Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Yang Terkelupas
Selamat membaca
...
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh area ballroom Hotel Mulia. Ratusan pasang mata tamu undangan serta sorotan kamera para wartawan tertuju penuh pada sosok Evan Adijaya yang berdiri bagaikan benteng kokoh di depan istrinya.
Pria asing berjas abu-abu yang terkapar di lantai masih meringis kesakitan, memegangi pergelangan tangannya yang terkilir akibat cengkeraman sang Presdir.
"E-Evan..." cicit Helene Vance yang melangkah mendekat dengan raut wajah yang dibuat-buat terkejut dan prihatin. "Tenangkan dirimu. Pria ini mungkin hanya pria mabuk yang tidak sengaja bertindak lancang. Jangan biarkan keributan kecil seperti ini merusak reputasimu dan acara Gala Dinner yang megah ini."
Evan tidak berpaling. Ia tidak mengendurkan sedikit pun kehangatan pelukannya di pinggang Aura, namun sorot matanya yang mematikan menusuk lurus ke iris mata Helene.
"Keributan kecil?" desis Evan dingin, senyum sarat cemoohan terukir tipis di bibirnya. "Sejak kapan seorang pria yang dibayar sepuluh ribu Euro oleh akun cangkang milik Vanderbilt Consortium disebut sebagai 'pria mabuk yang tidak sengaja', Helene?"
Seketika, bisik-bisik riuh berhembus kencang di antara kerumunan tamu VIP. Helene tersentak hebat, wajah cantiknya yang dipoles kosmetik mahal mendadak pucat pasi.
"Evan! Apa yang kau bicarakan?!" potong Helene panik, berusaha mempertahankan keanggunaannya. "Kau menuduhku?! Atas dasar apa kau melontarkan fitnah keji seperti itu di depan umum?!"
Pak Bimo yang melangkah maju dari kerumunan menyerahkan sebuah tablet digital yang langsung terhubung ke layar proyektor utama ballroom.
Hanya dalam hitungan detik, layar raksasa di panggung menampilkan rekaman CCTV koridor belakang hotel yang diambil lima belas menit lalu memperlihatkan secara jelas asisten pribadi Helene, Pierre, sedang menyerahkan amplop tebal dan memberikan instruksi pada pria berjas abu-abu tersebut. Tak hanya itu, bukti transfer dana beserta draf kalimat penghinaan yang harus diucapkan pada Aura terpampang nyata tanpa celah.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Lampu kilat kamera wartawan seketika menyambar tiada henti ke arah Helene Vance. Suasana yang tadinya tenang mendadak berbalik menjadi badai skandal bagi konsorsium terbesar dari Eropa tersebut.
"L-Lady Helene..." cicit Pierre yang berdiri gemetaran di samping tuannya.
Aura melangkah maju satu tapak dari samping Evan. Ketenangan dan keanggunan yang ia tampilkan justru makin kontras dengan raut kehancuran Helene.
"Lady Helene," suara Aura terdengar jernih dan berwibawa, bergema di tengah keheningan ballroom. "Anda datang dari Eropa dengan membawa nama besar Vanderbilt Consortium, namun Anda menggunakan taktik serendah ini hanya karena proposal manipulatif Anda ditolak di meja audit Adijaya Group."
Aura menatap Helene dengan pandangan penuh ketegasan tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Anda mengira dapat menjatuhkan saya dengan hinaan soal latar belakang? Saya tegaskan sekali lagi... saya berdiri di samping Evan Adijaya bukan karena belas kasihan atau permainan harta, melainkan karena kebanggaan, integritas, dan cinta yang tidak akan pernah sanggup Anda beli dengan miliaran Euro sekalipun."
Tepuk tangan spontan membahana dari sudut ruang VIP yang dipimpin oleh beberapa direksi bank internasional dan para duta besar yang terkesan dengan keteguhan hati istri sang CEO.
Evan menatap Aura dengan binar mata penuh kebanggaan yang membuncah. Pria itu meraih jemari Aura, menyatukan buku-buku jari mereka di hadapan puluhan kamera media.
Evan lalu kembali menatap Helene dengan nada pemungkas yang dingin bak es kutub.
"Mulai detik ini, Adijaya Group membatalkan seluruh negosiasi bisnis dan memblokir investasi Vanderbilt Consortium di seluruh kawasan Asia Tenggara," tegas Evan tanpa ampun. "Dan untuk tindakan penghinaan serta pencemaran nama baik ini... tim hukum kami sudah melayangkan gugatan resmi ke Mahkamah Bisnis Internasional."
Helene membeku tanpa daya. Keangkuhan dan takhta permaisuri Eropa yang selama ini disandangnya hancur berantakan dalam semalam. Tanpa sanggup menanggung malu dari tatapan hinaan para pengusaha dunia, Helene berbalik dan terburu-buru meninggalkan ballroom dengan langkah terpincang-pincang.
Satu jam kemudian.
Mobil SUV hitam milik Evan membelah keheningan malam menuju kediaman utama. Di jok belakang, Aura menyandarkan kepalanya yang lelah namun lega di bahu bidang Evan.
Evan merengkuh tubuh istrinya erat-erat, mengusap lembut jemari manis Aura yang melingkar di tangannya.
"Kau hebat sekali malam ini, Nyonya Adijaya," bisik Evan seraya mendaratkan ciuman manis di kening Aura.
Aura tersenyum tipis, mendongak menatap iris mata hitam suaminya yang hangat. "Aku hanya menyuarakan kebenaran, Evan. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang meragukan posisi kita lagi."
"Tidak ada yang berani," sahut Evan dengan senyum menawan yang meluluhkan hati. "Karena seluruh dunia kini sudah tahu, bahwa kau adalah satu-satunya permaisuri yang bertakhta di hatiku."
Aura melingkarkan tangannya di leher Evan, menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat penuh kepastian, sebuah penutup indah atas kemenangan mereka menghadapi ujian internasional, sekaligus mengunci takdir cinta mereka yang makin tak tergoyahkan oleh badai apa pun di masa depan.
...
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...
Informasi kecil
Untuk novel ini Author akan update tiap hari senin, kamis dan sabtu tiap pukul 03.00 pagi...