Aku adalah pria berusia 32 tahun, namaku Rahardian Wijaya, seorang pengusaha sukses, tampan, dan kaya. Awalnya hidupku terasa lurus-lurus saja, namun kehadiran gadis 16 tahun bernama Kina membuat hari-hariku menjadi berwarna. Kina adalah gadis yang aku kenal di sebuah tempat hiburan malam, gadis ini bekerja sebagai waiters dan pemandu lagu di sebuah rumah karaoke. Jujur pesona gadis belia ini sangat memukau hatiku, aku sangat mengagumi kecantikan dan kepribadiannya yang ramah. Namun pada akhirnya kekaguman itu berubah menjadi rasa penasaran yang teramat dalam, ketika aku melakukan kegiatan sosial di Sekolah Menengah Atas, Kina, ternyata gadis ini adalah, seorang siswa kelas 2 SMA yang berprestasi di sekolahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anis mubsiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Terimasih ya mas!" kataku pada mas Agung teman kerjaku dulu di home stay, saat laki-laki ini mengantarku pulang dari sekolah ke rumah Nyonya Evita.
"Sama-sama Kiran," katanya dengan meraih helem yang aku julurkan padanya. "Besok pagi aku jemput ya, aku antar ke sekolah?" tawarnya.
"Nggak usah repot-repot mas, mas Agung kan kerja,"
"Enggak kok, aku udah berhenti, sekarang aku hanya fokus kuliah aja," katanya. "Kalau kamu butuh sesuatu, atau butuh bantuanku jangan sungkan ya telepon aku," lanjutnya.
"Okey mas, aku masuk dulu ya!" kataku kemudian sembari tersenyum, "Terimakasih banyak udah nganterin aku!"
Aku segera melangkah memasuki gerbang rumah Nyonya Evita setelah berpamitan pada laki-laki yang tak sengaja bertemu denganku di jalanan dekat sekolah, dia mengantarku dengan sepeda motor tiger-nya, sebenarnya tadi aku menolak, tapi dia memaksaku, akhirnya aku terima niat baiknya untuk mengantarku.
"Siapa itu?" tiba-tiba seorang laki-laki berjas abu-abu dengan kemeja putih menghentikan langkahku dengan pertanyaannya.
"Mmm... itu mas Agung pak, eh... maksud saya tuan." Aku memegang bibirku yang salah ucap saat menyebutnya. "Dia teman saya," lanjutku dengan meringis.
Laki-laki yang berdiri di garasi rumah Nyonya Evita itu hanya menatapku sinis tanpa bergeming, kemudian menutup pintu mobilnya dengan keras dan berjalan mendahuluiku masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Aku pun mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam, jujur aku muak dengan sikap laki-laki bujang lapuk yang congkak, angkuh, dan sombong ini, entah kenapa laki-laki itu harus setiap hari datang ke rumah ini, padahal saat ini mamanya sudah sehat-sehat saja dan mulai sering keluar rumah untuk beraktivitas.
Seperti biasa setelah meletakkan tas sekolah dan mengganti pakaian, aku mulai bekerja membersihkan rumah, menyapu, mengepel, dan merawat tanaman di halaman dan teras rumah Nyonya Evita.
"Ma, aku ada di rumah mama," kata laki-laki itu di dalam telepon. Sepertinya dia berbicara dengan mamanya yang saat ini tidak berada di rumah.
Aku terus melakukan pekerjaanku, ku abaikan sikap laki-laki angkuh yang terlihat memperhatikan gerak tubuhku itu, hingga satu jam kemudian majikanku datang, aku yang saat itu berada di halaman rumahnya untuk merawat tanaman-tanaman kesayangannya, menyambut kedatangannya dengan suka cita, ku bawakan tas kerja yang dia bawa, dan ku ikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Sayang!" seru Nyonya rumah ini saat melihat laki-laki yang tertidur di sofa ruang tengah. Wanita paruh baya itu segera menghampiri laki-laki yang tampak tertidur pulas itu. "Kamu sakit, badan kamu panas," katanya saat menyentuh leher, pipi, dan dahi seorang laki-laki yang tidak lain adalah putranya. "Mama panggil dokter ya!"
"Nggak usah ma!" tolak laki-laki itu seraya bangkit untuk duduk, "Aku kecapean aja, setelah istirahat pasti sembuh," katanya.
"Ayo istirahat di kamar mama!" ajak Nyonya Evita kemudian.
Aku mengikuti langkah mereka berdua ke kamar untuk meletakkan tas kerja Nyonya Evita yang aku bawa ini.
"Kiran! tolong buatkan bubur ya, kamu bisa kan?" Nyonya Evita meminta tolong padaku sembari bertanya.
"Bisa Bu," sahutku seraya bergegas keluar dari kamar menuju dapur.
Aku mulai membuat bubur dari beras untuk putra semata wayang Nyonya Evita, sebenarnya ini pertama kalinya aku membuat bubur, tapi aku yakin aku bisa melakukannya dengan baik, karena ada video tutorial dari YouTube sebagai panduanku.
Setelah bubur itu matang, segera aku menuju kamar majikanku untuk menghidangkan bubur tersebut, putra majikanku berlahan bangkit dari tempat tidurnya dan meraih semangkuk bubur dari atas nampan yang aku bawa.
"Terimakasih!" katanya.
Ku lihat dia mulai menyendok bubur tersebut dan memakannya. "Cuih!!! Kamu sengaja mau bikin aku darah tinggi??" teriaknya.
Aku sontak terkejut ketika laki-laki itu meludahkan bubur yang baru saja dia makan, aku berfikir pasti ada yang salah dengan rasa bubur buatanku tersebut.
"Mmmm... maaf!" aku segera mengambil mangkok bubur itu dari tangannya, sembari mencolek dengan jari telunjuk bubur itu dan mencicipinya.
Aku meringis saat laki-laki itu menatapku sinis, memang bubur buatanku ini rasanya asin bukan kepalang.
"Aku buatkan yang baru lagi ya tuan?" tawarku padanya.
"Tidak usah," jawabnya ketus.
Tak lama setelah itu Nyonya Evita keluar dari toilet yang ada di dalam kamar, "Ada apa?" tanyanya.
"Nggak ada apa-apa kok ma," sahutnya sembari menarik selimut dan kembali berbaring di ranjang.
Aku keluar dari kamar itu dengan perasaan kecewa, bagaimana tidak, bubur yang aku masak dengan susah payah sama sekali tidak berguna, bahkan membuat putra majikanku marah hingga meneriakiku.
"Kiran! Kiran!" Seru majikanku kemudian.
Segera aku letakkan bubur itu di dapur dan bergegas menuju kamarnya.
"Ada apa Bu?" tanyanyaku.
"Tolong ambilkan air dingin!" katanya dengan wajah panik.
Aku berbegas mengambil air dingin dalam baskom dan ku berikan pada Nyonya Evita, sepertinya putra semata wayangnya mengalami demam yang sangat tinggi.
"Mama telpon dokter ya sayang!" Nyonya Evita berbicara dengan putranya.
"Ngajak usah ma, dikompres nanti juga dingin," kata laki-laki itu menolak niat baik mamanya.
"Kiran! tolong ambilkan obat penurun panas di kotak obat ya!" Nyonya Evita kembali meminta tolong padaku.
"Baik Bu," kataku sembari melangkah menuju kotak obat. "Bu tidak ada obat penurun panas, hanya ada minyak kayu putih dan obat luka," kataku saat membuka kotak obat di pojok kamar Nyonya Evita.
"Begini saja, ibu mau keluar dulu ke apotek, kamu tolong jagain dan kompres putra ibu ya!" kata Nyonya Evita.
"Mmm... bagaimana kalau saya saja yang ke apotek Bu?" tawarku.
"Tidak usah, biar ibu saja, ibu diantar pak Lukman kok," kata Nyonya Evita dengan menyebut nama pak Lukman sopir pribadinya.
"Baik Bu." Aku mengangguk sembari melangkah menuju ranjang laki-laki yang tengah terbaring itu, aku menggantikan posisi Nyonya Evita untuk mengompres kepalanya yang memang terasa sangat panas.
Empat puluh menit sudah Nyonya Evita keluar dari rumah, sementara demam laki-laki ini terasa semakin tinggi. Jujur, aku khawatir dengan keadaannya. Karena merasa cemas aku raih handphone di kantong celanaku, aku berniat untuk menghubungi Nyonya Evita, ternyata nyonya Evita telah mengirimkan pesan lewat akun WhatsApp padaku, "Kiran titip putra ibu dulu ya, ada kecelakaan, jalanan macet sekali."
Aku menjadi semakin cemas, aku bingung, apa yang harus aku lakukan untuk membantu laki-laki ini mengurangi rasa sakitnya.
"Tuan, kita ke rumah sakit ya? Aku panggilkan ambulan," kataku padanya.
"Tidak usah," sahutnya dengan merapatkan selimut.
Aku terus duduk di samping laki-laki yang sering kali bersikap angkuh padaku ini untuk mengompresnya, sembari kemudian beranjak dari tempat dudukku.
"Tunggu sebentar ya tuan!" kataku.
Aku berjalan menuju dapur, aku mengambil kunyit bubuk dan madu, aku teringat saat adikku demam ibuku memberi air kunyit dan madu untuk adikku, aku berfikir membuatkan kunyit dan madu untuk tuan muda, sebagai obat sementara sampai obat yang mamanya beli untuknya datang.
"Ayo minum ini tuan!" kataku dengan membantunya minum air kunyit dan madu yang aku buatkan untuknya.
"Apa ini?" tanyanya.
"Jamu herbal," kataku.
Laki-laki itu pun menurut, dan berkenan minum air kunyit dan madu yang aku buatankan. Setelah meneguk minuman itu, aku membantunya untuk tidur kembali, seraya merapikan selimutnya.
"Tunggu sebentar ya tuan!" kataku padanya saat ku rasakan handphone di saku celanaku bergetar, ku lihat mas Agung yang meneleponku, segera aku keluar dari kamar untuk mengangkat telepon, setelah berbicara dengan mas Agus, aku kembali menemani putra semata wayang majikanku itu.
"Bisa-bisanya ya, kamu telepon-teleponan nggak penting, padahal majikan kamu sedang sakit," kata laki-laki itu dengan menatapku sinis.
Aku jadi heran, saat sakit begini, dia masih juga bisa marah-marah padaku.
"Maaf!" sahutku kemudian dengan mengganti kompresnya, sembari duduk di samping laki-laki angkuh yang sedang sakit itu. Aku kembali merapikan selimutnya, dan berlahan ku pijiti kakinya hingga dia tertidur lelap.
Bersambung
aku kasih kado buat mereka 🌷
apa susah nya sih bicara jujur
kan kamu para pembaca jadi seneng dengar nya 😊
semoga om itu tidak menyakiti hati kiran