Amira gadis berusia 21 tahun bersama adiknya Mita bekerja menjadi guru TK dengan pendapatan yang sangat minim, Amira gadis baik berhati mulia anak dari keluarga sederhana.
Suatu ketika Orang tua dari Amira terbelit oleh hutang sehingga Amira dan Mita bekerja sama untuk melunasi hutang hutang Ayahnya, Bagaimana kah perjuangan Amira dan Mita untuk melunasi hutang hutang Ayahnya sehingga ia bisa menemui cinta sejatinya. Jangan lupa mampir dulu di Novel Cinta Amira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Sintia yang sedang berusaha mencari mutiara sakti sendirian dibukit, Amira dan Mita disuruh Bahrudin untuk membuntuti Sintia dan mengawasinya, jangan sampai mutiara sakti itu ditemui dan di ambil oleh Sintia si wanita rakus.
Ketika Amira dan Mita bergegas naik ke bukit untuk mengikuti jejak Sintia. Herwan dan Pandi datang berlari larian seperti lomba lari. mereka berdua juga gak mau kalah dengan ibunya, mereka sama sama ingin mendapatkan Mutiara sakti itu. Ketika Herwan dan Pandi naik ke bukit untuk mengikuti ibunya, Amira dan Mita dengan cepat menyembunyikan badannya agar tidak ketahuan sama Herwan dan Pandi.
"Untung mereka gak lihat kak!" ucap Mita menarik nafasnya yang sempat terhenti.
"Kita harus hati hati, jika kita ketahuan maka kita akan celaka Mit." Ucap Amira.
Amira mempunyai ide untuk mengelabuhi Sintia dan anak anaknya mengenai mutiara sakti itu.
Amira kembali ke bawah dan mencari batu.
"Kak mau ngapain?" Tanya Mita.
"Kamu ikuti kakak saja, gak usah banyak omong, nanti ketahuan." Ucap Amira.
Amira mengambil batu yang berwarna putih dan ia pun menyiapkan batrai untuk merancang rencana.
Apa yang akan dilakukan Amira untuk mengelabuhi Sintia dan anak anaknya itu!
"Mau kakak apakan dengan batu ini kak?" Mita masih penasaran dengan rencana kakaknya yaitu Amira.
"Lihat! batu ini warna putih, jika kita senter cahaya pakai batre ini. maka akan ada pantulan cahaya dari batu ini. lihat batu ini berbentuk bulat."
"Terus?"
"Nyonya Sintia bersama Herwan dan Pandi akan mengira batu ini adalah mutiara sakti yang ia cari." ucap Amira.
"Wah ide kakak bagus juga, tapi aku merasa gak yakin rencana kakak akan berhasil."
"Kita coba aja dulu, jangan pesimis Mit. kakak yakin mata mereka sudah dipengaruhi oleh cahaya mutiara. mata mereka akan tertuju pada batu ini jika kita pantulkan cahaya dari senter bantre ini." Ucap Amira sambil memegang batu putih berbentuk bulat dengan senter batre.
Amira membawa batu yang berwarna putih berbentuk bulat itu ke atas bukit yang posisinya dekat dengan Sintia, Herwan, dan Pandi berada.
setelah batu putih itu diletakkan di dekat Sintia, Herwan dan Pandi berada. Amira dengan siap menyinarkan cahaya senter batre yang ia pegang lalu dipantulkan cahaya senter itu kebatu yang berwarna putih, sehingga batu itu terlihat memancarkan cahaya yang membuat Nyonya Sintia bersama Herwan dan Pandi teralih pandangan matanya ke sinar yang menyilau.
"Sinar apaan tuh?" Ucap Pandi dengan gairah.
Sintia, Herwan dan Pandi bergegas mendekati sinar yang menyilaukan mata mereka.
"Sekarang kita matikan senternya, mereka sudah mendekati batu itu."
"Ini nih yang membuatku ingin ketawa melihat kerakusan mereka, disaat melihat cahaya pantulan dari senter ini membuat mata mereka bertiga seperti mata macan yang melihat mangsanya." Ucap Mita tersenyum lucu melihat tingkah Nyonya Sintia bersama Herwan dan Pandi.
Pandi menemukan batu putih berbentuk bulat yang disimpan oleh Amira tadi.
"Mah, Aku menemukan mutiara sakti." ucap Pandi dengan girang sambil mengangkatkan batu putih itu.
"Coba mamah lihat!"
"Lihat, aku yang paling hebat disini! Aku bisa mendapatkan Mutiara sakti ini dengan mudah." ucap Pandi dengan menyombongkan dirinya.
Herwan merebut mutiara itu dari tangan Pandi.
"Lihat mah, apa betul ini mutiara?" Herwan menyondorkan batu putih yang berbentuk seperti mutiara sakti itu ke mamahnya."
"Harusnya sih mutiara sakti ini mengeluarkan cahaya, tapi ini tidak!" ucap Sintia sambil membalikkan posisi batu yang berwarna putih itu ditangannya.
"Mamah tadi kan lihat, batu ini mengeluarkan cahaya ya kan?"
Sintia tidak merasakan energi dari batu yang ia pegang. sehingga Sintia merasa batu yang ia pegang bukanlah mutiara sakti yang kini ia incar.
Pandi langsung merebut batu putih yang ia dikira mutiara sakti ditangan Sintia ibu kandungnya sendiri.
terlihat sifat ambisius mereka membuat Mita dan Amira merasa puas mengelabuhi mereka bertiga.
"Kakak memang cerdik, lihat mereka mengira batu yang berwarna putih itu adalah mutiara ha ha!" Mita ketawa ketawa kecil.
"Jangan senang dulu, Amira rasa nyonya Sintia masih kurang mantap dan masih curiga dengan batu yang berwarna putih itu." Ucap Amira yang sedang bersembunyi sambil menengok dan memperhatikan mereka bertiga yang sedang berdebat.
Pandi dengan kekeh ia mengatakan bahwa batu putih ini sempat mengeluarkan cahaya, sehingga Pandi menganggap batu yang dipegang itu Mutiara sakti. disisi lain Sintia merasa biasa biasa saja saat memegang batu yang berwarna putih itu.
"Untuk membuktikan batu yang ada dihadapan kita ini mutiara sakti atau bukannya, Alangkah baiknya kita temui kakek. gimana mah?"
Pandi dan Sintia ibu kandungnya mengatakan hal yang sama yaitu "jangan."
Disisi lain Sintia ingin menguasai mutiara sakti itu tanpa sepengetahuan ayahnya Bah Rajam. begitu juga Pandi yang sudah menyangka bahwa batu yang ada digenggaman tangannya adalah Mutiara.
"Lah kenapa?" Tanya Herwan.
"Kalau kita bertanya pada kakek, pasti jawabannya batu putih ini bukan mutiara, karena apa? karena kakek akan bersandiwara kepada kita bertiga dan mengatakan ini bukan mutiara, agar kita terus mencari mutiara itu. sedangkan kakek akan menyimpan mutiara sakti itu hingga ia bisa mendapatkan kuasa dari mutiara sakti yang disimpan." Ucap Pandi dengan pikirannya yang jernih.
"Betul," Sintia sangat mendukung ucapan Pandi.
"Kok mamah malah mendukung Pandi, bukannya tadi lagi berdebat mengenai mutiara yang digenggam Pandi itu, apa jangan jangan mamah juga sedang bersandiwara mengenai batu putih ini dengan mengatakan bukan mutiara."
"Gak, sama sekali nggak Herwan, kamu jangan mengada-ada deh."
"Ada benarnya juga yang dikatakan Herwan!" Pandi menatap wajah ibunya dengan curiga.
"Mamah tidak lagi bersandiwara Pan, Okey untuk membuktikan kalau batu yang ada ditangan kamu itu mutiara atau bukan! kita bisa membuktikannya tanpa menemui Bah Rajam. menurut kitab kuning yang sudah mamah baca, mutiara akan bersinar dimalam hari tepat di saat bulan purnama tiba. besok malam adalah tepatnya malam bulan purnama tiba. kita bertiga harus mendapatkan jawabannya dari batu yang kamu pegang itu." Ucap Sintia panjang lebar.
Sintia merasa kesal dengan anak anaknya, Sintia turun dari bukit dengan wajah yang ditekuk seperti seseorang yang sudah kalah dari perlombaan.
Dirumah keadaan sepi cuman ada Rayan, Bayan, Bibi Lisa, dan Araf yang masih terkurung digudang. Ketika Bayan ingin mencari barang yang sudah lama menghilang, dengan tidak sengaja Bayan ingin masuk ke gudang dan membuka kunci pintunya. ketika pintu gudang dibuka terlihat ada orang yang bersandar dibelakang pintu yang tidak lain adalah Araf yang sedang tidur. Bayan ketakutan dan lari sambil berteriak.
"Hantuuu, kakak... Bibi... ada hantu!" Teriak Bayan sambil lari ke atas tangga dan bertabrakan dengan bi Lisa yang sedang menuruni tangga.
"Ada apa den Bayan?" Tanya Bi Lisa.
"Bi, bibi ada hantu digudang. aku takut bibi!" Bayan yang pikirannya masih polos ia langsung memeluk Bi Lisa dan badannya bergetar ketakutan. Bibi Lisa menenangkan Bayan dan membawanya ke dalam kamarnya.