Seorang jendral besar dan ahli dalam berperang meninggal di bunuh oleh orang orang yang dendam padanya, seorang dewa membawanya ke dunia baru, dimana dunia itu baru saja lepas dari kegelapan.
Sebenarnya dia hanya ingin hidup tenang karena di kehidupan terdahulu sudah sangat lelah berperang, tapi ketika bertemu dengan seorang saint dari benua tengah yang mengatakan soal penglihatan nya pada dirinya, akhirnya dia memutuskan kembali terjun ke medan perang dan mengambil tahta demi orang orang terdekatnya, dia menjadi raja dan berjuang melawan kegelapan bersama sepuluh pahlawan yang di pilih dewa.
Bisakah dia mengambil tahtanya dari para lords yang menguasainya dan menghalau kegelapan dari utara ?
Genre : fantasy, drama, perang, 100% fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dajo Gunz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Kembali ke masa sekarang, Hugo dan Valen menempuh perjalanan menuju ke castletown setelah meninggalkan kota pelabuhan kemarin dengan menaiki kuda mereka. Sepanjang perjalanan Hugo terdiam dan berpiki, Valen yang berkuda di sebelahnya memperhatikannya,
“Oi kenapa diam aja...masih mikirin ratu kecil kemarin atau ratu Myla ?” Tanya Valen.
“Kenapa kalau aku diam kamu selalu berpikir aku memikirkan wanita ? di otakku tidak cuma ada wanita....dasar.” Jawab Hugo kesal.
“Kirain....berpikir yang tidak tidak....” Balas Valen.
“Lagipula kalau aku memikirkan para wanita yang dekat dengan ku, kenapa kamu repot ? apa kamu cemburu hehe ?” Ledek Hugo.
“Cemburu ? kamu sudah bosan hidup ?” Tanya Valen geram.
“Wah kalau marah berarti benar ya hahaha..senangnya....” Jawab Hugo.
“Sriiing.” Valen mencabut pedang besarnya dari punggung sambil menatap Hugo dengan nafsu membunuh.
“Whooaah..tenang tenang...aku hanya bercanda...” Ujar Hugo.
“Kalau bicara jangan sembarangan....aku paling tidak suka.....”
Belum selesai Valen berbicara, Hugo menutup mulutnya, dia langsung melompat ke kuda Valen dan mengambil tali kekangnya sambil menarik tali kekang kudanya sendiri di belakang menggunakan tombak, dia mengarahkan kuda ke arah hutan dan masuk ke dalam, kemudian dia melepaskan mulut Valen ketika sudah berhenti sambil melihat keluar dari semak semak.
“Hei..apa apa...”
“Sssst...diam....lihat...” Ujar Hugo berbisik menghentikan teriakan Valen dan menutup lagi mulutnya.
Valen menoleh melihat dari balik semak semak, mereka melihat pasukan house Clark yang berjumlah banyak sedang berbaris menuju ke arah yang sama dengan mereka yaitu castletown.
“Untuk apa pasukan sebanyak itu ? mau perang ?” Tanya Valen.
“Tidak tahu...tapi seperti yang di katakan Myla, penglihatan Helena-sama sepertinya benar...” Jawab Hugo.
“Hmm...apa yang sebenarnya terjadi di castletown, siapa yang terbunuh di sana ?” Gumam Valen.
“Saat ini kita belum tahu, kita harus kesana supaya semuanya jelas. Kita jangan bergerak dulu, jaga jarak.....” Balas Hugo.
“Aku mengerti....” Balas Valen.
Keduanya duduk bersender di sebuah pohon besar yang berada di tepi hutan untuk beristirahat,
“Eksekusi nya besok ya....” Ujar Valen setelah minum dari botolnya dan memberikannya pada Hugo.
“Ya....aku sebenarnya tidak mau bertanya pada mu, tapi bagaimana perasaanmu ?” Tanya Hugo sambil meminum air dari botol yang di berikan Valen.
“Aku tidak merasa apa apa...memang awalnya aku kaget, tapi kemudian perasaan ku jadi campur aduk dan sekarang aku sudah tidak merasa apa apa...yang aku pikirkan hanya keselamatan adik adik ku...” Jawab Valen.
“Syukurlah kalau begitu....” Balas Hugo.
“Theo...Casey....” Gumam Valen.
Hugo yang mendengarnya memegang pundak Valen yang duduk di sebelahnya sambil menoleh melihat pasukan yang masih bergerak. Setelah seluruh pasukan melewati mereka, keduanya kembali memacu kuda mereka, kali ini mereka mengarah ke utara langsung, untuk memotong jalan melewati dataran tinggi untuk langsung sampai ke center tanpa memutar melewati jalan.
Hari sudah sore menjelang malam, keduanya tiba di kaki perbukitan dataran tinggi, mereka melepas kuda mereka dan mulai naik melalui jalan setapak ke atas, Hugo yang sudah berpengalaman sebagai bandit mengetahui jalan rahasia melalui lembah yang di sebut lembah kematian. Mereka mulai menuruni bukit dan turun ke jurang, setelah sampai jurang mereka mulai berkemah,
“Malam ini kita di sini dulu, besok kita lanjutkan perjalanan melalui lembah ini...” Ujar Hugo.
“Hugo, lembah ini....lembah kematian kan ?” Tanya Valen.
“Yah, banyak yang bilang begitu....dulu, ketika perang besar dengan benua selatan, lembah ini menjadi tempat pertarungan, banyak yang mati di sini....itu sebabnya di sebut lembah kematian...” Jawab Hugo.
“Uh....ada hantunya ?” Tanya Valen yang mulai merapat kepada Hugo.
“Tentu saja ada...bahkan ada legenda yang mengatakan kalau di lembah ini masih ada satu batalyon pasukan kerajaan Liberta yang hilang....kabarnya mereka di kutuk karena di anggap desersi dan tetap hidup di lembah ini menunggu pertarungan...kabarnya kalau ada yang memasuki lembah, mereka akan menculik orang itu atau membuatnya tersasar sampai tidak bisa keluar lagi.” Ujar Hugo.
“Kamu...jangan menakut nakuti aku...aku baru dengar cerita itu...kamu hanya bohong kan.” Balas Valen yang menjadi semakin merapat kepada Hugo.
“Huh buat apa aku bohong, di depan ada reruntuhan ruin, di dalamnya ada catatan dan apa yang aku ceritakan barusan tercatat di catatan itu...aku pernah berniat menjadikan tempat itu sebagai markas, tapi banyak anak buahku yang kesurupan...dan akhirnya saling bunuh...” Balas Hugo.
“Sudah, jangan di teruskan, maaf aku tidur seperti ini....” Ujar Valen.
“Eh...jangan jangan...kamu takut hantu ?” Tanya Hugo.
“Berisik....aku tidak takut pada sesuatu yang bisa di pukul...” Jawab Valen.
“Haa...berarti kamu takut hantu, sebab hantu tidak bisa di pukul...” Ledek Hugo.
“Diam....aku mau tidur....tolong jangan jauh jauh....” Balas Valen.
“Iya iya....Valentina Warnar, ksatria perkasa tak terkalahkan....ternyata imut juga ya...hahaha....” Balas Hugo.
“Cari mati ?” Tanya Valen geram.
“Ups...maaf....sudah tidur....” Jawab Hugo.
Hugo membuka selimutnya, dia menyelimuti dirinya dan Valen yang menempel kepadanya, kemudian mereka mulai tertidur.
*****
Keesokan harinya, pagi pagi buta dan masih agak gelap, “Ugh....” Valen terbangun, dia melihat sekeliling kemudian melihat selimutnya, Hugo yang seharusnya bersama nya tidak ada di sebelahnya,
“Hugo ?” Ujarnya sambil mengangkat selimutnya.
Dia melihat sekeliling, kabut putih menutupi seluruh lembah sehingga tidak terlihat apa apa. Valen mulai pucat, tangannya yang gemetar mengambil pedang di sampingnya,
“Hugo...dimana kamu...tolong jangan main main....” Ujar Valen sekali lagi.
Tapi tidak ada jawaban dari Hugo sama sekali, Valen mulai melangkah maju dengan perlahan dan hati hati sambil memegang pedang besarnya di depan menggunakan kedua tangannya. Selangkah demi selangkah, dia maju menembus kabut sambil melihat sekeliling. “Tlak...tlak...tlak.” Dia mendengar langkah kaki yang menggema mendekati dirinya.
“Hugo ?” Ujarnya sekali lagi.
“Tlak...tlak...tlak.” Langkah kaki terus terdengar di depannya, dia melihat tiga orang berjalan di depannya di balik kabut menuju ke arah dirinya, ketika dia mau berjalan mendekat ke tiga orang di depan, tiba tiba mulutnya dan pinggangnya di dekap dari belakang.
“Sssst...jangan kesana...sini....”
Hugo menarik Valen masuk ke dalam reruntuhan yang menempel dengan dinding tebing, mereka langsung bersembunyi di balik pilar yang di tumbuhi tanaman rambat sambil melihat keluar. “Tak...tak...tak.” Langkah kaki terdengar semakin mendekat. Mereka melihat tiga prajurit sedang berjalan seperti sambil melihat sekeliling di tengah kabut tebal sambil menghunus senjatanya. Hugo memperhatikan pakaian nya dan dia mengenalinya, baju zirahnya khas milik house Finester dari wilayah barat yang beraliansi dengan house Quintrel, keluarganya.
Setelah beberapa prajurit itu melewati mereka, keduanya keluar, mereka mengikuti ketiga prajurit yang lewat itu dan langsung menyekapnya dari belakang. Hugo membuat pingsan seorang prajurit dan menghunus tombaknya ke leher prajurit di tengah. Valen juga merobohkan seorang prajurit dan mengacungkan pedang besarnya ke prajurit di tengah,
“Si..siapa kalian ?” Tanya prajurit di tengah karena wajah Hugo dan Valen terhalang kabut, yang terlihat hanya senjata mereka.
“Tidak penting siapa kami....kenapa prajurit house Finester yang seharusnya ada di barat berada disini, cepat katakan....” Jawab Hugo.
“Ka..kami hanya memeriksa rute pelarian....atas perintah lord Jamie Finester....” Ujar prajurit itu.
“Rute pelarian ? memang lord Jamie berniat lari atau bagaimana ?” Tanya Hugo.
“Setelah pelaksanaan hukuman nanti siang, lord Jamie ingin cepat pergi ke timur menyusul pasukannya yang sudah ada di sana. Menurut lord Jamie, lord Baranger menuduh lord Jamie yang membunuh anaknya....sedangkan lord Quintrel tidak datang, jadi lord Jamie benar benar sendirian tanpa dukungan sebagai perwakilan dari wilayah barat.”
“Baiklah, selamat tidur....”
Hugo menghantam wajah prajurit itu dengan gagang tombaknya sampai pingsan, Hugo melihat ke arah Valen,
“Jadi yang dibunuh Oscar Baranger....” Gumam Valen.
“Dan rupanya ayahku tidak datang....huh aku sudah tahu dia tidak akan keluar kandang...” Tambah Hugo.
“Tapi aneh, kenapa Baranger menuduh Finester ? setahuku mereka tidak ada masalah...” Gumam Valen.
“Tidak, kalau menurut perkiraan ku, Baranger tidak hanya menuduh Finester, melainkan semua lord yang hadir. Kita sama sama tahu, manusia macam apa senior kita yang bernama Oscar itu, tidak ada satu orang pun yang senang padanya, bahkan hampir semua nya dendam padanya. Pembunuhnya bisa siapa saja dan Baranger tidak pandang bulu, dia menuduh semuanya. Aku mengerti kenapa Clark mengutus pasukan sebanyak itu ke castletown. Ada kemungkinan, Baranger memulai peperangan.” Ujar Hugo.
“Seperti yang di katakan Myla....semua terjawab sekarang...” Ujar Valen.
“Ya...kita harus cepat ke castletown....sebentar lagi dimana mana akan menjadi merah...” Balas Hugo.
“Setuju....semoga adik adik ku juga berpikiran sama seperti kita...” Balas Valen.
“Ya...kita doakan mereka....” Balas Hugo.
Keduanya langsung berlari mengemas barang mereka dan meneruskan perjalanan mereka menuju ke castletown.