Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Tanpa Tuan

Kejanggalan seketika menyelimuti perasaannya saat Aurora menyadari bahwa pintu kamar hotel tempat kakaknya menginap dalam keadaan terbuka sedikit. Dan keputusan Aurora untuk segera mendorong pintu kamar hotel yang dalam keadaan tidak tertutup rapat itu adalah keputusan yang benar.

Begitu pintu terbuka lebar, Aurora tidak melakukan apa-apa. Di depan pintu ia mematung begitu saja.

Apa yang hendak dilihatnya tidak sesuai keinginan. Keheningan adalah hal pertama yang menyambut kehadirannya. Tidak ada suasana suka cita, tidak ada suara tawa, tidak ada perias, tidak ada siapa pun di dalam ruangan itu.

Kamar tersebut kosong.

Aurora dengan membisu perlahan melangkah masuk ke dalam kamar. Gadis itu mencoba untuk berpikir jernih, berusaha menepis segala pikiran buruk yang perlahan ingin mempengaruhi akal sehatnya.

"Tidak mungkin," lirih Aurora pelan.

Hanya sebuah gaun pengantin putih yang terhampar rapi di atas tempat tidur, seolah sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Aurora menutup mulut dengan punggung tangan, menatap horor pada kerudung panjang menjuntai hingga menyentuh lantai. Ada juga buket bunga yang mulai layu, tergeletak tepat di samping gaun putih.

Jantung Aurora berdegup semakin cepat. Aurora ingin menepis pikiran buruknya namun pemandangan di depan mata lebih dulu menghadirkan firasat buruk itu sendiri yang nyatanya berhasil membuat tengkuknya meremang.

"Kak? Kakak masih mandi, ya?" ucapnya lirih berharap ada jawaban.

Namun sayang tidak seperti inginnya.

Hanya ada suara embusan pendingin ruangan dan keheningan yang terasa begitu mencekam.

Di mana calon mempelai wanitanya?

...***...

Gaun pengantin itu tidak pernah disiapkan untuk Aurora.

Aurora hanya berkunjung ke hotel untuk menemani kakaknya, Isabella, yang akan menikah dengan Rozen Salvadore, pewaris keluarga Salvadore yang terkenal kaya, berpengaruh, dan memiliki hubungan dengan dunia mafia.

Karena siapa yang dapat menduga kalau akan ada kejadian calon pengantin wanita menghilang secara misterius tepat di hari pernikahannya? Bahkan sehari sebelum tanggal pernikahan tiba, Aurora masih tidur bersama dengan kakaknya di kamar hotel itu. Dan tidak ada gerak-gerik mencurigakan dari sang kakak terkait insiden hilangnya pengantin wanita.

Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh sulung keluarga Valencia tersebut? Meninggalkan pernikahannya beberapa jam sebelum upacara dimulai? Padahal ia tahu perbuatan itu dapat menghancurkan nama baik keluarganya.

Keluarga Valencia panik.

Karena pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua insan semata, melainkan kesepakatan yang telah disusun kedua keluarga selama bertahun-tahun. Membatalkannya secara sepihak bukanlah pilihan. Melainkan kesalahan dan dosa besar.

Tidak ada pilihan selain melanjutkan dengan dusta.

"Aurora, hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita."

Kalimat itu penuturan dari ayahnya, yang bagaimana pun tidak sanggup Aurora terima dengan mudah. Bukan ini jalan hidup yang Aurora inginkan. Menikah hanya untuk menjadi pengganti. Lelucon itu sangat tidak lucu.

"Ayah, itu tidak mungkin! Mereka pasti menyadari perbedaannya."

Aurora tidak pernah ingin menjadi anak yang melawan perkataan orang tuanya. Tapi situasi yang sedang dihadapi Aurora kali ini bukanlah perihal sederhana. Hal ini menyangkut masa depannya.

"Kalian berdua saudara kembar. Wajah kalian sangat mirip. Upacara akan berlangsung singkat. Setelah semuanya selesai, kita akan menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada keluarga Salvadore."

Kali ini sang ibu yang bersuara sambil menggenggam lembut tangan si bungsu.

Namun Aurora membalasnya dengan menggeleng berulang kali. Gadis itu sungguh tidak ingin menikah atas nama orang lain. Walaupun orang itu adalah kakak kandungnya sendiri. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan berdiri di altar menggantikan kakaknya, apalagi menikahi pria yang bahkan belum pernah ia temui.

Tetapi melihat kedua orang tuanya memohon dengan sorot putus asa seperti itu, apalagi ibunya yang masih menggenggam erat tangan kanannya, hatinya mendadak goyah. Tanpa aba-aba, air mata menetes membasahi pipinya. Gadis itu sadar bahwa dirinya tidak punya pilihan.

"Aku... Aku bersedia melakukannya."

Aurora memilih untuk menyerah pada masa depannya.

Dengan tangan gemetar, ia mengenakan gaun pengantin yang seharusnya menjadi milik sang kakak. Ditatapnya pantulan diri di cermin, menyaksikan sosok bergaun pengantin yang telah melepaskan masa depan demi melindungi orang tuanya.

...***...

Perjalanan pengantin wanita menuju altar akan diantar oleh sang ayah. Dengan menggenggam erat pada buket bunga pengantinnya, Aurora melampiaskan semuanya. Kekesalan, kesedihan dan masa depannya. Gadis itu menatap nanar pada pintu ballroom yang masih tertutup rapat. Meratapi nasibnya yang malang.

Sementara itu, pada altar yang sunyi, Rozen Salvadore berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Ekspresi wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun senyum atau kegugupan yang biasa terlihat pada seorang calon pengantin pria ketika akan menyambut calon pengantin wanitanya. Mimik wajah yang tidak memperlihatkan kebahagiaan namun tidak pula kesedihan. Semuanya tampak biasa saja dan juga dingin.

Bagi Rozen sendiri, pernikahan ini bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Semua hanyalah bentuk tanggung jawab yang harus ia selesaikan demi memenuhi kesepakatan antar dua keluarga. Sebuah tugas yang harus segera diselesaikan. Ia tidak pernah menunggu kisah cinta segera bersemi di hidupnya.

Pernikahan yang telah diatur sedemikian rupa bahkan siapa calon istrinya. Rozen menerima semuanya dengan tenang. Tugasnya hanya hadir sebagai mempelai pria lalu menikahi mempelai wanita yang telah ditentukan keluarganya.

Rozen tidak membantah namun pria itu juga tidak pernah berjanji untuk menerima sang wanita dengan lapang dada.

Pintu ballroom perlahan terbuka, tatapan pria itu seketika lurus ke depan. Menyaksikan seorang wanita bergaun pengantin putih berjalan menyusuri lorong menuju altar didampingi ayahnya.

Saat pengantin wanita berjalan mendekat, Rozen memperhatikannya sekilas. Ekspresinya masih tetap datar namun di balik itu semua, calon mempelai pria menyadari perbedaannya.

Rozen mengamati bagaimana langkah kecil itu tercipta penuh kewaspadaan bersama bahu yang sedikit menegang. Satu tangan menggenggam buket bunga, satunya lagi melingkar di lengan sang ayah. Jemari lentik meremas erat pada lengan jas yang dikenakan ayahnya, seolah sedang mencoba menenangkan diri.

Ketika tatapan mata mereka bertemu sesaat. Rozen merasakan ada kegugupan yang asing, sorot mata yang berbeda, bahkan cara wanita itu menundukkan kepala tidak seperti yang ia ingat. Hal yang tidak pria itu lihat saat pertemuan terakhir dengan tunangannya.

Rozen mengenali tunangannya. Isabella.

Saat itu, Rozen langsung menyadari bahwa calon pengantin yang berdiri di altar bersamanya bukanlah pengantinnya yang sesungguhnya.

Tapi Rozen tidak berkata apa-apa mengenai hal tersebut. Rozen juga tidak menghentikan upacara pernikahannya.

Baginya, siapa pun wanita yang berdiri di sampingnya hari ini tidak akan mengubah apa pun. Pernikahan itu tetap akan berlangsung, karena yang pria itu butuhkan hanyalah seseorang untuk memenuhi kesepakatan, bukan seorang wanita yang harus dicintainya.

"Silakan lanjutkan," ucap Rozen singkat.

Dan dengan kalimat sederhana itu, nasib dua orang asing resmi terikat dalam sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih.

Upacara pengikatan janji suci tetap berlangsung. Seluruh orang yang menghadiri acara pernikahan itu, kecuali Rozen, Aurora dan kedua orang tua Aurora, tidak mengetahui fakta sebenarnya bahwa pengantin wanita yang asli tidak pernah mengikat janji suci di sana.

Sepasang cincin diserahkan untuk dikenakan kedua mempelai. Ketika cincin telah melingkar di jari manis Aurora, gadis itu dengan segala rasa sedih di hatinya sadar bahwa tidak ada jalan baginya untuk kembali.

Sejak hari itu ia bukan lagi Aurora Valencia. Ia adalah istri sah dari Rozen Salvadore.

Dan tanpa mereka sadari, sebuah kebohongan kecil di hari pernikahan akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka berdua.

......***......

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!