian tadi meledak akibat serangan sisa dari drone pertahanan yang Rian bajak. Efek kejut ledakan itu membuat lantai tempat mereka berpijak bergetar hebat.

Maul kehilangan keseimbangan. Pukulan mautnya meleset, menghantam lantai beton hingga hancur berkeping-keping. Yasing terhempas oleh gelombang kejut, namun ia masih sadar. Ia merangkak bangkit, tidak peduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Gue bakal cari cara, Maul! Gue bakal cari cara buat ngelepas chipset itu!" teriak Yasing di tengah kekacauan.

Yasing mulai bergerak, bukan untuk menyerang, melainkan untuk mendekat. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Ia harus menyentuh bagian belakang leher Maul, tempat chipset itu tertanam.

"Rian! Cover gue!" perintah Yasing.

Rian yang melihat peluang itu tidak menyia-nyiakan waktu. "Oke! Lakuin sekarang!"

Rian memutar arah, mengaktifkan mode overdrive pada armor-nya. Ia melompat ke arah barisan Neo Tracker yang tersisa, memancing mereka menjauh dari area Yasing dan Maul. "Woi, robot-robot rongsokan! Sini kalian! Mau liat kembang api?"

Rian memicu granat elektromagnetik (EMP) kecil di tangannya, menciptakan kekacauan yang memaksa para Neo Tracker untuk mengejarnya. Area di sekitar Yasing menjadi bersih.

Sekarang, tinggal mereka berdua. Yasing dan Maul.

Maul meraung, suara mesin di dalam tubuhnya berdenging kencang. Ia menerjang lagi. Kali ini Yasing menghindar dengan gerakan menyamping yang lincah—hasil dari latihan keras mereka berdua saat Maul mengajarinya cara bertarung dulu.

Ingat, Yas, kalau musuh lo lebih kuat, jangan adu tenaga. Pakai momentum mereka, kata Maul di ingatannya.

Yasing tersenyum pahit. Ia memanfaatkan momentum Maul, menarik lengan armor sahabatnya itu ke arah yang berlawanan, lalu menguncinya dari belakang.

"Maaf, Maul. Gue nggak nyerang lo. Gue cuma mau nolongin lo," bisik Yasing di telinga armor Maul.

Dengan satu tangan yang masih berfungsi, Yasing meraih tengkuk leher Maul. Ia merasakan tonjolan logam yang berdenyut dengan energi listrik biru—itu chipset-nya. Jemari Yasing yang gemetar mulai meraba mekanisme penguncinya.

"Lo adalah orang yang ngajarin gue buat nggak pernah nyerah, Maul. Lo bilang kalau gue bisa ngelakuin apa aja selama gue punya tujuan. Nah, tujuan gue sekarang adalah balikin sahabat gue yang paling berharga."

Chipset itu mulai memanas. Yasing bisa merasakan panasnya menjalar ke sarung tangan armor-nya. Kulitnya terasa terbakar, tapi ia tidak melepaskannya. Maul meronta hebat, mencoba membanting Yasing ke lantai. Mereka berguling, saling beradu dengan sisa kekuatan yang ada.

Di tengah pergulatan itu, Yasing berhasil mencabut penutup chipset tersebut. Ia tidak butuh alat canggih; ia hanya butuh tekad yang kuat. Ia merobek kabel-kabel halus yang menghubungkan chipset itu dengan sistem saraf Maul.

Zzzzzttt!

Percikan listrik menyambar jari Yasing. Maul tiba-tiba berhenti. Tubuhnya kaku seperti patung.

"Maul?" panggil Yasing dengan napas terengah-engah.

Hening. Tak ada suara mekanis yang menderu. Tak ada niat membunuh di mata itu. Perlahan, lampu biru di mata Maul meredup, berganti kembali ke warna alami matanya yang cokelat gelap.

Maul terhuyung ke depan. Yasing dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya itu sebelum jatuh ke lantai.

"Y-Yasing...?" suara Maul terdengar parau, terdistorsi oleh sisa-sisa efek chipset.

Yasing menangis lagi, tapi kali ini karena lega. Ia memeluk Maul erat-erat, meski tubuh mereka berdua kini penuh dengan memar dan goresan logam yang mengerikan. "Iya, gue di sini. Gue ada di sini, Maul."

"Gue... gue ngapain aja tadi?" tanya Maul, matanya menatap sekeliling dengan penuh kebingungan. Ia melihat kehancuran di sekitarnya, melihat Rian yang terengah-engah di kejauhan setelah berhasil melumpuhkan sisa pasukan lawan.

"Lo tadi lagi 'tidur', Maul. Sekarang udah waktunya bangun," jawab Yasing sambil membantu Maul berdiri.

Rian berlari mendekat, napasnya tersengal. Ia menatap Maul, lalu menatap Yasing dengan senyum lebar meski wajahnya babak belur. "Wah, gila. Lo beneran berhasil, Yas. Gue pikir kita bakal tamat tadi."

Maul menatap Rian, lalu kembali menatap Yasing. "Kalian... kalian lawan gue? Kalian nggak terluka parah, kan?"

Yasing menggeleng. "Nggak. Kita semua baik-baik aja sekarang."

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari balik bayang-bayang reruntuhan, terdengar suara tawa yang dingin dan mekanis. Carbon X yang tadi meledak ternyata bukanlah unit utama. Sebuah sosok raksasa muncul dari kegelapan—pemilik asli dari semua chipset ini.

"Menarik," suara itu menggema. "Kalian pikir kalian sudah menang hanya dengan mencabut satu chipset?"

Yasing, Rian, dan Maul berdiri berdampingan. Mereka sudah hancur lebur, armor mereka sudah tidak berbentuk, dan tenaga mereka nyaris habis. Tapi, mereka tidak sendiri. Mereka punya satu sama lain.

"Gue nggak peduli berapa banyak chipset yang lo punya," kata Yasing, berdiri tegak di depan Maul dan Rian. "Selama gue masih bisa berdiri, gue nggak akan biarin lo nyakitin siapa pun lagi, apalagi temen-temen gue."

Maul, meski masih lemas, mengepalkan tinjunya. "Gue nggak tau apa yang terjadi, tapi gue tau satu hal: jangan pernah main-main sama orang yang udah bikin sahabat gue nangis."

Rian tertawa kecil, memposisikan pedangnya. "Yaudah, mumpung kita lagi full team, ayo kita sikat habis semua sisa-sisa sampah ini."

Ketiganya siap. Yasing, Rian, dan Maul. Mereka bukan lagi sekadar prajurit yang terpaksa bertarung, tapi sebuah tim yang tak terpisahkan. Melawan teman sendiri adalah rasa sakit paling hebat yang pernah mereka rasakan, tapi melampaui rasa sakit itu adalah bukti persahabatan yang jauh lebih kuat daripada chipset, logam, atau mesin apa pun di dunia ini.

Pertempuran babak terakhir baru saja dimulai, dan kali ini, mereka tidak akan pernah membiarkan satu pun dari mereka jatuh sendirian lagi. Yasing menarik napas dalam, memantapkan hatinya. Tidak ada keraguan lagi. Musuh di depan mata adalah prioritas, dan tidak ada yang boleh memisahkan mereka. Dengan teriakan lantang, ketiganya melesat maju, menyongsong takdir mereka bersama.

1
Ayyasying
GG BANGET BANG! GACORRR!!N/Drool//Drool//Smile/
Dwi Agustina
keren banget ceritanya 👍👍
Dwi Agustina
keren Abang, lnajutkan berkarya 💪💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!