Mengisahkan tentang Dewa bernama Zevus Algara sang pemilik mata api jika ada yang mencoba mwngusik kesabarannya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu Kebenarannya.
Episode sebelumnya
"Siapa yang perebut?"
****
Episode selanjutnya
sebuah suara bariton yang lantang mengejutkan orang-orang yang barada di aula tidak terkecuali... Nina, tapi dia sangat mengenal suara itu.
Angin kencang pun membuka gerbang dengan mudahnya seakan menyambut seorang tamu agung.
Duar!
Gerbang yang dibuka paksa tersebut menghantam keras dinding hingga semua yang hadir di aula itu menjadi terlompat. ada yang ketumpahan air nya saat minum ada juga yang tiba-tiba terjungkal dari kursi saking kagetnya.
Para pejabat dan tetua yang ada di aula tersebut kaget sekaligus heran dan bertanya-tanya mengapa embusan angin mampu membuka gerbang yang besar dengan mudahnya? padahal gerbang itu terbuat dari besi yang kuat bahkan siapapun tak mungkin bisa membuka nya kecuali, dia memiliki kekuatan sihir dan supernatural sedangkan ini~~berhasil membungkam mulut mereka dengan mata yang mendelik kaget lalu saling pandang dengan ekspresi wajah tanya.
Beberapa menit kemudian
Dug..
Du..ug
Sebuah suara langkah mendekati aula yang membuat jantung Nina seolah berhenti berdetak disertai mata yang membulat sempurna.
Orang-orang berbagai jenis dan rupa yang ada di aula tersebut diam membisu mulut mereka seperti terkunci kala sesosok tinggi dan gagah memasuki aula yang besar dan luas ini beserta dengan pasukannya.
"Hah?" Sontak Nina menjerit kaget kemudian segera dia menutup mulutnya saat tahu siapa sosok tersebut.
Pria itu langsung menoleh ke arah Nina yang seperti membeku dan mata melotot karena kaget dengan tatapan dalam juga mesra sehingga mampu menembus jantung Nina yang seakan mulai berpacu dengan waktu.
setelah itu menatap tajam ke arah para bangsawan dan orang-orang yang menuduh serta menindas Nina sebagai tuduhan perebut milik orang lain.
"Kembali aku bertanya siapa yang perebut?"ulangnya dengan nada lantang sehingga aula tersebut berguncang dan berhasil membuat orang-orang yang ada dalam sana menjerit histeris karena guncangan bak gempa 7 koma Skala sampai mereka semua terjatuh tersungkur ada pula yang terpeleset.
Beberapa detik kemudian keadaan normal kembali
Mereka saling terdiam bahkan saling pandang satu sama lainnya.
"Dia?apa dia yang... ?"
"Beneran dia?"
"Ya, dia. Tidak salah lagi pria itu. "
Para netizen yang hadir di aula mulai saling menyeletuk satu sama lain.
"Dia datang kemari untuk siapa?"
"Entahlah, aku juga kurang tahu. "
Nina yang masih terduduk berusaha bangkit secara perlahan ingin menghampiri pria tersebut, tapi seorang bangsawan yang hendak menghukumnya langsung menghalaunya lalu, menariknya dengan paksa.
"Mau ke mana kau!" gertaknya, keras. Seraya menarik paksa Nina.
Namun, semua itu gagal karena pria yang baru saja datang itu dengan sigap menangkap tubuh kecil Nina dan menghantam tubuh pria bangsawan yang dengan tega menarik paksa lengan Nina sekeras mungkin.
Semua pada memekik kaget.
"Kamu tidak apa?" tanya pria itu, lembut. Penuh kelembutan sekaligus kecemasan.
Tanpa merespon Nina menggeleng pelan setelah itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang pria pria itu pun langsung membalasnya dengan pelukan erat penuh kerinduan.
Kemudian tiba-tiba..
"Beranj-beraninya kau mendekati kekasih dari.... "Sesosok peri ingin menarik tubuh Nina, tapi dengan cepat si pria langsung menangkap lengan si pero jahat dengan kekuatan maksimal.
"Dari siapa?"tanya pria itu, pelan. Namun, tajam.
"Aduh, Tuan. Sakit... ttt!"keluh si peri jahat, meronta.
"Jawab aku!dari siapa?!"gertak si pria yang secara refleks membuat si peri jahat kaget juga ketakutan tubuhnya pun bergetar hebat.
"Tu..Tuan Anda jangan sampai tertipu dengan wajah polosnya kelihatannya saja lugu, tapi dia ini sangatlah licik!"celetuk seorang pria menatap tajam Nina.
"Iya, Tuan. Itu semua benar dia ini berkedok seorang wanita lugu yang ternyata adalah seorang perebut milik orang lain,"timpal seorang wanita tua menunjuk ke arah Nina, sengit.
Nina yang kalut langsung mendongak ke arah si pria lalu, menggeleng kencang seakan hendak mengatakan. "Bukan aku!"
"Minta pembelaan ya?dasar, tidak tahu malu!"hujat seorang pria muda, tajam.
"Aku percaya padamu,"ucap si pria penuh keyakinan juga membuat Nina menghela napas lega.
pria itu tersenyum hangat dan penuh kasih sayang pada Nina.
"Kalian menuding wanita ini tanpa mencari tahu kebenarannya hanya dengan mendengar laporan seseorang yang belum tentu benar, apa kalian punya bukti jika wanita ini adalah perebut?!hah!"umpat si pria dengan nada kesal.
Mereka para netizen termasuk para bangsawan, imortal, dan para peri langsung menunduk dan terdiam tak ada satupun yang berani menatap sang pria apalagi dengan tatapan tajam.
Suasana di aula begitu tegang aura dingin seolah membungkus tubuh para netizen berbagai jenis di sini.
"Buktinya ada, Tuan. Dari seorang wanita bernama Merin,"ungkap seorang pria bangsawan dengan suara bergetar.
Nina yang mendengar terkejut bola matanya pun membulat dengan sempurna seraya menatap si pria yang ada di dekatnya sedangkan si pria menatapnya dalam.
"Terus kalian percaya begitu saja?hanya laporan satu orang tidak ada penyelidikan satupun kalian langsung menghakimi dan menuduhnya secara kejam!"cerca pria tersebut tak terima menatap kasihan Nina. "Bagus, Merin. Kau sudah berhasil menjadi provokator!"umpatnya dalam hati sambil mengepalkan tinjunya erat-erat seperti ingin menghajar seseorang.
" Kau pikir. "Pria tersebut mencengkeram kerah baju si pria bangsawan lalu mengangkatnya setinggi mungkin tentu saja si pria bangsawan berwajah imortal itu kaget dan takut setengah hidup. " Aku enggak tahu rencana kalian? rencana kalian mau menghancurkan mentalnya, Kan?! "tudingnya dengan nada sengit.
Dia menunjuk ke arah Nina, tapi tatapan tajamnya mengarah pada orang-orang yang hadir di aula ini.
Tatapannya yang angker membuat para hadirin dilanda ketakutan setelah itu menghempas dengan kencang tubuh si pria bangsawan hingga membentur dinding.
"Argh... hhh! " teriak si pria bangsawan, histeris. Karena rasa sakit di seluruh tubuh.
Disertai dinding yang retak tanpa sedikitpun sisa para hadirin juga terheran-heran dan menatap tanya si pria muda yang berada di dekat Nina dalam posisi memeluk erat tubuh Nina agar Nina terlindungi dari siapapun yang ingin berbuat jahat padanya.
Nina yang tengah berada dalam pelukan sang pria terdiam dengan wajah tegang mengetahui hal ini si pria segera mengusap punggung Nina dengan lembut untuk memenangkan nya.
Flashback on
"Selama ini Merin sudah baik kepadamu, begini kah caramu membalas kebaikannya?"semprot salah satu pria bangsawan dengan nada kesal.
Nina yang dituding menggeleng dengan keras menyatakan kalau tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan padanya.
"Aku enggak seperti itu!"bantahnya dengan suara serak.
"Maling mana ada yang mau ngaku!"seloroh seorang wanita bangsawan, tajam.
Flashback off
"Kebodohan kalian hanya menangkap perkataan satu orang tanpa mencari kebenarannya seandainya aku tak datang mungkin dia akan terkena hukuman dari kalian yang kejam itu!"
Semua yang hadir di aula terdiam tanpa kecuali.
"Ini bukti kebenaran yang akan kuperlihat kan pada kalian. "
Beberapa detik kemudian.
"Hah?!"
Bersambung.