Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ketua team.
Mama Phia berdendang lirih, nampak seperti ada rencana yang tersembunyi di balik sikap tenangnya. Ia berjalan menuju kamar sambil memantau ponselnya, namun di dalam hatinya, ia sudah menyusun semuanya dengan rapi, perjalanan ke bumi Karang Hitam bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan jalan yang ia siapkan untuk menyembuhkan luka putranya secara perlahan.
\=\=\=
Karena sesuatu dan lain hal, lewat dari dua minggu kemudian, tanggal keberangkatan pun di tentukan.
Di hari keberangkatan ke Karang Hitam akhirnya tiba. Udara pagi menyambut semangat mereka. Rombongan berangkat menggunakan pesawat militer, kendaraan milik dinas pun ikut di siapkan, di antaranya truk yang memuat perlengkapan medis dan obat-obatan.
Di malam hari, sampailah mereka di tempat tujuan. Sejak dalam perjalanan, Pak Riegan terus menatap wajah seorang dokter cantik.
"Lihat apa yah?" Tanya Mama Phia.
"Benar itu pilihan Mama??" Pak Riegan memastikannya pada sang istri.
"Iyaa.. Bagaimana??"
"Cantik, Ma." Jawab Pak Riegan sambil memicingkan mata.
"Duuuuhh.. Ayah lihat yang mana?? Bukan yang kiri, tapi yang kanan." Bisik Mama Phia sambil mencubit pinggang Pak Riegan. "Memangnya cantik banget ya, Yah??"
"Ya nggak to, sayang. Tetap cantik Mama." Balas Pak Riegan, jantungnya mulai deg-degan karena salah menebak orang-orang. "Tapi Ma, dokter perempuan sipil hanya dia."
"Iya.. Mama bilang rombongan dokter, bukan dokternya." Mama Phia pun memakai kacamatanya lalu memperhatikan para rombongan relawan.
"Apalah biniku ini, ada saja tingkahnya." Gumam Pak Riegan pelan.
Mama Phia melambaikan tangan menyapa para tenaga medis dengan ramah, lalu pandangannya berhenti pada sosok yang berdiri agak terpisah dari para relawan, gadis itu berdiri tegap di samping unit ekskavator besar yang ikut dikirim sebagai bantuan alat pembangunan, tangannya yang terlihat kasar dan penuh bekas oli sedang sibuk memeriksa kondisi mesin sebelum diturunkan. Rambutnya dikuncir ekor kuda, wajahnya polos tanpa riasan, namun gadis itu tetap terlihat sangat cantik.
"Ayah lihat yang itu?" bisik Mama Phia saat Pak Riegan memastikan penglihatannya. "Itu dia."
Pak Riegan menyipitkan mata, bingung. "Itu... bukan dokter, Ma. Itu operator alat berat. Dan sepertinya dia masih sangat muda."
"Betul sekali." Mama Phia tersenyum lebar. "Dia bukan dokter, dia baru lulus sekolah perawatan hewan ternak, tapi ilmu yang dia bawa ke sini, keahliannya memperbaiki mesin dan merawat hewan yang di unggulkan. Alhamdulillah dia akan membantu tanam pohon."
Mulut Pak Riegan ternganga sampai menelan ludahnya. Sungguh ia bingung tapi karena sang istri sudah turun tangan menangani masalah putranya, ia tak bisa berbuat apapun.
"Namanya Andinata. Dan dia... dia tidak tau siapa Dante. Tidak tau siapa kita semua. Dia datang ke sini hanya karena dia mau membantu, bukan karena nama, bukan karena pangkat."
"Darimana kau yakin kalau dia cocok untuk Dante. Kau tau watak anakmu kan, Ma??" Pak Riegan mengusap wajahnya cemas sendiri.
Sebagai seorang pria, tentu Pak Riegan paham soal wanita cantik. Tapi Pak Riegan pun tau bagaimana selera putranya itu. Dante sangat suka wanita yang lemah lembut dan pastinya tidak bau oli.
Beberapa menit kemudian Bang Dante tiba, secara prosedur profesional formal, Bang Dante memberi hormat pada atasan yang juga ayahnya itu.
"Selamat malam, komandan. Selamat malam, ibu. Ijin arahan selanjutnya untuk team relawan."
"Ini saja, hmm.. kau jaga team dokter, utamanya team tanam pohon..!!" Sambar Mama Phia sebelum Pak Riegan memberikan arahannya.
Kening Bang Dante sempat berkerut, tapi karena arahan itu datang dari istri atasannya, ia tidak bisa berbuat apapun. "Siap.. Laksanakan, Ibu."
Bang Dante lalu berbalik badan dan melangkah meninggalkan tempat, meski di dalam hatinya sempat bertanya-tanya, team tanam pohon biasanya adalah urusan logistik, bukan tanggung jawab perwira dinas. Tapi arahan dari Ibu sekaligus istri Komandan, ia tak bisa membantah.
:
Bang Dante berjalan menyusuri area sekitar tenda penampungan relawan, matanya menyapu setiap sudut tempat untuk mencari siapa yang dimaksud sebagai pemimpin tim tanam pohon. Dalam bayangannya, pasti seorang pria yang tenang, rajin. Jujur saja, hatinya yang masih kosong dan hancur tak berharap bertemu siapapun. Ia datang ke sini hanya untuk tugas, untuk membantu, untuk mengalihkan pikiran dari segala luka yang ia rasakan.
Namun, dari kejauhan yang ia lihat adalah sosok wanita yang sedang sibuk dengan bibit tanaman setinggi satu meter dan banyak jenis tanaman pohon lainnya.
"Selamat malam, saya Letnan Wira. Bisa saya bertemu dengan pimpinan team tanam pohon?" Sapa Bang Dante.
Gadis itu menoleh, ia lalu meletakan embernya dan menatap Bang Dante. "Ada perlu apa?"
"Ohh.. Maaf. Bisa saya bertemu dengan beliau sebentar?" Tanyanya sopan namun masih tetap menjaga jarak.
"Nanti, masih sibuk." Gadis itu masih santai sambil menyiram kembali tanaman yang ada.
"Baik, saya tunggu."
Tak lama ada seorang anggota team yang menghampiri mereka berdua. Ia menyapa Bang Dante kemudian menyapa gadis itu.
"Mbak, ini jadwal yang di buat bu dokter. Besok Mbak ikut mengajar di kampung sebelah." Kata pria tersebut.
Sejenak gadis itu terdiam lalu mengangguk. "Baiklah, saya kesana."
"Tunggu, siapa yang membuat jadwal ini tanpa berunding?? Daerah tersebut rawan untuk relawan perempuan, disana ada daerah yang cukup terisolasi." Ujar Bang Dante.
"Nggak apa-apa, saya ini relawan. Ditempatkan dimana pun tidak masalah." Jawab Mecka.
"Perumusan ini harus sepengetahuan saya. Saya Dantim disini..!!"
Gadis itu mencuci tangannya yang masih kotor oleh tanah basah. "Jadi saya ikut yang mana??"
"Kamu ikut saya..!!" Perintah Bang Dante.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara