Cinta ini melelahkan. Bahkan sejak awal, aku sudah mati rasa. Tapi... Aku tak bisa mengkhianati kepercayaan yang dia berikan padaku. Haruskah aku jadi brengsek saja? Tapi kan kenyataannya aku memang bukan wanita baik-baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Vaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Ingat
Aku mencarinya dari sekian banyak tumpukan buku.
Bergerak cekatan di dalam senyap.
Sebisa mungkin gak boleh ada suara!
Sayangku tuh orangnya peka sama yang beginian.
Hanya saja...
Dia begitu payah memahami moodku yang suka naik turun!
Hmph!
Gotcha!
Ini dia jurnal yang aku cari!
Seperti biasanya, selain nulis jurnal, pasti ada kumpulan foto yang ia tempel!
Ini memudahkanku mencarinya!
Garcia pernah baik padaku.
Aku sering diizinin makan bekal miliknya.
Tapi kalo keseringan, hal itu membuatku merasa harus balas budi atas kebaikannya.
Sekarang aku dah dewasa.
Aku ingin bertemu dengannya dan melihat keadaannya.
Mungkin aku bisa membantunya.
Miller.
Cowo absurd ya Miller!
Tadinya aku hanya menempatkan dirinya di dekat mejaku agar aku mudah eksploitasi dirinya.
Ah...
Maksudku ngajak dia kerja bareng!
Aku suka dengan dirinya yang kompeten.
Sayangnya, dia cuma bisa dijadiin partner bisnis aja!
Kami tuh saling manfaatin satu sama lain dan itulah kenapa gak boleh ada romansa apapun!
Tapi gara2 orang ini, gw jadi tau kalo cowo tuh ternyata bisa nangis dan suka ngasih kode loh!
Yang paling gw benci dari wataknya ya dia tuh culas, penuh tipu muslihat, dan intrik kotor!
Kalo nggak bisa ngerti kodenya, gak bisa baca situasi, dan insting gak diasah, bisa2 gw yang terjebak di dalam permainan sialannya!
Meski begitu...
Aku tetap ingin berterimakasih padanya.
Jika bukan karenanya, aku takkan bisa menang saat berhadapan dengan keparat2 itu!
Joshua.
Paling cerewet di antara kami berenam.
Aku tau dia peduli padaku.
Meski tiap kali ceramahnya bikin kesal, aku suka saat di mana kami berdua diskusi panjang lebar tentang sesuatu.
Ada banyak hal yang gak gw tau dan aku belajar banyak darinya.
Aku harap bisa bertemu dengannya dan berdiskusi lebih sering lagi!
Hmm...
Begitu ya?
Di jurnal ini ditulis kalo mereka tuh aslinya berenam.
Kenapa sayangku cuma diceritain 3 temannya doang?
Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?
Atau memang sisanya nggak begitu penting di matanya?
Aku harus menanyakannya ketika sayangku dah bangun!
"BLINK!"
"Hm... Masih ngantuk..." Gumam sayangku.
"Sayang! Sayang!" Ucapku.
"Hm?"
"Lah loh? Sayang... Kok kamu tidur lagi sih?" Tanyaku.
Bener2 gak ada jawaban!
Nggak biasanya...
Biasanya kalo dibangunin langsung lompat.
Kok kesannya sayangku malah males2an?
Gak beres nih!
"Sayang! Kita mau pergi jam 1 loh!" Bisikku.
"HUP!"
"Nah kan! Langsung lompat dia!" Batinku.
"Urgh... Pusing..." Batinnya
"Jam berapa ini?" Tanya dia.
"Sebelas." Ucapku.
Gak ada balasan darinya.
Ia pergi begitu saja tanpa menatapku.
Ada apa dengannya?
Bahkan saat di mobil pun, tatapan matanya kosong banget!
"Kita makan siang dulu." Ucapnya.
"Tiba2 banget!" Batinku.
Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Satu hal yang jelas!
Sayangku kembali ceria setelah makan yang pedes2!
"Menurut kamu, apa mereka akan menerima kedatangan kita?" Tanya dia.
"Kamu akan mengetahuinya setelah makan. Jadi, habiskan dulu makananmu!" Ucapku.
"Suapin!" Ucapnya.
Ha?
Dia minta apa tadi?
Disuapin?
Aku tidak mengerti dengan perubahan yang tiba2 begini.
Dari yang dingin banget jadi manja?
Woah!
Sayangku pengen disuapin suaminya!
Aku senang banget!
"BLUSH!"
Dia menggeser kursinya dan duduk tepat di sebelahku.
Begitu dekat!
Ini gak baik buat jantungku tau!
"Cup!"
"SLURP!"
A-Apa yang dia lakuin?
Ia mencium telapak tanganku lalu menjilatnya.
Tatapannya itu bener2 teduh tanpa rasa bersalah apapun!
"Suapin!"
"Iya iya! Sini aku suapin!" Ucapku.
Ia tersenyum senang dan makan dengan lahap.
Bener2 kekanakan sekali!
Tapi gpp!
Kapan lagi sayangku bertingkah konyol begini?
Pada dasarnya, ini cuma makan siang doang!
Tapi rasanya kayak lagi kencan tau!
Kencan sih kencan.
Tapi kan kami berdua udah nikah!
Yang paling aneh tuh kenapa wajahnya kembali tanpa ekspresi begitu?
Saat aku kebawa perasaan, bisa2nya dia menganggap semua ini gak ada apa2nya!
Huh!
Sayangku bener2 menyebalkan!
"Selesai dari sini, biarkan aku yang nyetir!" Ucapnya.
Biasanya kalo dah begini, pasti sayangku udah tau apa yang harus ia lakukan dan kemana dia harus pergi.
Aku tak punya pilihan lain selain memberikan kunci mobil padanya.
Yeah setidaknya ini yang terbaik!
Aku mengikuti langkah kakinya.
Ia masuk ke mobil ya aku ikut lah!
Masa ditinggalin?
Sayangku nggak boleh sejahat itu padaku!
Sedari tadi dia tidak banyak bicara.
Lebih banyak diam.
Dahi yang mengerut dan alis yang menukik.
Ditambah lagi sorot mata tajamnya...
Aku yakin dia lagi banyak pikiran.
Jika sudah begini, aku sama sekali nggak bisa ganggu dirinya!
Mobil kami berhenti di depan komplek perumahan.
Nggak ada yang bagus2nya!
Kuharap 3 teman yang dia cari tidak tinggal di tempat suram seperti ini!
"CKLEK!"
"Mau apa kamu? Masuk ke dalam!" Perintahnya.
Aku sama sekali tidak mengira dirinya bakal setegas ini padaku.
Sepertinya moodnya emang lagi buruk?
Ia sama sekali tak memandangku.
Tatapan matanya tertuju pada seorang pria.
Ya aku ngerasa janggal dong!
Kenapa orang pertama yang dia temuin tuh cowo ini?
Kenapa nggak temen2 ceweknya aja?
Aku sebagai pria merasa tersaingi tau!
Tapi tunggu dulu!
Di jurnal yang sayangku tulis, jelas2 dia paling nggak suka campur adukkan urusan bisnis sama romansa!
Ditambah lagi dia paling tau betapa brengseknya cowo itu.
Bukankah semua ini menguntungkanku?
Maksudku...
Jika keadaannya begini terus, sayangku takkan bisa berpaling dariku!
Mobil melaju kencang ke tujuan selanjutnya.
Ia seolah2 tak melihat apa2.
Kalo begitu bener dong kesimpulan yang aku buat?
Mereka berdua tuh gak ada hubungan apa2 selain partner bisnis!
Yeah...
Setidaknya aku bisa bernapas lega!
"Yang tadi itu temen kamu kan?" Tanyaku.
"Ya."
"Mukanya kan oke tuh. Pernah gak kamu jatuh cinta padanya?" Tanyaku.
"Oke dari mana? Lebih gantengan gw daripada cowok kayak dia! Hmph!" Batinku.
"Pernah. Sayangnya saat itu dia udah pacaran sama cewek lain. Baru enam bulan setelahnya, mereka putus. Gak butuh waktu lama, dia pacaran sama salah satu dari kami berenam. Ya! Dia teman sebangku aku." Ucapnya.
"Biar kuperjelas. Kami tuh berenam. 2 cowo dan 4 cewe. Cowo satunya tuh mantan temen sebangku aku dan pria yang tadi kita liat itu pacar barunya. Bisa dibilang cinlok lah... Pokoknya ribet deh drama mereka!" Ucapnya.
"Terus kenapa kamu nggak jadian sama cowo yang tadi?" Tanyaku.
"Aku masih sakit hati. Ada balas dendam yang belom terbayarkan. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta di saat begitu?" Tanya dia.
"Tapi kamu jatuh cinta kan ke aku?" Tanyaku.
Dia diamnya lama banget!
Apa ada sesuatu yang dia pikirkan?
Apapun itu aku nggak peduli!
Pokoknya sayangku harus cinta mati padaku!
BERSAMBUNG